
Aleria mengerjapkan mata sipitnya saat terasa ada yang mengganggunya pas tidur.
"Bangun sayang.. "
"Masih ngantuk mas," ucapnya dengan suara parau, khas baru bangun tidur.
"Ini sudah mau subuh loh, bangun atau mas akan melakukannya lagi hm," ancaman Hasyim yang membuat mata istrinya terbuka seketika.
"Gimana? mau melakukan yang kayak tadi malam lagi?" lanjut Hasyim sambil menarik turunkan alisnya.
"Stop jangan bahas itu," bocah tersebut merasa malu jika membayangkan kejadian yang pernah terjadi antara dia dengan suaminya.
Dia bungkus tubuhnya dengan selimut lalu menurunkan kakinya. "Aw sakit..," lirihnya ketika ingin berjalan ke kamar mandi.
Hasyim yang merasa tak tega langsung mengangkat tubuh Aleria. "Mas turunin, Ria bisa sendiri,"
"Nanti sakit lagi, biar mas anterin sampai depan kamar mandi," bujuk Hasyim.
...----------------...
Kini mereka sudah selesai menjalankan shalat subuh, tak ada drama mandi bersama seperti pengantin baru pada umumnya. Sebenarnya Hasyim pengen-pengen saja, namun apalah daya dia juga kasihan dengan tenaga istrinya yang sudah terkuras banyak.
__ADS_1
"Mas, emm melakukan yang kayak tadi malam itu cuman hanya sekali kan?" Aleria merasa trauma akan rasa sakit pertamanya ya meskipun setelah itu rasanya berbeda.
Mendengar pertanyaan sang istri, Hasyim menghentikan aktivitas menyisiri rambut Aleria. "Kenapa kamu bertanya begitu sayang?"
"Soalnya sakit mas, Ria takut,"
"Itukan hanya pas awal lama kelamaan kan enggak," ya mana bisa jika melakukan hanya sekali dalam seumur hidup, Hasyim apa bisa tahan? tapi dia bisa memaklumi pertanyaan polos istrinya. Karena sudah menjadi resiko jika menikah dengan bocah.
"Masa sih nggak sakit lagi?"
"La apa perlu dicoba sekarang?" Hasyim bertanya balik, hingga dari pantulan kaca terlihat jika mata istrinya melotot.
"Coba o sama kucing sana mas, kayaknya seru deh," ketusnya.
"Ini juga banyak banget bekas gigitannya," keluh Aleria saat melihat banyak tanda merah di lehernya.
"Karena nyamuknya baru merasakan buka puasa sayang.."
"Ih becanda mulu, ini gimana ngilanginnya?" bocah itu menggosok-gosok tanda tersebut agar segera memudar namun tiada hasil sama sekali.
"Sudahlah nanti kita di kamar aja seharian, pasti gak ada orang ngelihat,"
__ADS_1
"Ya bosanlah mas," Ria menanggapi dengan biasa, tidak mengetahui maksud kata suaminya.
"Berarti harus melakukan hal yang berbeda0 jangan diam-diaman mulu saat di kamar,"
"Hal berbeda?" Aleria mengulangi ucapan itu karena belum paham.
"Iya sayang.. seperti tadi malam," Hasyim langsung menutup wajahnya dengan bantal. Dia merasa senang bisa menggoda istrinya.
"Dasar kejam,"
"Tapi kamu suka kan?" Hasyim menongolkan wajahnya kembali.
"Apaan sih mas," Aleria menyubit lengan Hasyim karena merasa kesal dengan suaminya.
Bagitu juga dengan Hasyim ia tidak tinggal diam diperlukan seperti itu, ya pastilah akan membalasnya. Yaitu menggelitiki tubuh Aleria. Bocah itu akhirnya tertawa karena merasa kegelian ingin menggelitiki Hasyim tapi tidak bisa, karena tenaganya lebih besar laki-laki itu.
"Sudah mas geli hahaha," mohon Aleria tapi Hasyim merasa gemas dan masih melanjutkan acara penggelitikan.
"Makanya kalau jadi istri itu harus nurut,"
"Mas Hasyim ngajarin sesad mulu jadinya gak tak turutin lah," jawabnya sambil di iringi tertawa.
__ADS_1
"Kalau nurutin kemauan suami akan dapat pahala yang banyak sayang.." Hasyim merapikan surai istrinya lagi karena acak-acakan. Dia sudah menghentikan gelitikannya.
bersambung...