Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Aleria merajuk


__ADS_3

"Sayang .." Hasyim masuk ke kamar sambil membawa sepiring nasi goreng.


Dia menaruhnya di meja lalu naik ke ranjang untuk membujuk istrinya yang sudah menutupi tubuh sepenuhnya dengan selimut.


"Dek .." laki-laki itu menarik paksa selimut tersebut, dan menampakkan tubuh istrinya yang memeluk guling dengan mata terpejam. Mungkin biar dikira sudah tidur, jadi Hasyim tidak perlu mengganggunya lagi.


"Mas tahu kalau kamu hanya pura-pura tidur," ucap Hasyim sambil mengecup pipi Aleria.


Tapi istrinya tidak merespon sama sekali, akhirnya Hasyim mengeluarkan jurus jitunya yaitu.


"Mas geli ih .." laki-laki itu menggelitiki sang istri.


"Hahaha udah mas, nggak lucu tau nggak," bocah tersebut ingin beranjak namun Hasyim menarik tangan mungilnya, dan terjadilah acara guling-guling. Karena Hasyim tidak menghentikan tangannya malah mendekap tubuh kecil itu.


"Stop mas udah, perutku sakit ketawa terus,"


"Salah sendiri ngambek sampai ninggalin makanan," Hasyim merapikan rambut sang istri.


"Ya aku kecewa sama mas, katanya mau nyari cara biar aku nggak hamil


tapi mana? sampai detik ini mas Hasyim kelihatan santai aja," walaupun jengkel Aleria tetap menerima suapan dari suaminya. Ya Hasyim kembali menyuapi sang istri dengan nasi goreng tadi.


"Sabar dong sayang ... mas juga sambil mikir ini,"


"Yaudah nanti mas tidur aja di luar aku gak mau ambil resiko," putus Aleria kemudian yang sontak membuat mata Hasyim melebar.


"Jangan gitu dong sayang ... tidur tanpamu itu bagaikan butiran debu," mohon Hasyim, Aleria malah menjadi geli mendapat gombalan darinya.


"Tau ah, mau jadi butiran debu, butiran kerikil, ataupun butiran sampah. Ria bodo amat,"


"Habiskan nasi gorengnya, setelah itu kita bicarakan baik-baik," ucap Hasyim serius.


Setelah beberapa suapan akhrinya sepiring nasi goreng berhasil Aleria habiskan. Lalu Hasyim mengambilkan air minum ke dapur sambil membawa piring kosong tersebut.


"Sudah? mas boleh bicara sekarang?" tanya Hasyim seraya menerima gelas yang disodorkan istrinya lalu dia meminum sisa air tersebut meskipun sudah bekas Aleria.


"Sebenarnya kemarin mas juga setuju dengan keputusanmu untuk menunda momongan, tapi .." Hasyim menjeda ucapannya.

__ADS_1


"Tapi mas berubah pikiran gitu?" sarkas Aleria.


"Iya," jawab Hasyim dengan lirih.


"Aku ini masih kecil loh mas, Ria belum siap jika harus jadi mama muda, banyak cita-cita yang ingin kucapai dulu!" perempuan itu langsung tersulut emosi tanpa mengindahkan kalau dia lagi bicara dengan siapa.


"Sayang ... mas takut jika kita menunda malah nanti bakalan sulit untuk ada,"


"Mas kan sudah setuju dengan kesepakatan kita dari awal, kenapa malah jadi begini," Aleria jengah akan sifat Hasyim yang menurutnya plin-plan.


"Kesepakatan yang mana? sayang hanya bilang tidak ingin direpotkan dengan urusan rumah termasuk memasak, cuman itu yang kamu ucapkan saat itu, berarti sayang juga nerima jika punya anak dan melayani mas di kamar," Aleria bungkam, dia baru menyadari ucapannya kala itu.


"Kalau tahu begini Ria nggak mau nikah sama mas," tanpa sadar perempuan tersebut mengeluarkan ucapan yang bisa menyakiti hati suaminya.


"Jadi kamu nyesel nikah sama mas?" Hasyim tidak menyangka jika Aleria akan berkata seperti itu.


"Aku gak mau mas pokoknya nggak mau jika punya anak sekarang,"


Biasanya Hasyim akan menenangkan istri kecilnya, tapi kali ini tidak. Dia terlanjur kecewa dengan ucapan Aleria.


