
Sore sudah berganti malam, setelah menunaikan shalat magrib. kedua pasutri tersebut kembali berdiam diri di kamar.
Aleria masih mode marah, jadi sesudah makan bakso tadi ia langsung kembali ke kamar dan Hasyim juga menyusulnya tapi tidak membujuk sama sekali karena masih sibuk mengecek laporan dari karyawan yang mengurus bisnis martabak manisnya.
Perempuan itu malah semakin ngambek. Merasa kalau suaminya tidak peka, dia ingin dibujuk atau apa gitu. tapi Hasyim malah sibuk dengan hpnya. Aleria jadi berfikir, apakah Hasyim lagi chatingan dengan perempuan lain?
Ya begitulah perempuan ketika melihat suaminya sibuk mengetik-ngetik pasti dikira chatan sama yang lain. Apalagi Aleria masih 18 tahun bisa dipastikan pikirannya juga labil.
"Kamu kenapa sih dek kok guling-guling gitu?" gerakan random sang istri membuat Hasyim mengalihkan perhatiannya dari benda kotak tersebut.
"Gak papa,"
"Gimana to gimana?" Hasyim paham dari kata 'gak papa' pasti menyimpan beribu makna.
"Ria mau apa? coba bilang ke mas," laki-laki itu merangkul istrinya.
" Nggak,"
"Jangan gitulah sayang .. mas kan gak tahu apa yang Ria mau,"
"Bosen mas, sejak kemarin di rumah terus," keluh perempuan tersebut.
"Kata orang jawa pengantin baru itu lebih baik di rumah dulu, gak boleh keluar,"
"Ria gak mau kan kalau nanti terjadi apa-apa?" sambung Hasyim.
"Ya jangan dong, tapi beneran bosen mas,"
"Dah ayo tidur aja," Hasyim memeluk istrinya dan merebahkan tubuh mungil itu.
Tapi ocehan demi ocehan terus berlalu lalang.Meskipun pria tersebut sudah terpejam, namun indra pendengarannya masih menyala.
__ADS_1
"Tidur dek, di luar ada tokek,"
"Emangnya aku anak kecil yang takut sama tokek,"
"Kan kamu masih kecil sayang ..."
"Kalau masih kecil kenapa dinikahin,"
"Ya karena cinta,"
"Dasar gaje, ayolah mas keluar," rengek Aleria lagi.
"Dingin, nanti masuk angin,"
"Pakai jaketlah,"
"Jaketnya kotor semua belum mas cuci,"
"Lah, kok bisa kotor, dipakai aja belum mas," bantah Aleri, karena dia maupun Hasyim tidak pernah nampak memakai jaket.
"Kalau mas gak mau nganterin, ria akan keluar sendiri,"
Hasyim hanya tersenyum miring ketika mendengar ucapan istri kecilnya itu, bagaimana bisa keluar la tangan laki-laki tersebut saja masih merangkul erat tubuh Aleria.
"Mas lepas dong,"
"Kalau gak mau, gimana?"
"Dasar egois!"
"Jangan marah sayang.., makin cantik loh itu," akhirnya Hasyim membuka matanya, karena terkejut mendengar teriakan Aleria.
__ADS_1
"Gombal,"
"Benar kok makin cantik,"
"Yang ada makin jelek mas,"
"Kalau istri mas mah beda, seumpama pas marah itu malah cantik,"
"Yaudah tak marah terus aja biar kelihatan cantik,"
"Eh gak baik begitu
ayo-ayo kita keluar," setelah perdebatan yang cukup lama akhirnya Hasyim mengalah.
"Tapi yang dekat-dekat aja ya, jangan jauh," Hasyim mengambil jaketnya beserta milik Aleria.
"Kalau dekat itu ke mana?" tanya Aleria.
"Taman kota, di sana juga banyak jajan-jajanan kaki lima kesukaanmu," jawab Hasyim sembari memasang jaket pada tubuh sang istri.
"Berati papedah, cimol, terus krepes ada dong mas?" Aleria semakin antusias.
"Pokoknya lengkap sayang .. apapun yang Ria mau pasti ada di situ,"
"Yaudah ayo mas, perut Ria sudah meronta-ronta,"
"Padahal kamu baru loh ya makan bakso," Hasyim menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, karena mendengarkan tingkah lucu istrinya.
"Tau tuh perutku memang membingungkan mas,"
Bersambung...
__ADS_1
Cerita ini masih tetap berlanjut kok😅, jangan lupa follow juga instagram author @ririnwulandari027
Terima kasih