
Bolak-balik benda kotak yang telah dimatikan nada deringnya itu berbunyi. Tak ada yang menerima. Karena pemilik hp tersebut sedang terpojok di dinding kamar merasakan ketakutan yang sungguh teramat dalam.
Bisakah ia menyesali semuanya? apa ini merupakan dosa karena selalu membantah nasehat seorang suami. Perempuan dengan rambut tergerai itu hanya mampu terisak, menyembutkan nama sesosok pelindung yang selalu menyayanginya dengan tulus. Entah apakah relung hati sudah mulai terbuka untuk sesosok dia? tapi semuanya tak bisa dibohongi.
Aleria sangat membutuhkan Hasyim. Menjerit tiada guna, tapi jikapun sehati pasti laki-laki itu juga merasakan perasaan yang tak mengenakan. Meskipun belum tahu apa penyebabnya.
...----------------...
"Ria kemana sih kamu?" jari-jari pria itu terus bergerak menombol ikon hijau untuk menghubungi, meskipun hanya ada kata berdering tanpa ada sambungan.
Bayangan-bayangan buruk mulai bergelayut, hingga membuat hatinya gundah seketika. Apakah ini yang dinamakan ikatan batin? Hasyim seakan tidak tenang dibuatnya.
__ADS_1
Akhirnya tanpa pikir panjang ia segera bergegas menyusul sang istri, mengecek melalui gps yang masih diaktifkan oleh Aleria. Mobilnya melaju membelah jalanan, padahal istrinya hanya pamit keluar sebentar dengan teman, tapi hati Hasyim merasa tak nyaman.
Mata elangnya terus melihat petunjuk seraya menengok depan agar tetap aman dalam berkendara. Beruntung di kota Jombang sangat jarang terjadi kemacetan jadi laki-laki itu bisa cepat melajukan mobilnya.
Beberapa menit kemudian kendaraan roda empat tersebut berhenti tepat di kafe yang menurutnya berisikan wanita malam. Hasyim dibuat tercengang kenapa lokasinya menujukan ke sini, dia mengecek lagi seumpama kliru. Tapi tetap saja benar tidak ada sistem yang eror di hp tersebut.
Tubuh tegapnya melangkah masuk dan aroma alkohol menguar melewati hidungnya. Batinnya bertanya-tanya, kenapa Aleria berada di tempat ini? tak mungkin juga kalau sang istri akan mencari hiburan di sini.
Hasyim melirik ke arah manapun berharap menemukan Aleria di balik gerombolan perempuan yang memakai baju kurang bahan.
"Saya hanya ingin sendiri," jawab Hasyim seraya mencari tempat duduk. Dia tidak mungkin menjawab jika sedang mencari Aleria, karena kemungkinan bukan jawaban yang akan ia terima melainkan sebuah godaan.
__ADS_1
Entah kenapa pikiran Hasyim terbawa ingin memasuki lantai atas, ketika dia melihat sebuah tangga. Tapi ada sebuah peringatan yang tercantum di dinding sebelahnya, "Dilarang masuk selain tamu,"
Perbodohan akan tulisan yang tertempel tersebut, dengan tenang Hasyim berjalan menuju tangga. Ia tidak ingin menimbulkan sebuah kecurigaan orang lain.
"Maaf mas di lantai atas hanya untuk tamu saja," cegah perempuan yang tadi ia temui, sepertinya wanita itu selalu memperhatikan gerak-gerik Hasyim.
"Saya sudah memesan salah satu ruangan di atas, beserta perempuan juga," bohong Hasyim, dia tidak terlalu bodoh mengenai dunia malam seperti ini.
"Oh baiklah, ma-" belum sempat meminta maaf, Hasyim sudah meninggalkan perempuan itu begitu saja.
Di lantai atas ternyata banyak sekali ruangan yang tertutup dan dicantumkan nomor pada setiap pintu. Hasyim dilanda kebingungan istrinya berada di mana sekarang, ia hanya mengikuti kata hati, hingga matanya tertuju di pintu bernomor 7
__ADS_1
Tak ada sama sekali fikiran negatif yang ada di dalam kepala Hasyim, yang ada hanya kekhawatiran dengan keadaan Aleria sekarang. Kemungkinan istrinya itu sedang dilanda bahaya di dalam kamar tersebut.
bersambung...