Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Ijin ke calon mertua


__ADS_3

Hari ini sekolahan libur karena tanggal merah, Aleria niat sekali untuk mengebo, karena menurutnya hari libur seperti ini bisa dimanfaatkan untuk beristirahat.


Pukul 6 lewat gadis itu terbangun dengan fresh, tidak seperti sebelumnya yang setiap tidur taj pernah nyenyak. Mungkin karena kerinduan Hasyim sudah terobati, jadi dia tidak hadir dalam mimpi Aleria lagi.


Saat Aleria keluar dari kamar ia melihat bapaknya yang sedang menonton tv. "Loh bapak pulangnya jam berapa? kok Ria nggak tahu,"


"Jelaslah nggak tahu, tidurmu aja kaya kebo mbak," sahut Hayana.


"Tadi malam jam 1 an," jawab Bapak.


"Eyang bagaimana keadaannya?" tanya Aleria lagi.


"Ya lumayan membaik tapi masih belum tega kalau meninggalkan eyangmu sendirian, jadi ibumu masih di sana dulu, dan bapak pulang cuman sebentar saja nanti kembali lagi ke Jombang," jelas Bapak.


"Terus pekerjaan bapak gimana, emangnya atasan bapak mengijinkan kalau cuti lama?" Aleria kawatir jika pekerjaan bapaknya terganggu kalau cuti menerus.


"Atasan menyarankan kalau bapak pindah di kantor cabang Jombang saja biar bisa menemani eyangmu,"


"Lah kemarin pas di Jombang pindah ke Jogja, sekarang malah bapak pindah kerja ke Jombang lagi. Gimana sih pak?" protes Hayana.


"Ini juga diluar rencana bapak na, bapak juga gak tahu kalau eyangmu bakalan sakit kayak gini,"


"Hla terus kita gimana pak? apa harus ikut pindah lagi?" tanya Aleria.


"Nggak usah ndok, bapak dulu bersusah payah membeli rumah ini. Jadi kalian berdua tetap di sini saja, nanti bapak bakalan sering-sering nengok kok, kalian juga sudah besar pastinya bisa menjaga diri sendiri,"


'Yes bisa lebih bebas nih' batin Hayana.


"Sebentar lagi kan kamu lulus SMA, jadi sayang kalau harus dipindah, apalagi universitas negeri di joga juga bagus-bagus,"


"Emangnya kalau universitas swasta kenapa pak? kok kayak suka banget sama universitas negeri," tanya Hayana kepo.


Bapak Aleria menghembuskan nafas secara perlahan. "Uang tabungan bapak sudah menipis ndok, jadi untuk Ria kamu belajar yang rajin ya nak biar lolos tes masuk negeri. Kalau swasta harus bayar daftar ulang apalagi kamu ingin jurusan perawat kan? biaya daftar ulangnya bakal gak main-main ndok,"


"I-iya pak, Aleria usahakan ikut SBMPTN. Jika SNMPTN kemungkinan nggak lolos soalnya setahu Ria itu diambil dari pemeringkatan," pas baru masuk SMA Aleria sangat malas belajar dan suka menunda, jadi untuk peringkat selalu naik turun bahkan pernah drastis. Bisa naik kelas saja sudah alhamdulillah.


"Iyo ndok, semoga lolos,"


"Kamu cuci muka dulu sana mbak, ilermu bau banget sumpah," Hayana mendorong bahu kakaknya.


"Apaansih, nanti aja masih ngantuk juga," gadis itu malah menenggelamkan kepalanya di bantal yang ada di samping bapaknya.


"Kebiasaan mbakmu itu na, segara cuci muka ndok biar seger, tadi bapak sudah menggoreng tahu kesukaanmu. Bahkan bapak rela harus ke kediri dulu agar dapat oleh-oleh itu,"


Aleria masih bodo amat dia ingin mengistirahatkan kepalanya yang sudah terasa pecah, baru saja dia belajar mapel fisika dan belum terlalu menguasai, dan ditambah lagi harus mengikuti SMBPTN nantinya. Hah cobaan apalagi ini, batinya menggerutu.


