
Sudah 3 minggu berlalu dan semenjak kejadian itu, Angga sulit sekali bertemu Kejora, dia mencoba menemuinya dirumahnya tapi tak ditemui keberadaannya, dia mencari di club dan bertanya kepada Eric pekerja disana yang juga mengenal Kejora tapi Eric tak memberikan jawaban pasti.
Lalu timbul ide dia menemui pemilik toko antik yang merupakan wanita yang sudah dianggap ibu oleh Kejora. Dia segera melajukan mobilnya ke toko barang antik itu. Dia hanya bisa melihat tulisan tutup dipintu depan toko, dia menipiskan bibirnya dan melihat kesekeliling, menggaruk kepalanya yang tak gatal dia mencoba berpikir.
“Ahhh..!!! Menyebalkan sekali perasaan rindu!” Kesalnya kembali berjalan menuju mobilnya yang terparkir.
“Apa mungkin dia bersama Pak Baskara?” Angga menggenggam erat kemudi mobil dan memukulnya “ahh!!! Sial!!” Ujarnya menjatuhkan kepalanya ditangan yang sedang mencengkeram kemudi tadi.
"Kenapa aku jadi seperti ini sih? membuatku sulit berkonsentrasi." Keluhnya mengusap perlahan dadanya. Mendesah kesal dia menyalakan mesin mobil dan berlalu pergi dari tempat itu.
***
“Selamat datang ditoko kami.” Ujar seseorang menyapa pengunjung toserba tersebut, “Aku gak suka ya!” Ujar perempuan dengan kesal dan terus mencubit lengan teman lelakinya.
“Mila..aw..aw! Sakit...” Keluh seorang pria mencoba menahan jemari wanita yang terus menyerangnya dengan cubitan.
“Aku sebentar lagi pergi, disayang-sayang kek!” manyunnya “itu tanda sayangku Sat, kamu pikir aku mau kita mati muda!” Marah Mila, Satya hanya nyengir seperti kuda dan mengalihkan pandangannya ke deretan makanan didekatnya “awas kalo ngebut dan nyalip mobil seperti itu lagi.” Gerutu Mila menyilangkan kedua tangannya didada.
“Kita ini bukan karakter game yang kalo mati, bisa hidup lagi.” Mila masih mengomel kearah lelaki yang sedang konsen memilih makanan,
“hehe, habis cuma dengan begitu kau bisa memelukku erat.” Goda Satya membuat Mila makin kesal dan memukulnya, "aku ini sedang bicara serius!" Kesalnya.
“Aduh..aduhh..ampuunn..” Satya mencoba menghalangi pukulan tangan Mila sampai Mila berhenti dengan sendirinya, Mila berjalan kearah kasir diikuti Satya dibelakangnya.
Mereka berdua kaget ketika melihat siapa yang berdiri dibalik meja kasir. “Kejora?” Ujar Mila, sipemilik nama hanya tersenyum tipis ketika melihat dua pengunjung yang ternyata Mila dan Satya.
Dia sudah mengetahui sebelumnya bahkan sempat kaget ketika melihat mereka berdua datang, dia ingin sembunyi, tapi hanya dia sendirian yang menjaga toko. Tak mungkin dia kabur, bisa-bisa dia dimarahi oleh bosnya.
“Kau kerja disini?” Kejora hanya tersenyum kearah Mila seraya mengangguk, tangannya meraih belanjaan mereka sembari memproses jumlah pembayaran.
“Wah, Kau tahu? Mas Angga mencarimu kemana-mana” Jelas Satya menyerahkan beberapa lembar uang.
Kejora hanya diam lalu memberikan kembalian. “Jangan katakan padanya ya, jika aku disini.” “kenapa?” tanya mereka berdua serempak, Kejora menggigit bibirnya “aku mau menenangkan pikiranku.”
Mila menatap bingung “kalian ada masalah?” Kejora menggeleng “aku.. aku hanya ingin menenangkan hati dan pikiranku, itu saja.”
