Bintang Kejora

Bintang Kejora
Pertemuan


__ADS_3

Di sebuah club malam dimana kehidupan manusia dianggap negatif dan menjadi citra buruk bagi mata masyarakat umum. Alkohol, pelac*r, dan narkotika menjadi hal yang biasa di sana. Seorang wanita mengenakan gaun pendek biru muda di atas lutut, duduk diam di kursi tinggi dekat bartender yang sedang mengolah minuman.


“Eric, kamu tahu apa yang terjadi dengan Sofia.” Eric menggelengkan kepala sembari menuang minuman digelas kecil dan meletakkan didepan seorang pemuda yang menjadi kustomernya.


“Tapi aku dengar dia ada masalah dengan Madam Den” Eric sedikit mendekat dan berbisik sambil melihat sekitarnya “kamu jangan buat masalah yang sama ya Ke, kau tahulah orang yang buat masalah dengan Madam Den pasti ujungnya hilang dari peradaban.”


Wanita tersebut mengangguk. “Hai, boleh kenalan?” Seorang pemuda mengulurkan tangan dan tersenyum manis, sedari tadi dia hanya mengamati mereka berdua mengobrol.


"Boleh, aku Keke” jawab wanita tersebut dengan senyum manis dan menyambut tangan pemuda itu.


“Aku Dimas, wanita cantik seperti kamu, pasnya berdiri dilantai dansa denganku” mendengar gombalan pria tak dikenal tersebut Eric hanya tersenyum kecut sembari memutar bola matanya.


Keke cuma tertawa kecil, “aku tertarik, tapi hari ini aku hanya dipersiapkan untuk event” Dimas meneguk pelan minumannya “Oh kau peserta? Aku pastikan aku bisa menghabiskan malam denganmu Nona.” Dimas menatap Keke dengan tatapan yang bagi perempuan biasa pasti jijik bahkan Eric sendiri ingin sekali menancapkan tusuk bambu yang dipegangnya ke matanya.


Tapi Keke hanya menanggapi dengan mengangkat bahunya. “Aku tak bisa memilih,” ujarnya pelan “emm..aku permisi.” Lanjutnya dan pergi. Mata Dimas mengikuti ke arah keke pergi, sambil menjilat bibir bawahnya dia memastikan dirinya bisa bersama dengan wanita tersebut, Eric melihat Dimas dengan tatapan tajam “**** head” ujarnya pelan seraya mengelap gelas dan menyiapkan minuman untuk kostumer lainnya.


Dimas meraih smartphone disaku bajunya “Halo, aku sudah di dalam, dekat bartender, kau dimana?” Dimas mengedarkan pandangannya dan memgangkat tangannya ketika melihat seseorang yang dikenalnya, orang yang mengobrol dengannya lewat telpon barusan. “Pesan minuman, aku yang bayar." Tawarnya ketika melihat temannya menarik kursi dan duduk disampingnya. Temannya hanya melihat sekeliling sebelum menoleh kesamping kirinya.


“Aku kesini bukan untuk minum, aku punya tujuan lain Dim.” Ujar temannya singkat, “Ayolah Ang, satu teguk tak akan membunuhmu” Rayu Dimas membuat pria disebelahnya memberikan tatapan tajam dan dingin.


“Mau ku penggal kepalamu?” Ujarnya dengan nada menggeretak walau sebenarnya bercanda dan disambut tawa oleh Dimas.


“Hari ini ada event, apa tujuanmu untuk itu” Dimas memainkan alisnya dan tersenyum menyeringai. “Iya, tapi bukan untuk tujuan sebenarnya.” Sahutnya kembali melihat ke sekelilingnya, dia mengamati setiap penjuru tempat, dia menggeleng pelan ketika melihat sepasang muda-mudi mulai kehilangan kesadaran dan menari begitu menggila.


"Mereka seolah tidak takut jika mati tak pernah terprediksi." Mendengar ucapan temannya, Dimas melihat kearah yang temannya lihat. “Angga, aku masih heran, kau ini sok suci atau emang terlalu polos” Dimas mengepalkan tangannya dan menjadikan sandaran untuk dagunya, menatap kearah temannya bernama Angga dengan bingung.


