Bintang Kejora

Bintang Kejora
I Love You But I Hate You


__ADS_3

Terlihat sudah banyak tamu-tamu undangan yang berdatangan memadati taman belakang villa. Acara ulang tahun Adira memang segera dimulai sebentar lagi, namun aku belum juga menemukan keberadaan Bintang dimana. Yang terlihat sejak tadi hanya Adira dan Natalie yang sedang menyambut para tamu undangan dan Beval sama Abel yang sibuk menemui teman-teman sekampus mereka. Hanya aku yang tersisa sendirian dan parahnya tidak kenal dengan siapa-siapa.


Aku mencari-cari keberadaan Bintang hingga sampai mengecek segala ruangan yang ada di villa Adira. Namun hasilnya tetap nihil. Kemana sebenarnya Bintang pergi?


"Hei, sendirian aja,"


Seorang cowok tiba-tiba datang menghampiriku. Aku menoleh singkat, sebelum akhirnya clingkungan mencari Bintang kembali.


"Nggak ikut gabung yang lain?"


Cowok asing itu bertanya sekali lagi karena aku masih diam mengabaikan pertanyaan awalnya tadi.


"Masih nyari seseorang." jawabku seperlunya.


"Kayaknya lo bukan anak kampus deh?"


Cowok itu menelitiku dari ujung rambut hingga kaki.


"Bukan. Gue masih SMA tingkat akhir."


"Ohh, pantes aja sih masih imut-imut gitu mukanya. Ngomong-ngomong udah punya pacar belum?"


Pertanyaan cowok itu sukses membuatku semakin risih saja. Aku berencana tidak ingin menjawab dan berusaha secuek mungkin, hingga suara dingin seseorang membuatku tersentak dan reflek menoleh ke belakang.


"Udah. Gue pacarnya."


"Bi-Bintang? Dia cewek lo?" tanya cowok tadi dengan gugup sekaligus kaget.


"Iya. Kenapa? Lo ada masalah?"


"Eng-enggak. Kayaknya perut gue deh yang bermasalah. Gue ke belakang dulu deh."


Cowok itu tiba-tiba melangkah terburu-buru menuju acara kembali. Mungkin karena takut melihat tatapan Bintang yang tajam dan dingin.


Bintang baru saja datang dengan baju tuxedo berwarna hitamnya yang sempat membuatku terpesona. Tingkat ketampanannya tiba-tiba bertambah berkali lipat dari biasanya. Tapi saat aku sedang asyik memperhatikan penampilannya, dengan cepat Bintang menarik tanganku, terpaksa aku mengikuti langkahnya.


"Bintang! Kita mau kemana sih?" protesku setelah Bintang berhenti mendadak hingga aku akhirnya menabrak tubuhnya.


"Kenapa lo sama cowok lain?"


"Dia yang nyamperin gue duluan."


"Terus kenapa lo diem aja digodain kayak tadi?"


"Dia cuma tanya gue udah punya pacar apa belum, dan lo tiba-tiba dateng. Dia nggak godain gue." jawabku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Terus kalo gue tadi nggak dateng lo mau jawab belum, gitu?"


"Lo cemburu?" tanyaku to the point.


"Kalau iya lo mau apa?" balasnya cepat sambil menatapku tajam.


Aku tidak berani membalas tatapan Bintang. Pasalnya baru pertama kali ini Bintang mengakui hal itu langsung kepadaku dan itu membuatku kehabisan kata-kata lagi.


"Bintang, Kejora! Dicariin ternyata berduaan disini. Acaranya udah mulai tuh," tiba-tiba suara Beval menginterupsi. Terlihat dia seperti terburu-buru, mungkin karena mencari keberadaanku dan Bintang.

__ADS_1


"Lupain aja soal yang tadi. Sekarang kita kembali ke acara." ajak Bintang setelah melihat Beval pergi terlebih dulu.


Aku mengangguk kaku, menunggu Bintang yang berjalan dulu untuk menuju acara. Tapi bukannya beranjak Bintang malah menatapku kembali, membuatku mengernyit bingung. Kenapa lagi dengannya?


"Apa?"


Bintang mengulurkan tangannya. "Gandeng tangan gue."


