
Hasyim melihat antrian pembeli yang kian meningkat, dia segera membantu merajang daun bawang. Agar nanti cepat selesainya.
"Biar saya saja mas yang merajang," pinta salah satu karyawan dengan tak enak hati.
"Kamu kerjakan saja yang lain, biar cepat selesai juga," pisau terayun ke atas dan ke bawah untuk mematahkan daun menjadi potongan kecil.
Srek
Srek
Srek
Tangan pria itu merajang cepat, hingga srek...
Pisau yang ia bawa menggores kulit ari jarinya, terasa perih lalu membentuk goresan memerah hingga keluar darah.
"Astagfirullah," Hasyim melepaskan pisau lalu pergi ke belakang, menekan luka goresan agar mengeluarkan darah untuk mencegah infeksi. Setelah itu membasuhnya dengan air.
'Kenapa fikiranku jadi tak enak' monolog Hasyim.
Saat mulai merajang laki-laki pemilik usaha martabak itu memang sudah tidak fokus, hatinya serasa tertahan di rumah
'Ya Allah Ria,' Hasyim menjadi sangat khawatir ketika nama Aleria masuk ke dalam fikirannya.
Dia bergegas ke depan tak lupa berpesan, "tolong kalian urus dulu kedainya, saya ada urusan,"
"Baik mas,"
Hasyim sudah memasrahkan segala urusan martabak kepada karyawan, hatinya mengatakan kalau dia harus cepat pulang.
Jalanan kota Jombang tidak sepadat kota metropolitan, tetapi secepat-cepatnya motor melaju, Hasyim merasa kalau perjalanan yang ia tempuh sangat lama.
Tin-tin
Tin-tin
Hasyim menekan klakson, di saat suasana hati genting seperti ini masih ada aja montor yang ugal-ugalan.
Tak dipedulikan luka goresan kecil tadi, yang dibuat mengepal untuk menyetir pastilah terasa nyeri.
.
Ceklek
Knop pintu bergeser sehingga bisa terbuka, matanya kini langsung tertuju pada sofa ruang tamu.
Dari kejauhan terlihat seorang yang sedang tergeletak bukan sengaja tapi dia memang pingsan.
Hasyim langsung menghampiri tubuh sang istri, diraihnya kepala Aleria.
"Dek... Bangun.. " ucap suaminya itu dengan kepala Aleria yang dipangku.
__ADS_1
"Aleria.. "
Kedua kali tidak ada jawaban bocah yang masih belia itu segera diangkat oleh sang suami.
Diletakkan dengan pelan di ranjang, lalu mengusap rambut Aleria, "Maafkan mas sayang.. "
Hasyim menyesal karena sudah meninggalkan sang istri begitu saja, dia melihat kalau rumahnya sudah bersih.
Sudah bisa dipastikan kalau Aleria yang membersihkan semuanya. Karena Hasyim tadi buru-buru menghindar dari bocah itu.
"Ria bangun ya.. " pinta Hasyim seraya mengenggam tangan Aleria.
Dingin itulah yang ia rasakan, di dalam benaknya berfikir apakah sudah lama Aleria tak sadarkan diri?
Bodoh itulah kata yang menurut Hasyim cocok untuk diberikan untuknya, dari pada bengong meratapi nasib harusnya dia segera menghubungi dokter.
Laki-laki itu menghambil hpnya, beruntung dia mempunyai kenalan dokter yang berada di dekat sini.
"Hallo Chan, tolong segera ke mari istriku pingsan," ucap Hasyim melalui panggilan via telepone.
"Oke, baiklah tunggu bentar lagi aku sampai,"
Sebelum temannya yang menjadi dokter itu datang untuk memeriksa, Hasyim terlebih dahulu menggantikan pakaian sang istri.
Karena kain yang melekat di tubuh Aleria sejak pagi tadi sudah kotor mungkin karena sering dipakai beraktifitas.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Chandra Sekaligus teman Hasyim itu datang juga.
Dia melakukan pemeriksaan dengan seksama, Hasyim melihat sambil hatinya terasa harap-harap cemas.
"Omong apa sih, gimana keadaan Aleria?" tanya Hasyim yang tidak ingin berbasa-basi sebentar.
