
"Semoga saja bisa sampai ke pelaminan ya nan," Sahut Hasyim sambil merapikan toples toping martabak.
"Aamiin.." tanpa disadari Adnan dan Shafa berucap dengan serempak.
"Astagfirullah.." lirih Aleria.
"Alhamdulillah gitu loh Ria, ngucap gitu susah banget," ucap Shafa.
Aleria hanya melengos dan membuka hp ternyata waktu sudah menunjukan jam 4 lebih. "Ayo pulang dah sore ini,"
"Tapi masih hujan, tunggu bentar dululah," cegah Shafa, karena beberapa menit menunggu martabak ternyata hujan mulai mengguyur alhasil mereka menanti berhentinya, tapi Ria nggak mengira kalau hujannya lebih lama lagi sampai martabak sudah jadipun masih belum reda.
"Kita nekad saja yok," ajak Aleria, dia takut jika pulang kesorean nanti bisa peteteran ngerjain tugasnya.
"Jangan ... nanti masuk angin loh, tunggu bentar lagi pasti terang kok," Hasyim mencoba memperingati.
"Tugas kita banyak mas, bisa begadang kalau nggak nyicil sekarang,"
"Bukan kita, tapi itu tugas kamu," sahut Shafa.
"Atau kita pakai mantel saja, mas Hasyim punya mantel?" tanya Aleria tanpa mempedulikan ucapan Shafa tadi.
"Waduh mas lupa gak bawa sayang ..., lebih baik kamu cicil aja tugasmu di sini sambil nunggu hujannya reda,"
"Pakai mantelku saja," mereka berempat dikejutkan oleh laki-laki yang baru datang dari arah belakang.
Adnan hanya biasa saja, beda dengan Hasyim yang kaget karena adiknya sudah kembali. Aleria dan Shafa sudah takut duluan ketika melihat Hisyam. Bagaimana tidak, mereka tahu kalau laki-laki itu orang yang kurang ajar bahkan sangatlah brengsek.
Tanpa disadari, Aleria bersembunyi di belakang badan Hasyim, sedangkan Shafa berada di balik Adnan.
"Kenapa kalian? takut kepadaku?" cecar Hisyam menyadari perubahan sikap mereka terutama pada Aleria, padahal gadis itu masih baik-baik saja pas terakhir bertemu dengannya.
"Wajahmu yang garang membuat mereka takut, pulang sana jangan lupa mandi juga," Hasyim mencoba menyembunyikan pertengkaran yang kemarin dengan Hisyam. Ia tidak ingin jika orang lain tahu apalagi masalah keluarga seperti ini.
"Gimana mau nggak makai mantel? dari pada kalian nunggu terang mungkin masih lama," tanya Hisyam lagi tanpa mempedulikan ucapan Hasyim.
Orang yang ada di depan Aleria tersebut menengok ke belakang, dan melihat jika kekasihnya itu masih terdiam. "Biar nunggu terang saja toh tugas mereka bisa diselesaikan di sini,"
__ADS_1
"Aku pinjam mantel mas Hisyam aja mas, soalnya sudah gerah ini sekalian mandi di rumah," ucap Aleria kemudian, karena seharian sekolah dia sudah merasa gerah, jadi dia memutuskan untuk meminjam mantel yang tadi ditawarkan. Toh pulangnya juga masih tetap sama Shafa bisa dipastikan aman.
"Benar gak papa? ini masih hujan loh, kalau masuk angin gimana," Hasyim tak tega membiarkan Aleria pulang dalam keadaan hujan seperti ini, andaikan dia tadi bawa mobil pasti bisa mengantarnya.
"Aku gak pernah masuk angin kok mas, jadi nanti juga baik-baik saja," sahabat Aleria hanya menurut jika temannya akan pulang dengan mantel, Shafa juga tidak keberatan walaupun dia yang mengendarai di depan.
"Kalau gitu kalian hati-hati, seumpama ada apa-apa langsung hubungi mas," tangan Hasyim mengusap pucuk kepala Aleria, dan dijawab dengan senyuman tipis gadis itu.
"Ingat pulang juga ternyata," jika dibilang capek jelaslah capek, tapi Hasyim harus bicara serius dengan adiknya malam ini.
"Kenapa tidak? aku juga ikut membayar bulanan kost ini,"
"Kukembalikan uangmu, sekarang pulanglah ke Jombang," Hasyim menyerahkan banyak lembar uang merah ke hadapan adiknya.
"Aku tak butuh uangmu,"
"Lalu apa yang kamu inginkan? akan kukabulkan asal kau berhenti mengganggu Aleria," Hasyim masih berusaha tenang.
"Bukannya dulu kamu membuangnya? terus kenapa harus diambil lagi? sama saja menjilad ludah sendiri," sarkas Hisyam.
"Entahlah kau mau bilang aku apa, intinya aku masih mencintai Aleria dan ingin menjaganya. Jadi jauhi dia segera,"
"Hilangkan nafsu gilamu Hisyam! dia itu anak orang tak sepantasnya kamu merusaknya!" emosi Hasyim sudah di ubun-ubun dia tidak bisa menahan lebih lama lagi.
