
Semua syaraf Hasyim seolah terhenti, detak jantungnya terus bertalu-talu. Keringat bercucuran membasahi dahi, entah kenapa tubuh laki-laki itu bereaksi berbeda. Mungkin karena tingkah sang istri yang cenderung agresif.
Ya obat yang dimasukan ke minuman Aleria tadi merupakan penyebab utamanya. Tubuh seakan panas minta didinginkan, jaket tebal terhempas begitu saja.
Kulit putih mulus terpampang nyata di depan Hasyim, tangan perempuan itu masih memegang tengkuk suaminya untuk memperdalam c*um*n tersebut, sedangkan tangan yang satunya bergerilya mengusap-usap dada bidang Hasyim.
Laki-laki itu menggeram, menarik nafasnya agar tak terpancing, dia tahu kalau Aleria terpengaruh dengan obat,dan Hasyim juga tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
โRia, kita pulang ya,โ Hasyim mengurai tindakan sang istri.
Kedua tangannya menangkup pipi Aleria yang sudah memerah dan pandangan mata terlihat berkabut.
"Panas mas," rintih Aleria
Setelah berucap dua kata perempuan itu melanjutkan aktifitasnya, mencoba memancing singa yang tertidur, berharap sang singa segera terbangun dan menerkamnya. Dia masih sadar dengan apa yang dilakukan, maka dari itu Aleria ingin segera menuntaskan penyiksaan ini.
Tangan kokoh Hasyim menggenggam erat pinggang sang istri, rasanya ia tak kuat lagi dengan godaan tangan Aleria. Mulut yang awalnya diam kini bergerak membalas pagutan itu.
Bergerak lebih cepat dari sang lawan, hingga pertarungan keringat terjadi di dalam mobil tersebut, mobil bergoyang-goyang sendiri karena terjadi pergerakan hebat yang dilakukan oleh pengendaranya. Beruntung tempat ini sepi jadi masih dalam kondisi aman.
Kini tangan berurat Hasyim meraih apa yang ingin diraih dari tubuh sang istri, suara nan menghanyutkan terdengar jelas di telinganya menambah semangat untuk mendaki menuju puncak surga dunia.
Baju Aleria tidak dilepas secara sempurna, karena niat Hasyim hanya melakukan sementara di mobil, surai hitam sang istri sudah berantakan karena kepalanya bergerak ke sana ke mari.
Tangan mungil itu ingin meraih sesuatu untuk ia jadikan pegangan, rasanya akan ada sesuatu yang meledak dari tubuhnya. Aleria tak tahan akan hal itu. Menggapai kaca berharap dapat dijadikan pegangan tapi segera disambut oleh genggaman Hasyim. Menyatukan tangan itu dengan erat.
"Mas Hasyim.. "
"Sayang.. "
Mereka sama-sama berseru, menghasilkan getaran hebat di tubuh masing-masing. Buliran keringat membasahi dahi sang istri. Hasyim belum melepaskan, ditatapnya wajah Aleria.
Mata sipit kulit putih dan wajah bak seperti putri jawa, tingkah yang penuh kepolosan membuat Hasyim tak ingin berjauhan dari bocah itu. Rasa sayangnya kian bertambah seiring waktu.
Aleria tampak lemas seraya mengatur pernafasannya, rasa panas sudah hilang mungkin bersamaan dengan pelepasan tadi, Hasyim meng*c*p semua bagian wajah sang istri tanpa terkecuali.
"Sudah hm?" tanya Hasyim sambil membenarkan posisi Aleria.
Belum ada respon, mata bocah itu terasa ingin terpejam mungkin karena kelelahan. Kelopaknya berkedip-kedip lalu dikec*p Hasyim lagi.
__ADS_1
"Kita lanjut di rumah ya," Hasyim segera merapikan baju Aleria beserta dirinya juga. Lalu kembali ke kursi depan sedangkan Aleria tetap di belakang.
Dalam perjalanan Hasyim masih memikirkan tentang kejadian buruk yang menimpa istrinya, ia tidak terima jika pelaku bebas terlepas begitu saja. Laki-laki itu akan mencari tahu dan memberikan hukuman yang setimpal untuk pelaku.
Hasyim sangat bersyukur bisa menemukan Aleria, dan beruntung dia datang tepat waktu sehingga sang istri bisa selamat dari santapan pria hidung belang.
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mobil Hasyim sampai di garasi rumah. Sang istri terlihat tertidur dengan nyenyaknya.