"Santai dong.. Kita ngobrolah sebentar, bagaimana kamu bisa mendapatkan bocah sebelia ini?" gelak sang dokter, meskipun dekat dengan Hasyim tetapi dia tidak tahu menahu akan hubungan asmara temannya itu.
Apalagi ketika Hasyim menikah dia juga tidak sempat datang karena sibuk membereskan pekerjaan di luar kota. Jadi dia kaget saat melihat istri Hasyim semuda Aleria.
"Chan, ini darurat! Bagaimana keadaan istriku?"
"Tenang Syim.. Hal seperti ini biasa dialamin ibu hamil apalagi masih usia muda, kalau bisa jangan sampai dia kecapekan,"
Ucapan pria berjas putih itu seperti untaian benang yang perlu dijahit untuk menyatukan. Ya seperti begitulah, Hasyim butuh mencerna kata per kata dari Chandra.
Apa benar istrinya lagi mengandung?
Ini bukan mimpi kan?
Pantas saja Aleria tadi tiba-tiba memeluknya, pasti karena sang anak yang ingin selalu dekat dengan bapaknya.
"Kamu gak salah kan?" lirih Hasyim dia menatap temannya seperti orang ling lung.
"Alhamdulillah Syim.. Kenapa jadi bengong gini sih,"
__ADS_1
"Kamu gak bohong kan Chan?"
"Kalau kamu gak percaya bisa bawa istrimu itu ke doker kandungan untuk memastikan,"
"Alhamdulillah syim.. Bilang begitu, jangan malah kayak gini," lengan Hasyim terasa panas ketika mendapat geplakan dari sang kawan.
"Iya Alhamdulillah Chan kalau aku segera jadi bapak.. Alhamdulillah.. " mata Hasyim memanas merasakan syukur tiada hentinya, karena Allah memberikan titipan buah hati secepat itu.
"Nah gitu dong, ini untuk resep vitaminnya. Aku permisi dulu," pamit Chandra.
"Tapi Aleria kenapa belum sadar?"
"Tunggu saja paling bentar lagi dia akan sadar,"
"Baiklah terima kasih Chan," Hasyim mengambil dompet dari saku tapi ditahan oleh Chandra.
"Khusus kamu gratis, hitung-hitung buat menebus kesalahanku yang tidak bisa datang ke acara kalian,"
"Jangan gitu, aku gak enak sama kamu," bantah Hasyim.
"Dienak-enakin aja apa susahnya, dah aku mau pergi,"
Akhirnya Hasyim tidak bisa memaksa Chandra untuk menerima uang tersebut.
Perlahan dia mendekati ranjang, lalu mendudukan tubuh di pinggiran dekat dengan sang istri.
Tangan Hasyim mengusap wajah maupun rambut Aleria, dan tak lupa mengecup dahinya lama.
"Makasih sayang.. " dia senang ketika mendapatkan kabar tersebut.
Tetapi yang menjadi bebannya saat ini, apakah Aleria juga bahagia ketika mengetahui bahwa dirinya sedang berbadan dua?
Hasyim tahu sang istri sangatlah keras kepala, sulit untuk diluluhkan bahkan jika tidak keinginan Aleria sendiri maka semua tetap jalan di tempat.
Apalagi mengenai hal yang dulu sangat ditentang Aleria, kini malah datang dengan sendirinya.
"Sayang baik-baik di sana ya, jangan nakal, kasihan mama," Hasyim mengusap perut yang masih rata itu.
"Mama belum tahu kalau dedek ada di sini," suara Hasyim semakin serak.
Dia takut kalau Aleria menolak kehadiran sang buah hati, fikiran istrinya yang masih labil terkadang membuat Hasyim pusing sendiri.
"Sayang.. Akhirnya yang mas nantikan datang juga," bisiknya.
"Jaga dia baik-baik ya, sebagaimana mas jaga kamu,"
Mungkin hanya angin yang bisa mendengarkan, karena mata Aleria juga masih terpejam.
Tapi hanya dengan cara itu Hasyim bisa melepaskan segala rangkaian kata-katanya.
Mungkin jika Aleria sudah sadar Hasyim tidak berniat untuk menceritakan, sementara biar dia saja yang tahu. Sampai bisa meluluhkan hati Aleria sedikit demi sedikit, agar bisa menerima takdir bahagia secepat ini.
__ADS_1
"Jaga dirimu baik-baik ya sayang.. "
Bersambung..