
Tak terasa bulanpun sudah berganti, di saat itu pula hubungan Hasyim dan Aleria semakin dekat. Bahkan laki-laki itu selalu meluangkan waktu untuk mengajari Aleria agar bisa menuntaskan kesulitan dalam mapel Fisika maupun Kimia.
"Mbak sampai kapan kamu di dalam kamar terus?" Hayana memanggil sang kakak dekat dengan pintu yang masih terkunci.
Aleria sejak kemarin malam mengurung diri hingga menjelang sore hari, adiknya sangat khawatir karena kakaknya belum makan sama sekali. Gadis itu harus menerima kekecewaan, padahal dia sudah berusaha sekuat tenaga namun takdir tidak memihaknya, ia ternyata gagal dalam tes SBMPTN. Pikiran Aleria menerawang jauh akan hal-hal buruk yang akan terjadi seperti dia tidak bisa melanjutkan pendidikannya.
"Asalamu'alaikum,"
"Walaikum salam, silahkan masuk om," Hayana mempersilahkan Hasyim yang baru saja datang.
"Kakamu ada na? soalnya sejak tadi tak hubungin gak aktif," sebelum pengumuman Aleria sudah memberi tahu Hasyim dan meminta doa agar lulus dalam seleksi itu. Tetapi setelah beberapa menit Hasyim menanyakan Hasilnya, Aleria malah centang satu hingga berjam-jam.
"Mbak Ria gak lolos mas, dia berdiam di kamar terus sejak kemarin nggak makan juga,"
"Apa? dia mengurung sejak kemarin malam dan gak makan sama sekali?" Hasyim kaget mendengar pernyataan itu, tapi yang lebih dicemaskan saat ini yaitu ketika gadisnya tidak mengisi perutnya sama sekali.
Tok-Tok
"Ria ini mas, tolong buka pintunya sayang ..."
"Ria .." sudah dua kali Hasyim memanggil namun tidak ada sahutan dari dalam.
"Pintunya boleh di dobrak?" tanya Hasyim, karena dia takut jika terjadi apa-apa pada kekasihnya.
"Tapi jangan sampai rusak ya mas, soalnya bapak gak ada di rumah," pak Samsuri pulang ke Jogja menjelang Aleria ujian itu hanya sebentar dan kembali lagi ke Jombang, dan mereka berdua akan mudik setelah Aleria menyelesaikan urusannya tersebut.
Hasyim menganggukan kepalanya, lalu mengambil ancang-ancang, dalam satu dorongan kuat pintu itu bisa terbuka tapi masih kokoh tidak rusak sama sekali, sesuai permintaan Hayana tadi.
Mata pemuda yang berusia 30 tahun itu melihat tubuh Aleria sedang tengkurap diatas ranjang dengan kepala ditutupi bantal.
"Kenapa pada masuk semua .." suara Aleria seperti gumaman karena tertutup oleh benda kapas itu.
"Hei jangan begini nanti gak bisa napas," Hasyim menarik bantal yang Aleria gunakan namun gadis tersebut menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Ingus Ria banyak jangan ditarik!" Aleria jika menangis memang begitu. Menutup wajah dengan bantal dan yang keluar bukan air mata saja, tapi cairan lendir juga ikut serta.
"Ingusnya banyak itu dilapin bukan malah di diemin," Hasyim masih saja kekeh mengambil bantal itu, jika tidak direbut, gadisnya akan tetap setia begitu. Nanti gimana cara nafasnya.
"Na! ambilkan tisu," Aleria berteriak, padahal Hayana masih berdiri di situ.
"Nih," cuek Hayana meletakkan tisu yang telah diambilnya dari meja rias milik sang kakak.
"Mas Hasyim keluar sana! aku mau sisi dulu," usir Aleria, karena dia malu jika ingusnya itu sudah meluber di mana-mana makanya masih menutup diri dibalik bantal.
Hasyim tidak menjawab maupun menurutinya, dia mengambil dua lembar tisu dan membalikkan tubuh Aleria dengan paksa.
"Mas!" pekik Aleria lalu segera menutup hidungnya, tetapi Hasyim malah menarik tangan itu dan langsung membersihkan hidung gadis tersebut menggunakan tisu.
"Makanya kalau nangis itu dikira-kira, jangan sampai gak makan seharian sampai inguspun gak mau kamu keluarkan juga dari kamar," tangan Aleria ditahan oleh Hasyim sedangkan tangan yang sebelah punya laki-laki itu membersihkan sisa lendiran pada hidung tersebut.
Kalau dilihat ya seperti seorang bapak memarahi anaknya, Aleria walaupun sudah mau lulus SMA tapi bersifat kekanak-kanakan sedangkan Hasyim mempunyai sifat penyayang ya mungkin karena pria usia matang.
"Telat, ini sudah bersih. Sana gih cuci muka ke kamar mandi," ucap Hasyim seraya keluar dari dalam kamar tersebut.
"Kamu gimana sih na! bisa-bisanya mas Hasyim masuk ke sini," sejak mendengar dobrakan pintu Aleria sudah merasa jengkel pada Hayana. Dia itu sebenarnya ingin sendiri jadi kalau bisa jangan diganggu dulu.
"Harusnya mbak itu ngejawab biar gak bikin orang lain kawatir
sana cepat cuci muka, sudah ditungguin om Hasyim tuh,"
Aleria yang sudah sendiri di dalam kamar langsung keluar untuk menuju ke kamar mandi, tapi saat melewati ruang tamu ia tidak berani melihat Hasyim karena masih malu.
