Bintang Kejora

Bintang Kejora
Supraise


__ADS_3

Pagi Harinya.


Bel masuk tanda pelajaran akan di mulai kurang dua puluh menit lagi. Suasana kelas masih saja tampak sepi. Bahkan Keisha juga tumben-tumbenan belum datang. Aku yang hari ini sengaja datang lebih awal ke sekolah memilih untuk berdiam diri di kelas. Melamun sambil menunggu bel masuk berbunyi.


Di sela-sela lamunanku, samar-samar aku mendengar suara berisik dari balik pintu kelas yang tertutup. Aku tidak tahu ada keributan apa di luar sana, namun saat pintu berwarna coklat itu terbuka aku langsung lemas di tempat dudukku.


"Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you."


Suara nyanyian selamat ulang tahun yang dipandu oleh Keisha dan Natalie sekarang menggema memenuhi ruangan kelas. Mereka bertepuk tangan dengan heboh. Bahkan anak laki-laki ada yang mengiringi dengan gitar juga.


Senyum dan air mataku tak bisa disembunyikan lagi. Aku menangis sambil menghampiri Keisha yang memegang kue tart.


"Makasih ya semuanya. Gue nggak nyangka kalian bakalan ngasih gue kejutan kayak gini. Gue seneng banget," ucapku merasa terharu.


"Eh, tiup dulu ini lilinya. Keburu kuenya kebakar ntar," ucap Keisha heboh.


Aku memandangi kue tart yang dibawa Keisha dan mengangguk.


"Make a wish nya jangan lupa tuh. Main tiup aja ntar," serobot Natalie mengingatkan.


Aku tertawa kecil. Hampir saja aku melupakannya jika saja Natalie tidak cepat memberitahuku.


Dengan perlahan aku menutup ke dua mataku rapat. Menautkan jemariku, lalu memohon di depan lilin-ilin yang menyala. Aku tidak ingin berharap apa-apa lagi sekarang. Rasanya sudah lelah jika sekali lagi harus dipatahkan oleh harapan sendiri.


Setelah beberapa detik berlalu aku membuka mata kembali lalu meniup lilin-lilin itu. Suara heboh anak-anak kembali ramai. Mereka bersorak mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.


"Selamat ulang tahun ya Ra. Akhirnya gue dapet traktiran gratis hari ini," ucap Keisha sambil memelukku.


"Makasih banget ya Kei. Lo emang sahabat gue yang paling the best," jawabku membalas pelukannya.


"Iyalah. Gue ini sahabat yang limited edition. Bersyukur lo punya gue," jawab Keisha dengan nada angkuh yang dibuat-buat.


"Iya. Lemotnya kadang juga limited banget."

__ADS_1


Keisha melepas pelukannya langsung. Wajahnya berubah manyun karena ucapanku barusan. Aku hanya terkekeh melihat tingkahnya itu dan beralih kepada Natalie.


"Happy birthday ya Ra. Semoga lo bahagia selalu. Gue seneng banget bisa temenan sama lo," ucap Natalie disusul dengan pelukan singkatnya.


"Gue juga seneng banget bisa temenan sama lo Nat. Lo udah baik banget sama gue. Makasih ya," jawabku terharu.


"Lo juga baik banget lagi Ra."


"Guys! JAM PERTAMA KELAS KITA KOSONG!"


Seruan keras dari salah satu siswa semakin menambah suasana kelas menjadi riuh dalam hitungan detik. Natalie saja sampai geleng-geleng kepala sambil menutup sebelah telinganya.


"Enak banget ya kelas kalian. Anjir!" ujar Natalie.


"Ada rencana mau pindah kelas nggak lo Nat?" Goda Keisha sambil tertawa mengejek.


"Sialan lo! Gue balik ke kelas deh. Bentar lagi bel masuk juga. Sekali lagi selamat ya Ra," ucap Natalie berpamitan.


Aku tersenyum lagi pada Natalie sebelum dia meninggalkan kelas. "Makasih Nat."


Aku yang langsung paham siapa orang yang dimaksud 'pujaan hati' oleh Keisha tadi hanya membuang nafas kasar. Aku duduk di atas meja sambil memandang kosong ke depan. Menerawang sesuatu.


