
"Bapak pamit ya, kalian baik-baik di sini. Kalau takut tidur di rumahnya mbok Darso saja," pak Samsuri berangkat jam 3 malam, beliau memesan mobil via online untuk mengatarnya ke kampung halaman.
"Iya pak hati-hati di jalan," jawab Aleria sedangkan Hayana hanya menganggukan kepala karena masih mengantuk.
Setelah berpamitan kepada kedua anaknya, bapak Aleria langsung menghampiri mobil yang sudah menunggunya, dan masuk untuk melakukan perjalanan ke kota Jombang.
"Mbak ayo tidur di rumahnya mbok Darso aja," ajak Hayana. Mbok Darso merupakan seorang janda tua yang rumahnya berdekatan dengan Aleria. Beliau tidak mempunyai anak maupun saudara, sehingga jika masak banyak selalu diantar ke rumah Aleria. Bahkan dua bocah itu sudah dianggap cucunya sendiri.
"Ini masih malam na, mbok Darso pasti juga tidur," sanggah Aleria.
"Nanti kan bangun kalau kita ketuk pintunya, ayolah mbak aku takut kalau di rumah," Hayana terus memaksa.
"Nggak enak na sama mbok Darso, biasanya sendiri nggak takut gitu,"
"Malam ini cukup mencekam mbak, beda dari malam kemarin. Ayolah.."
"Yaudah, bentar tak ambil seragamku dulu biar sekalian berangkat sekolah dari sana," pasrah Aleria lalu mengambil seragamnya di kamar.
"Aku bolos nggak usah kok ambilin seragam," teriak Hayana ketika melihat kakaknya sudah menjauh.
"Siapa juga yang mau ngambilin, GR banget dah," sahut Aleria dari dalam kamar.
Gadis itu sudah mengambil seragamnya tinggal nanti disetrika di rumah mbok Darso, lalu mereka berjalan beriringan.
Tok-tok
Tok -tok
Ceklek
Pintu sudah dibuka oleh sang empu, dan menampilkan wajah mbok Darso yang tampak masih ngantuk, tapi tetap bisa tersenyum ketika melihat kedatangan mereka berdua.
"Enek opo ndok? wengi-wengi mrene," tanya wanita renta itu. [ada apa ndok? malam-malam kesini]
"Bapak sudah pulang lagi ke Jombang mbok, aku takut di rumah jika cuman sama mbak Ria aja," jawab Hayana.
"Yawis tidur di sini ae, ayo masuk di luar dingin," mbok Darso merangkul dua gadis itu untuk masuk.
"Setahu mbok bapakmu baru nyampe kok sudah kembali?" tanya mbok Darso lagi sambil menggelar kasur lantai untuk mereka tiduri.
"Katanya mau pindah tugas ke kantor cabang Jombang mbok, soalnya nggak tega kalau berjauhan sama eyang. Apalagi eyang sudah sering sakit-sakitan," jelas Aleria.
"Iyo ndok kasihan eyangmu juga, kamu sama adikmu tetap tinggal di sini aja nanti mbok yang nemenin. Jangan pulang ya?" wanita renta tersebut menitikan air matanya, beliau takut jika anak yang sudah dianggap cucunya sendiri itu bakalan pergi meninggalkannya.
"Jangan nangis dong mbok, kami tetap di sini kok kan masih nerusin sekolah juga," Aleria memeluk mbok Darso untuk menenangkan.
"Aku sudah betah tinggal di sini mbok, jadi nggak mungkin kalau pulang lagi," sahut Hayana seraya menutup pintu yang tadi dibuka.
"Nanti aku minjam setrika ya mbok, buat nyetrika seragamku," pinta Aleria.
"Ambilen ae ndok di lemari,"
"Iya mbok nanti saja pas subuh, aku mau tidur dulu masih ngantuk," Aleria merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga sebatas leher.
"Kalau mau setrika seharusnya sekarang biar lega," ketus Hayana.
"Nanti saja lah, masih mending aku mau sekolah daripada kamu bolos mulu,"
"Biarin yang penting masih pintar," sanggah Hayana.
"Halah uwes nggak usah ribut, ayo segera tidur biar bangunnya nggak kesiangan," mbok Darso melerai mereka.
