Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Suryo minta jodoh


__ADS_3

Aleria kini sedang berendam di bathup, dalam pikirannya ingin merasa bodoh amat dengan permasalahan tadi. Karena menurut gadis itu usianya masih muda jadi gak perlu mikir yang berat-berat dulu. Urusan hamil atau tidak bisa dipikirkan nanti, kan jaman sekarang sudah canggih tinggal tanya saja ke mbah google.


"Kalau mandi jangan lama-lama nanti masuk angin," tiba-tiba Hasyim nyelonong masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya tidak terkunci.


Laki-laki tersebut meninggalkan Suryo di ruang tamu namun sudah diberikan suguhan. Karena Hasyim berniat membersihkan diri terlebih dahulu sekaligus memastikan keadaan sang istri.


"Mas boleh sekalian ikut mandi di sini kan?" tanya Hasyim, sejak tadi istrinya masih diam saja.


"Terserah, ini kan rumahnya mas, jadi apa hakku untuk melarang?"


"Jangan gitu dong, ayo kita mandinya cepat jangan lama-lama, karena mas Suryo lagi nunggu," Hasyim membantu istrinya dan Aleria juga malas untuk menolak.


Setelah selesai mereka langsung menuju ke ruang tamu, dengan tangan Hasyim menggandeng Aleria.


"Mandi bareng?" pertanyaan Suryo yang ceplas-ceplos membuat Aleria bingung mau jawab apa.


"Iyalah mas namanya juga suami istri," jawab Hasyim lalu duduk dan diikuti oleh Aleria.


"Gimana? ada nggak calon buat aku?"


"Sabar mas, nanti bakalan tak bantu nyariin,"


"Om Suryo nyari calon istri?" entah dapat keberanian dari mana tiba-tiba Aleria berinisiatif untuk bertanya.


"Hooh tenan, kamu punya teman gitu nggak Ria?"


'tumben banget nih orang jawabnya full kagak setengah-setengah' batin Hasyim keheranan atas jawaban kakaknya, ketika Aleria bertanya aja langsung full dia respon. Jadi bikin orang cemburu saja.


"Punya sih mas seumuranku gini mau?"


"Wah aji mumpung banget kalau itu mah, mau dong kapan kamu kenalinnya?" Suryo langsung antusias.


"Kamu dah tua mas ngapain nyari daun muda segala," sahut Hasyim.


"Biar enak,"


"Emangnya buat dimakan," kesal Hasyim lalu dia memakan camilan yang ada di meja.


"Mas itu punyaku," Aleria merebutnya padahal suaminya hanya mengambil sedikit.


"Minta dek satu aja,"


"Nggak mau, aku masih mode marah sama mas,"


"Kamu ini kayak anak kecil aja sih syim, kagak bisa ngalah sama istri sendiri," ketus Suryo malah ngebelain Aleria.


"Tautuh bisanya bikin Ria sedih mulu," perempuan itu yang sudah jelas mendapatkan pembelaan malah ingin mengerjai suaminya.

__ADS_1


"Kalau sekarang di depan orang lain pura-pura sedih aja sayang.., nanti malam bakalan mas bikin seneng kok," Hasyim mengedipkan mata menggoda.


"Bikin seneng apa?" spontan Suryo dan Aleria berucap bersamaan.


"Bikin anak,"


"Astagfirullah mas!" pekik Aleria sambik menampol lengan Hasyim.


"Jadi pengen," keluh Suryo.


"Yaudah gini aja om biar nggak ribet nanti langsung tak bawa aja temanku ke eyang. Jadi om nanti nggak usah banyak protes harus tinggal terima," ucap Aleria dengan yakin.


"Temanmu siapa dek?" kepo Hasyim.


"Shafa mas,"


"Eh jangan dia lah sayang," Hasyim tidak setuju dengan usulan istrinya.


"Kenapa? mas suka sama Shafa?" kini Aleria malah naik pitam.


"Bukan mas, tapi Adnan kamu tahu kan karyawan mas yang baru itu,"


Sejak awal bertemu dengan Shafa, karyawan Hasyim langsung jatuh hati entah bagaimana prosesnya yang tahu hanya Adnan dan tuhan saja.


"Halah buat aku aja Ria, nggak usah kau dengarkan perkataan suamimu itu," bantah Suryo.


"Seharusnya kamu sadarlah syim, masmu ini usianya udah mateng banget belum dapat-dapat istri juga,"


"Salah sendiri hidup kayak kanebo kering,"


"Padahal om itu ganteng loh, masa sih gak punya pacar?" tanya Aleria yang masih belum percaya.


