
#Part 6
(POV Vidya)
Namaku Vidya, aku terlahir dari keluarga harmonis dan secara ekonomi berkecukupan. Aku dua bersaudara. Kakak ku Ibram, kuliah di Institut Pertanian Bogor dan ia dapat jodoh disana. Sehingga menetap disana bersama istrinya. Papaku adalah seorang pegawai negri sipil. Dan mamaku punya usaha kuliner di suatu kota.
Papa terbiasa berpindah-pindah tugas dari satu kota ke kota lainnya. Sebagai abdi negara, papa harus Siap kemanapun dipindah tugas. Bahkan jika harus pindah ke luar Jawa.
Saat aku lulus SMA kami pindah ke kota ini, akupun melanjutkan kuliahku disini. Saat semester akhir, aku kenal dengan seorang cowok, Mas Ari namanya, dan dialah yang jadi suamiku.
Saat aku menikah, papa mamaku kembali harus pindah tugas, kali ini harus pindah ke luar pulau jawa. Aku sedih nggak bisa lagi ikut orang tuaku, karena sekarang aku sudah punya suami.
Setelah menikah aku tinggal dirumah mertua. Namun di awal pernikahan, saat aku lagi hamil besar, aku diuji dengan ketidak setiaan mas Ari.
Ia masih berhubungan dengan mantan pacarnya yang bernama Diana. Aku menemukan chat mereka saat aku iseng membuka aplikasi whattsaps di gawainya.
Aku sempat kabur dari rumah mertua, namun aku tak tau harus pergi kemana. aku pun berdiam diri di mesjid. Saat itu mama menelfonku dan memberi kabar usaha kulinernya sedang sepi dan terancam bangkrut, sedangkan papa sudah pensiun. Mama lagi butuh dana untuk digunakan sebagai biaya promosi rumah makannya agar kembali ramai. Aku punya lumayan tabungan, aku bilang mama tak perlu meminjamnya. Aku segera transfer memakai aplikasi m-banking sejumlah uang sesuai kebutuhan mama.
Ku hela nafas dalam-dalam, niat hati ingin mengadu pada mama tentang masalah rumah tanggaku, tapi justru mama sedang ada masalah.
Terasa sesak dadaku memikirkan semuanya, perutku terasa lapar keroncongan karena dari siang belum makan. Aku menangis sejadi-jadinya, begini amat nasibku ya Allah, tangisku.
Terasa ada yang menetep dari pahaku, basah...dan semua terasa gelap.
Aku terbangun sudah ada di ruang IGD. Ada mas Ari menciumi dan mengelus-elus rambutku.
Saat anakku lahir, tak ada yang bisa kulakukan selain memaafkan suamiku. Toh isi chat nya hanya sekedar ungkapan kangen. Mas ari juga sudah meminta maaf. Lagipula mantan nya itu kerja diluar kota. Jadi mereka tidak mungkin bertemu. Begitu pikirku saat itu.
Sampai saat anak ku Aira sudah berumur 8 bulan, seperti biasa aku terbangun karena harus menyusuinya. Suamiku sudah terlelap, iseng aku buka-buka gawainya, ternyata suamiku masih berhubungan dengan mantannya yang bernama Diana itu. Aku emosi, aku simpan nomer Diana di gawaiku. Dan saat ditempat kerja, aku langsung mendamprat Diana habis-habisan. Ku katakan dia sebagai perempuan murahan. Dia tak terima dan justru membuka aib masa lalunya bersama suamiku.
Aku syok, mas Ari yang dulu ku kenal adalah pria baik ternyata tak seperti yang aku pikirkan. Aku inget betapa gigih dulu dia mendekatiku. Dia adalah pacar pertamaku, cinta pertamaku, dia segalanya bagiku. Betapa hancur perasaanku saat tau ternyata masa lalunya dengan Diana begitu kelam.
Tak sanggup ku pendam sendiri beban ini, Aku ceritakan masalah rumah tanggaku kepada sahabatku, Mey. Dari dia juga aku kenal suamiku. Saat jam istirahat kantor, aku ngajak Mey bertemu di suatu cafe, lama kita nggak bertemu. Sejak menikah, ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Mey banyak berubah, dia yang dulu semasa kuliah tidak berhijab, sekarang tampil sangat tertutup dengan gamis dan hijab syar'i menutupi tubuhnya. Sementara aku masih belum menutup auratku.
Kepada Mey, ku curahkan segala beban dihatiku. Mey kemudian banyak memberikan motivasi padaku. Dan memberiku nasehat serta ilmu agama.