Satya mengangguk memahami jika Kejora sedang tak ingin memberikan alasan sebenarnya, dia juga mengingat tangan Angga yang terluka, ada kemungkinan hal itu berkesinambungan.
Walau kenyataannya, Kejora masih kaget ketika mengetahui jika Angga adalah anak dari orang yang sangat terpandang, anak seorang Gubernur Provinsi Jawa Tengah. Dia merasa harus menjauhi Angga bahkan memilih untuk berhenti membantu Angga karna teringat peringatan dari Madam Den beberapa hari yang lalu.
Dia memilih meminta ijin kepada Madam Den untuk menenangkan batinnya, selain karna ingin menjauhi Angga, juga agar perasaan yang dia miliki dan Angga miliki bisa teralihkan, karena itu dia meminta ijin kepada Madam Den untuk memperbaiki kondisi hati dan pikirannya.
Beruntung Madam Den mengabulkan permintaan Kejora, terhitung Kejora jarang sekali meminta liburan seperti ini, juga kasus dengan Pak Baskara minggu lalu menjadi pertimbangan Madam Den untuk mengabulkan permintaan Kejora yang sangat jarang itu, terakhir ijin ingin berlibur ia minta ketika dia berusia 20 tahun dan dengan masalah yang sama yaitu Pak Baskara.
Madam Den begitu marah ketika Pak Baskara masih berulah sama, selalu melakukan kekerasan dan tak bisa mengontrol keegoisannya, sudah 3 kali peringatan yang diberikan Madam Den selama 5 tahun Kejora bersama Pak Bas dan kali ini tak ada lagi kesempatan lain untuknya dari Madam Den.
Madam Den memang wanita kejam tapi, dia tak menyukai ketika anak asuhnya diperlakukan tak baik, konsep Madam Den mengasuh perempuan muda bukan hanya untuk menghibur di ranjang, melainkan dia merawat wanita cantik untuk memanfaatkan kecantikannya agar mempermudah misinya ketika ingin menaklukkan seseorang supaya mau bergabung atau mengikuti perintahnya. Karena itu dia tak ingin ketika anak asuhnya terluka karena hak itu bisa mengurangi standar mutu dan kualitas dari wanita tersebut.
__ADS_1
Dia tak ingin tindakan seorang klien melewati batas bahkan sampai mengganggu kesehatan psikologisnya, walau faktanya Kejora sudah mengalami beban hidup yang menganggu kesehatan psikologisnya bahkan semenjak dia dijual disana oleh pamannya sendiri yang sampai saat ini belum terdengar kabar dimanakah paman Kejora berada.
Selama 2 minggu Kejora menghabiskan waktu bekerja di toserba yang jauh dari kota bahkan sudah memasuki kabupaten lain.
“Ke..” Kejora tersadar dari lamunannya dan menatap Mila yang memanggilnya “Jika kau ingin teman mengobrol, ini nomorku.” Ujar Mila menyerahkan sebuah kartu nama kecil bertuliskan nama dan nomornya, Kejora menerimanya dan berterima kasih.
"Jangan sungkan untuk bercerita, kau temanku mulai saat ini." Kejora merasa tersentuh ketika ada perempuan lain yang mau berteman dengannya, selama dia hidup hanya Eric seorang teman yang ia kenal tulus menerima dia apa adanya. "Terima kasih Mila." Si pemilik nama tersenyum menunjukkan gigi kelincinya yang menjadi ciri khasnya ketika tersenyum.
Dia tersenyum manis ketika Satya dan Mila berpamitan, dia menatap kedua orang itu pergi dan sempat terlihat berdebat entah meributkan apa, Kejora tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua. Benar seperti yang Angga katakan, mereka berdua selalu seperti seoasang anak kecil yang selaku memberikan aura positif. Mengingat Angga, Kejora menghela nafas panjang dan kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
“Kau masih memakai kartu namamu yang sebagai asisten dosen itu?” Mila melirik Satya sedikit kesal, “aku masih marah sama kamu, jadi jangan mengajakku membahas yang aneh-aneh, aku tak mau mendengarnya.”
