Bintang Kejora

Bintang Kejora
Siapakah Wanita itu?


__ADS_3

Dimas dan Satya duduk berdua di sofa, Satya sedang bersantai seraya memaknkan ponselnya sementara Dimas mrngusap-usap perban yang membalut telapak tangannya.


"Masih sakit?" Tanya Satya melihat Dimas mencoba meregangkan jari-jarinya, Dimas menggeleng.


"Tidak aku hanya sedang berpikir."


"Berpikir apa?" Tanya Satya kembali fokus ke layar handphonenya.


"Apakah tangan ini tak kehilangan kemampuan meremasnya.. kau paham maksudku..?" Ujar Dimas tersenyum genit seraya menggerakkan tangannya seolah sedang meremas sesuatu.


"Ku remukkan jari-jarimu Mas." Umpat Satya menatap jijik dan dibalas gelak tawa oleh Dimas.


“Angga banyak berubah setelah mengenal wanita itu.” Satya melihat kearah Angga dan kemudian kearah Kejora, “jika perubahan itu lebih baik dan membuat Mas Angga memperjuangkan kebebasan dan haknya, kurasa itu bukan hal yang buruk.” Sahut Satya dianggguki oleh Dimas.


“Kadang aku iri dengan keluargamu.” Ujar Dimas tiba-tiba, "kenapa tiba-tiba jadi keluargaku?" Satya mengerutkan dahinya, “kalian begitu harmonis dalam kesederhanaan.”


Satya tersenyum simpul, “tapi ketika aku kecil, aku banyak iri terhadap anak kaya seperti kalian. Dulu ketika aku kecil, ingin sekali aku menjadi kaya agar mudah membeli hal-hal yang aku inginkan. Aku perlu menangis seminggu agar bisa dibelikan bapakku sepeda, tapi setelah aku tahu bapakku perlu kerja sampai kakinya terkilir karena membawa karung kopi dari kebun ke rumah sampai malam hari, aku merasa bersalah, dan aku menangis meminta maaf dipangkuan bapakku.”


Dimas menatap kaleng ditangannya, “Hemh, ditempat lain ada kami yang begitu mudah membeli barang itu, dan sampai saat ini aku tak menyangka jika ibuku seberengsek itu.” Dimas mencengkram kaleng minuman ditangannya mengingat tentang ibunya.


Satya menyenggol bahu Dimas, dia memberikan senyuman ketika Dimas menoleh kearahnya.


“Bahagia itu bukan soal harta, bahagia juga bukan pilihan seseorang, bahagia adalah hak untuk semua orang dan orang itu sendiri yang mampu menentukan. Bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, pesonanya, kekuasaannya, sehatnya atau sesukses apapun hidupnya. Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri.. mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal, melupakan masalalu yang membelenggunya dan terutama memaafkan kesalahan seseorang agar dia dapat melangkah maju."


Dimas termenung mendengar penuturan Satya, kalimat sederhana namun dapat membuka sedikit pikirannya, "kau tahu Mas?"


"Hmm?" Dimas kembali menempelkan bibirnya ke kaleng minumannya, "aku melihat Mas Angga, dia bisa terlihat begitu bahagia walau hanya bersama Kejora, apa kau pernah melihat dia tersenyum semanis itu kepada wanita?”


Dimas menggeleng seraya menyeruput minuman kalengnya, “entahlah aku malah tak pernah melihatnya.” Ujarnya melihat keatas seakan mencari jawaban kemudian mengangkat bahu.


“Tapi kurasa perjuangan cinta mereka akan sulit.” Guman Dimas, “kenapa?”


“Om Wira sangat membenci status Kejora.” Satya kembali melihat kearah Angga dan Kejora yang masih asyik mengobrol, “entahlah, aku hanya bisa mendukung keputusan Mas Angga, kamu Mas?”


