
Aleria membuka HP untuk mengecek tanggal, lalu membuka aplikasi pengingat waktu haid. Kotak hitam sudah melewati lingaran merah bahkan sangat jauh. Apakah dia sedang hamil? Apalagi juga mengalami tanda gejala mual dan lemas. Selain itu masih banyak lagi kejanggalan yang menimpanya.
“Heh Ria kok malah menghalu sih,” tangan Gendhis menyenggol lengan Aleria karena melihat kawannya itu sedang mengusap perut, dia mengira kalau Aleria sedang membayangkan suatu hal.
“Ya siapa tahu bisa terwujud mbak.”
“Biyuh.. serem kali ngehalumu.”
“Serem gimana to mbak?”
“Masa kamu bayangin hamil, kan belum nikah,” perempuan yang lebih tua dari Aleria itu mengira jika lawan bicaranya tersebut sedang berhayal mengandung janin.
Aleria hanya bisa menggeleng, kenapa bisa sejauh ini pemikiran mbak Gendhis, “Ya Allah ya Robbi.. maksudku berhalu mempunyai suami big boy mbak, nah terus baru hamil,” kata hamil disebutkan secara lugas, namun dalam hatinya berucap jangan sampai itu terjadi.
“Tapi kalau big boynya over aku yo wedhi eg..” Gendhis bergidik ngeri membayangkan.
“Hus! gak usah dibayangno mbak kalau takut,” Aleria mengibaskan tangan di depan mata Gendhis yang terbengong.
Belum selesai mereka berbincang-bincang kating pj yang mengawasi kelompok merekapun sudah datang untuk memberikan materi.
Para mahasiswa disuruh mencatat, Aleria menulis apa yang dia dengar dan mengambil intinya karena ppt di layar monitor cepat sekali berpindah slide.
Sudah abai dengan tulisan yang tak rapi dia bodo amat akan hal itu. Tujuannya hanya satu yaitu buku tersebut ada isinya ketika ada pengecekan.
“Ini ac nya mati atau gimana sih, panas banget dah!” ucap perempuan di depan Aleria, terlihat mengibaskan buku.
“Iya eg, agak dibesarin bisa gak ya,” Gendhis juga menyahuti, ruangan aula memang agak terasa panas apalagi ditambah mahasiswa yang padat.
“Yang hpnya Realma biasanya bisa mbak.” Aleria menyebutkan nama brand HP yang dia ketahui bisa digunakan untuk mengatur suhu AC.
“Tapi siapa yang punya?” tanya Gendhis kebingungan melihat ke sana ke mari.
“Lah Hamzah ternyata di situ,” ucap perempuan tadi ketika menyadari teman lakinya ada di sebelah kiri Aleria.
“Kamu kenal mbak?”
“Iya dia temanku SMA dulu, coba minta tolong sama dia buat membesarkan AC, HPnya Realma tuh.”
“Owalah okey mbak,” Gendhis mengiyakan lalu menyuruh Aleria yang ada di dekatnya.
“Tapi aku gak berani mbak,” sejak putus dari Hasyim Aleria tidak pernah dekat dengan laki-laki, bahkan sering menghindari, jadi agak canggung jika berinteraksi sama lawan jenis yang belum ia kenal sebelumnya.
“Halah kok dadak takut juga, kamu yang duduknya dekat hlo,” paksa Gendhis lagi.
Dengan terpaksa Aleria menuruti, dia menengok ke samping terlihat Hamzah masih sibuk mencatat. Ragu-ragu perempuan tersebut membuka mulut untuk memanggil.
__ADS_1
“Ayo..” bisik Gendhis agak geregetan karena temannya itu malah menengok ke arahnya lagi.
“Iya-iya ih!” kesal Aleria.
Perempuan tersebut mencoba menyemangati diri sendiri terlebih dahulu sebelum memanggil, dan dimulai dari sekarang, satu.. dua… ti..
“Mas.”
“Iya?” laki-laki itu menengok, meletakan polpen yang tadinya ia pegang.
“Bo-boleh minta tolong untuk be-besarin AC nya?” bersusah payah Aleria menyelesaikan ucapannya, bahkan tangan sampai bergerak untuk membantunya berinteraksi. Jadi bisa dibayangkan ketika mulut tidak bisa merangkai kata, maka masih ada tangan yang bisa membantu untuk mengisyaratkan.
“Oh iya boleh.”
“Makasih,” ucap Aleria langsung menunduk dan melanjutkan mencatat, jantungnya berirama seperti paduan suara.