Satya hanya menghela napas “masih marah nih?” Toelnya tapi diabaikan Mila yang masih memasang wajah cemberut, Satya menusukkan telunjuknya dipipi Mila “udah dong, cantiknya hilang loh.”
“Apasih” Mila menepis tangan Satya dan naik duluan keatas motor, diikuti Satya yang kemudian duduk didepan Mila.
“Peluk dong”
“ogah!”
“nanti aku ngebut lagi lo.”
“aku turun nih.” Ancam Mila memasang wajah kesal.
Satya kembali menghela napas "galak amat." Batin Satya kemudian menyalakan motornya, sebelum melajukan motornya dia menarik tangan kanan Mila untuk berpegangan padanya.
“Aku tak ingin kamu jatuh, aku masih ingin menikahimu nanti.” Ujarnya membuat Mila tersenyum dan tersipu malu. “Aku tebak kamu sedang tersenyum, ya kan?” Mila mendatarkan wajahnya kembali kemudian memukul Satya dengan tangan lainnya yang tak digenggam Satya, "resek kamu nih!" Kesalnya setelah itu merengkuh tangannya sendiri yang digenggam Satya dan memeluk Satya dari belakang. Satya melebarkan senyumnya, dia sangat senang ketika Mila memeluknya. "Gitu dong, berangkaaaat.." Ujar Satya menarik gas motornya.
***
Ruang pertemuan disebuah kediaman yang jauh dari pusat kota. 4 pria dewasa bersama 1 orang wanita sedang berdiskusi, sesekali seorang pria dengan tubuh besar tinggi marah kearah pria yang terlihat lebih muda didepannya.
“Kau pengecut! *****! Kenapa kau merekrut orang ***** sepertinya Bu Sandra?” Marah Pak Baskara seraya berdiri dan menghardik pria didepannya yang hanya diam. “Harap tenang Bas.” Madam Den menaikkan telunjuknya meminta Pak Baskara untuk tenang.
“Kau jangan khawatir disini, aku mengumpulkan kalian semua disini untuk memproses rencana kita selanjutnya.”
“Tapi nyonya, aku takut kepala POLRI mengetahui perbuatanku.” Rujuk pria tersebut dengan wajah ragu dan khawatir.
“sst..” Dia terdiam ketika melihat telunjuk Madam Den kearahnya “Bapak Sekertaris Negara kita akan membantu, bagaimana Pak Kurniawan?” Madam Den memiringkan wajahnya mengamati sosok pria paruh baya yang hanya menatapnya penuh dengan kebencian.
“Asal kau segera memberikan antidote dari efek popiv kepada anakku.” Madan Den mengangguk setuju, “jangan khawatir, popiv tidak akan sampai mematikan.” Sekertaris Negara hanya diam menggeretakkan giginya
“Kau selalu berkata seperti itu, kau tak lihat semakin hari keadaannya semakin parah, bahkan monitor kesehatannya menunjukkan fase seolah dia dalam keadaan koma, jika sampai terjadi sesuatu yang fatal, tak kan kubiarkan kau hidup tenang! Aku sudah mengkhianati negaraku karena ini!” Madam Den tersenyum sinis dan kembali melihat kearah pria yang tadi dimarahi oleh Pak Baskara.
“Kau lihat? Sekertatis Negara ada dipihak kita. Kau hanya bertugas menutup area patroli didaerah pelabuhan, dan memanipulasi data laporan jika seandainya terjadi sesuatu diluar rencana kita. Jangan sampai ada polisi yang menemukan bahan popiv didalam perut ikan itu. Pak Kurniawan akan mempermudah akses kita karena sebagai Sekertaris Negara tentu akan mudah mendapat akses ke berbagai badan kepemerintahan, ya kan?" Pak Kurniawan mendengus dan membuang wajahnya dari tatapan Madam Den.
