Beri Aku Kesempatan

Beri Aku Kesempatan
Kemarahan Hasyim.


__ADS_3

Setelah chatingan dengan Aleria, Hasyim tak lantas langsung tidur ia masih menunggu adiknya yang belum pulang.


Laki-laki itu ingin memberikan pelajaran kepada Hisyam, berani-beraninya dia ingin mendekati Aleria. Bahkan merahasiakan keberadaannya. Padahal Hasyim sudah terpuruk begitu lama karena merindukan sang kekasih hati, dan sekarang Hisyam yang sudah mengetahui keberadaan Aleria, malah menyembunyikannya.


dobrag!


Akhirnya yang ditunggu datang juga, Hisyam menggebrak pintu untuk masuk dalam keadaan mabuk parah. Hasyim yang duduk hanya melihat sambil menyesap rokoknya. Ia ingin mendengar ungkapan sang adik, karena jika orang keadaan mabuk biasanya segala unek-unek yang disembunyikan bisa dikeluarkan begitu saja tanpa sadar.


"Hasyim.. Hasyim .., kamu gak akan bisa nemuin mantanmu itu hahaha, kasihan kamu syim selalu mencari dia tapi gak pernah ketemu, aku tahu Aleria, aku tahu dimana bocah itu berada, tapi aku ingin merasakan tubuhnya terlebih dahulu lalu baru kuserahkan kepadamu Hasyim... "


Tangan yang tadi masih memegang rokok kini dibuangnya, jari-jari Hasyim sudah mengepal dia tidak bisa menahan amarahnya ketika Hisyam melecehkan Aleria secara tidak langsung.


Bugh-bugh


Bugh-bugh


Bogeman demi bogeman mendarat di pipinya Hisyam. Laki-laki itu tidak sempat melawan karena efek minuman alkohol yang membuat tubuhnya kelimpungan.


"****! kenapa kamu memukulku!" oh ternyata Hisyam tidak sadar atas ucapannya tadi, hingga ia tanya pada sang kakak yang telah melayangkan pukulan.


"Baji**an kowe Syam, kowe tego neng masmu iki hah!" teriak Hasyim sambil meraih kerah baju Hisyam. [Baj**an kamu Syam, kamu tega pada kakakmu ini hah! ]


"Edan ye kowe Syim! aku ngapakne kowe he?!"


[Gila ya kamu Syim! aku ngapain kamu ha?!]


Sebenarnya Hasyim menyadari jika percuma saja dia menghajar Hisyam habis-habisan, karena adiknya sedang keadaan mabuk jadi mana bisa mencermati semuanya?


Namun amarah Hasyim tak bisa terbendung jika semua menyangkut Aleria, bahkan perkataan Hayana benar ternyata Hisyam mendekati sang kekasih hanya karena nafsu belaka.


Laki-laki mana yang rela jika kekasih hatinya akan dirusak oleh pria lain, dan yang akan melakukan semua itu yaitu adiknya sendiri.


Hasyim tidak menyangka jika akan menjadi seperti ini, kurang sayang apa ia ke Hisyam, bahkan dulu barang yang ia punya sering dikasihkan kepada Hisyam. Tetapi inikah balasannya?


"Apa kamu nggak tahu syam penderitaanku selama ini ha! bertahun-tahun aku mencari Aleria bahkan hidupku seakan tak ada gunanya jika tanpa dia, dan saat kau tahu keberadaan Aleria malah kau rahasiakan. Salahku apa syam selama ini ha!"

__ADS_1


Hasyim terus mengeluarkan amarahnya, dia tidak mempedulikan wajah sang adik yang sudah dipenuhi dengan lebam.


"Aku hanya pengen dengan semua yang kamu miliki syim, hahaha. Aku ingin memiliki semuanya," tanpa sadar Hisyam masih bisa tertawa.


Kakaknya yang sudah tidak bisa menahan emosi, dia melihat ada kursi di sampingnya. Lalu Hasyim mengambil benda itu dan diangkatnya untuk memukul sang adik.


"Astagfirullah.. Apa yang kamu lakukan le?!" teriak wanita sepuh yang baru datang sambil meraih tangan Hasyim, untuk mencegah supaya kursi tersebut tidak jadi dihantamkan ke Hisyam.


"Hisyam sudah membuatku kecewa bu!" Hasyim menurunkan kursi yang tadi dia angkat.


"Kuciwo kenapa le? ada apa sebenarnya?" ibunya terisak dia tak menyangka jika kedua anaknya akan bertengkar sehebat ini. Jikapun menghirup bau alkohol dari mulut Hisyam itu sudah biasa, karena dengan cara apapun adiknya Hasyim itu sangat sulit untuk dinasehati.


"Sebenarnya dia sudah tahu keberadaannya Aleria bu.., tapi Hisyam sama sekali tak memberi tahuku, bahkan baj**an itu ingin merusak Aleria bu!"


"Kamu tahu dari mana le? nggak mungkin adimu akan berbuat hal seperti itu?" tanya ibu karena beliau belum tahu kalau Hisyam sudah beberapa kali meniduri banyak perempuan.