Karena wajah laki-laki tersebut mirip Hasyim.
Di mulai dari tebalnya alis, mancung hidung dan warna kulitpun juga sama. Jangan-jangan hanya mata Aleria saja yang sableng. Sampai semua laki-laki yang berkulit sawo matang ia miripkan dengan Hasyim.
Tapi… wajah Hamzah memang benar-benar mirip, dia nggak ngantuk sama sekali saat memperhatikan tadi.
“Nah ginikan adem.” ucap Gendhis saat merasakan kesejukan yang menyelimuti dirinya.
“Gak tahu mbak, ini saja banyak tak loncati kok.”
“Tolong kamu pinjam bukunya Hamzah dong, dari pada catatan kita gak lengkap,” Gendhis memperhatikan laki-laki itu yang fokus banget pada buku, kemungkinan sangat banyak tulisan yang tertampung di situ.
“Gak ah mbak, aku terus yang di suruh.” tolak Aleria.
“La dia sampingmu hlo, kalau aku ya jelas kejauhan,” bantah Gendhis.
“Lihat punynya mbak itu aja lah,” Aleria menepuk bahu perempuan yang ada di depannya, tetapi dia juga melihat ke buku catatan yang hanya ada beberapa tulisan.
Hem.. sepertinya perempuan tersebut salah orang.
“Iya?” yang ditepuk Aleria menengok ke belakang.
“Catatanmu lengkap mbak?” tanyanya untuk basa-basi, meskipun sudah tahu jawaban yang akan ia peroleh nanti, kan gak mungkin kalau dia sudah memanggil malah gak jadi.
“Jangankan mencatat mbak, mendengarkan aja nggak,” raut kelelahan nampak jelas dari perempuan itu.
“Oh yaudah mbak sama berati,” Aleria menanggapi dengan senyuman dan Gendhis hanya mengedikan bahu.
“Tanya ajalah Ria sama dia.”
__ADS_1
“Mbak Gendhis ini modus mulu dah dari tadi.”
“Hlo modus piye to? Dari pada kita nanti kena hukuman hanya karena catatan nggak lengkap.”
“Ya tapi nggak harus sekarang juga mbak melengkapinya, nanti tak tanya temanku yang lain.”
“Halah.. kelamaan, lebih cepat lebih baik.”
“Lah-halah.. ini pasti sampean suka sama mas itu kan? Jujur ae lah mbak,” jari Aleria menuding Gendhis sambil menyipitkan mata seolah mengintrogasi.
“Ih sapa juga yang suka, berondong gitu kok.”
“Berondong gimana to mbak, wajahnya dah matang kok itu.”
“Halah palingan dia kelahiran tahun dua ribu,” Gendhis mengkira-kira sendiri.
“Hla itu bukannya lebih tua mbak dari kita, kok disebut berondong sih?” tanya Aleria dengan keheranan, pasalnya sebutan berondong paling cocok untuk usia yang dibawahnya.
“Iya memang lebih tua dari kita tapi tetap aja tak sebut berondong, hla keinginanku itu yang 26++ kok.”
“Hoalah seleranya om-om tah?” Aleria menahan ketawanya.
“Ya minim selisih jarak 6 tahunlah.”
“Kalau maksimalnya berapa mbak?”
“13 tahun.”
...----------------...
Aleria pulang lebih awal dari biasanya, dia tidak menelfon Hasyim karena ingin pulang dengan taksi online, bocah tersebut pengen mengejutkan sang suami di tengah aktifitasnya memasak.
Maka dari itu dia membuka pintu dengan pelan jangan sampai menimbulkan suara.
Saat berhasil masuk tak lupa menutup pintunya kembali, melangkah mengendap-endap seraya senyuman terus menghiasi, dia tak sabar melihat ekpresi sang suami nanti.
Di pintu utama dapur terlihat laki-laki bertubuh tinggi tegap sedang berada di depan alat pemanggang roti atau biasa yang disebut dengan oven. Posisinya membelakangi hal itu merupakan kesempatan bagi Aleria.
Perempuan tersebut menggerakan langkah demi langkah kakinya, lalu ketika dia sampat tepat pada belakang tubuh Hasyim, kedua tangannya terayun untuk merangkul ke depan.
Hap
Aleria merasakan tubuh sang empu terjingkat. Namun dia belum bersuara sama sekali, karena ingin menikmati aroma tubuh yang sedang dia rindukan sejak berjam-jam yang lalu.
Bersambung….
__ADS_1