Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Arkhan


__ADS_3

Keesokan harinya Hasyim ingin mengecek usaha martabak manisnya yang ada di Kediri, tempat yang ia tinggali saat ini.


"Mas," panggil Ria ketika mereka sedang menikmati sarapan.


"Iya sayang?"


"Ria pengen banget bantuin mas Hasyim jualan martabak," ucapnya seraya memasukan satu suapan ke dalam mulut.


"Di sana sudah ada karyawannya sayang, mas hanya ngecek aja,"


"Yah, tapi Ria pengen," kalau sudah memasang wajah sendu begini Hasyim tidak bisa menolaknya.


"Baiklah, nanti jika rame kita bantuin mereka," mendengar hal itu istrinya tersebut langsung bersorak kegirangan.


...----------------...


Di stand martabak ternyata rame banget yang antri, karyawan Hasyim sampai peteteran melayaninya.


Hasyim langsung terjun turun tangan diikuti oleh sang istri. Tapi Ria pertama-pertama masih melihat, jika sudah paham baru praktek.


"Ini ditutup dulu nanti kalau sudah berbuih baru ditaburi gula diatasnya," jelas Hasyim kepada Aleria.


"Hasyim!" seru salah satu antrian yang membuat laki-laki pemilik martabak itu mendongakan kepala.


"Arkhan, kamu Arkhan kan?"


"Iya ini aku, temanmu waktu SMK dulu," Jaka mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu Ar? lama kita nggak ketemu," Hasyim menghentikan aktivitasnya membuat martabak dan dilanjutkan oleh yang lain.


"Alhamdulillah baik Syim, bolak-balik loh aku ke sini agar bisa ketemu kamu. Eh malah baru nemu sekarang,"


"Oh iya, dengar-dengar kamu dah nikah Syim mana istrimu?" lanjut Arkan lagi, dia bertanya seperti itu karena melihat ada perempuan yang masih muda di stand tersebut.


"Tuh istriku cantik kan? dia ngotot banget ingin bantuin jualan. Yaudah deh tak turutin aja," jari Hasyim menunjuk istrinya.


"Sayang..," panggil Hasyim seraya melambaikan tangannya agar Aleria menghampiri.


Aleria mencuci tangan lalu menyusul Hasyim. "Ada apa mas?"


"Kenalin ini teman SMK mas dulu," ucap Hasyim memperkenalkan Arkhan.


"Aleria,"


"Arkhan,"


dipelet apa emangnya kamu dek sama Hasyim?" canda Arkhan.


"Dipelet lewat mbok Tukinem," jawab Hasyim, mereka langsung tertawa mendengar candaan itu, karena menyangkut pautkan dukun bayi yang ada di daerah situ.


"Nanti kejunya dibanyakin ya Syim, bayarnya nambah juga gak papa


soalnya istriku lagi ngidam keju,"


"Widih sudah mau jadi seorang bapak nih," Hasyim mengajak Arkhan duduk dan segera bilang ke karyawannya.

__ADS_1


"Sejak tahun kemarin Syim aku jadi bapak, alhamdulillah tahun ini nambah lagi," Aleria yang mendengar hanya bisa menggenggam tangan suaminya.


Perempuan itu menyadari perubahan wajah dari sang suami, dia kasihan dengan Hasyim karena keinginan untuk punya anak selalu Aleria tolak.


"Lancar jaya berati,"


"Semoga kamu juga segera menyusul ya Syim," setelah mengucap itu Arkhan mengeluarkan dompetnya untuk membayar karena martabak miliknya sudah selesai.


"Amiin, dah nggak usah Ar kali ini biar aku yang traktir," Hasyim mencegah temannya untuk mengeluarkan lembaran uang.


"Jangan gitulah Syim, meskipun kita ini temenan tapi kamu kan jualan," tolak Arkhan merasa tak enak.


"Gak papa Ar, kamu bayar dengan doa aja agar usahaku ini semakin lancar,"


Setelah perdebatan panjang akhirnya Arkhan mengalah lalu berpamitan tak lupa untuk berterima kasih.


"Wajahnya kayak sugar dady mas," ucap Aleria menatap penuh kagum.


"Halah, masih juga gantengan mas," jawab Hasyim dengan nada cemburu sambil jarinya menyisir-nyisir rambut.


"Kamu tau nggak sayang? dulu pernikahan Arkhan itu unik banget," lanjutnya.


"Hah, kok bisa mas?"


"Menikah dengan sahabatnya sendiri, pas awal mereka nggak ada rasa sama sekali. kalau sekarang mah nggak tahu


nyatanya sekarang mau punya dua buntut,"

__ADS_1


Hasyim berharap jika berbicara tentang anak, Aleria bisa segera merubah pikirannya untuk segera memiliki momongan.


bersambung...


__ADS_2