Pintu mobil dibuka dan tangan Hasyim meraih kepala Aleria dengan pelan sedangkan tangan yang satunya ia selipkan di belakang lutut untuk mebopong sang istri.
Dia memnuka pintu rumah lalu menutupnya kembali meskipun agak kesusahan lalu berjalan menuju kamar. Hampir saja Aleria terbangun karena merasakan pergerakan tangan Hasyim saat meraih knop kamar.
Ranjang empuk sudah terasa di tubuh perempuan itu, harum ruangan yang membuat Aleria menjadi tenang, karena akhirnya dia bisa kembali ke rumah tersebut tanpa kurang dari apapun. Aleria bisa merasakan semuanya, raganya belum tidur sepenuhnya.
"Dek .." panggil Hasyim, hingga Aleria bisa merasakan nafas itu di wajahnya.
Dengan perlahan, kedua mata Aleria terbuka dan terpampanglah wajah hitam manis Hasyim yang terasa dekat.
Bukan terasa lagi tapi mereka sudah dekat, tubuh Hasyim mengukung Aleria, laki-laki itu mendekatkan wajahnya, sampai satu ke*upan berhasil ia daratkan di bibir mungil itu.
"Mas, mau lagi," ucap Hasyim sembari menerbitkan senyum manisnya.
Salah sendiri sudah berani membangunkan singa yang tertidur, ibarat diberi umpan ya harus dihabiskan.
"Mas, sudah .." wajah Aleria sudah memerah tangannya menghalau tangan Hasyim yang telah berjelajah ke sana ke mari.
...----------------...
Pukul dua malam Aleria terbangun dengan sendirinya, dia merasakan tangan sang suami masih memeluk erat. Sebelum mengurai pelukan itu, Aleria memandang wajah Hasyim terlebih dahulu.
Tangannya mengusap wajah tampan itu, alis yang tebal dan bulu mata lentik, Aleria iri dibuatnya. Dia saja perempuan tak punya bulul mata lentik begitu sedangkan Hasyim di mulai dari alis, bibir terbentuk sempurna.
Jari Aleria menjelajah garis bibir nan sexy itu, yang tadi malam ******* apapun di tubuh Aleria.
Tanpa diduga tiba-tiba Hasyim membuka mulutnya dan memasukan salah satu jari Aleria.
"Sudah ngelihatinnya?" tanya Hasyim dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.
"Mau lagi hm?" Aleria langsung melotot mendengar ucapan suaminya itu.
__ADS_1
"Capek lah mas," ketus Aleria seraya memunggungi Hasyim.
"Kok dah bangun?" ia lingkaran tangan ke pinggang sang istri dan menaruh dagu di pundak yang masih lembab itu.
"Laper,"
"Mau makan apa?" hindung mancung Hasyim mengendus-endus leher sang istri.
"Emangnya masih ada makanan," masalahnya ini masih tengah malam, tidak mungkin juga jika Aleria menyuruh sang suami mencari makanan.
"Stock makanan masih banyak sayang, sosis dan bakso juga ada,"
"Mas bikinin sosis dan bakso bakar mau?" tanya Hasyim kemudian.
"Emangnya mas Hasyim gak capek?" kini Aleria membalikkan tubuh agar bisa menghadap suaminya.
"Nggak sayang, pasti lebih capekan kamu karena tadi malam mas kuras terus tenaganya," dikecupnya bibir mungil sang istri.
"Mas sih sudah bilang ngantuk malah diterusin," bocah itu masuk menyenderkan kepalanya di dada bidang Hasyim.
Terasa hangat dan bisa mendengarkan detak jantung masing-masing. Masih ngantuk tapi tidak bisa memejamkan mata karena lapar mendera.
"Salah sendiri mancing-mancing mulu,"
"Hih.. "
"Aw sakit sayang," rintih Hasyim, karena tiba-tiba Aleria menggigitnya.
"Kenapa digigit lagi? bekasmu tadi malam masih banyak loh," tanda kemerahan terpampang jelas di tubuh Hasyim. Aleria banyak meninggalkan entah itu kec*pan maupun gigitan.
"Jangan dibahas terus mas.. Ria malu," disembunyikan lagi wajah bocah itu di dada bidang suaminya.
"Utututu... malu juga istrinya mas ini," ejek Hasyim.
"Mas.." rengek Aleria.
"Yaudah ayo kita bersih-bersih dulu, setelah itu bikin sosis bakarnya," ajak Hasyim.
Bersambung....
__ADS_1