Dimas berhenti meneguk minumannya dan melirik kearah Satya, “kau yakin bertanya padaku?” Dimas melepas tautan bibirnya dari kaleng minuman itu, “aku belum bisa sepenuhnya percaya wanita itu. Jangan tanya aku yang sulit mempercayai wanita ini. Bagiku semua wanita sama.” Ujarnya kembali meneguk air minuman didalam kaleng itu.


“Aaaahh... Ini non alkohol tapi enak juga.” Ungkapnya menatap dengan seksama kaleng ditangannya.


Satya hanya tertawa kecil karena yang dipegang Dimas adalah kaleng kelimanya, Dimas memang jarang minum-minum tapi jika dia sedang ingin minum, minuman alkohol kadar 14% pun bisa habis berbotol-botol, dan hal itu sangat dibenci Satya.


Setahun pertamanya tinggal bersama Dimas merupakan cobaan bagi Satya. Karena dia harus bertemu asap rokok dan manusia pemabuk diruang tengah setiap dia pulang dari kampus.


Hal itu membuatnya jarang di rumah dan Dimas sering bertanya soal itu, Satya sempat kaget dan tak menyangka, ketika dia merasa keberatan dengan prilaku Dimas, dia menjabat tangan Satya dan minta maaf.


Dia ingat betul saat itu membuat dia terkekeh sendiri dan mengagetkan Dimas, "kau kenapa tertawa sendiri?" Satya menggeleng "tidak, aku hanya mengingat kejadian lama ketika pertama kali kau bertanya kenapa aku jarang sekali berada dirumah."


"Ohh, yang aku masih suka merokok dan mabuk diruang tengah?" Satya menjawab dengan anggukan, "aku sempat tak percaya loh, semudah itu kau minta maaf dan tidak melakukannya lagi."


"Hei! Aku memang brengsek dan pembuat masalah, tapi aku tidak egois dan setia kawan." Satya manggut-manggut, "ya ya ya.. anggap saja aku percaya."


Dimas melirik tajam, "kembalikan kartuku!" "Haaah! Kan belum sebulan!"


"Kau meledekku!"

__ADS_1


"Iya iya, gak akan lagi, kamu setia kawan dan keren, terbaik pokoknya mah!"


Dimas tersenyum lebar, "gitu dong." Satya menatap heran, begitu mudahnya merayu Dimas.


Tapi itu hanya berlaku untuk orang yang sudah mendapat kepercayaan dari Dimas. Dimas sangat sulit untuk percaya terhadap orang lain, karena itu dia menjadi boss yang dingin, galak dan sulit didekati di tempat kerjanya.


Jika ada hal buruk yang sampai ditelinganya, gosip tak enak atau apapun itu, besoknya orang yang membuat isu  itu akan dipecatnya secara tak hormat.


"Aku juga berterima kasih kepada mereka berdua." Angga melihat kearah kedua temannya yang sedang asyik bercanda.


"Mereka juga ikut andil menolongku."


"Tapi kau jangan ceritakan ke Mila jika anak itu memaksa ikut misi ini. Bisa-bisa Mila ngambek dan kamu pasti diomeli ama Satya." Kejora mengernyit, "jangan pikir sama kamu dia gak bakal ngomel, dia jika kesal siapapun itu pasti diomeli."


Kejora tertawa kecil, Angga hanya memandanginya dengan tatapan penuh cinta.


"Tertawalah terus Kejora, kamu cantik sekali." Angga membelalakkan matanya ketika Kejora tiba-tiba diam tersipu, "apa aku mengatakannya dengan keras?"


Kejora menyampingkan tubuhnya dan menutup wajahnya, "kenapa?"


"Kau membuatku malu." Ujar Kejora tertahan kedua tangannya, membuat Angga tertawa "menggemaskan sekali ya Tuhan!" Batin Angga "iya iya,, tak lagi.. sini berbalik."


Kejora kembali keseperti semula, memanyunkan bibirnya, "maaf.." ungkap Angga tulus tapi Kejora hanya mendengus.. "Huuwh.. aku tak suka kau bermulut manis begitu."