"Pak Kurniawan sudah membantu dibagian impor, beliau juga akan membantu jika ada laporan yang membocorkan ke pejabat pusat, kau tak oerlu khawatir jika KAPOLRI tau." Jelasnya meyakinkan pria yang nampak khawatir dan ragu tersebut.
__ADS_1
"Kau mau kaya tidak? untuk melunasi hutang judimu itu? kapolda kok suka judi." Imbuh Pak Bas berdecak sinis.
"Rencana selanjutnya sangat mudah, akses import kita akan dibantu oleh Pak Kurniawan, beliau akan membantu mendapatkan sertifikat pelepasan dari balai karantina ikan Jawa Tengah, hal itu akan mempermudah kita untuk memasukkan ikan-ikan itu ke Indonesia, orang-orang Pak Baskara akan menjemput dan mengangkut kontainer dan mengambil apa yang ada didalam perut ikan itu sebelum mengantar ikan-ikan itu ke tujuan selanjutnya." Ke empat pria tersebut mendengarkan dengan seksama rencana Madam Den.
"Semudah itu, tidak akan dicurigai. Bahan baku popiv tersebut juga tak banyak hanya sebesar kotak itu.” Jelas Madam Den menunjuk peti berisi botol anggur merah disudut ruangan.
“Bagaimana Pak Agung? Anda bisa mengatur itu?” Pria itu menghela napas kemudian mengangguk. Pak Bas tertawa sinis, “tak kusangka Kapolda sepertimu bernyali tempe.” Cemoohnya.
“Kau tahu? Jika kau berhasil, kau akan menjadi kaya raya, bebas hutang dan tak akan kau perdulikan lagi bagaimana menghidupi kehidupan dunia ini.” Pak Bas terbahak usai berkata demikian.
"Baiklah, aku akan bantu dibagian kepolisian, percayakan saja semua itu padaku, yang aku takutkan hanya KAPOLRI dan Presiden." Jelas Pak Agung kemudian membuat Madam Den mengangguk dengan senyum tipis dibibirnya.
“Sekarang dengarkan rencana intiku.” Melihat orang-orang yang dia targetkan sudah berada dibawah komandonya, dia tersenyum puas dan menjelaskan misinya. Sekertaris Negara yang bahkan sangat mencintai pekerjaannya dan setia kepada Presiden pun takluk dibawahnya, karena tidak ada pilihan lain bagi Pak Kurniawan agar bisa mendapatkan antidote untuk anaknya.
Mudah juga bagi Madam Den untuk mengajak seorang Kapolda Jawa Tengah, karena pria yang baru dilantik itu sangat gila harta, sedari awal sudah kecanduan barang mewah dan masyarakat menganggapnya wajar karena setahu mereka Pak Agung Gumilang adalah anak konglomerat dengan harta warisan melimpah, padahal nyatanya dia memiliki hutang dimana-mana, dia tergila-gila dengan judi casino yang membuatnya sempat depresi.
Dia tak tahu lagi harus bagaimana untuk menutup hutang itu, tak mungkin dia berani korupsi, karena hal itu sangat susah karena dia baru saja dilantik. Ketika semua hal sudah diambang kebingungannya sampai dia hampir putus asa dan mau bunuh diri saja, datanglah Madam Den membawa jalan keluar dan langsung disetujuinya tanpa pikir panjang.
Yang cukup sulit bagi Madan Den adalah menaklukkan pemilik PT Wijaya Farma bahkan sampai sekarangpun Pak Wisnu Cahyadi masih keras kepala menerima tugas dari Madam Den, karena itu Madam Den membuat pertemuan dan menjelaskan semua agar mereka fokus 100% terhadap misi.
“Akan aku jelaskan secara mendasar, setelah sampel pertama popiv dikeluarkan target pertama kita adalah siswa sekolah, jika sudah berhasil akan kita edarkan popiv lainnya yang berperan sebagai penetral efek popiv sebelumnya, oh ya..kuberi tahu, efek dari popiv untuk sampel ini tidak terlihat parah, berbeda dengan apa yang sebelumnya aku edarkan dan diterima oleh anak Pak Kurniawan. Sampel popiv yang diterima anak sekolah akan menurunkan daya imun mereka." Madam Den berhenti menjelaskan ketika seseorang didepannya berdecak keras.