“Ada Jus bang?” Mengabaikan ucapan Dimas, Angga memilih memesan minuman yang aman, dia bertanya ke Eric, mendengar ada yang pesan Jus, Eric cuma mengangguk pelan dengan wajah heran.


“Wah! Kamu ini di club bukan di café bro.” Ujar Dimas meledek, “beri dia anggur merah tanpa alkohol” lanjut Dimas, Eric mengangguk dan menyiapkan pesanannya.


Suara musik dari DJ di atas panggung membuat peserta menari semakin menjadi, tidak wanita maupun pria mereka menikmati alunan musik tersebut. Ada yang sudah dipengaruhi alkohol membuat dia semakin lupa dengan sekitar, ada yang menjadikan lantai dansa dan memanfaatkan kesempatan bisa bersentuhan dengan wanita berpakaian sexy di sana dan bisa diperkirakan jika kond0m tidak dibuat dan dipakai mereka, sudah berapa banyak bayi tercipta dari tempat ini.


Kenyataan yang pahit bagi jiwa tak bersalah itu karena tercipta dengan cara yang buruk dan bahkan ada yang tak sempat menghirup udara di dunia karena orang tuanya sudah terlebih dahulu menghilangkannya.


Seorang pria naik ke atas panggung dan memberi kode ke DJ untuk mengecilkan volume musik “Selamat Malam, untuk Anda sekalian yang sudah memiliki tiket event bisa masuk ke ruang podium lelang” Ujarnya dan menjentikkan jari sebagai tanda ke DJ untuk kembali mengeraskan volume musik.


Angga berdiri dari kursi bersama dengan Dimas menuju pintu masuk area lelang. “Kau tahu Ang, ada wanita cantik yang jadi peserta lelang, aku sih berharap bisa dapet dia.” Angga menatap kearah Dimas “tapi sepertinya dia tipemu, maksudku tipe untuk urusanmu itu” Angga mengernyitkan dahi.


“kamu tahu apa sih?” ujar Angga menghela nafas. “Even ini beda loh, mereka cuma menampilkan 7 wanita pilihan dengan kualitas terbaik dari club. Karena itu, lelang diawali dengan harga yang mahal, untuk tiket masuk sendiri aja udah bisa diprediksi seperti apa kualitas wanita tersebut.” Jelas Dimas mencari nomor kursi sesuai tiketnya.


“Yah, harga tiket yang cukup bisa kupakai untuk membeli lensa tele baru.” Ujar Angga melihat panggung kecil dengan kursi kecil berjajar diatasnya dan terdapat satu lantai agak tinggi diatas panggung, sepertinya dipakai untuk wanita yang akan ditawarkan. Mereka duduk bersebelahan, Angga nomor 4 dan Dimas 5. “Jika bukan karena ayahku, aku mana mungkin ada di tempat seperti ini.” Lanjut Angga dan Dimas hanya tertawa kecil


“kau tahu? Aku iri denganmu.” Angga heran dengan pendapat Dimas. “Kamu hanya melihat dan tidak merasakan langsung sebagai aku, Dim. Karena yang ada, kamu pasti menyesal.” Jelas Angga “setidaknya aku bisa mendapat keuntungan Ang, pergi ke club gratis. Walau...” Dimas berhenti bicara ketika pria yang sama sebelumnya memasuki area panggung. Mereka mendengarkan beberapa ucapan pembuka dari pria tersebut yang menjelaskan peraturan lelang.


Ruangan tidak begitu ramai karena tiket yang mahal bagi beberapa orang mungkin dengan uang segitu bisa ia pakai di tempat lain untuk memuaskan hasratnya berkali - kali. Dan juga club tersebut adalah club private dan hanya bisa dimasuki orang - orang tertentu yang sudah terdaftar sebagai member khusus club. Hanya ada sekitar 15 orang peserta lelang, termasuk Angga dan Dimas.


“Saya akan menggilir satu persatu para bidadari dan membuka harga lelang dan seperti lelang pada umumnya, yang memasang harga tertinggi dialah yang menang.” Jelas presenter tersebut.