"Asalamu'alaikum,"


"Walaikum'salam," Bapak Aleria langsung beranjak dari tikar yang tadi beliau gelar untuk menonton tv.


"Eh mbok Sari, monggo-monggo duduk dulu mbok," Pemilik rumah langsung mempersilahkan tamunya untuk duduk di kursi teras.


"Ternyata rumahmu bagus juga ya sam," mbok Sari menatap kagum rumah joglonya Aleria.


"Masih bagusan punyane panjenengan mbok, ini putrane mbok Sari nggeh?" pak Samsuri kini beralih menatap Hasyim.


"Iyo iki anakku yang ketika. masih joko lo ini walaupun sudah kepala 3, oh iya Aleria ada sam?"


"Mbok kok kenal anak saya?" pak Samsuri heran, pasalnya teman ibunya itu tidak pernah melihat maupun berkenalan dengan anak pertamanya tersebut.


"Sebenarnya saya yang sudah ngenalin ibu ke Aleria pak, mohon maaf kalau saya harus mengatakan hal ini, sejak dulu saya sudah mencintai anak bapak bahkan pas dia masih kelas 1 SMP,


sampai sekarang saya juga tetap mencintai Aleria walaupun usia kami terpaut jauh. Namun ternyata cinta nggak mengenal usia. Aleria memang cinta pertama saya dan dulu pernah dekat walaupun sekarang agak renggang, karena ada sedikit masalah. Kali ini saya ingin memperbaiki hubungan ini. Tolong ijinkan saya ya pak untuk memperjuangkan anak bapak

__ADS_1


tadi pagi saya juga buatkan martabak manis kesukaannya Aleria, alhamdulillah usaha martabak manis saya makin lancar. Insya allah suatu saat nanti bisa mebahagiakan Aleria," ucap Hasyim panjang lebar seraya menyerahkan martabak manis.


Pak Samsuri bingung harus berkata apa, dia masih mencerna ucapan laki-laki dewasa yang bersama mbok Sari itu.


"Kamu panggilkan saja Aleria, kalau kamu masih bingung tak jelasin nanti," sahut mbok Sari seakan tahu apa yang dipikirkan pak Samsuri.


"Iya, sebentar mbok," bapak Aleria langsung beranjak masuk untuk memanggil sang anak.


"Ndok, ada yang mencarimu temuin sana gih," ucap pak Samsuri di samping anaknya.


Hayana yang penasaran siapa tamunya, ia mengintip dibalik gorden jendela dan kaget ternyata tamunya adalah Hasyim.


"Siapa pak? Ria masih ngantuk nanti aja," lagi-lagi Aleria enggan bangun.


"Nggak enak ndok, cepetan kamu keluar,"


"Pak tolong buatkan teh untuk tamunya, mbak Riya biar jadi urusanku," ucap Hayana dengan yakin.


"Baiklah harus benar bisa bangunin mbakmu lo ya, soalnya bapak gak enak kalau tamunya nunggu lama," setelah bilang begitu pak Samsuri berjalan ke arah dapur untuk membuat suguhan.


"Mbak tamunya ternyata om Hasyim," bisik Hayana di dekat telinga kakaknya.


Aleria menegakkan kepala dari bantal. "Owalah mas Hasyim, kirain siapa," lalu kembali tidur lagi tapi berapa detik kemudian. "Apa? mas Hasyim yang datang? ya Allah kenapa kamu nggak bilang dari tadi sih .." Aleria kelimpungan dan bingung harus ngapain.


"Dasar kebo, aku sudah bangunin berkali-kali mbak tapi kamunya masih kayak orang mati,"


"Terus aku harus gimana ini?" Aleria panik hingga mondar-mandir di TKP yang tadinya ia tiduri.


"Ya cuci muka sana atau mandi sekalian biar gak malu-maluin,"


"Oke, saran yang bagus," gadis itu langsung melipir ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Aleria keluar untuk menemui Hasyim.