"Mas sayang sama kamu dek, jadi tolong turuti permintaan mas kali ini saja. Selagi kita masih muda," Hasyim masih teguh dengan pendiriannya.


"Baiklah jika kamu nggak mau, tapi mas tetap akan berusaha agar kamu segera hamil, entah kamu mau atau tidak," Hasyim mencoba menahan amarahnya sambil beranjak dari ranjang seraya mengambil gelas untuk ia kembalikan ke dapur.


"Mas Hasyim egois!


Aku tak kan biarkan mas Hasyim tidur di kamar ini,"


Hasyim menghentikan langkahnya. "Ini kamar kita jadi mas juga berhak tidur di sini,"


"Oke mas bisa tidur di sini, tapi jangan harap bisa menyentuh tubuhku lagi,"


"Semua yang ada pada dirimu merupakan milik mas, jangan mencegah mas untuk melakukan hal lebih," setelah berkata seperti itu Hasyim langsung keluar dari kamar tanpa menghiraukan teriakan istrinya.


Hasyim ingin menenangkan dirinya, ia sangat kecewa dengan perkataan Aleria. walaupun begitu dia tidak ingin meluapkan amarah kepada sang istri. Karena sangat menyayangi Aleria jadi tak akan tega untuk membentaknya.


Laki-laki tersebut langsung pergi ke belakang rumah setelah menaruh gelas kotor, Hasyim ingin berolahraga sebentar untuk menyegarkan pikirannya.

__ADS_1


Untung saja ada barbel yang sudah ia siapkan sebelum pindahan. Laki-laki itu sangat menjaga bentuk tubuhnya, jika ada waktu segang ia selalu berolahraga entah lompat tali atau apapun itu.


Sedangkan di kamar Aleria merenungi kesalahan akan ucapannya tadi. Tapi dia berfikir seharusnya Hasyim bisa mengerti, dan yang berhak marah ialah bocah itu bukan malah Hasyim.


"Masa sih mas Hasyim marah sama aku?


halah pasti juga sebentar nggak mungkin lama," Aleria berjalan keluar untuk mencari sang suami.


"Mas .."


"Mas Hasyim .." Aleria memanggil-manggil suaminya tapi tidak ada sahutan, dan dia juga tidak nampak batang hidung Hasyim sekalipun.


"Dia sebenarnya kemana sih? tega banget ninggalin istrinya sendirian," jengkel Aleria.


Laki-laki itu mendengarkan panggilan Aleria, tapi tidak menyahut, dia masih fokus dengan aktifitasnya.


"Mas .." Aleria memanggil lagi.


Tiba-tiba perempuan itu melihat pintu belakang yang tidak tertutup sempurna, akhirnya ia melangkah ke situ dan mencari tahu apakah suaminya sedang berada di belakang rumah atau tidak.


Ternyata benar Hasyim ada di sana, tangannya sedang mengangkat barbel dan peluh keringat sedikit membanjiri seakan menambah kesan sexy. Aleria kagum melihat pemandangan seperti itu, di mana otot-otot suaminya terlihat nyata bahkan dia ingin memegang dada bidang Hasyim yang bisa memberikan pelukan hangat kepadanya tadi malam.


"Mas,"


"Hm,"


"Kenapa nggak ngejawab pas aku panggil?" tanya Aleria kemudian.


"Nggak dengar," Hasyim menjawab dengan datar.


"Masa nggak dengar, padahal mas cuma di belakang rumah,"


"Hm," lagi-lagi hanya jawaban itu yang Aleria terima.


"Mas kamu itu kenapa? ditanya cuman jawab hm-hm mulu


punya mulut gak sih?" Aleria menghampiri Hasyim.

__ADS_1


Karena sudah dekat dengan sang istri, Hasyim menaruh barbel di bawah dan langsung membungkam mulut Aleria menggunakan mulutnya. Hanya perempuan itu yang bisa meredakan marahnya seorang Hasyim. Laki-laki itu belum selesai rasa kecewanya dan kini istrinya malah menambah lagi dengan ucapan pedasnya.


Aleria memukul-mukul dada Hasyim agar menghentikan c*um*n itu, karena dia sudah hampir kehabisan nafas. Tapi suaminya malah menggendong seperti koala tanpa melepaskan pagutan tersebut dan membawanya masuk ke dalam rumah.


__ADS_2