“aku benci menerima fakta ketika dia memperlakukan manusia seperti barang dagangan” Ujar Angga dan Dimas hanya mengangguk pelan “walau faktanya mereka sendirilah yang memilih jalan itu.” lanjut Angga.


Satu persatu wanita peserta even memasuki panggung dan duduk dikursi yang sudah disiapkan. “Nomor 7, dia ada dinomor 7.” Dimas menyenggol pelan lengan Angga dan Angga melihat kearah nomor 7 dimana wanita terakhir yang akan digilir. Angga tertegun melihat wanita tersebut, ada perasaan sedih dan marah yang aneh didada Angga.

__ADS_1


“Dia masih muda banget” ujar Angga “dan tak seharusnya dia ada disana kan?” Dimas mengerutkan dahinya, kemudian mengangguk setuju. “Namanya Keke, sepantaran kita,emmm.. cuma ngasih tahu sih” Dimas menyengir kuda, Angga hanya berdecak mendengar itu “seharusnya dia kuliah” sahutnya kembali menatap kearah wanita bernomor 7 tadi. Tatapan mereka bertemu membuat Angga seketika membuang pandangannya kearah lain.


“Dunia itu kejam untuk beberapa orang Ang, kita yang hidup enak sedari kecil mana paham posisi seperti mereka? Masa kecil kita diisi dengan hal - hal yang sangat mudah kita dapat jika kita inginkan. Mau ini besok sudah ada di atas kasur, tapi bagi mereka yang tertekan ekonominya. Jangankan untuk menuruti hobi, untuk makan dan kebutuhan hidup lainnya mereka harus bekerja keras.” Dimas menjelaskan dengan gamblang seolah sedang mengikuti kelas sosial.


Angga menatap heran “kau tahu, aku lebih suka sisimu yang seperti ini, setidaknya memberi pengaruh positif untukku.” Ledek Angga dan mendapat pukulan kecil dilengannya dari Dimas “kok kamu jahat sih!” Ujarnya mengerucutkan bibir. “iuhh kan kumat” Angga bergidik seolah melihat sesuatu yang menjijikkan.


“Bidadari pertama nomor 1, lelang saya buka dari harga 2 juta.” wanita pertama terlihat dewasa, cantik sesuai dengan yang diucapkan presenter tersebut. Beberapa peserta saling adu menawar dan pemenang jatuh ke peserta lelang nomor 10, seorang pria paruh baya dan pria tersebut menangkap perhatian Angga karena tujuan Angga sendiri berada di tempat ini adalah untuk mengamati even lelang yang ilegal tapi karena ada oknum yang melindungi, jadi acara dan club tersebut masih bisa berjalan dengan baik.


Perdagangan manusia sebagai budak sex adalah hal yang sangat dilarang dan pemerintah sendiri masih berupaya untuk menutup club - club yang berurusan dengan perdagangan manusia, narkoba dan benda terlarang lainnya. Mafia - mafia besar dan oknum pemerintah bukan hal baru bagi telinga Angga. Penjahat sesungguhnya bagi Angga adalah oknum pemerintah yang disuap dan melindungi club ini dari jeratan hukum.


“kenapa?” tanya Dimas melihat Angga hanya menatap dengan serius peserta nomor 10 yang berada tak jauh di belakang mereka.


“Biasa aja ngeliatinya” bisiknya berupaya menghentikan Angga menatap ke arah peserta nomor 10 yang mulai melangkah kearah panggung menggandeng wanita nomor 1 dan meninggalkan lokasi. “Ah, enggak, cuma merasa familiar.” Jelasnya singkat.


“Ang, kalo uangku kurang, aku pinjam dulu ya. Kamu belum memilih mana yang akan kamu tawar? Atau jangan - jangan kamu ngincar nomor 7 juga?” Dimas memberikan tatapan seakan yakin dengan dugaannya. Angga cuma mengangkat bahunya tanpa menjawab.