Diajaknya aku bertemu seorang Ustadzah, guru tempatnya belajar mengkaji ilmu agama. Aku ijin ke kantor, dengan alasan Aira sedang rewel, aku pergi bersama Mey menemui Ustadzah itu.
Kepada Ustadzah tersebut aku menceritakan segala masalahku.
Akupun mengungkapkan masalalu suamiku dengan mantan pacarnya. Aku khawatir ia masih berzinah dengan Diana saat sudah terikat pernikahan denganku.
__ADS_1
"Makanya Agama mengharamkan pacaran. Orang yang dipacari belum tentu jadi jodoh kita. Akibatnya ya begini ini... ada rasa yang masih tertinggal dimasa lalu pada orang yang bernama mantan. Jadikan ini pelajaran untuk ke depannya, sebagai bekalmu untuk mendidik anakmu. Anakmu cewek, harus pandai-pandai kau mendidiknya. Tanamkan nilai-nilai agama sedari dia kecil. Dekatkan dia pada Al-Qur'an" beliau menasehatiku.
"Agama menetapkan kriteria dalam memilih pasangan hidup, yaitu karena wajahnya, hartanya dan agamanya. Pilihlah pasangan hidup karena agamanya, yang agamanya baik, yang takut pada Tuhan, bukan milih karena ketampanannya" beliau seperti menyindirku.
Memang, dulu aku jatuh cinta pada mas Ari karena ketampanannya.
Beliau mengatakan bahwa setiap manusia punya masa lalu, begitupun suamiku juga punya masa lalu. Biarlah itu menjadi bagian dari masa lalunya. Soal tuduhanku apakah suamiku masih berzinah dengan Diana, Ustadzah bilang bahwa tuduhan perzinahan itu tidaklah gampang. Harus ada bukti serta ada empat orang saksi. Jadi selama aku tidak punya bukti maupun saksi, maka aku tidak boleh menuduhnya telah berzinah.
"Selama suami masih bertanggung jawab lahir dan batin, tidak menyuruh kita menyimpang dari jalan Allah, maka tugas istri adalah taat kepadanya" lanjut beliau.
"Cobalah kamu intropeksi diri Nak.."
"Intropeksi bagaimana Ust..saya tidak pernah berbuat serong dibelakang suami!" Jawabku
"Kalo kita ingin kebaikan hidup, maka perbaiki diri kita"
Aku tak mengerti apa maksud beliau berkata seperti itu.
"Kamu muslim kan nduk?" Beliau bertanya.
"Alhamdulillah saya muslim Ust.." Jawabku
"Tau apa kewajiban bagi muslimah?"
"Nahhh..itu dia. Perbaikilah dirimu nak, tutup auratmu, perbaiki solatmu, perbaiki agamamu, niscaya Allah akan memperbaiki hidupmu"
Beliau menjelaskan.
Aku makin tertunduk, selama ini aku memang jauh dari Agama, solatku bolong-bolong, saat aku sedih aku baru mengingat Allah. Malu rasa hati ini.
"Perceraian itu tidak dilarang dalam agama, boleh bercerai, tapi Allah membencinya. Jika nak Vidya ingin bercerai, dan dirasa itu yang terbaik, ya boleh. Namun jika ingin memaafkan suami, itu jauh lebih baik" lanjut beliau.
"Jangan membuat keputusan saat sedang emosi. Libatkan Allah dalam setiap keputusan yang kau ambil, mintalah pentunjuk pada Allah dengan solat istkharah" panjang lebar beliau menasehatiku.
*
Aku pulang kerumah usai mendapat nasehat dan banyak ilmu dari beliau. Hatiku berkecamuk, aku masih belum bisa menerima kenyataan tentang masa lalu suamiku, aku ingin bercerai saja, tak sanggup aku melanjutkan rumah tangga yang seperti neraka ini. Saat aku tiba dirumah, mas Ari belum pulang kerja. Aku menelfon mama, ingin menyampaikan bahwa aku sudah gak samggup meneruskan pernikahanku.
Tapi, belum aku bercerita, terdengar suara mama yang sedih dari sebrang sana. Beliau menceritakan bahwa Mas ibram sedang mendapat ujian, bisnisnya bangkrut karena ditipu rekannya. Istrinya pun sedang kena PHK dari pekerjaan nya sehingga Mas Ibram meminta bantuan Papa.
Begitu juga usaha kuliner mama sudah tutup karena mengalami kebangkrutan, aset bungunan rumah makan tersebut disita Bank disebabkan mama tidak sanggup membayar angsuran tiap bulan. Papa yang sudah pensiun terpaksa harus menjual rumah.