"Kemari ndok, salim dulu," perintah pak Samsuri.


"Saya ini mbok Sari ibunya Hasyim ndok, tapi kamu manggil eyang juga gak papa. Walaupun nanti kalau sudah nikah dengan anakkupun kamu manggil dengan sebutan seperti itu juga gak papa," mbok Sari mengedipkan mata ke Aleria, dan yang dikedipi malah salah tingkah.


"Bu Aleria malu tuh," Hasyim menyenggol bahu ibunya saat tahu gelagat Aleria.


"Kenapa harus malu? aku ini temane eyangmu jadi santai ae lah wes,"


Pak Samsuri hanya menyimak pembicaraan mereka, karena masih bingung mau berkata apa.


"Sam aku penasaran dengan sekitaran rumahmu, kayaknya asri banget. Ayo temani simbok lihat-lihat, biarkan mereka berdua," pak Samsuri menurut, karena menurutnya kemungkinan mbok Sari akan menjelaskan semuanya nanti.


"Pak... " rengek Aleria sambil menahan lengan bapaknya. Seolah dia gak mau jika ditinggal berduaan hanya dengan Hasyim.


"Hasyim gak akan gigit kok ndok, dia juga sudah makan dari rumah jadi nggak mungkin kalau makan kamu,"


"Sudah disitu saja," setelah mengatakan itu mbok Sari melangkahkan kakinya bersama pak Samsuri.


"Dek, kamu masih suka martabak kan?" Hasyim mencoba membuka obrolan.


"Sekarang sudah nggak terlalu suka,"


"Masa? ini kejunya banyak loh. Yakin Ria masih nggak mau," Hasyim mengambil satu potong martabak dan melihatkannya ke gadis belia itu.


Bau harum menguar pada indra penciuman Aleria, keju melimpah dan coklat berlapis membayangi pikirannya. Mau bilang ingin tapi dia gengsi, kalau nolak juga nggak bisa.


"Ayo sayang a.." Hasyim ingin menyuapi tapi ria enggan membuka mulutnya.


"Ayolah mas tahu kalau kamu masih suka dengan martabak bikinan mas," tangan Hasyim masih setia walaupun gadisnya menggeleng.

__ADS_1


"Yaudah tak kasihkan ke Hayana aja deh," laki-laki itu pura-pura merajuk.


"Eh jangan," ternyata mulut Aleria tidak bisa diajak kompromi. Nyatanya tanpa sadar bilang begitu.


"Em maksud-"


"Yaudah sayang yok makan," ucapan Aleria terpotong karena Hasyim tiba-tiba menyuapkan martabak itu, dengan terpaksa Ria mengunyahnya meskipun ketagihan.


"Mas tadi sudah bicara ke bapakmu yang sebenarnya, kalau dulu kita pernah dekat tapi kini renggang karena kesalahan mas sendiri, dan juga mas bilang kalau ingin memperbaiki hubungan ini, "


deg


"Mas kok bilang ke bapak sih, nanti kalau aku dimarahin gimana? nanti malah dikira anaknya ini kerjaannya cuma pacaran mulu," jengkel Aleria.


"Nggak mungkinlah marah, kan mas sudah ijin ingin memperjuangkan putrinya, apakah itu salah?"


"Mbohlah! masalah satu belum selesai malah ada bibit masalah lagi. Gusti.. mumet sirahku," Aleria mengusap kasar kepalanya seperti frustrasi.


"Masalah apa yang belum selesai? berkaitan tentang permintaan maaf mas ya? kan mas juga lagi memperbaiki semuanya tinggal kamunya aja yang mau atau enggak, setelah itu selesai dek masalahnya,"


"Kalau soal itu aku nggak pikirkan itu bukan urusanku lagi!"


Hasyim paham kalau itu hanya menjadi urusannya, dia nggak keberatan jika harus berjuang terus untuk mendapatkan hati sang kekasih kembali.