__ADS_1
"La sampeyan mau kemana mbok?" tanya Aleria ketika wanita sepuh tersebut mulai beranjak dari kasur lantai.
"Simbok mau belanja ke pasar, kalau jam segini bahan-bahannya masih lengkap,"
"Nggak biasanya sampean belanja malam begini mbok,"
"Soalnya mau masakin yang enak buat kalian," jawab mbok Darso lagi.
"Nggak usahlah mbok, nanti kan kami bisa beli di warteg," tolak Aleria.
"Halah gak papa, sekali-kali nyenengin cucu,"
"Yaudah biar aku temenin ya mbok," pinta Hayana.
"Jangan di luar dingin, nanti kamu masuk angin,"
.........
"Le ibu pulang dulu ya, jaga dirimu baik-baik," pamit mbok Sari ke Hasyim. Beliau pulang ke Jombang bareng dengan pak Samsuri.
"Iya bu hati-hati di jalan,"
"Ibu nitip salam ke Hisyam kalau dia sudah pulang nanti," anaknya yang terakhir belum pulang sejak pergi pagi kemarin.
"Iya bu nanti aku sampaikan," Hasyim meraih tangan ibunya untuk salim.
Laki-laki itu menghembuskan nafasnya perlahan ketika sang ibu sudah memasuki mobil, sebenarnya dia bingung jika tidak ada Hisyam, karena bocah tersebut bisa diandalkan untuk belanja bahan martabak di pasar, dan sekarang Hasyim terpaksa harus belanja sendiri walaupun dia belum tahu cara menawar dengan benar.
"Halah tak belanja sendiri ae wes, buat latihan," monolog Hasyim lalu pergi mengambil jaket dan tak lupa untuk mengunci pintunya.
Laki-laki itu pergi ke pasar dengan menggunakan mobil yang biasanya Hisyam pakai. Karena cuacanya terasa dingin jika pakai montor.
Beberapa menit perjalanan dia melihat wanita sepuh yang sedang menunggu angkutan sendirian, dia merasa tak tega melihatnya karena teringat ibunya yang sudah pulang tadi. Akhirnya mobil diberhentikan tepat di depan wanita renta itu.
"Iyo le, nunggu angkutan dari tadi kok belum kelihatan juga,"
"Bareng saya aja mbok, kebetulan mau ke pasar juga," ajak Hasyim.
"Nggak ngrepotin to nanti, mbok tak nunggu angkutan aja,"
"Nggak kok mbok, mari," Hasyim membukakan pintu mobil. Mbok Darso tidak bisa menolak lagi akhirnya beliau menerima ajakan Hasyim.
Laki-laki itu menutup pintu ketika mbok Darso sudah masuk, dan dia kembali duduk di kursi kemudi.
"Rumahe sampean mana mbok?" tanya Hasyim membuka obrolan sambil menjalankan mobilnya.
"Deso Singosari le, deket sama tempat yang tadi buat nunggu angkutan,"
"Berati kenal Aleria mbok?"
"Aleria anak e pak Samsuri to? iku tetangga samping rumahku le, tapi rasanya kayak cucu sendiri,
kamu kenal to sama Aleria?"
"Kenal mbok soalnya pernah dekat waktu masih di Jombang,"
"Dekat maksude apa pacaran gitu le?" tanya mbok Darso dengan ragu, soalnya beliau tahu arti ungkapan dekat berati pacaran, karena penah dengar saat para anak remaja di desanya sering berkata seperti itu.
"Em dulu memang pacaran mbok," lirih Hasyim.
"Pacaran?" mbok Darso terkejut ketika tebakannya benar, padahal dilihat dari wajah Hasyim pria itu sudah terlihat matang, masa pacaran sama bocah kecil. Begitulah yang ada di pikiran wanita sepuh tersebut.
__ADS_1
"Aneh ya mbok kalau dipikir, tapi kenyataannya memang begini. Saya yang nggak pernah ngerasain jatuh cinta malah kepincut sama gadis belia," Hasyim terkekeh, dia seakan tahu apa yang dipikirkan wanita sepuh itu.
"La kalau sekarang masih berlanjut hubungannya?" tanya mbok Darso lagi.
