Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Menjadi maba


__ADS_3

Seperti biasa, seluruh mahasiswa baru yang sudah datang disuruh kumpul di halaman kampus, mereka memakai atribut putih hitam tak lupa kalung identitas yang beragam warna pitanya sesuai prodi.


"Baik, karena sudah pada kumpul semua jadi sekarang kita mulai cek kelengkapan,"


"Kakak pj yang bertugas, silahkan untuk mengecek atribut adek-adeknya,"


Seru ketua Bem, lalu para anggota BEM yang bertugas menjadi pj segera mengecek kelompoknya masing-masing.


"Id cardnya dek," ucap kakak pj meminta salah satu maba untuk memperlihatkan biodata yang telah ditulis dalam kertas manila tersebut.


"Kemarin kakaknya nyuruh nulis pakai huruf apa?" tanya perempuan berjas biru itu dengan tegas.


"Em, em pakai huruf seperti ini kak," maba yang ada di sebelah Aleria terlihat gugup dan hanya bisa menjawab seadanya.


"Masa kakaknya nyuruh begitu!" bentak kakak itu.


"Kemarin kakaknya nyuruh nulis pakai huruf apa dek?" kini pertanyaan tersebut dilontarkan ke Aleria.


"Pa-pakai huruf kapital kak," Aleria berusaha menahan kegugupannya, ia takut kalau salah menjawab. Tapi kemarin telinganya sangat jelas mendengar rapat dari via zoom, jika biodata id card harus ditulis menggunakan huruf tegak bersambung, dan kertas menggunakan manila.


"Tuh, teman kamu aja dengar masa kamu tidak,"

__ADS_1


Aleria bernafas lega jika jawabannya dianggap benar, lalu kakak pj mengecek atribut yang lain setelah itu berlalu.


"Yang sabar ya mbak," tangan mungil Aleria mengusap-usap lengan perempuan yang ada di sampingnya.


"Kemarin sinyalku jelek mbak, jadi gak bisa dengerin dengan jelas," maba itu mengusap matanya yang mulai basah.


"Sudah mbak gak usah dimasukin hati, nanti malah bikin sakit lagi," dibentak di depan orang banyak memang membuat malu, tapi apalah daya mungkin kakaknya mengira kalau adek tingkatnya itu tidak merhatikan.


"Padahal kemarin gak ada pengecekan id card," bingung Aleria, seharusnya kan kartu identitas tersebut dicek hari pertama.


"Ada mbak, mungkin pas hari pertama kakaknya buru-buru jadi cuma dilihat sebentar saat lewat terus pergi,"


"Oh iya namamu siapa?" sambung perempuan yang menangis tadi seraya mengulurkan tangan.


kalau embaknya?" tanya Aleria balik.


"Gendhis,"


"Wah bagus banget namanya, seperti orangnya yang manis," tak dapat dipungkiri kalau senyuman gendhis itu sangatlah manis.


"Halah, masih cantikan kamu kok

__ADS_1


tuh matamu aja sipit, terus kulitmu juga putih seperti Cindo,"


"Kamu lulusan tahun berapa Ria?" tanya gendhis kemudian.


"Tahun sekarang mbak,"


"Berati tuaan aku dong, aku lulus dua tahun yang lalu,"


Obrolan mereka tidak berlangsung lama, namun Gendhis sudah mulai akrab dengan Aleria. Karena perempuan itu sangat menyenangkan dan nyambung jika diajak ngomong.


Kemungkinan kegiatan ospek akan lebih padat lagi, tapi Aleria bersyukur setidaknya ia sudah mempunyai beberapa teman dihitung dari hari kemarin.


Berjemur di panasan lalu mencatat materi yang disampaikan, hingga pulang pukul lima sore.


Ketika waktu pulang telah tiba Hasyim sudan on time di depan kampus, ia tidak ingin sang istri menunggu lama.


Aleria membuka pintu mobil, lalu masuk dan menutupnya. Hasyim tidak bertanya apa-apa karena masih dalam mode jaga jarak.


Ia gemas dengan jilbap sang istri yang sudah awut-awutan, apalagi rambut mulai nonggol di dahi. Ingin membantu merapikan tapi takut kalau Aleria menghempas tangannya.


Hasyim mencuri-curi pandang, terlihat wajah Aleria yang nampak kelelahan.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2