Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
kelicikan Nasya


__ADS_3

Telefon dari Hasyim dimatikan sepihak oleh Aleria, padahal suaminya itu belum menyelesaikan bicaranya. Laki-laki itu ingin menghubungi lagi tapi pelanggan di kedainya semakin banyak, meskipun sudah ada karyawan namun dia juga ikut membantu agar pelanggan tidak menunggu lama.


Hingga Hasyim melupakan istrinya sejenak, nanti jika sudah selesai pekerjaannya ia akan menghubungi lagi.


“Enak ya Nas jadi kamu,” ucap Aleria.


“Enak gimana?” tanya Nasya dengan heran, padahal dia saja iri melihat kehidupan temannya itu.


“Belum nikah, jadi bebas kemana-mana,” nah kan fikiran Aleria berubah lagi, dia merasa kalau belum menikah itu menyenangkan.


“Bukan enak lagi, tapi enak banget…


makanya jangan buru-buru nikah, ya benar sih bisa uwuw-uwuwan sama suami tapi lama-kelamaan juga bosan,” Kenyataannya Nasya ingin berada di posisi Aleria, tapi apalah daya dia masih ditakdirkan sendiri.


“Terus gimana dong aku dah terlanjur nikah, apalagi mas Hasyim kepengen punya anak, Ria belum siap Nas,” pusing Aleria, ia membenarkan perkataan teman SDnya itu kalau Hasyim tak mungkin menuruti keinginannya begitu saja.


“Nikmatin ajalah uangnya dulu, lumayan kan bisa buat belanja, terus facial, buat senang-senanglah pokoknya,”


“Eh tapi kamu diberi uangkan sama suami tuamu itu?” sambung Nasya.


“Dikasih kok,”


“Berapa?”


“lima ratus ribu,” sebenarnya Hasyim ingin memberi lebih agar Aleria bisa membeli apa yang dia ingingkan, tetapi istrinya itu malah menolak lantaran takut jika tidak bisa berhemat, hingga Hasyim cuma berpesan kalau uangnya habis minta lagi saja gak papa.


“G*bl*k uang segitu cukup buat apa Ria? Merawat tubuh itu butuh modal banyak


apalagi wajah kamu dah kusam tuh, terus bajumu kok kucel gini sih,”


“Ini salahku Nas yang minta segini, soalnya takut kalau dikasih uang banyak nanti boros,” jelas Aleria.


“Jadi istri itu gak papa kalau boros, kan suamimu itu bekerja juga buat kamu,” tanpa terasa minuman Nasya sudah hampir habis sedangkan Aleri masih sisa setengah.


“Ayo kuajak facial di klinik, mual mataku melihat wajahmu itu,” Nasya berucap tanpa memikirkan perasaan temannya.


“Skincareku masih banyak Nas di rumah,”


“Halah palingan skincare murahan kan yang kamu beli, Ria.. Ria.. sejak dulu kok gak pernah berubah sama sekali. Sukanya sama yang murah-murah


Jangan salahkan suamimu jika nanti pergi, hanya karena wajah kucelmu itu,” Nasya sudah mulai beranjak.


Aleria juga tidak ingin ditinggalkan Hasyim, bukan karena dia sudah mencintai suaminya tetapi ketika berada di sisi Hasyim perempuan itu merasakan kenyamanan bahkan juga terasa aman.


“Mahal gak Nas?” tanya Aleria dan dia masih duduk karena ragu mengikuti saran temannya itu.


“Ya jelas kalau itumah, pakai uangku dululah,”


“Beneran boleh Nas?” tanya Aleria lagi demgan mata berbinar, dia tidak menyangka jika Nasya yang ceplas-ceplos kini bisa sebaik itu.

__ADS_1


“Boleh-boleh aja aku kan teman terbaikmu,” tanpa Aleria ketahui temannya itu telah mempunyai ide cemerlang.


...----------------...


“Yakin ini aman Nas?” tanya Aleria sebelum melakukan perawatan.


“Aman dahlah Ria percayalah denganku,”


Setelah itu mereka melalkukan berbagai perawatan lengkap, tak hanya bagian wajah saja tetapi badanpun juga di ikutsertakan seperti dipakaikan lulur dan lain-lain.


Beberapa saat kemudian akhirnya mereka sudah selesai, Kulit Aleria semakin bersinar bahkan seperti keturunan chinese, apalagi matanya yang sudah sipit sejak lahir. Nasya semakin iri dibuatnya padahal Aleria hanya mengikuti sarannya.


“Gimana Nas?” tanya Aleria seraya berkaca di depan cermin.


“Cantik,” cuek Nasya, Aleria tidak menyadari perubahan wajah temannya itu.


“Ayo kita lanjut beli baju,” ajak perempuan itu setelah membayar di kasir.


“Eh bentar tak ijin ke mas Hasyim dulu,” Aleria mengambil hpnya yang telah dinonaktifkan.


“Halah kelamaan, takut banget sama si tua itu,” kesal Nasya.


“Ya Allah Nas, mas Hasyim ternyata telfon sejak tadi,” Aleria terkejut ketika sudah mengaktifkan hpnya, banyak notifikasi panggilan dari suaminya.


