Bintang Kejora

Bintang Kejora
Siapa Dara?


__ADS_3

"Iya tante. Pokoknya tante tenang aja dan nggak usah khawatir soal apapun. Aku bisa ngurus ini semua dengan baik kok. Paling juga tinggal hitungan hari kita bisa lihat kehancuran keluarga Bintang,"


Kalimat itu kembali terngiang begitu jelas di telingaku. Setidaknya itulah kesimpulan dari obrolan Dara dengan seseorang di telfon yang barusan aku dengar.


Sekarang Dara sudah berlalu entah kemana meninggalkan tempat tadi. Dengan ini maka semakin jelas saja jika Dara memang orang jahat. Dia bukan hanya membenciku. Dia bahkan merencanakan untuk membuat keluarga Bintang hancur. Dan Tante Marissa aku rasa harus mengetahui ini semua. Meski kemungkinan nanti dia tidak akan mempercayaiku.


Tentu saja saat ini pikiranku semakin dibuat kacau dan bingung. Aku harus berbuat apa? Apakah dengan menceritakan semua yang aku dengar kepada Tante Marissa lalu dia akan langsung percaya begitu saja? Belum lagi soal Bintang saat mendengar cerita yang dibeberkan oleh Dara tadi. Bintang bisa saja semakin membenciku sekarang.


Saat ini aku masih berdiri di lorong toilet dengan berbagai pikiran. Beberapa detik kemudian aku tersadar telah melewatkan sesuatu. Aku sudah meninggalkan Bintang dan yang lainnya di dalam. Pasti mereka masih menungguku.


Dengan langkah tergesa akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari toilet itu. Namun aku dikejutkan oleh seseorang yang sedang berdiri mematung dan menghalangi jalanku sekarang. Aku terpaksa menghentikan langkahku. Menatap orang itu dengan dalam.


"Bintang," ujarku lirih.


Bintang berjalan melewatiku dengan acuh. Dia mengabaikanku yang masih berdiri sambil menatapnya. Hal itulah yang sekilas muncul dipikiranku saat ini.


Namun langkah Bintang yang mendekat ke arahku mengubah ekspetasikiku yang buruk barusan. Nyatanya Bintang justru berdiri di depanku sekarang. Matanya tak terlepas dariku.


"Lo-, lo kok disini?" tanyaku dengan nada bergetar.


Tapi Bintang hanya diam saja. Membiarkanku untuk terus berbicara tanpa ingin menjawabku.


"Gue mau..," belum sampai kalimat yang ingin aku ucapkan keluar dengan sempurna Bintang sudah membalikkan tubuhku dengan gerakan cepat. Sepertinya Bintang tengah membuka tasku dan mencari sesuatu di dalam sana entah itu apa.


Dan benar. Setelah sekitar satu menit Bintang membalikkan tubuhku kembali agar menghadapnya. Bintang masih saja diam. Namun tangannya kini terangkat untuk membersihkan noda bekas kue yang tadi lupa aku bersihkan dengan selembar tissue basah yang ternyata diambilnya dari dalam tasku tadi.

__ADS_1


Dengan telaten Bintang mengelap wajahku dengan penuh hati-hati. Setelah itu dia mengeluarkan tissue selembar lagi untuk berganti membersihkan rambutku. Semua itu tak terlepas dari pandanganku. Ditambah lagi sebuah jaket berwarna army milik Bintang yang kini ia pakaikan untuk menutupi seragamku yang kotor. Perlakuan Bintang yang sederhana inilah yang selalu membuatku jatuh cinta padanya.


"Ma-makasih," ucapku setelah Bintang selesai memakaikan jaketnya untukku.


"Kenapa lo diem aja?" tanya Bintang yang akhirnya mau berbicara.


"Soal omongan Dara tadi?"


"Iya."


"Apa yang diucapkan Dara adalah kebenaran Bint. Maaf kalo semuanya jadi kayak gini. Lo pantes buat benci sama gue,"


"Termasuk lo yang mainin perasaan gue? Apa itu juga bener?" tanya Bintang dengan cepat. Nadanya begitu tegas. Tatapan matanya semakin tajam.