“Baik sekarang peserta lelang tinggal 9 orang, maka siapakah yang beruntung mendapatkan bidadari terakhir kami. Kita sambut bidadari nomor 7.” Wanita itu berjalan pelan dan menaiki anak lantai yang sedikit lebih tinggi dan duduk dikursi kecil dengan pose indah. “Harga saya buka dengan 3 juta, mari kita mulai.”


“7 juta” Dimas mengangkat tangannya dan tersenyum simpul ke arah Keke yang menatapnya. Seolah memberi tahu jika Dimas akan memenangkannya, menghabiskan waktu dengan Keke sesuai dengan ikatan kontrak nanti. Sepertinya harga semakin tinggi dan Dimas mulai kehabisan kesabaran.


“kamu gak nawar? Aku nyerah, harga udah 30jt aja” Dimas menghela nafas “Sepertinya bukan jodohku” lanjutnya.


“50 juta” Angga mengangkat tangannya dan sontak membuat Dimas tersedak air ludahnya sendiri. Menatap kaget kearah temannya dan suasana lelang yang ikut berguman. “Ada yang lebih tinggi?” Tanya presenter dan peserta lelang masih saling berguman. “Baik pemenang bidadari nomor 7 adalah tuan yang duduk dikursi nomor 4. Kami persilahkan.” Dimas masih menatap Angga dengan tatapan licik “dugaanku benar, aku bayar 2 kali lipat besok, jika kamu perbolehkan aku yang maju kedepan” ujar Dimas tersenyum dan memainkan alisnya.


“see what you see, aku pemenangnya. Aku ada urusan lain dengannya dan dilihat dari usianya, dia yang pas buatku.” Angga berdiri dan bersiap melangkah ke depan,


“heemm rugi banget, uang 50 juta cuma untuk wawancara padahal bisa mendapatkan kenikmatan dunia.” Ujar Dimas yang kemudian mendapatkan tatapan setajam pisau “hehe...” Dimas cuma nyengir dan mebuat kode damai dengan tangannya. Angga sebal bukan karena ucapan Dimas soal membuang 50 juta tanpa meniduri wanita itu tapi karena Dimas hampir membuka tujuan asli Angga di club itu.


“see, dia benar - benar akan membuang cuma-cuma 50 juta itu.” Hal yang cuma bisa dilakukan oleh seorang Angga Hadian Pratama anak dari Gubernur provinsi Jawa Tengah dan kontraktor terkenal di Pulau Jawa, Wiratmadja Pratama. Tapi dunia tidak mengetahui itu, Pak Gubernur memilih menyembunyikan identitas anaknya tersebut, dan itu masih menjadi misteri.


***


Angga menelan ludahnya ketika mendapati dirinya dan wanita yang dia menangkan di tempat lelang berada disatu ruangan yang sama dengannya. “Apa Tuan mau berdiri saja di situ?” tanya Keke melihat Angga yang hanya diam mematung di depan pintu.


“Aaahh.. Eemmm..” Angga hanya mengeluarkan jawaban aneh dan melangkah kearah sofa disebelah ranjang seraya menggaruk tengkuknya. Melihat itu Keke menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Keke terperajat karena ketika dia duduk seketika Angga menggeser badannya keujung sofa, terlihat kikuk dan tegang. Keke hanya tertawa kecil. "Ada apa Tuan? Kenapa Anda nampak takut?" Tanya Keke bingung melihat untuk pertama kalinya ada klien bertingkah seperti Angga. Angga tak menatap kearah Keke, dia duduk begitu tegang diujung sofa.


“Tuan berbeda dengan teman Tuan yang sangat percaya diri bisa memenangkanku” ujarnya menggeser tubuhnya berusaha mendekati Angga yang semakin tegang melipat kakinya keatas sofa seolah melindungi diri dari seseuatu yang berbahaya baginya, yah memang berbahaya bagi pria yang dicap polos oleh Dimas.


“Eemmmhh... Nona” Angga menelan ludah berusaha membasahi tenggorokannya yang kering. “Aku mohon duduk saja di ranjang” Ujarnya pelan dan mendapat balasan tertawa kecil dari Keke.