"Hisyam bukan Hisyam yang seperti lagi dulu bu! dia sudah menjadi laki-laki bre**sek karena pergaulannya!"


"Dia pulang-pulang mabuk sambil mengatakan semua unek-uneknya bu, bahkan ucapan yang dia lontarkan juga melecehkan Aleria secara tidak langsung!"


"Le.. sabar ya, ayo kamu ke kamar tenangkan dirimu," ibunya memapah tubuh Hasyim ke kamar sedangkan Hisyam dibiarkan begitu saja. Seorang yang juga melahirkan Hisyam itu begitu kecewa, atas tindakan sang anak. Toh luka yang dialami Hisyam hanyalah lebam palingan laki-laki itu juga bisa mengobati sendiri pikir ibunya.


"Apakah kamu sudah ketemu dengan gadis kecilmu itu?" tanya ibu, saat ini mereka sudah berada di kamar Hasyim.


"Sudah bu, tapi Aleria belum memberi kesempatan untuk Hasyim. Bahkan memaafkan saja enggan," laki-laki itu begitu rapuh di sandaran sang ibu.


"Le.. hati perempuan itu sangat lembut jadi wajar saja kalau dia belum bisa memaafkanmu. Ucapan itu lebih kejam dari pada tindakan le, mungkin Ria masih ingin menyembuhkan lukanya. Tapi jika kamu masih mencintai gadismu maka bantu dia untuk menyembuhkan luka itu, buktikan bahwa kamu sangat mencintainya, terus perjuangankan dia,"


"Apakah nanti Aleria bisa memberiku kesempatan bu?"


"Bisa le, teruslah berusaha dan berdoa karena hanya Allah lah yang bisa membolak balikan hati manusia,"


"Kamu jangan nyerah ya?" tambah ibunya.


"Hasyim nggak mungkin nyerah bu, aku sangat mencintai Aleria dan tidak bisa membayangkan jika hidup tanpanya bu,"

__ADS_1


Walaupun ibunya belum mengetahui wajah gadis yang dimaksud Hasyim, namun beliau selalu mendukung langkah anaknya. Melihat saat sang anak yang dulu terpuruk hanya karena merindukan gadis kecil itu, ibunya tidak tega hingga menyetujui ikthiar Hasyim untuk membuka cabang di jogja sambil mencari Aleria.


"Seperti apa sih Aleria itu? sampai anaknya ibu dibuat uring-uringan gini," ibu Hasyim mencairkan suasana sampai menggoda anaknya.


"Kamu ada fotonya nggak le? ibu mau lihat,"


"Ini bu, dia cantik kan?" Hasyim menyerahkan hp yang menampilkan foto Aleria.


"Masya allah.. kamu pinter banget le nyari calon istri, sungguh cantik wajahnya mirip orang cina bermata sipit lagi. Orang-orang jaman dahulu biasanya menyebut dengan nama cino jowo,"


"Ya semoga bisa jadi istri Hasyim bu,"


"Tapi wajahnya kok mirip teman ibu ya le? jangan-jangan ini cucunya mbok Darti, soalnya cucu dia juga ada di Jogja," sebelum pergi untuk menengok anaknya, ibu Hasyim itu menjenguk temannya dulu yang lagi sakit di rumah sakit dan mengobrol tentang apapun. Jarak tempuh dari Jombang ke Jogja sangatlah lama, oleh karena itu ibu Hasyim baru nyampe ke kostan anaknya pas larut malam.


"Masa sih bu? kebetulan aja kali,"


"Ibu dikirimin fotonya kok sama mbok darti, niat ibu tadi seumpama ketemu gitu sama cucunya bisa sekalian mampir ke rumahnya untuk silahturahmi, masa udah kenal nggak mampir ke rumah kan gak enak," jelas ibu Hasyim sambil mencari foto gadis yang ia maksud.


"Nah ini ketemu, lihat miripkan le?"


"Ini fotonya Aleria bu, iya benar," seru Hasyim.


"Wah.. alhamdulillah le kalau gitu, ibu gak nyangka kalau bisa beneran besanan dengan mbok Darti," ungkap ibu Hasyim dengan binar bahagia.


"Kamu tahu rumahnya kan?"


"Tahu bu, besok niat Hasyim ingin mengantar martabak manis kesukaan Aleria,"


"Ibu ikut ya? nanti ibu bantu untuk merayu Aleria, agar mau memberi kesempatan untukmu,"


"Makasih ya bu," Hasyim memeluk ibunya.


"Ternyata cinta itu nggak memandang usia yo le, kamu yang sudah kepala tiga malah kepincut sama gadis belia," ibu Hasyim menggelengkan kepalanya karena melihat kisah asmara yang lucu itu. Namun dia begitu bahagia karena Hasyim sudah menemukan belahan jiwanya yang dulu pernah hilang. Bahkan tanpa diduga ternyata Aleria cucunya mbok Darti, semakin senang saja hati ibu Hasyim.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2