Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Aleria sakit


__ADS_3

"Sabar dulu ya sayang ... bentar lagi nyampai kok," tangan Hasyim sesekali memegang dahi Aleria dan terasa semakin panas. Ia menambah kecepatan, entah kenapa jarak rumah sakit terasa jauh padahal aslinya dekat.


"Dingin ..." gadis itu merintih dalam keadaan mata tertutup. Laki-laki yang ada di sampingnya semakin cemas lalu memberhentikan mobil tersebut.


"Ria ... tolong buka matamu sayang, jangan bikin mas kawatir," Hasyim menangkup pipi Aleria dan bibir gadis itu kian memucat.


"Mas peluk sebentar ya biar Ria nggak kedinginan lagi,


sudah tidak dingin lagi kan? jawab mas sayang...," Hasyim menepuk pelan pipi Aleria.


"Mas Hasyim ..." lirih Aleria ketika mencium aroma parfum laki-laki yang pernah dikenalinya, dia merasakan ada pelukan hangat lalu rasa dingin itu bisa langsung lenyap.


"Iya sayang ini mas, buka matamu jangan bikin mas kawatir," Hasyim menatap mata kekasihnya yang masih terpejam. Khawatir yang berlebihan menurut orang lain namun tidak bagi Hasyim. Ia benar-benar ingin menjaga Aleria dan jangan sampai melihat gadisnya itu kesakitan walaupun hanya demam sekalipun.


"Mata Ria pusing mas, gak bisa buka,"


Tok-tok


Ada orang yang mengetuk kaca mobil ternyata itu ialah Hisyam.


"Ada apa berhenti? cepat bawa ke rumah sakit," seru Hisyam setelah kaca tersebut diturunkan.


"Iya om kenapa berhenti?" sahut Aleria juga.


"Aleria kedinginan aku bingung harus bagaimana," jelas pria yang ada di mobil itu.


"Dobeli dengan jaketku ini om," Hayana melepas jaket yang ia pakai lalu menyerahkan kepada Hasyim.


"Terus kamu gimana?" tanya Hasyim. Karena jangan sampai Hayana juga sakit hanya karena masuk angin.


"Cepat bawa Ria, Hayana biar jadi urusanku," jawab Hisyam cepat.


Setelah memasangkan jaket, Hasyim kembali melajukan mobilnya.


Udara malam berhembus hingga membawa efek dingin yang mendera dalam tubuh. Hayana mengusap-usap bahunya untuk memberikan kehangatan.


"Nih pakai jaket om saja," Hisyam menyodorkan kain tebal tersebut.

__ADS_1


"Nggak usah nanti om kedinginan, aku masih muda jadi kuat kalau cuma masuk angin, sedangkan om sudah tua kan, takutnya nanti terserang penyakit aneh-aneh lagi,"


Karena malas berdebat dengan bocah, Hisyam langsung memakaikan jaketnya ke Hayana. "Lah, gak usah om, kok maksa aja sih," protes bocah tersebut seraya memasukan tangannya ke dalam lubang lengan jaket tersebut. Mau tidak mau dia juga harus menuruti paksaan orang yang disebutnya om-om itu.


"Dah, ayo kita menyusul mereka," ucap Hisyam setelah menaikan resleting jaketnya pada tubuh Hayana.


Secepat kilat Hasyim mengangkat tubuh Aleria setelah sampai di tempat tujuan. Gadis itu langsung ditangani oleh dokter sedangkan suster mulai memasangkan infus sesudah mendapatkan arahan dari dokter.


"Maaf, bisa bicara dengan keluarga pasien?" tanya orang yang berjas putih keluar dari ruang UGD.


"Gimana dok keadaan Aleria?" Hasyim langsung berdiri dari duduknya, dia ingin mewakilkan diri sebagai keluarga pasien meskipun Hayana sudah datang. Tetapi anak kecil yang masih SMP mana mungkin bisa jika diberi keterangan seperti ini.


"Jadi begini pak, pasien harus dirawat inap karena ditakutkan kalau terkena deman berdarah. Jadi besok di cek lab dulu untuk bisa memastikan,"


"Baik dok tolong berikan yang terbaik bagi Aleria,"


"Saya usahakan pak, pasien sekarang sudah sadar jadi boleh dilihat, saya permisi dulu,"


Setelah mendapatkan ijin, mereka berempat langsung masuk ke ruangan.


