
Satu bulan kemudian pasca kejadian tersebut Aleria maupun Hasyim saling menjaga jarak. Meskipun mereka masih satu kamar tapi tak ada yang berniat membuka obrolan.
Mereka mau bicara hanya saat menanyakan hal penting saja, selain itu tidak. Aleria pernah berkata jika ia kecewa dengan Hasyim, dan tidak mau bersentuhan dengan sang suami sekalipun.
Laki-laki itu menurutinya meski berat di hati, dia seakan pasrah akan takdir yang belum memihaknya. Aleria tetaplah keras kepala dengan mempertahankan keputusannya.
...----------------...
"Ria bangun, ini sudah jam lima," Hasyim menggoyangkan lengan sang istri.
Sudah beberapa kali Aleria dibangunkan tapi sangat susah sekali untuk membuka mata, tadinya jam empat Hasyim tinggal sebentar untuk masak dan kembali lagi ke kamar. Berharap sang istri segera terbangun tapi nyatanya masih bergelung dengan selimut.
"Ria..."
"Ria.. bangun,"
"Hoam.. jam berapa toh ini?" matanya terbuka dengan sayup.
"Jam lima,"
"Hah, Astagfirullah! kenapa gak dibangunin sih mas!" mata sipit itu langsung melebar mendengar penuturan Hasyim.
Bagaimana tidak, ini merupakan hari kedua kegiatan ospek di kampusnya, dan jam 06.00 mahasiswa harus sudah kumpul.
Jika dihitung setengah jam merupakan persiapan Aleria seperti sarapan dan lain-lain, dan setengah jam lagi untuk perjalanan ke kampus.
Kampusnya berada di kota tetangga, yaitu Kediri, ia masuk di sekolah kesehatan swasta yang terbaik se Jawa Timur, dengan mengambil prodi s1 keperawatan.
"Sejak tadi mas bangunin, kamunya aja yang susah," bantah Hasyim sambil beranjak, ia berniat untuk menyiapkan barang-barang sang istri, agar cepat selesai.
Tanpa menjawab, Aleria langsung berlari ke kamar mandi. perempuan itu membersihkan diri sambil mengingat mimpi panjangnya sehingga ia sulit untuk dibangunkan.
__ADS_1
Aleria bermimpi kalau dirinya sudah berbaikan dengan Hasyim. Kembali menjadi anak manja di hadapan sang suami. Sejak kejadian yang lalu, Aleria seolah enggan meminta bantuan Hasyim. Dia berusaha mengerjakan sendiri. Tetapi jika soal urusan dapur laki-laki itulah yang berperan.
Berkali-kali mencoba meracik sebuah bumbu yang bermodal belajar dari mbah google maupun yutube, akhirnya Hasyim bisa memasak dengan rasa yang pas. Bahkan dalam diammpun Aleria mengakui jika masakan sang suami lebih enak dari pada ibunya.
Tok-tok
"Aleria!"
Tok-tok
Hasyim berseru memanggil sang istri seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Sudah lima belas menit sang istri belum juga muncul, membuat Hasyim resah.
Berapa ketukan tak ada ada jawaban, lalu dengan terpaksa Hasyim mendobraknya, dan terlihatlah Aleria yang tertidur di dalam bath up sambil menopang dagu.
"Aleria.. " panggil Hasyim penuh penekanan.
Perempuan itu membuka mata dan terkejut mendapati Hasyim sudah berada di dekatnya.
"Kamu yang tidur mulu Ria, sudah lima belas menit gak keluar-keluar," Hasyim meraih tubuh Aleria dan membantu membersihkannya di bawah guyuran shower.
"Sudah mas keluar aja," Aleria mendorong tubuh Hasyim tetapi tubuh kekar itu tidak bergeser sekalipun.
"Biar cepat Ria," Hasyim menggosokan sabun di tubuh sang istri.
Tubuh putih mulus tanpa cacat terpampang nyata di depan Hasyim, tidak ada tanda kemerahan tercetak. Karena mereka sudah libur untuk beribadah.
Nafas Hasyim memburu, dengan jantung yang berdetak hebat tapi ia harus menahannya. Satu bulan memang tak budah baginya, bahkan sekedar memeluk Aleria sekarang sudah tak bisa.
Setelah selesai, Hasyim membalut tubuh polos sang istri dengan handuk. Lalu membopong tubuh Aleria untuk keluar.
Perempuan itu terkejut ketika melihat seragam putih hitamnya sudah tersedia di atas ranjang.
__ADS_1
"Ayo sayang, kok malah bengong," Hasyim membantu Aleria lagi untuk berpakaian.
"Sudah mas, aku bisa sendiri," Aleria menahan tangan Hasyim yang sudah mengancingkan baju.
"Biar cepat selesai," tak dihiraukan ucapan sang istri, ia tetap melanjutkan hingga kancing terakhir.
Hasyim membuka lipatan kerah untuk dipasangkan dasi bewarna hitam, beruntung dasi tersebut sudah dibentuk secara instan jadi tinggal memasang aja.
Aleria patuh mendapat perlakuan baik dari suaminya, cara bekerja Hasyim yang cak cek dapat mempercepat persiapannya kali ini.
Hasyim mengambil jilbap segi empat putih polos untuk dipakaikan, tapi Aleria mencegah.
"Pakai skincare dulu mas," ucap Aleria.
Dengan cepat Hasyim melangkah ke meja rias, diambilnya semua yang ada di meja tersebut. Dia tidak tahu mana make up mana skincare.
Aleria duduk di atas ranjang jauh dari meja rias, makanya Hasyim yang mengambilkan.
"Ini apa dulu yang dipakaikan," kedua tangan laki-laki itu menimang antara sunscreen dan bedak padat.
"Yang ini dulu," Aleria meraih sunscreen, saat hendak membuka tutup Hasyim sudah merebut.
"Biar mas aja," membuka tutup lalu hendak menuang di telapak tangan.
"Eh, bukan begitu mas cara makainya," tangan Aleria menahan Hasyim.
"Tuang pada tiga ruas jari," lanjutnya.
'Ribet banget harus pakai takaran,' batin Hasyim.
Bersambung...
__ADS_1