Pasalnya, setelah ciumanku dengan Bintang kemarin malam saat di bukit, aku tidak berinteraksi lagi dengan Bintang hingga sekarang. Aku sengaja mematikan ponselku setelah kejadian di bukit itu. Tentu aku menghindarinya karena ini permintaan Tante Marisa. Aku juga tidak lupa jika hari ini hari terakhirku bersama Bintang. Dan lebih sakitnya harus bertepatan dengan hari ulang tahunku sendiri. Sakitnya menjadi dua kali lipat rasanya.


Padahal jika boleh jujur aku ingin merayakan hari yang special ini dengan orang yang special juga. Namun semua itu hanya angan-anganku saja. Sekarang aku harus mengubur semua keinginanku dalam-dalam.


"Woy! Diajak ngomong malah nglamun!" Teriak Keisha mengagetkanku.


Aku tersentak dan langsung tersadar. Apa mungkin Bintang menghubungiku?


"Lo baik-baik aja kan Ra?" Tanya Keisha yang mulai curiga dengan gelagatku.


"Gue mau ke toilet dulu Kei," pamitku langsung beranjak keluar kelas.

__ADS_1


Keisha pasti sedang mengumpat di dalam kelas karena aku sudah mengacuhkan pertanyaannya. Aku hanya belum siap jika harus bercerita tentang luka yang kualami lagi. Memang kadang ada hal yang harus kita pendam sendiri.


Aku mengambil ponselku dari saku. Meremas benda itu dalam genggamanku sendiri. Bohong jika aku tidak mengharapkan Bintang menghubungiku. Dalam sudut hatiku, aku sedang menunggu kabar darinya. Aku ingin tahu apakah hari ini Bintang ingat hari ulang tahunku.


Jantungku sudah tak karuan. Rasanya semuanya bercampur aduk menjadi satu dalam sekali tarikan nafas. Dengan segala keberanian aku menyalakan ponselku. Menunggu sampai ada notifikasi masuk.


Debaran jantungku bertambah hebat saat mendengar suara notifikasi masuk. Aku membuka ponsel itu dan membacanya. Ternyata itu dari Bintang. Dia bahkan berkali-kali mengirimkanku pesan. Tak sadar aku mengulum senyum tipis saat membuka rentetan pesan darinya.


Makasih buat 'bahagia' ini. Gue nggak akan bisa lupain kenangan indah bersama lo malem ini Ra.


Lo udah berangkat? Kenapa nggak pamit dulu sama gue?


Lo kenapa? Kenapa ponsel lo nggak aktif.


Entah kenapa lo selalu sukses buat gue khawatir. Lo baik-baik aja kan?


Gue tahu hari ini lo ulang tahun. Gue nggak akan ngucapin di sini. Gue mau lo dateng ke bukit jam 7 nanti malem. Selamat ketemu nanti malem Ra.


Pesan terakhir dari Bintang membuat senyumku perlahan memudar. Aku senang Bintang ingat jika hari ini hari ulang tahunku. Tapi merayakannya bersama Bintang rasanya tidak akan mungkin. Aku tidak mau pergi ke bukit itu untuk menemuinya. Karna semakin aku mengulur waktu untuk menjauh, hatiku semakin perih juga dibuatnya.


Setelah membaca semua notifikasi itu aku segera mematikan ponselku kembali. Aku tidak ingin Bintang nanti terus menghubungiku. Lebih baik Bintang membenciku sekaligus agar dia bisa melupakanku. Terkadang aku selalu menyesali pertemuan yang ujung-ujungnya hanya akan berakhir dengan perpisahan.


"Kejora! Lo mikirin apaan sih?" selidik Keisha saat mengetahui aku yang terus saja melamun di kelas.


"Eh, enggak kok kei. Gue nggak mikirin apa-apa,"


"Hari ini lo ulang tahun. Jadi lo harusnya bahagia jangan sedih-sedih gini,"


Aku tersenyum hambar.


"Andai bisa sesimpel itu kei. Gue juga ingin bahagia hari ini," batinku lesu.


***

__ADS_1


Haiii...


Terimakasih sudah mampir disini🄰


__ADS_2