"Ganteng sih emang ganteng dek, tapi yang bikin mas curiga jangan-jangan mas Suryo itu kaum belok,"


"Jaga mulutmu ya," Suryo berdiri langsung menyerbu Hasyim. Merangkul tubuh adiknya dan mencubit-cubit pipi Hasyim seperti masa kecil mereka dahulu.


"Eh om, mas Hasyim punyaku jangan diembad juga dong .." nah kan Aleria jadi salah paham. Dia segera menarik tangan Hasyim.


"Astagfirullah Ria, saya itu masih normal. Jangan dengarkan omongan suamimu yang sodron itu," Suryo melepaskan rangkulan tersebut.


"Cie.. ternyata istri mas yang cantik ini cemburu ya," tangan Hasyim menjawil dagu Aleria.


"Hais bucin mulu kalian nih, yaudahlah tak pulang ae,"


"Ya siapa suruh ke sini,"


Akhirnya Suryo pergi dari rumah pengantin baru tersebut. Tinggal Hasyim dan Aleria saja.

__ADS_1


"Nanti kita makan bakso aja ya dek paling bentar lagi gerobaknya liwat," sebenarnya Hasyim ingin mengajak istrinya jalan-jalan keluar mencari makanan, namun dia teringat pesan 'kalau pengantin baru jangan banyak keluar dulu karena takut jika ada sawan di jalan'


Peringatan seperti itu pernah Hasyim dengar secara turun temurun, jadi lebih baik sementara ia dan istrinya berdiam diri dulu di rumah.


"Kamu masih marah sama mas?" Hasyim menyusul istrinya yang sedang nonton televisi.


"Pikir aja sendiri,"


"Mas minta maaf,"


"Tau ah,"


"Chanelnya kenapa dipindahin mulu sayang?" Aleria terus memindah-mindah chanel kanera tidak ada yang ia suka.


"Urusanku," jawab perempuan itu dengan acuh.


"Yaudah kalau gitu," Hasyim juga asyik dengan hpnya. Tapi tangan laki-laki tersebut meraih kepala istrinya agar bisa tidur di pahanya.


"Apaan sih mas," protes Aleria namun Hasyim mencegah kepala itu agar tidak berpindah.


"Gini aja kan kamu bisa nyaman karena ada bantalnya," rambut hitam Aleria diusap-usap Hasyim.


Akhirnya Aleria tidak membantah lagi, melihat Hasyim yang asyik memainkan hp dia juga ingin membuka hpnya, namun sangat disayangkan ketika usapan layar baru terbuka tanda baterai melemah sudah langsung muncul.


"Gampang banget baterainya habis," keluhnya.


Hasyim yang mendengarkan hanya bisa menahan tawa, dia menebak kalau istrinya nanti bakalan minta dipinjami hp.


Mata perempuan tersebut terus melihat kesibukan Hasyim, seolah bertanya kalau suaminya itu lagi melihat apa? ingin bertanya tapi gengsi kan masih mode marah, pengen juga pinjam dari pada gabut.


Karena tak kunjung dapat jalan keluar akhirnya jari tangan Aleria bermain-main di paha Hasyim yang kini menjadi bantalnya. Dia memencet-mencet dan menggambar pola benang ruwet. Ya namanya orang gabut jadi terserah dia. Hasyim juga tidak merasa terganggu sama sekali, sebenarnya lagi lihat apa laki-laki itu?


Karena gemas Aleria langsung menggigit paha suaminya. "Aw.. sakit dek, kenapa paha mas digigit sih?" Hasyim mengusap-usap kulitnya yang sudah meninggalkan bekas.


"Gabut, lagian mas juga sibuk sendiri sama hpnya,"


"Kan mas gak mau ganggu kamu dek,"


"Alasan, pasti lagi lihat cewek seksi di Tok-Tik tuh,"


"Ya Allah ya robbi.. nih kamu lihat, mas cuma lihat tutorial memasak di yutube


biar bisa masakin kamu yang enak-enak, kalau jajan terus bakalan tidak sehat," Hasyim memperlihatkan layar hpnya.


"Mau pinjam hpnya mas?" laki-laki itu sudah mengira kalau istrinya pasti gengsi jika meminta duluan.


"Gak,"

__ADS_1


"Kalau ditawarin tinggal bilang iya aja sayang.., gak usah jual mahal mulu," Hasyim mencubit gemas pipi sang istri.


__ADS_2