"Aku pria normal syim! jadi wajar saja jika aku penasaran,"
Mendengar perkataan sang adik, Hasyim langsung meraih wadah putung rokok yang berbahan kaca dan spontan mengangkat tapi sebelum terlempar tiba-tiba ponselnya bergetar
drdt.. drdt...
Hasyim langsung membuka hpnya dan terpampang nama Aleria yang menelfon, tumben sekali gadisnya itu menghubunginya apa ada hal penting? atau terjadi apa-apa dengan Aleria? Hasyim segera menggeser ikon Hijau.
"Halo om Hasyim, ini Hayana. Tolong segera ke sini om, kak Ria demam tinggi, aku nggak tahu harus gimana hiks hiks," terdengar suara adik Aleria yang tengah terhisak. Sepertinya dia sangat kuatir dengan sang kakak.
"Tunggu sebentar, saya akan ke sana," Hasyim dengan panik meraih jaketnya yang masih tersampir di kursi.
"Ada apa?" tanya Hisyam ketika melihat gelagat kepanikan kakaknya setelah menerima telfon.
__ADS_1
"Aleria demam tinggi," sesudah menjawab Hasyim mengambil kunci mobil dan mulai melaju dengan cepat tanpa memikirkan resiko.
Beruntung tidak terjadi apa-apa pada laki-laki itu walaupun mengendarai motor secara tergesa-gesa.
Sedangkan Hisyam sejak mendengar kabar kalau Aleria sedang demam tinggi hatinya sedikit tersentuh, entah bagaimana cara menjelaskannya, yang pasti Hisyam merasa bersalah karena telah mempunyai niatan jelek pada Aleria. Apakah secepat itu hati Hisyam terketuk? tanpa berlama-lama pemuda tersebut mengikuti kakaknya.
Tok-tok
Pintu terbuka dan menampilkan wajah Hayana yang tampak panik. "Om Hasyim ayo segera tolong kakak,"
Laki-laki itu masuk mengikuti Hayana, dan kini melihat Aleria yang telah menggigil di atas ranjang sambil berselimut dan meja belajar tampak masih ada buku-buku yang terbuka. Sepertinya Aleria tadi sedang mengerjakan tugas-tugasnya.
"Sayang... " panggil Hasyim sambil mengusap pelan pipi kekasihnya. Tapi tak ada respon sama sekali hanya gigilan kedinginan yang ditunjukkan Aleria, bahkan tangan Hasyim terasa panas ketika memegang kulit tersebut.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit," Hasyim langsung mengangkat tubuh Aleria untuk dibawa ke mobilnya.
Untung saja Hayana tadi mengecek kakaknya yang sedang di kamar, dan mendapati Aleria tertidur dengan buku berserakan pas hendak membangunkan malah terkejut karena merasakan tubuh kakaknya itu terasa panas, lalu dia memapah Aleria ke ranjang dan Hayana bingung harus meminta bantuan ke siapa, jika ke mbok Darso mana mungkin beliau bisa membawa Aleria ke rumah sakit. Lalu dia teringat dengan Hasyim dan mencoba mencari kontak laki-laki tersebut di hp kakaknya.
"Mau dibawa ke mana Aleria?" tanya Hisyam yang ternyata sudah sampai di Halaman rumah Aleria, dan kini melihat gadis tersebut sedang lemas dalam pelukan kakaknya.
"Ke rumah sakit," jawab Hasyim cepat dan Hayana membantu membukakan pintu sebelah kiri pada mobil tak lupa Hasyim memakaikan jaket tebalnya pada Aleria.
"Rumah sakit mana? aku ikut," Hisyam menghampiri Hasyim yang sudah memutari mobilnya untuk masuk ke bagian kemudi.
"Rumah sakit Cakrawala," setelah mengucapkan itu Hasyim langsung masuk dan mengendarai mobilnya.
"Baiklah aku akan menyusulnya," lirih Hisyam. Tragedi sakitnya Aleria membuat dirinya semakin sadar, kalau selama ini dia telah terjerat dalam lumpur dosa. Dirinya bak macam iblis yang hendak berbuat jahat pada Aleria. Padahal dulu dia tak seperti ini. Bahkan laki-laki itu sempat membantu Aleria pada masa silam. Hisyam hanya merutuki kebodohannya, gara-gara pergaulan bebas ia seakan kehilangan arah.
Sekelebat bayangan ketika melecehkan Aleria secara tidak langsung terlintas di kepalanya, dia ingin segera minta maaf pada gadis itu, lalu kepada Shafa, dan terakhir Hayana gadis belia yang telah dibodohi oleh Hisyam. Pemuda itu merasa bersalah kian membesar ketika telah membuat janji kepada Hayana agar tidak mengganggu kakaknya lagi, namun Hisyam semudah itu mengingkarinya.
Hisyam melihat Hayana mengeluarkan motornya dari dalam rumah. "Lebih baik bareng sama om saja,"
"Aku bisa pakai montor sendiri," tolak Hayana.
"Perempuan gak baik keluar sendirian, cepat masukan motormu dan bareng sama om," Laki-laki itu merebut motor Hayana dan memasukan kembali di dalam rumah.
"Tenang saja, saya tidak akan berbuat macam-macam sama kamu," tambah Hisyam lagi seakan tahu isi pikiran gadis belia tersebut.
__ADS_1
bersambung....