__ADS_1
Mama bertanya apakah aku ingin meminta bagian dari hasil penjualan rumah kami tersebut. Aku jawab, lebih baik sisa uangnya dibuat untuk memenuhi kebutuhan mama dan papa.
"Baik-baiklah dengan suamimu nak..jaga Aira ya, mama berharap kamu menjadi penyejuk hati mama dan papa" beliau menutup telfon, kata-kata itu seolah menjadi doktrin bahwa mama menginginkan agar aku tidak bercerai.
Lunglai aku bersandar dibalik pintu kamar, otot-otot kaki seakan tak mampu menopangku untuk berdiri, aku terduduk lesu, meratapi hidupku.
Bagai jatuh tertimpa tangga, nggak nyangka orang tuaku akan mengalami masa sulit seperti ini. Kami yang dulu hidup berkecupan, kini mengalami sebaliknya. Hidup memang berputar, inilah roda kehidupan. Kadang di atas, kadang di bawah.
*
Saat mas ari pulang, aku mencoba bersikap biasa saja, melayaninya dengan baik walau hatiku hancur berkeping-keping. Betapa ingin aku mengakhiri pernikahan ini, tapi kemana nanti aku mengadu, harus kemana aku pergi?sementara orang tuaku sedang tertimpa masalah.
Begitu berat perjalanan hidupku. Mungkin kata-kata Ustadzah ada benarnya. Agar hidupku menjadi baik, aku harus memperbaiki diri.
*
Sejak saat itu, aku putuskan untuk memakai hijab. Aku perbaiki solatku serta ku perbaiki ibadahku yang lain. Tak lagi aku bertanya perihal Diana pada suamiku, mungkin inilah takdir yang Allah gariskan untukku. Walau tak mudah, aku belajar sabar dan ikhlas menjalaninya.
*
Saat Aira sudah berusia satu tahun, aku dan suami bisa memiliki rumah sendiri walaupun harus melalui kredit di Bank.
Aku belum bisa melupakan masa lalunya dengan Diana, tapi aku berusaha bersikap biasa karena selama ini dia bertanggungg memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dirumah dia juga selalu bersikap baik.
Pasca kami pindah rumah, Secara materi kami cukup, apalagi karir suamiku di kantornya makin cemerlang, ia naik jabatan dan itu berarti tanggung jawab nya juga semakin besar. Dia jadi lebih sibuk dengan kerjaannya. Pulang lebih malam dari sebelum nya.
Pun gaji yang dia berikan padaku lebih besar. Terkadang, diam-diam aku mengirim uang gajiku untuk mama dan papaku karena beliau kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku juga rutin memberi uang untuk mertuaku, walaupun tidak banyak.
Saat Aira sudah berumur dua tahun, aku hamil lagi. Kehamilan kali ini cukup melelahkan. Aku harus bedres, sehingga memutuskan untuk berhenti bekerja.
Saat aku hamil anak kedua, suami membeli mobil. Aku bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan untuk keluargaku. Kini aku merasa menjadi wanita yang beruntung, ada sedikit rasa bangga menjadi istrinya, selain karena dia tampan dan keren, diapun menepati komitmennya untuk membahagiakan kami.
Kelahiran Al, anak kedua kami yang berjenis kelamin laki-laki, menjadi pelengkap kebahagiaanku. Dia tampan seperti papanya.
Suami lebih banyak menghabiskan waktunya diluar, itu semata-mata karena tanggung jawabnya terhadap pekerjaan.
Betapa Nikmat Allah tak terhitung.Namu aku kewalahan mengurus kerjaan rumah dan anak-anak, bahkan untuk mandi saja terkadang aku tak sempat. Baru masuk kamar mandi, Al sudah menangis. Belum lagi Aira yang sudah berusia 3 tahun sedang aktif-aktifnya bermain apa saja.
Walaupun aku belum sepenuhnya melupakan masa lalu suami dengan Diana, aku berusaha menguburnya dalam-dalam. Toh suami sudah sangat pengertian dan begitu baik kepadaku dan anak-anak. Ia sering memberikan aku hadiah perhiasan. Begitupun anak-anak, ia selalu membawa buah tangan saat pulang kerja.
Namun malam ini, tidak seperti biasanya ia pulang lebih larut, memang tadi ia pamit hari ini ada meeting akhir bulan dikantor. Apa mungkin meetingnya belum selesai? Aku telfon nomernya tidak aktif. Padahal besok ia masih harus keluar kota untuk meeting dengan cabang lain. Cemas aku menunggunya sampe aku tertidur diruang tamu.
__ADS_1
🥀
Bersambung