
Suara guntur menggelegar dari luar disertai kilatan putih menandakan hujan semakin lebat, Aleria membuka matanya. Karena merasa terganggu dengan suara itu.
Cerahnya cuaca di sore hari ternyata tidak bisa menjadi penentu jika malamnya akan terang benderang.
Tubuh Aleria terasa hangat dalam pelukan Hasyim, matanya memindai wajah sang suami. Dagu ditumbuhi sedikit jambang dan muka agak mengkusam, Aleria jadi gemas ingin mempermak wajah suaminya itu.
Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga lupa jika sudah bersuami. Hatinya sedikit tercubit, selama ini ia ingin terus dimengerti tanpa bisa mengerti perasaan orang lain. Termasuk suaminya.
Semua tingkah laku Aleria selalu Hasyim maklumi. Walaupun terkadang ucapan sang istri kerap kali menyakiti hati.
Kurang enak apa kehidupan Aleria kini? mempunyai suami yang selalu mengerti dirinya, bahkan mempunyai pekerjaan yang mapan, dan bocah itu juga seperti dijadikan ratu yang sesungguhnya di rumah tersebut.
Semua pekerjaan rumah Hasyim yang mengatur, dia juga rela belajar masak buat sang istri. Sampai membuat Aleria candu dengan aneka makanan ala Hasyim.
Telapak tangan Aleria membelai pipi sang suami. Terasa kasar di daerah dagu, ibu jari bergerak mengusap. "Maafin Ria, karena belum jadi istri yang baik,"
"Tapi besok, Ria mulai belajar kok mas," setelah dagu kini tangannya berpindah ke rambut. Menyisir dengan jari-jari, sudah lebat juga ternyata.
Satu bulan ini Hasyim cukup tersiksa karena perang dingin dengan Aleria, merawat dirinya saja ia tidak bisa, malah sibuk mengamati dalam diam segala aktivitas istri kecilnya.
"Sudah berapa abad sih mas, rambutnya gak dipotong?" monolog Aleria, karena Hasyim masih tidur dengan pulasnya.
Mungkin dia kecapekan, tenaganya terkuras habis saat momen tadi, dan mereka baru tidur satu jam. Sayangnya Aleria terbangun karena terkejut dengan suara guntur.
"Maafin Ria juga mas, kalau belum bisa menuruti permintaanmu yang tentang anak,"
"Ria juga belum bisa membuka hati buat mas," ucapan kali ini yang membuat Aleria merutuki hatinya, jahat sungguh jahat jika tidak bisa membuka hati untuk sang suami.
"Apa mas terlalu jahat untukmu sayang?"
Mata Aleria yang awalnya terpejam karena merasa pedih, kini terbuka cepat ketika mendengar suara lembut Hasyim.
"Mas masih ingat dengan perjanjian kita dulu, agar tidak memaksa Aleria untuk mencintai mas seperti dulu,
tapi apakah segala usaha mas kali ini masih sia-sia di matamu sayang?
apa benar sudah tidak ada tempat untuk mas di hatimu?
mas mohon sayang, tolong buka sedikit aja,"
__ADS_1
"Mas.. " Aleria tidak bisa menahan buliran hangat itu, ia menghambur ke pelukan Hasyim seraya mengeratkan tangan di pinggang sang suami.
Dia masih bingung dengan hati yang seakan gengsi untuk mengakui, kalau Hasyim sedikit demi sedikit telah memasukinya. Meskipun belum sepenuhnya.
"Maaf, jika mas terlalu memaksamu sayang.." tangan Aleria semakin erat memeluk Hasyim, dia tidak kuat mendengar kata demi kata dari laki-laki itu.
Bocah tersebut seperti takut jika Hasyim akan pergi nantinya, entah kenapa dia berfirasat begitu.
"Mas tetap sayang Aleria.. " Hasyim mengecup pucuk kepala sang istri, lalu melepas tangan yang erat tadi.
"Mas Hasyim mau kemana?!" seru aleria seraya memegang tangan Hasyim yang hendak beranjak.
"Mas nenangin diri dulu ya, gak kemana-mana kok," Hasyim melepas pegangan sang istri.
"Jangan pergi mas.. " Aleria langsung memeluk Hasyim.
"Ria mas gak pergi, bentar ya," kali ini Hasyim melepas diri secara paksa, lalu memakai pakaiannya yang tadi.