"Lantas apa yang membuatmu pusing dek? ibu nanti akan menjelaskan kok ke bapakmu, jangan kuwatir,"


"Atau ada masalah yang kamu pikirkan selain itu?" sambung Hasyim, dia bilang begitu karena teringat gelagat Aleria ketika tadi keluar rumah seperti sudah ada beban yang mengganggu.


"Nggak," Aleria menggelengkan kepalanya.


"Jangan bohong, mas tahu tentang dirimu. Kamu berbohong saja mas tahu," bantah Hasyim.


"Percuma aku cerita toh nanti mas Hasyim akan mengataiku kan?!" Aleria trauma dengan perkataan Hasyim dahulu yang mengatakan kalau dia itu bodoh. Jika Aleria cerita tentang mengikuti tes SBMPTN pasti Hasyim meremehkannya.


"Mas gak paham maksudmu sayang.." Hasyim beranjak karena ingin duduk di dekat kekasihnya.


"Coba Aleria cerita sebenarnya ke mas, siapa tahu mas bisa mencari solusinya," tambah Hasyim sambil merangkul Aleria dan mengusap bahu gadis itu.


Gadis itu tidak menolak. Jujur saja dia merasa nyaman dalam pelukan Hasyim. "Tabungan bapak sudah menipis, mungkin karena harus membiayai pengobatan eyang. Sedangkan sebentar lagi aku akan kuliah dan pastinya membutuhkan biaya daftar ulang,


kata bapak aku disuruh masuk negeri agar tidak terlalu terbebankan oleh biaya itu, tapi jika masuk negeri harus ikut tes SBMPTN, Ria bingung apakah bisa lolos? kalaupun tidak harus kuliah dimana? universitas swasta biayanya mahal," akhirnya gadis itu mengeluarkan semua keluh kesahnya ke Hasyim.


"Sayangnya mas kan pintar, pasti lolos kok," kedua tangan Hasyim memengang pipi Aleria.


"Katamu dulu aku bodoh! pastinya nggak mungkin loloslah!" tangan Hasyim dihempaskan begitu saja oleh Aleria.


"Yang dulu biarlah lewat sayang.., jangan mengungkit yang lalu, nyatanya sampai sekarang mas masih ada disisimu, tolong beri kesempatan kepada mas agar bisa memperjuangkan adek lagi," air mata Hasyim menetes kembali, dia tidak kuat menahan air matanya jika mengingat perbuatannya dulu.


"Jangan nangis.. Aleria nggak suka lihat mas nangis," ucapan itu melontar begitu saja dari mulut Aleria, padahal logikanya menolak untuk mengatakan begitu. Tapi hatinyalah yang secara langsung mengeluarkan ucapannya.


Hasyim memegang tangan Aleria yang sudah mengusap air matanya. "Mas senang kalau Ria masih memperdulikan mas,"


"Ini semua dari kata hatiku, walaupun logikaku terus menolakmu," Aleria berkata jujur, karena dia juga kesal kalau hati dan pikirannya terus berdebat. Siapa tahu Hasyim bisa membantu, begitu yang ada dipikiran gadis itu.


"Ikuti kata hatimu sayang.., mas sayang banget sama Aleria, beri mas kesempatan ya?" Hasyim kembali memeluk Aleria. Entah kenapa dia semakin candu untuk memeluk gadisnya.


"Emangnya mas mau menjalani hubungan tapi aku tidak mencintaimu lagi?" tanya Aleria sambil mendongak menatap Hasyim.


"Ijinkan mas untuk mendapatkan hatimu kembali, kamu memberikan kesempatan saja mas sudah senang, dan mas juga percaya suatu saat hatimu akan terbuka lagi,"


"Baiklah aku akan memberikan kesempatan, tapi mas jangan sakit hati kalau aku belum mencintaimu seperti dulu,"


"Iya sayang gak papa, terima kasih ya,"

__ADS_1


"Jangan nangis lagi dong Aleria nggak suka," gadis itu mengusap air mata Hasyim lagi.


bersambung....


__ADS_2