Pipiku seketika memanas. Hanya kalimat sederhana namun jika Bintang yang berbicara entah bagaimana menjadi terasa berbeda. Sukses membuat jantungku meloncat dari tempatnya.


Dengan ragu-ragu akhirnya aku menyambut tangannya. Dan tangan kita saling bertautan menggenggam erat. Tidak ada yang bersuara lagi diantara kita selain derap sepatu yang beradu dengan lantai. Bergandengan tangan dengan Bintang di depan banyak orang seperti ini membuatku sedikit gugup, apalagi banyak teman-teman sekampus Bintang di acara tersebut.


Dulu bersama Bintang hanyalah angan semata. Aku kira Bintang akan tetap menikah dengan Bulan karena perjanjian orang tua mereka yang sudah disepakati bersama dan tidak bisa untuk diganggu gugat lagi.


Ternyata takdir memang tidak sepahit yang kita pikirkan. Kita terlalu takut memikirkan hal-hal negatif yang ada dipikiran kita akan menjadi nyata. Padahal tugas kita bukanlah itu, melainkan menjalani semua dengan hati lapang dan juga usaha. Karena indah memang akan datang di waktu yang tepat. Seperti saat ini.


Acara tiup lilin, potong kue, hingga acara makan-makanpun berjalan dengan lancar. Sekarang semua para tamu undangan sedang menikmati persembahan lagu dari band akustik yang sengaja Adira sewa untuk memeriahkan acara ulang tahunnya. Lagu romantis yang dibawakan menambah suasana menjadi melow, ditambah lagi lampunya yang sengaja dihidupkan dengan remang-remang.


Aku melirik Bintang yang masih setia berdiri di sampingku meskipun dari tadi dia hanya diam.


"Lo nggak nemuin temen-temen lo?" tanyaku berusaha mencari topik pembicaraan.


"Ada yang lebih penting dari mereka saat ini."


Aku merasa pipiku bersemu merah lagi mendegar jawaban Bintang yang di luar dugaan.


"Bener gue sepenting itu buat lo?"


Bintang menoleh ke arahku. Memutar badanku agar menghadap ke arahnya lalu menatapku intens. "Lo dari dulu penting tau Ra buat gue."


"Gue seneng Bint, akhirnya kita bisa deket lagi kayak gini. Entah kenapa gue selalu merasa aman kalo ada lo. Makasih juga lo udah selalu jagain gue selama ini," ucapku membalas tatapan Bintang.


"Lo mau peluk gue nggak?"


"Ha?"


Demi apapun aku kebingungan ingin memalingkan wajahku kemana karena salah tingkah.


Iyain nggak nih?


Bintang malah tersenyum geli. "Gue mau peluk. Lo mau nggak peluk gue?"


Mau banget!


Sebisa mungkin aku menahan debaran hebat jantungku saat ini. Lalu mengangguk dan segera memeluk Bintang. Mencium aroma wangi yang aku sukai seperti biasanya.


"Lo pakek parfum apa sih Bint? Gue suka wanginya," ucapku masih dalam pelukan Bintang.


"Suka wangi parfumnya apa suka karena pelukannya?"


Aku langsung menarik tubuhku dari Bintang. Mulai salah tingkah kembali karena mendapat godaan barusan.


Bintang yang melihatku hanya tersenyum gemas sambil mengacak rambutku pelan. "Lo adalah alasan kenapa gue bisa tersenyum, Ra."


"Gue akan selalu di samping lo supaya lo bisa tersenyum terus. Lagian lo tambah ganteng tauk kalo senyum."

__ADS_1


Bintang mengulum senyumnya. "Gue diapain aja juga ganteng kali, Ra."


"Serius, Bintang. Kalo lo jutek sama dingin tuh rasanya nyeremin tauk."


Bintang malah terkekeh lagi. Hingga kita akhirnya saling diam dan menikmati acara kembali.


"Gue ambil minum buat kita dulu ya," pamit Bintang saat aku sedang fokus melihat penampilan band akustik yang sedang menyanyikan lagu melow sebagai penutupan acara.


Aku hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Mengabaikan Bintang yang sudah menghilang untuk mengambil minuman yang letaknya di belakang.


