
"Mas, aku pinjam hpmu," pinta Aleria seraya menaruh hpnya yang sudah melemah.
Hasyim gelagapan, dia langsung beranjak dari tempat tidur lalu mengambil benda kotak tersebut di atas nakas.
Sebelum ia berikan ke sang istri, Hasyim menghapus terlebih dahulu riwayat chatnya dengan dokter Chandra.
"Mas," Aleria tidak sabaran menunggu.
"Iya sayang bentar,"
"Lagi menghapus chat ya?" mata Aleria memicing curiga.
Laki-laki itu menegang, takut kalau sang istri mengetahuinya.
"Pasti tadi chatan sama perempuan," ketusnya yang membuat helaan nafas Hasyim menjadi lega.
Aleria hanya cemburu biasa, tidak sedang mencurigai tentang diskusinya dengan dokter Chandra.
"Hem.. Cemburu nih?" Hasyim naik ke ranjang, lalu tubuh kekarnya ia rebahkan di samping sang istri.
"Tau ah gelap," Aleria segera merebut hp milik Hasyim.
Dibukanya bagian aplikasi hijau, untuk memastikan lebih lanjut. Hatinya terasa nyeri jika seumpama betul Hasyim berkirim pesan dengan perempuan.
Cemburu? Hem tidak tahu lebih pastinya, Aleria sangat sulit untuk mengakui.
Dalam benaknya dia hanya tidak ingin jika seseorang yang sudah menjadi miliknya, ternyata juga dimiliki orang lain.
Bahkan hati Hasyim harus untuknya saja, jangan sampai laki-laki itu berpaling ke lain hati.
"Geser terus.. " sindir Hasyim waktu melihat aktivitas jari sang istri.
Aleria tidak menjawab, benda kotak tersebut ia letakan di pinggir bantal. Lalu membalikan tubuh hingga pandangan mereka bisa bertemu.
"Apa sayang?" Hasyim seolah peka kalau sang istri melihat wajahnya lekat berarti ingin meminta sesuatu.
Tangan mulus Aleria membingkai wajah Hasyim, dimulai dari dahi bersenggolan dengan alis tebalnya. Lalu mata yang membuat laki-laki itu memejam menikmati sentuhan tangan sehalus salju tersebut.
Sampai Hasyim merasakan ada sesuatu kenyal yang menempel di bibirnya, bahkan berusaha membuka bibir pria itu.
Mata Hasyim terbuka sampai bisa melihat tindakan mengejutkan dari Aleria. Kini tangan mungilnya juga meraih erat leher bagian belakang sang suami.
Tanpa basa-basi dengan senang hati Hasyim menyambutnya, lumayan kan dapat yang manis-manis.
aleria memang masih kaku, tidak seperti Hasyim, akan tetapi hatinya tiba-tiba saja ingin melakukan hal itu.
'Kamu kangen ya nak sama papa? Sampai menyuruh mamahmu seperti ini' batin Hasyim, firasatnya tindakan yang dilakukan Aleria itu karena keinginan jabang bayi yang masih di dalam kandungan.
Soalnya Hasyim tahu Aleria mempunyai ego yang tinggi, tidak mungkin kalau meminta mengenai hal sensitif lebih dulu.
Aleria mendorong dada bidang yang ada di depannya, saat merasakan sentuhan tangan sang lawan mulai membuka kancing piyama.
"Sebentar saja ya," bisik Hasyim, dia tidak bisa menahannya.
Bocah belia itu menggeleng, "Ria capek,"
__ADS_1
"Sayang tinggal diam aja," bujuk Hasyim.
"Tapi capek juga kan mas,"
"Nggak kok, kan hanya sebentar,"
Bukannya mengiyakan, Aleria malah membalikkan badan memunggungi Hasyim kembali.
"Sayang.. " Hasyim memegang bahu sang istri.
"Nanti aja deh mas," Aleria mencoba bernego.
Seperti mau beli sesuatu aja sampai bernegosiasi.
"Mas pengennya sekarang.. " Hasyim mencoba bersabar, salah sendiri macan tidur dipancing-pancing.
"Nanti, lima jam lagi deh,"
Bisa gila Hasyim kalau harus menunggu lima jam, kepalanya bakalan nyut-nyutan.
"Kelamaan sayang.. "
"Sabar mas, bentar tak nginstal game dulu," Aleria masih sibuk dengan aneka pilihan permainan di play store.
"Nanti ajalah itunya," jengah Hasyim masih mencoba bersabar.
"Ria maunya sekarang kok," Aleria tetap kekeh.