"Kau gila." Heran Pak Wisnu yang sedari tadi diam. "Kau mengincar anak sekolah? dimana jiwa kemanusiaanmu?" Madam Den menyunggingkan senyumnya, "kemanusiaan hanya untuk mereka yang mau memanusiakan seorang manusia, kau pikir kita disini untuk urusan kemanusiaan?" Pak Wisnu tak menjawab hanya menatap dingin kearah wanita didepannya.
" Sampel pertama dari Popiv ini yang memiliki efek menurunkan imun tubuh seseorang, lalu kondisi ini akan menjadi sebuah epidemi karena kondisi stamina yang memburuk akan membuat tubuh pengguna mudah terserang penyakit. Ketika sudah mulai kacau, datanglah inovasi milik Pak Wisnu dari perusahaannya, mengeluarkan obat yang bisa menyembuhkan dan menangkal penyakit dan itu adalah opiumZ atau popiv yang juga dikonsumsi oleh anak Pak Kurniawan." Jelasnya membuat Pak Wisnu dan Pak Kurniawan geleng-geleng kepala karena tak menyangka mereka tergabung di rencana berbahaya yang memicu kerusakan generasi muda negara mereka.
"Yang terjadi kemudian, pengguna akan terlihat berangsur pulih bahkan yang sehatpun akan terlihat berstamina dan berbeda pada umumnya. Lonjakan energi yang dia dapat dari ramuan buatanku yang aku gabungkan dengan opium, akan memberinya efek itu. Aku sudah merancangnya bahkan akan terlihat seperti hasil ekstraksi buah-buahan."
"Dan selanjutnya, efek candu akan mengubah kondisi tubuh dan respon otak pengguna, mereka akan mengira ini adalah ulah dari epidemi gelombang kedua. Katakan saja pada mereka jika virus berevolusi dan resisten terhadap obat sebelumnya, dan itu... menjadi tugas kedua Anda Pak Wisnu.” Madam Den menunjuk Pak Wisnu.
“Antidote akan diluncurkan sebagai pengatas masalah.” Ujarnya seraya menyangga dagu dengan kedua tangannya yang terkait jemari.
“Semua masalah akan beres, kita mendapat keuntungan dari penjualan dan semua aman karena masalah akan selesai. Kita hanya akan bermain dengan waktu.”
"Kau yakin antidotemu itu mampu mengatasi masalah itu?" Tanya Pak Wisnu meragukan kemampuan antidote milik Madam Den
"Jangan ragukan kehebatanku dalam merancang obat." Sahut Madam Den penuh keyakinan.
"Jumawa." Cibir Pak Kurniawan dan terdengar jelas ditelinga Madam Den, namun dihiraukan olehnya.
Pak Bas bertepuk tangan meriah “Hebat! Hebat! Aku sangat takjub dengan Anda Bu Sandra!” Ujarnya masih bertepuk tangan meriah, Madan Den hanya tersenyum simpul.
“Besok kapal itu tiba, aku ingin kalian bekerja dengan baik. Karena itu akan mempengaruhi pekerjaan kita selanjutnya.” Mereka serempak mengangguk kecuali sekertaris negara yang hanya menghela nafas berat dan Pak Wisnu yang hanya diam menatap tajam kearah Madam Den.
Pak Kurniawan mencengkeram erat bahu kursi, begitu berat hatinya membayangkan negaranya akan menghadapi sebuah epidemi yang mengerikan, melihat anaknya saja sudah melukai hatinya. Tak terbayang jika penduduk negara yang ia cintai ini mengalami hal yang sama seperti anaknya. “Ya Tuhan.. Aku harus bagaimana.” batinnya.
-bersambung-
__ADS_1
Note :
Semua yang ada didalam cerita ini murni karangan penulis, terkait nama narkoba dan jenis narkoba baru semua hanya khayalan dari penulis.