....
"Mas bisa bantu aku nggak?" tanya Aleria setelah mencurahkan kekecewaannya itu.
Niat Hasyim tadinya ingin menenangkan gadisnya dengan cara bicara empat mata agar tidak ada yang mengganggu, dan berharap Aleria juga bisa iklas menerima takdir jika tidak bisa masuk universitas negeri tersebut.
__ADS_1
"Mas akan usahakan semampunya agar bisa membantumu, kamu minta bantuan apa?"
"Aku boleh minjam uangmu mas? untuk daftar di universitas swasta," Aleria pikir jika Hasyim mempunyai banyak tabungan dan dapat memberikan ia bantuan.
"Nanti pas kuliah kusambi kerja juga kok mas, jadi bisa nyicil hutangnya," lanjut Aleria lagi agar Hasyim percaya kepadanya.
Sebenarnya laki-laki itu juga kasihan dan tidak tega jika melihat Aleria kuliah sambil kerja, sudah pasti gadis kecil tersebut akan capek, tiba-tiba ide Hasyim terlintas begitu saja. Apakah ini kesempatan baik untuknya? atau malah bisa disebut mengambil kesempatan dalam kesempitan. Pria itu tidak tahu bisa dikatakan gimana, intinya ia akan memberikan penawaran ini karena sangat menyayangi gadis itu.
"Mas bisa saja meminjamimu uang tanpa kamu lunasi juga tidak apa-apa, tapi semua itu ada syaratnya,"
"Apa mas syaratnya?" tanya Aleria antusias.
"Kamu harus mau menikah dengan mas, walaupun kamu sudah menjadi istri tetapi masih bisa kuliah kok, bahkan bermain sama temanmu secara leluasa juga bisa," Aleria tidak percaya jika Hasyim seperti memanfaatkan kesempatan ini, dan dia juga tidak mau menikah di usia muda karena sudah pasti akan ada beban berat maupun ujian yang akan dialaminya dalam berumah tangga. Menurutnya itu sangatlah memusingkan. Beban masih lajang aja dia sudah kepuyengan apalagi dengan ujian pernikahan.
"Aku baru tahu kalau mas Hasyim sangatlah perhitungan," sisi negatif Aleria mengatakan kalau Hasyim itu pelit tidak mau memberikan pinjaman padahal kalau dipikir tabungan pria tersebut sangatlah banyak. Namun kini malah laki-laki itu seakan ingin mendapatkan keuntungan sendiri.
"Mas melakukan ini karena sayang sama kamu, percayalah saat kita menikah, mas akan berusaha membahagiakanmu," Hasyim sangat mencintai Aleria dan tidak ingin kehilangan gadis itu lagi. Dia ingin menjaga dan menyayangi Aleria melalui jalur pernikahan yang halal nantinya.
"Kamu sudah memberikan mas kesempatan, jadi aku tidak menyia-nyiakan hal itu, makanya mas ingin menikahimu agar bisa memberikan kasih sayang yang lebih luas lagi," gadis itu percaya dengan apa yang Hasyim katakan. Tapi dia belum siap berkecimpung dalam dunia rumah tangga, namun jika tidak menerima bantuan Hasyim ia akan mencari ke mana lagi? dia tidak ingin jika menunda kuliah di tahun depan. Karena Aleria sangat ambisi untuk meraih gelar sarjananya dengan tanpa pikir panjang gadis itu langsung menentukan.
"Oke, aku mau menikah dengan mas Hasyim tapi jangan terlalu memaksa perasaanku agar segera mencintaimu, karena Ria juga masih proses belajar
dan aku juga tidak bisa masak bahkan urusan perkerjaan rumah kadang sering kutunda, jadi mas Hasyim harus memaklumi itu jangan terlalu menuntutku agar serba bisa," Aleria membongkar segala kekurangannya agar Hasyim tidak terlalu berharap lebih pada gadis tersebut. Karena kelebihannya tidak ada yang banyak malah kekurangannya.
"Mas tidak akan menuntut apapun darimu. Niatku hanya ingin membahagiakanmu dengan ikatan halal," Hasyim memegang tangan Aleria.
"Maaf jika Ria egois, karena usiaku masih terbilang muda jadi tolong jangan ribetkan urusan beberes rumah kepadaku," pinta Aleria lagi karena dia ingin kebebasan. Sering ditinggal orang tuanya gadis itu merasa leluasa di dalam rumah karena tidak ada yang mengaturnya. Jadi jika mengerjakan perkerjaan rumah dia selalu menunda-nunda dan tidak ada yang menegurnya sama sekali, karena Hayana juga mementingkan urusannya sendiri.
"Tapi kalau urusan ranjang jangan nolak ya?" pertanyaan itu terlontar begitu saja tapi masih di dalam batin Hasyim. Dia juga pria normal yang juga ingin merasakan apa yang pernah temannya ceritakan saat sudah menikah. Teman-teman Hasyim sudah pada melepas masa lajang hanya laki-laki itu saja yang masih setia bersama Aleria.
"Iya jangan risaukan urusan apapun itu, yang penting kamu harus semangat kuliahnya dan tetap setia berada di sisi mas," jawab Hasyim lalu memeluk gadisnya.
bersambung...
__ADS_1