"Dulu lo deketin kakak gue. Setelah lo dapetin dia lo sakitin dia gitu aja. Dan setelah itu lo deketin gue. Sekarang gue bener-bener udah jatuh cinta sama lo. Gue udah berani ungkapin apa yang gue rasain. Terus lo juga mau nyakitin gue? Lo ngasih perhatian ke semua orang, lo ngasih harapan ke semua orang biar lo bisa mainin sesuka lo gitu?"


"Lo sadar nggak sih Bint kalimat lo barusan itu bikin hati gue sakit? Gue nggak pernah ada niatan buat mainin lo sama Langit," ujarku menekankan.


"Terus kenapa lo nolak gue Ra? Kenapa saat gue baru aja ngrasain jatuh cinta lo tega ninggalin gue tanpa alasan?"


"KARNA LO NGGAK NGERTI APA YANG SEBENERNYA TERJADI!"


Teriakanku benar-benar memenuhi lorong toilet. Hal itu juga yang membuat Bintang sekarang menjadi tercengang.


"Gimana gue bisa ngerti kalo lo nggak jelasin apapun ke gue? Lo selalu ngehindarin gue tanpa ngomong masalahnya apa," ucap Bintang dengan frustasi.

__ADS_1


Bahuku merosot lemah. Mataku tidak sanggup lagi melihat wajah Bintang sekarang ini. Aku takut jika Bintang terus mendesakku untuk berkata jujur.


"Cerita sama gue Ra. Ada apa sama lo?" tanya Bintang sekali lagi sambil menarik daguku agar menatap matanya langsung.


"Andai bisa sesederhana itu Bint. Gue cuma nggak mau bilang jujur kalau semua ini adalah permintaan mama lo. Gue nggak mau ngrusak hubungan lo sama mama lo. Biar lo benci gue Bint. Biar selamanya aja begitu,"


"Gue harap lo mau nungguin gue Bint. Gue janji akan nyelesein ini semua. Biar gue nyeyakinin mama lo dulu kalo gue bener-bener sayang sama lo. Gue nggak mau lo pergi."


"Jawab gue Ra!" bentak Bintang yang menyadarkan keterdiamanku.


"Lo tahu kan pointnya dimana? Jauhin gue! Jangan ganggu gue atau maksa gue buat jawab semua pertanyaan lo!"


Bintang memang tidak pernah bisa mengontrol emosinya sendiri. Jadi setiap kali dia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya emosinya akan meluap. Seperti sekarang ini contohnya. Wajahnya sudah memancarkan aura kebencian dan kemarahannya padaku.


"Oke Ra! Oke! Gue akan menuruti semua kata-kata lo. Ini terakhir kalinya kita bicara. Itu kan yang lo mau?" ucap Bintang dengan sarkas.


"Jaga diri lo Ra," pungkas Bintang mengakhiri obrolannya. Kalimat yang sepertinya mempunyai seribu makna untuk Bintang.


Kali ini kepergian Bintang tak ku tangisi lagi. Aku sudah bertekad akan memperjuangkan cintanya. Rasanya aku sudah cukup jauh melangkah dan sia-sia saja jika harus berhenti sampai di sini.


Kadang aku juga berpikir apa aku harus berani menceritakan ini semua pada Bintang? Tentang hubungan mama, papa, om Dana dan tante Marisa di masa lalu. Tapi bagaimana jika tante Marisa semakin membenciku jika aku menceritakan hal ini pada Bintang? Entahlah. Rasanya kepalaku semakin pusing saat ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


Mungkin yang terpenting adalah membongkar rahasia Dara pada tante Marisa terlebih dulu. Ya, bagaimanapun Dara harus segera di hentikan sebelum dia benar-benar akan menghancurkan keluarga Bintang.


"Bintang... Semoga lo bisa paham dengan situasi ini. Gue sangat sayang sama lo. Dari dulu rasa ini belum tersampaikan dan mulai sekarang gue akan berjuang. Gue nggak akan nyerah lagi dengan takdir. Gue mau jadi Kejora yang lebih kuat lagi," batinku memberi semangat pada diriku sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2