“Keke, panggil saja aku Keke.” Ujar Keke mengikuti saran Angga untuk duduk menjauh dari Angga dan menuju ke Ranjang.


“Aku Angga. Emmm... Mungkin aku gak perlu basa - basi, aku mau kerja sama denganmu” Ujar Angga mencoba menenangkan pikirannya karena Keke duduk dengan posisi yang sangat mengganggu konsentrasinya.


“Emm, tolong tutupi dengan selimut itu” Ujar Angga menunjuk kearah selimut dan kearah paha Keke, gaun diatas lutut yang tersikap sedikit karena posisi duduk Keke.


“Tuan, Anda membayar saya 50 juta bahkan untuk lebih dari ini” Ujar Keke kebingungan, “Nona, aku ingin bekerja sama denganmu, tapi bukan hal itu.” Keke mengernyitkan dahi mencoba menerka “jangan bilang Anda polisi yang menyamar?” Angga menggelengkan kepalanya “bukan, aku cuma ingin mengobrol denganmu” jawab Angga pelan.


“Tapi kalau kamu tidak mau, kamu bisa meninggalkanku di sini.” lanjutnya dan Keke hanya memandang tak percaya tidak paham dengan maksud sebenarnya dari pria yang sudah membayarnya 50 juta untuk melayani dia selama 24 jam. Jika biasanya dia akan melayani semua yang diinginkan klien, membiarkan tubuhnya diperlakukan sesuka klien walau terkadang menyakitinya seolah dia bukan manusia, hanya boneka sex yang bernyawa.


“Tuan, aku tidak bisa meninggalkan Anda, karena 24 jam kedepan aku milik Anda.” Ujar Keke, Angga membuang nafas serta menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kebiasaan dia ketika sedang gugup “baiklah, jika begitu, kamu mau ngobrol denganku?”

__ADS_1


Keke terdiam sesaat merasa ragu untuk menjawab. Masih aneh baginya ketika seseorang mengeluarkan uang 50 juta hanya untuk mengobrol. Pasti ada hal lain yang menjadi alasan, alasan yang sangat tepat untuk dihargai 50 juta.


“Bicaralah santai Keke, sepertinya kita seumuran.” Angga tersenyum mencoba mengawali dengan etika yang baik dan santai.


"Tuan, apakah 50 juta itu hal yang wajar untuk sekedar mengobrol denganku?" Tanya Keke ingin mengetahui maksud Angga sebenarnya. Angga menggeleng, "jika kamu masih memanggilku Tuan, baiklah, aku akan memanggilmu Nona. Aku merasa ada pembatas yang membuatku sulit mengobrol secara santai denganmu. Kamu mau berteman denganku?" Keke sedikit kaget lalu kemudian tersenyum tipis.


"Tapi, kita memang orang asing yang sama sekali tidak saling mengenal Tuan..."


"Karena itu aku ingin mengenalmu Ke." Ujar Angga memotong kalimat Keke.


"Tuan, Anda sangat aneh sekali, apa maksud Anda sebenarnya?" Keke mengerutkan dahinya, melihat itu Angga terdiam sebentar mencoba mencari awal yang baik untuk mencari informasi, baginya salah kata sedikit saja dia akan benar - benar kehilangan 50 juta dengan cuma - cuma.


"Berapa usiamu Ke?" Tanya Angga mengalihkan topik dan Keke masih sama dengan ekspresinya.


"Aku 24 tahun, mahasiswa semester 6." Mendengar kata mahasiswa Keke menaikkan alisnya. "Sepertinya Anda berasal dari keluarga kaya, seorang mahasiswa bermain dengan tempat seperti ini, tak banyak mahasiswa bisa berada disini Tuan. Kecuali, jika ada kemungkinan Anda berbohong?"


Angga menggaruk pelipisnya yang tak gatal dan menggigit kedua bibirnya mendengar perkataan dari Keke. "Aku 24 tahun." Angga terkejut, benar apa yang dikatakan Dimas, jika kemungkinan umur mereka sama, ada perasaan terluka mengetahui gadis yang seharusnya masih mengenyam pendidikan malah berada di dunia gelap seperti ini.