"Mas pengennya juga sekarang," Hasyim tak ingin kalah.
Ditariknya bahu Aleria agar bisa menghadapnya, tanpa basa-basi lagi dia langsung menyergap bibir manis tersebut.
Tubuh Hasyim seolah membisu saat merasakan ada pukulan penolakan dari sang istri. Tidak terasa sakit hanya seperti dielus-elus. Padahal Aleria sudah mengkerahkan seluruh tenaga.
Laki-laki yang tidak ingin diganggu itu akhirnya menangkup kedua tangan sang istri, sampai tidak bisa bergerak lagi.
Kini tinggalah kaki perempuan tersebut yang memberontak, dan Hasyim membiarkannya.
Mempunyai jiwa petualang membuat tangan Hasyim tak tinggal diam. Menjelajah ke sana ke mari sampai gerakan Aleria tak terkendali.
Dia merasakan geli, dengan kancing piyama yang Hasyim lepas sendiri. Setelah dirasa Aleria cukup tenang. Laki-laki itu baru bisa melepaskan tautan.
Jarinya mengusap bibir yang terasa dingin dan basah, karena kelakuannya. Terlihat nafas Aleria tersengal-sengal seperti kehabisan oksigen.
Matanya berkedip secara perlahan untuk menetralkan fikiran, dan sang suami hanya diam memperhatikan seraya siku di lipat dengan kepala disanggah oleh telapak tangan.
"Gimana? Manis bukan?" Hasyim memainkan alis untuk menggoda.
Dada bidangnya didorong lagi dengan pelan, sang istri tidak bisa berkata-kata. Mungkin sudah capek akan kelakuan Hasyim.
Sisa tenaga yang tak seberapa dimanfaatkan Aleria untuk membalikan tubuh. Naasnya baru bergerak sedikit, tubuh tersebut sudah disergap mangsa.
Aleria hanya pasrah, jikapun memberontak tenaganya kalah jauh dibandingkan sang suami.
Melihat tidak ada penolakan sama sekali, laki-laki itu melancarkan aksinya dengan pelan.
__ADS_1
.
"Tuh suara apa tuh?" Hasyim melirik sang istri yang menyenderkan di bahunya.
Setelah kegiatan tadi sekarang mereka sedang melihat tv di ruang tamu, menuruti keinginan Aleria yang katanya bosan kalau di kamar terus.
"Gak mau kalau makan nasi padang,"
"Roti aja gimana?" Hasyim mengecupi rambut Aleria yang masih mengeluarkan aroma shampo.
"Belum kepengen makan mas,"
"Kalau gak mau makan, nanti minum obatnya gimana sayang?"
"Makan nasi sedikit aja ya kalau gitu," tawar Hasyim lagi.
Aleria menggeleng lalu dia tidak bersender pada bahu Hasyim, melainkan pada tangan sofa.
Karena tidak bisa dirayu-rayu, akhirnya laki-laki itu meninggalkan sang istri untuk mengambil nasi yang kemungkinan sudah matang.
Mengambil setengah centong nasi, lalu menggoreng nuged ayam seperlunya.
Saat sampai, Hasyim melihat Aleria mengusik-usik hidung. "Mual lagi ya?" dia taruh piring di meja, dan membantu sang istri untuk duduk yang nyaman.
Perempuan tersebut hanya mengangguk, dan matanya mengikuti tangan Hasyim yang mengambil piring sudah berisikan nasi dan lauk.
"Masih kenyang mas," lirih Aleria.
"Sedikit aja kok," pucuk sendok yang Hasyim pegang digunakan untuk mengiris naged, lalu di ikutkan bersama nasi.
Aleria berpaling saat tangan suaminya memberikan suapan tepat di depan bibir.
"Dek.. "
"Gak mau mas.." dia menutupi bibirnya.
Hasyim menyingkirkan telapak tangan sang istri, ia persatukan jadi satu dan digenggamnya.
"Mas.. " protes Aleria seraya menggerakan tangan meskipun rasanya tak bisa.
"Sedikit aja Ria.."
"Mual mas beneran," rengeknya.
"Buka mulutnya atau mas yang buka sendiri?"
Aleria bungkam, tetapi matanya membesar ketika Hasyim menyuapkan makanan begitu banyak ke dalam mulut, lalu wajahnya mendekat.
Kepala perempuan tersebut menggeleng keras, mas Hasyim memang gila, dalam fikirannya.
"Stop-stop! Baiklah Ria mau makan,"
Senyuman smirk terbit di bibir Hasyim, akhirnya rencananya berhasil juga.
Bersambung..
__ADS_1