"Ria gak mau sendirian," bocah itu semakin histeris, dia tidak ingin ditinggalkan sangat tidak ingin.
"Mas gak akan meninggalkan Aleria, tapi kali ini aja biarkan mas sendiri dulu,"
"Ria tetap gak mau!" Aleria memeluk suaminya lagi dengan erat.
"Mas.. " lirih Aleria seraya memegang kepalanya.
Tubuh mungil tersebut limbung, beruntung Hasyim segera menangkapnya. Lalu menggendong sang istri ke ranjang.
"Jangan tinggalkan Aleria mas.. " pintanya.
Hasyim mengerti kalau sang istri sekarang lagi syok, dia sedikit senang karena Aleria masih membutuhkannya.
"Kita ke rumah sakit ya," tak bisa dipungkiri laki-laki itu juga merasa khawatir.
"Gak mau, Ria hanya ingin ditemani sama mas,"
Hasyim tersenyum meneduhkan lalu berkata, "Mas tetap di sini bersama Aleria,"
"Ria pakai baju dulu ya," lanjut Hasyim lagi, karena mengetahui sang istri masih polosan. Dia takut jika bocah tercintanya itu nanti masuk angin.
__ADS_1
...----------------...
Pagi harinya Aleria berinisiatif untuk memasak buat sang suami. Hasyim masih tertidur, karena setelah shalat subuh berjamaah mereka tidur kembali.
"Masak apa ya?" monolognya, dia jarang berkecimpung di dunia perdapuran, selama hidup di Jogja selalu membeli lauk matang.
Lalu Aleria membuka mejikom ternyata masih ada sisa nasi tadi malam, dan teksturnya mawur sangat enak jika dibuat nasi goreng.
Tak susah membuat bumbu masakan tersebut, karena Aleria memang sering membuatnya, meskipun dia hanya menyukai nasi goreng yang berasa setengah pedas. Berbeda dengan sang suami kalau tidak pedas maka terasa hambar.
Hingga Aleria menghaluskan lima cabai untuk bumbunya, entah nanti dia suka atau enggak yang penting bisa membuat hati Hasyim senang.
"Setelah masak nanti ngapain lagi?" fikir Aleria seraya mengaduk-aduk nasi goreng yang hampir matang.
matanya melirik ruangan dapur, dan sekitarnya. Kasar itulah yang kakinya rasakan saat menginjak lantai, mungkin setelah ini dia berniat menyapunya.
Kasihan Hasyim jika selama ini hanya laki-laki itu yang selalu membereskan segala pekerjaan rumah.
Aleria ingin menjadi istri yang baik untuk membalas budi dari segala kebaikan sang suami. Dia tidak ingin terus-terusan bersifat kekanakan, yang selalu ingin dimengerti.
Nasi goreng entah level berapa itu akhirnya sudah jadi, Aleria bergidik ngeri ketika merasakan sedikit. Rasa pedas menguar di lidah, tidak cocok untuk lidah maupun lambungnya nanti.
Tapi pasti bisa memakannya, karena perempuan itu ingin beradaptasi dengan segala makanan yang disukai sang suami.
"Mas, bangun yuk," tangan Aleria mengusap bahu Hasyim.
Hembusan nafas teratur masih terdengar di telinga sang istri, Hasyim belum bereaksi sama sekali.
"Mas.. " panggil Aleria lagi, kini jari tangannya mengusap-usap alis tebal hitam milik Hasyim. Jadi kepengen memiliki bulu alis setebal itu.
"Tumben banget tidurnya kayak kebo," monolog Aleria sambi menggeleng-gelengkan kepala.
"Mas Hasyim.. " karena tidak sabar lagi, Aleria langsung mengoncang lengan suaminya dengan cepat.
"Eughh hoam.. " tangan Hasyim menutupi mulut yang menguap, mata sepatnya harus ia paksa untuk terbuka karena gangguan dari sang istri.
Kedua kelopaknya dia kerjapkan berkali-kali, dan nampaklah wajah polos sang Aleria di pagi hari.
Hasyim ingin meraihnya dalam pelukan hangat, tapi dia masih teringat dengan perkataan istrinya tadi malam.
__ADS_1
Sebenci itukah Aleria kepadanya? sampai Hasyim belum bisa memasuki hatinya sama sekali.
bersambung..