
"Menteganya mana mas?" Ria menyiapkan teflon untuk memanggang yang nantinya akan diolesi mentega.
"Nih," Hasyim meletakan mentega dan bahan-bahan lainnya.
"Lengkap banget mas bahan-bahan di sini, padahal kita baru nempatin loh," heran Aleria, karena tidak hanya perabotan tapi aneka bahan masakan hingga lidi tusuk sate buat bikin bakso bakarpun juga ada.
"Mas nyuruh Hisyam buat nyetockin, karena dia tahu aneka perdapuran," Hasyim mulai menusukan tiga butir bakso.
"Ria pengen belajar mas, biar bisa jadi istri yang sempurna," Aleria membantu sang suami juga tapi dia bagian sosis.
"Hust ngomong apa sih sayang, tidak ada manusia yang sempurna
kamu itu sudah paling sempurna bagi mas," Hasyim mengusap-usap rambut istrinya yang masih setengah basah.
"Mas.. tanganmu habis megang bakso," pekik Aleria seraya menghempas tangan Hasyim.
"Eh lupa sayang, yaudah nanti keramas lagi kan bisa,"
"Dingin tau keramas mulu," ketus perempuan itu.
"Berati dihangatin dulu biar gak dingin," dari arah belakang, Hasyim melingkarkan tangannya di pinggang Aleria.
"Ya Allah mas.. bisa bau amis semua nanti," Aleria melepaskan tangan Hasyim yang sudah mulai menjalar kemana-mana.
__ADS_1
"Dah masuk kamar aja, nanti kalau matang mas bawakan," Hasyim mendorong pelan tubuh sang istri, sebelum khilaf nantinya.
Dengan kesal Aleria langsung kembali ke kamarnya, dan segera mengganti bajunya juga.
Saat sudah sampai, bocah itu baru teringat kalau tadi malam Hasyim tidak memakai alat pengaman untuk ibadah dengannya. Dia langsung kebingungan lalu berjalan ke arah nakas untuk mencari sesuatu itu.
Digesernya untuk membuka nakas tersebut dan terpampanglah benda itu yang masih berjumlah utuh, Aleria mengambil dan menghitungnya untuk memastikan.
Ternyata masih berjumlah sama sejak awal mereka beli, berati selama ini Hasyim tak memakainya. Entah lupa atau karena sengaja?
Aleria terduduk di lantai dan menyandarkan dirinya pada ranjang. Tangannya meremat rambut serasa frustrasi. Pikiran menerawang jauh.
Pendaftaran kampus secara online baru saja ia lakukan, dan kini masih menunggu jadwal ospek. Jika tiba-tiba positif bagaimana?
Bayangan ketika tubuh mungil menjadi berisi ketika didalamnya ada bayi, dan tubuh bergelambir pasca melahirkan.
Dia melihat tetangga di desanya banyak mengalami hal seperti itu, bahkan jika mental sang ibu tak kuat bisa memicu terjadinya baby blues.
Aleria tidak mau semua itu terjadi padanya, ia belum siap menjadi ibu di usia muda, masih banyak keinginan yang belum dicapai.
"Jangan hamil jangan.. " bocah itu memukul-mukul perutnya.
Hasyim ternyata membohonginya, dia berfikir kalau sang suami sangatlah egois. Memfikirkan kebahagiaannya sendiri tanpa memfikirkan sang istri.
__ADS_1
Dengan langkah terburu-buru Aleria segera menghampiri suaminya di dapur.
"Apa-apaan ini mas!" dilemparkannya benda itu kepada Hasyim yang sedang membakar bakso.
Hasyim terkejut ketika barang tersebut mengenai tubuhnya dan kini berceceran di lantai.
Ia matikan kompor lalu mendekati sang istri, "Sayang mas bisa jelaskan semuanya,"
"Penjelasan bagaimana hah!" Aleria memukul dada Hasyim yang mulai mendekat.
"Sayang maafin mas.. " Hasyim merangkul Aleria meski terus memberontak.
"Aleria belum siap hamil mas!" pekik perempuan itu dengan keras agar suaminya bisa mendengarkan dengan jelas.
"Ria gak mau!"
"Gak mau,"
Kata-kata tersebut berulang hingga semakin lama makin lirih, terasa capek mengeluarkan air mata, dan tangan mungil itu hanya bisa memukul kecil tidak sekuat tadi.
"Maaf," lirih Hasyim.
Bersambung...
__ADS_1