“Nggak usah ijin Ria, nanti pulangnya cepat kok,” tangan Nasya tiba-tiba merapas benda kotak itu dan menggeser ikon merah tanda mematikan panggilan, padahal niat Aleria ingin menghubungi ulang suaminya. Agar tidak terlalu khawatir.


“Aku takut Nas,”


Aleria masih kefikiran dengan suaminya, ia tak biasa jika pergi tanpa ijin sekalipun. Lalu tanpa Nasya ketahui perempuan itu langsung mengabari sang suami.


“Hallo mas,”


“Ria kamu di mana? mas telfonin berkali-kali gak kamu angkat,” ucap seseorang di seberang telefon.


"Ini masih beli baju bentar lagi pulang kok,"


"Jangan sampai magrib ya pulangnya," ucap Hasyim.


"Yaudah mas aku masih milih baju ini,asalamu alaikum," Ria langsung mematikan sebelum Hasyim menjawab karena melihat Nasya sudah memakai helmnya.


Ternyata ucapan tinggalah ucapan, hingga waktu magrib tibapun deru motor Hasyim belum terdengar sama sekali. Dia sudah menelfon berkali-kali namun nomor istrinya tidak aktif.


"Sayang kamu di mana sih?" cemas Hasyim mondar-mandir di ruang tamu.


Laki-laki itu sudah melaksanakan shalat magrib tapi fokusnya teralihkan dengan keberadaan sang istri yang belum memberikan kabar sama sekali, entah kenapa firasat Hasyim saat ini tidak enak.


Di lain tempat Aleria dirundung rasa bersalah karena hpnya dinon aktifkan kembali, dia hanya ingin bebas tanpa notifikasi apapun, tapi nyatanya tidak bisa. Di dalam kepalanya terus memfikirkan sang suami.


"Ria ayo masuk," tangannya ditarik oleh Nasya.

__ADS_1


"Ini bukan kafe Nas," tolak Aleria saat mereka masih di depan pintu masuk.


Karena sudah kelaparan mereka berniat mencari makan, tapi Nasya malah mengantar ke sini.


"Ini kafe tempat biasa aku nongkrong Ria.." Nasya tetap menarik tangan itu agar segera masuk.


Aleria tidaklah bodoh, dia pernah hidup di kota besar dan tempat ini bukanlah kafe melainkan club. Perempuan itu ingin bergegas keluar tapi tanggannya sudah dicekal kuat oleh Nasya.


"Lepasin Nas!" protes Aleria karena melihat gelagat temannya itu yang sudah tidak beres.


"Kita minum dulu Ria biar gak haus," ucap Nasya dengan tenang agar Aleria tidak curiga.


"Tapi tempat ini gak baik buat kita Nas,"


"Kita hanya memesan jus jeruk bukan yang lain,"


Akhirnya Aleria menuruti permintaan temannya itu. Tetapi sebelum itu dia mengaktifkan hpnya dan mengabari Hasyim agar suaminya itu tidak khawatir, ya meskipun Aleria mengabaikan banyaknya notifikasi telefon.


Setelah pesanan datang Aleria langsung meminumnya, beberapa detik kemudian kepala perempuan itu merasakan pusing luar biasa hingga tak sadarkan diri.


"Gimana om?" tanya Nasya kepada seseorang yang berperawakan tinggi tegap tersebut.


"Bagus juga, berapa perkiraan?" orang itu melihat Aleria yang masih memejamkan mata.


"Murah aja 50juta cukup kok,"


"Oke, nanti saya transfer," lalu pria itu mengangkat tubuh Aleria untuk dibawa ke kamar yang telah ia pesan, dan Nasya membawakan tas Aleria.


Terkadang iri dengki bisa menghancurkan akhlak seseorang, hanya karena kurang rasa bersyukur ia melihat kehidupan orang lain seolah-olah sempurna. Seperti tindakan Nasya kali ini yang rela menjebak temannya.


Pintu kamar sudah tertutup dan Nasya meninggalkan Aleria yang malang. Laki-laki itu menaruh tubuh mulus tersebut di ranjang, tetapi sang empu tiba-tiba terbangun.


Dengan kepala yang berat Aleria menyadari kalau dia sedang tidak baik-baik saja. "Siapa kamu!"


"Jangan takut sayang.. saya sudah membelimu mahal-mahal


jadi marilah kita bersenang-senang," ucap laki-laki itu dengan senyum iblisnya.


"Jangan macam-macam! atau saya akan teriak!" Aleria beringsut mundur saat orang itu mulai mendekat. Meskipun tubuhnya kali ini merasakan hawa yang berbeda. Sepertinya Nasya memasukan sesuatu di dalam minuman itu selain obat tidur.


"Oh silahkan teriak yang kencang hahaha! sampai suaramu habispun tidak akan ada yang menolong,"


Aleria paham apa yang dikatakan laki-laki itu, percuma saja jika dia berteriak pasti tidak ada yang mendengarkan karena kamar ini sudah dipasang kedap suara.


Aleria hanya mampu memeluk dirinya sambil menahan hawa panas yang menjalar, berkali-kali ia berdoa, dan tak lupa menyebutkan nama suaminya berharap segera datang menolongnya.


"Mas Hasyim tolong Ria..."


"Tolong Ria mas.." lirihnya.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2