"Aku jujur lo.." Kejora menaikkan telunjuknya membuat Angga merapatkan bibirnya, "stop!" Angga hanya memberikan isyarat seolah mengelem mulutnya dengan plester imajinasi.


***


"Pak, Anda ada tamu." Pak Wira menaikkan sebelah alisnya, "siapa? Aku merasa tak punya janji." Tanyanya kepada sekertarisnya


"Hai.. sahabatku, lebih tepatnya...mantan sahabatku." Ujarnya dengan nada menyindir dan tersenyum sinis, "ada apa?" Tanya Pak Wira tanpa basa-basi.


"Kau tak mempersilahkan tamumu untuk duduk?" Pak Baskara berjalan kearah sofa hitam diruang kerja gubernur tersebut. Pak Bas bersandar menyilangkan kaki dan mengedarkan pandangannya keruangan, "tentram juga tempat kerjamu, pantas kau mulai membuat ulah."


Pak Wira masih berdiri melihat kearah tamu tak diundangnya yang duduk dengan congkaknya. "Apa kau ada hubungan dengan Kuda Sembrani?" Pak Wira terkejut tapi tak ditampakkan olehnya, dia masih menatap Pak Bas dengan wajah datar sementara Pak Bas menatapnya dengan ekspresi menyelidik.


"Apa maksudmu?" Pak Bas mendengus "Jangan sok tak tahu itu. Aku tahu kau yang dibalik penyergapan gudangku semalam, apa kau dapat bukti?" Pak Wira bingung, "penyergapan? Aku tak paham maksudmu Bas."


Pak Bas hanya mencibir, "tak usah ikut campur urusanku Wir! Kali ini kau tak bisa menghentikanku!"


"Jika itu menyangkut daerah dan warga yang aku lindungi, aku hanya melakukan tugasku. Apa kau yang dibalik maraknya anak sekolah yang jatuh sakit itu?" Pak Bas mengangkat tangannya seolah tak tahu, "iya atau tidak apa urusanmu Wira?"


Pak Wira mendekat dan duduk didepan Pak Bas, "karena aku tak akan tinggal diam!" Ujar Pak Wira tegas.


"Ha..ha..haaahahahaa.." Tawa Pak Bas seolah lucu melihat ekspresi Pak Wira, "kau begitu terlihat sangat berani. Sepertinya benar jika kau ada kaitannya dengan klan legendaris itu."


Pak Bas mengambil gelas dan berencana ingin menuang air minumnya tapi teko air itu diambil oleh Pak Wira dan menuangkannya ke gelas yang terbuka didepan Pak Bas.


"Aku tak paham maksudmu soal Kuda Sembrani." Ujarnya seraya menuangkan air ke gelas tersebut. "Aku tak perlu takut selama aku memperjuangkan kebenaran, apalagi kau." Ujar Pak Wira menatap tajam pria didepannya.


"Semalam, ada pasukan terlatih menyergap gudangku dan mengejutkan sekali ada anggota klan Kuda Sembrani disana bersama seorang wanita. Aku curiga, apa mungkin kau ada hubungannya dengan klan itu? Apa yang kalian cari?"


Pak Wira mendengus sinis, "sepertinya yang kau lakukan begitu besar, sampai-sampai Sembrani ikut andil. Apa yang kau kerjakan Bas."

__ADS_1


"Aktingmu bagus juga!"


"Jika aku ada hubungannya dengan Sembrani, sudah aku hancurkan kau sedari dulu, tak akan perduli dengan hukuman karena aku bisa sebebas apapun untuk menghabisi nyawamu lalu membuang bangkaimu ke kandang buaya peliharaanmu sendiri."


Pak Wira tersenyum menyeringai, "tapi apa daya. Aku hanya Wiratmaja, Gubernur dari kalangan orang biasa." Ujarnya santai.