"Kamu cantik." Angga segera menutup mulutnya, tak sadar dengan perkataannya sendiri.


"Terima kasih, Tuan." Kejora tersenyum tipis


"Emm, maksudku, seandainya tak berada di sini, kamu mungkin memiliki kesempatan bekerja lebih baik."


"Aku bukan wanita berpendidikan Tuan, di luar sana aku tak bisa berbuat apa - apa jika hanya bermodal tampang. Inilah yang bisa aku lakukan. Dan aku tidak suka ucapan Tuan yang seolah mengasihani pilihan yang terpaksa aku ambil." Angga menelan ludah mendengar ucapan Keke dengan tatapan serius tersebut. "Aku tidak bermaksud seperti itu, maaf." Ujar Angga tulus.


"Melihat Anda yang seorang mahasiswa dan bisa berada di tempat ini sudah menjelaskan secara tak langsung jika Tuan tidak pernah sedikitpun merasakan hidup sepertiku. Aku tak pernah memilih hidup seperti ini dan terlahir seperti ini. Aku kehilangan orang tuaku ketika aku masih berusia 7 tahun. Dan hidup bersama pamanku yang seorang preman pasar dan pemabuk. Aku harus menerima fakta menyakitkan karena pamanku sendiri yang menjualku ke Madam- maksudku pengelola tempat ini. Aku terikat kontrak dan tidak bisa pergi dari tempat ini, karena pamanku sudah menerima uang yang banyak setelah menjual keperawananku dan kabur entah kemana. Apa itu yang ingin Tuan ketahui? Aku sudah bercerita, walau aku tidak paham maksud Tuan sebenarnya." Angga tertegun mendengar cerita hidup Keke. Dia benci karena ketika dia hidup enak dengan keluarganya di lain tempat ada gadis yang tersiksa dengan hidupnya.


"Aku sedang mencari tahu oknum pemerintah yang melindungi tempat ini." Keke kaget mendengarnya. "Tunggu dengar dahulu. Jika aku berhasil menemukan oknum tersebut, dapat kupastikan pemilik tempat ini akan mendapatkan sangsi karena prostitusi dan perdagangan manusia. Dan jika itu berhasil, aku juga bisa membebaskanmu dari ini semua. Karena itu aku ingin bekerja sama denganmu."


"Maaf Tuan, aku tidak bisa." Keke beranjak menuju pintu keluar, sebelum berhasil memegang knob pintu, Angga meraih pergelangan tangannya.


"Kamu bilang kamu tidak bisa pergi dari ruangan ini, kamu milikku untuk 24 jam kedepan." Keke berbalik dan melihat pergelangan tangannya. Angga menyadari dan melepas genggamannya.


"Apa yang Anda lakukan bukan perkara gampang Tuan, Madam bukan orang sembarangan. Anda tidak semudah itu menangkap dia dan menutup tempat ini. Dan aku tak tahu apa-apa tentang koneksi dia dengan orang pemerintah atau oknum yang Tuan maksud. Dan jika Madam tahu soal ini, aku tidak hanya kehilangan pekerjaanku, tapi juga nyawaku."


"Aku akan melindungimu." Sahut Angga meyakinkan. Keke hanya tersenyum simpul dan menatap mata Angga. Sorot mata penuh keyakinan dan hampir mempengaruhinya. Mata yang memberi sensasi lain baginya, sebelum itu terjadi Keke mengalihkan pandangannya.


Dia berjalan menuju sofa dan duduk memijat kepalanya. Angga melihat itu dan duduk disebelahnya, aneh bagi Angga karena dia tak lagi merasakan ketegangan seperti sebelumnya.


Dia merasa menemukan orang yang tepat yang bisa diajak ngobrol tanpa harus mengorbankan keperjakaanya.


"Soal aku akan melindungimu, aku serius." Ujarnya lagi memastikan.


"Kau membuatku pusing Tuan." Angga tersenyum ketika "Anda" tak lagi keluar dari mulutnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ujarnya lagi dan membuat Angga bersemangat.


"Aku ingin......"


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2