Acara ulang tahun Adira bisa dibilang cukup sukses malam ini. Terlihat semua para tamu menikmati dari awal hingga penghujung acara. Beberapa tamu juga sudah ada yang berpamitan untuk pulang karena acara memang hampir selesai.


Tapi yang aku pertanyakan saat ini adalah Bintang yang tidak kunjung kembali. Padahal tadi pamitnya cuma ingin mengambil minuman. Tapi sudah ada sepuluh menitan aku menunggu Bintang belum kembali juga. Hingga dering ponsel pertanda ada pesan masuk membuatku mengurungkan niat untuk menyusulnya.


+628133567****


Bisa ke halaman depan bentar nggak? Ada sesuatu yang mau aku tunjukin sama kamu.


Setelah membaca pesan dari nomor baru itu aku mengernyit bingung. Kira-kira itu nomor siapa? Dan untuk apa ngajakin ketemuan di halaman depan segala?


Daripada dibuat semakin penasaran, aku memilih untuk membalas pesan itu.


Kejora Permata


Maaf, ini siapa?


+628133567****


Aku Bintang. Hp aku lagi drop, jadi ini minjem hp temen aku. Kamu bisa ke sini bentar nggak?


Aku menimang ponselku, heran. Apa benar ini Bintang? Tapi melihat dia yang sedari tadi tidak kunjung datang juga aku menjadi berpikir jika mungkin Bintang memang sedang bersama temannya sekarang. Tapi masalahnya ngapain Bintang di halaman depan segala?


Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan taman dan segera menyusul Bintang. Sebenarnya aku penasaran Bintang ingin menunjukan hal apa kepadaku.


Sesampainya di halaman villa Adira aku tidak menemukan siapapun disana. Halaman villa itu justru terlihat sepi.


Tidak menyerah sampai disitu, aku masih berjalan untuk mencari keberadaan Bintang. Hingga mataku menemukan sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari halaman villa.


Sebenarnya bukan mobil itu yang membuatku penasaran dan ingin melangkah mendekat seperti sekarang. Aku penasaran dengan dua orang yang berada di dalamnya. Aku meyakini jika seseorang yang berada di sana adalah orang yang sangat aku kenali meski posisinya membelakangiku.


Tapi aku segera membuang pikiran negatif itu jauh-jauh. Mana mungkin laki-laki itu Bintang? Mungkin hanya mirip saja kalau dilihat dari belakang seperti ini. Tidak mau ambil asumsi yang salah aku nekat untuk melangkah maju.


Kaca mobil yang sepertinya sengaja dibuka itu membuatku lebih mudah untuk melihat dengan jelas. Ada seorang laki-laki dan seorang perempuan di dalam mobil. Jarak mereka sangat tipis sekali. Aku semakin penasaran dibuatnya. Karena itu aku memberanikan diri untuk lebih mendekati mobil itu lagi meski kelihatannya aku sudah begitu lancang.


Langkahku berhenti. Dari posisi ini aku bisa melihat sepasang laki-laki dan perempuan itu dengan jelas. Aku menutup mulutku dengan sebelah tangan. Melihat adegan yang untuk ke dua kalinya membuat hatiku sakit. Di dalam mobil itu, seseorang yang sangat aku kenali sedang berciuman dengan seorang perempuan. Perempuan yang tidak aku kenal sebelumnya.


"Bin-Bintang,"


Suaraku lirih dan bergetar, namun laki-laki itu sepertinya sudah mendengarnya. Ia berbalik. Matanya terbelalak kaget.


Tangisku semakin pecah, bahkan sekarang disertai isakan kecil. Aku tidak ingin membuat diriku semakin konyol lagi di depan mereka. Aku memutuskan untuk berlari lagi menuju villa. Memasuki kamar cewek yang berada di lantai dua lalu menguncinya rapat-rapat.


Aku masih belum percaya jika yang tadi aku lihat itu adalah Bintang. Kenapa dia tega sekali melakukan ini? Kenapa lagi-lagi dia membuatku merasakan sakit hati? Padahal baru kemarin Bintang menyatakan perasaannya kepadaku di kamar ini.


"Jadi itu yang mau lo tunjukin sama gue? Maksud lo apa sih? Lo brengsek, Bintang!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2