Pak Bas berdiri dari duduknya, "jangan buat aku mengincarmu Wir." Pak Wira hanya diam duduk dan memandang datar pria besar dideoannya, "jika kau main-main denganku, kau tak tahu apa yang akan aku perbuat padamu dan keluargamu." Ancamnya dan beranjak pergi.


"Berhati-hatilah Bas, ketika saatnya kau jatuh dan tak sanggup berlari, saat itu adalah saatnya kau terima kekalahanmu." Pak Bas yang tadinya hampir memegang handel pintu berbalik dan menatap kearah Pak Wira,


"karena aku sudah terlebih dahulu mengincarmu." Lanjut Pak Wira tersenyum menyeringai kearah Pak Bas yang mendengus dan keluar dari ruangan.


Seperginya Pak Bas, Pak Wira mengilas kembali obrolan yang terjadi barusan.


"Penyerangan?" Bingung Pak Wira dan mengambil ponselnya.


"Kau dimana? Dimana Angga dan lainnya?" "Yasudah berikan ponselnya ke Angga." Pak Wira memijat pelipisnya.


"Kau dimana?" Tanyanya ketika tersengar suara Angga ditelpon.


"Apa kau menolongnya?"


"Aku tak memberi pertolongan karena aku memiliki alasan! Aku melindungimu dari hal lain yang mungkin lebih berbahaya!" Jelas Pak Wira ketika Angga terdengar murka disebrang telpon.


"Aku tak bisa menjelaskan alasanku saat ini, yang jelas dimana kau sekarang?" Pak Wira menghela nafas ketika suara Angga terdengar menyerahkan kembali ponselnya ke Pak Krisna.


Dia termangu memikirkan apakah benar Kuda Sembrani dan penyerangan itu berhubungan dengan hilangnya Angga dan ajudannya.


"Kau kemari secepatnya!" Marah Pak Wira ketika ia mendengar suara Pak Krisna ajudannya.


Pak Wira kesal dan membuang telponnya kesembarang arah. "Aku hanya ingin melindungimu tapi kenapa kau begitu bandel demi pelacuur itu." Bingung Pak Wira terduduk dan memijat kepalanya.


"Dian.." Sekertarisnya masuk, "iya Pak?" "Batalkan semua jika ada pertemuan, aku tak enak badan."


"Baik Pak." Patuhnya dan kembali ke ruangannya. 


"Kau membantu misi mereka menyelamatkan wanita itu." Pak Krisna diam seribu bahasa. "Jawab!" Pada akhirnya dia mengangguk, "apa kau meminta bantuan Anita?"


Pak Krisna segera menggeleng mendengar itu, "lalu kenapa ada klan Kuda Sembrani disana juga!" Pak Krisna menatap kaget, "bagaimana dia tahu?" Batinnya.


"Seorang wanita dan klan Kuda Sembrani, menyergap gudang milik Baskara. Apa itu kerjaan kalian? Jawab jujur atau kupatahkan lehermu!"


"I..itu rekannya bukan Bu Anita."


"Mengapa dia mau ikut campur?" "Karena...karena Kejora adalah perempuan yang sudah dianggap anak olehnya."


Pak Wira menatap tak percaya, "apa dia tak sadar itu berbahaya untuknya! Dia masih menjadi incaran musuh bahkan klannya sendiripun mencarinya karena dianggap penghianat, Anita pun tak bisa melindunginya. Apa mau dia tiba-tiba keluar dari persembunyian dan menunjukkan identitas?" Murka Pak Wira mengetahui itu.


Pak Krisna menelan ludah, "apakah dia diketahui musuh keberadaannya?"


"Ya! Lalu kenapa mereka menunjukkan tato klan itu!"


Pak Krisna menghela napas berat, "aku harus bertemu dengannya." Setelah pamit dengan buru-buru Pak Krisna menelpon seseorang dan mengajaknya bertemu dirumah tua dipuncak gunung dimana mereka bersembunyi.

__ADS_1


-bersambung-


__ADS_2