"Sempat renggang mbok, tapi kali ini saya ingin memperbaikinya,"
"Owalah yawis.. tolong dijaga Aleria ya," ucap mbok Darso kemudian. Beliau tidak ingin terlalu ikut campur mengenai urusan orang lain, meskipun gadis yang bersangkutan sudah dianggap cucunya sendiri, karena menurutnya setiap orang mempunyai privasy tertentu yang harus dijaga.
Obrolan mereka terus berlanjut hingga sampai di pasar, Hasyim meminta bantuan mbok Darso untuk menawar barang yang akan ia beli. Bahkan laki-laki itu minta diajarin juga caranya belanja di pasar, padahal itu merupakan hal mudah namun sangat sulit untuk Hasyim, mungkin karena tak pernah belanja di tempat tradisional tersebut.
"Sini mbok barange sampean tak masukin bagasi," Hasyim membantu mbok Darso membawa barang belanjaannya, sekalian memasukan bahan baku martabak.
"Matur suwon yo le, sudah bayarin belanjaane simbok," ucap mbok Darso berterima kasih kepada Hasyim.
"Enggeh mbok sami-sami," jawab Hasyim seraya membukakan pintu untuk mbok Darso.
Setelah selesai dengan urusan pasar, Hasyim berniat mengantar mbok Darso terlebih dahulu.
Ia tentunya sudah hafal dengan jalan yang dimaksud wanita renta tersebut, karena rumahnya berdekatan dengan Aleria.
Beberapa menit perjalanan akhirnya mobil Hasyim sudah sampai di tempat tujuan. Laki-laki itu membantu membawa barang mbok Darso ke rumahnya.
"Ayam potong e taruh di kulkas aja le," mbok Darso memberi tahu Hasyim.
"Kamu tunggu dulu di ruang tamu ya, biar mbok buatkan teh hangat,"
"Iya mbok makasih," ucap Hasyim lalu pergi dari dapur.
Setelah ia duduk di kursi ruang tamu matanya melihat ada dua orang yang sedang tertidur di kasur lantai. Netranya mengamati lagi, kalau yang tidur miring dia tahu jika itu Hayana. Sedangkan yang tengkurap Hasyim menebak pasti itu Aleria.
Ruang tamu sangat dekat dengan tempat yang mereka tiduri. Hasyim pertama masuk ke dalam rumah tidak melihat keberadaan mereka karena sibuk membantu mbok Darso.
"Huam.. ya Allah capeknya," lenguh gadis itu lalu dia mendudukan badannya sambil menguap.
"Jam berapa ini?" monolog Aleria dia tidak menghadap ke arah kursi jadi belum tahu keberadaannya Hasyim.
"Sudah jam 4, cuci muka sana gih biar cantik," jawab Hasyim
"Ah masih petang nanti aja deh," ucap Aleria tanpa sadar.
"Anak perawan nggak boleh bangun kesiangan, nanti jodohnya om-om loh," sahut Hasyim lagi sambil sedikit ketawa karena melihat tingkah gadisnya.
"Biarlah toh sudah dideketin sama om-om juga," Aleria menutup matanya, namun baru sadar kalau suara itu seperti. "Kok kaya mas Hasyim," gadis itu kembali duduk karena terkejut.
"Iya sayang ini masmu,"
"Hah," Aleria spontan menengok ke arah Hasyim.
"Hai..." Hasyim melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Gadis itu masih belum percaya kalau itu Hasyim. Mungkin dia hanya bermimpi, mengucek ngucek matanya untuk memastikan apakah itu benar.
Melihat ekpresi Aleria, Hasyim menghampiri gadisnya dan mengusap air liur yang tertinggal sedikit di dagu dengan menggunakan sapu tangan yang selalu ia bawa. "Dilap dulu dong ilernya, sampai menetes begini,"
"Ini mas Hasyim beneran?" dengan bodohnya Aleria mencubit tangannya.
"Aw sakit!" ringisnya.
"Kenapa kamu nyubit tanganmu sendiri?"
"Ya ampun ternyata bukan mimpi," Aleria menutup mukanya karena malu. Malu sebab ada iler yang ada di dagu, dan malu juga karena rambutnya mungkin terlihat berantakan.
__ADS_1
"Bukanlah makanya coba lihat mas, biar hilang kangennya," Hasyim terus menggoda Aleria.
bersambung..