"Sayang ... gak sakit lagi kan kepalanya? atau ada lagi yang sakit? biar mas panggil dokternya," berondong Hasyim sambil mengecup kedua kelopak mata Aleria.


"Kan mas kawatir sayang .."


"Kawatir sih kawatir tapi jangan langsung nyosor aja," kesal Hisyam, karena Hasyim mengubar kemesraannya kayak nggak tahu aja kalau adiknya juga kepengen manja-manjaan sama pasangan. Tapi sayangnya tidak punya.


"Biarin mereka berduaan lah om, kita keluar aja nyari kopi dari pada jadi obat nyamuk di sini," ucap Hayana.


"Yaudah ayo na, biarin mereka diikutin setan kan kalau berduaan yang ketiga bakalan setan," Hisyam masih mengingat perkataan gurunya dulu.


"Lah kita juga berdua loh om, berati nanti ada setan yang ngikutin dong?" Hayana yang baru berjalan beberapa langkah seketika berhenti karena mendengar penuturan Hisyam.


"Nanti pas di luar tak ngajak tante suster ngesot biar kita gak cuma berdua. Jadi nggak ada setan yang ngikut deh ..." jawaban Hisyam malah mendapatkan geplakan dari bocah yang ada di sampingnya.


"Suster ngesot juga setan om ..."


"Heh kalian mau kemana? berdiri terus di situ," seru Aleria pas melihat mereka berdua masih berdiri di sebelah pintu.

__ADS_1


"Kamu nggak dengar tadi? katanya mereka mau ngopi, biar nggak jadi obat nyamuk di sini," kini Hisyam yang menjawab.


"Heh dari pada jadi obat nyamuk di kantin lebih baik di sini saja. Tuh nyamuknya juga banyak,"


"Oh iya aku lupa na," Hisyam menepuk dahinya, belum juga Hayana bertanya laki-laki itu kembali ke samping Aleria.


"Ria sebenarnya aku ingin minta maaf jika selama ini telah berbuat yang tidak mengenakan kepadamu, aku baru menyesal saat ini. Untunglah tuhan bisa membukakan hatiku," tutur Hisyam.


"Jadi benar anggapan orang-orang jika mas itu laki-laki brengsek?" tanya Aleria memastikan.


"Iya bahkan lebih dari kata brengsek, tolong maafkan aku Ria," mohon Hisyam lagi.


"Ini bukan sandiwaramu kan?" ucap Hasyim dengan tatapan serius.


"Kamu bisa melihat dari sudut mataku syim,"


"Baiklah aku percaya kepadamu, semoga setelah ini kamu bisa segera bertobat," Hasyim menepuk bahu adiknya.


"Doakan yang terbaik," jawab Hisyam lalu dia menatap Aleria lagi. "Gimana Ria, apa kamu mau maafin aku?"


Hasyim juga menunggu ucapan Aleria, apakah gadis itu akan secepatnya memaafkan Hisyam? walaupun cowok tersebut lebih besar kesalahannya dari pada Hasyim. Jikapun kakaknya belum mendapatkan maaf yang tulus dari Aleria bagaimana dengan adiknya. Laki-laki itu merasa tak adil jika gadisnya itu akan lebih cepat memaafkan sang adik dari pada dirinya.


"Sebentar mas, tolong kalian tinggalkan aku dengan mas Hasyim, " mohon Aleria agar Hisyam maupun Hayana bisa keluar sementara dari ruang ini.


"Mas ..." Aleria memanggil Hasyim agar mendekat.


"Iya sayang .."


Aleria ingin duduk namun segera dicegah Hasyim. "Jangan duduk dulu sayang ..."


"Terima kasih mas kamu sudah menolongku tadi, dan makasih juga telah memperjuangkan Aleria sampai sejauh ini


tapi apakah mas tulus melakukan semua ini?"


"Berapa kali mas harus mengatakan kalau mas ini beneran sayang sama kamu Ria .." jawab Hasyim sambil menggenggam tangan kekasihnya.


"Sebenarnya ingatan masa lalu sangat susah mas untuk dihilangkan, tapi aku ingin memaafkan mas dengan tulus juga, tolong bantu aku agar rasa cinta yang dulu pernah hilang bisa kembali lagi,"

__ADS_1


"Mas akan membantumu sayang .. maafkan mas yang pernah menyakitimu dulu, sekarang mas gak papa jika perasaan ini harus bertepuk sebelah tangan. Yang penting kamu mau maafkan mas,"


bersambung..


__ADS_2