
Dimas merebahkan badannya dikursi taman kampusnya seraya menatap ponselnya, dia membaca beberapa artikel seputar bisnis dan fashion yang sedang kekinian untuk saat ini.
"Wah, brand ini emang sedang bagus, aku bisa menerima proposal mereka jika mereka berencana bekerja sama." Gumannya menggulirkan layar ponselnya. Lalu dia merasa ada bayangan didekatnya, dia mendongak dan melihat seseorang terlihat segar sekali.
“Heemmm...beda banget yang ketika udah ketemu obat rindu.” Ejek Dimas melihat Angga yang terlihat begitu segar dan ceria,
“Satya mana?” Tanyanya ketika hanya melihat Dimas sendirian dibangku taman fakultas Angga.
“Wahh..wahh..aku jauh-jauh dari fakultas bisnis kemari untuk menemuimu dan yang kau pertanyakan Satya?”
Angga hanya memberikan tatapan aneh kearahnya, "kau aneh sekali, untuk apa bertanya kamu dimana jika kamu aja udah didepan mata." Dimas menaikkan bola matanya dan berdecak, “entah anak ini kemana? Dia pergi pagi-pagi sekali dan belum membalas chat ku.” Dimas mengoperasikan ponselnya mengecek apakah Satya sudah membaca pesannya atau belum.
“Dia gak pingsan kan?” tanya Dimas tiba-tiba lalu menatap Angga, “dia kan begitu bekerja keras menyelesaikan gamenya, terhitung sebulan lagi dia akan berangkat, deadline begitu ketat aku khawatir otaknya teralu lelah.” Lanjut Dimas mulai bernada khawatir, Angga hanya berdiri bersedekap dan berpikir.
“Emm.. coba tanya Mila, kau punya nomornya kan?” Dimas hanya menggeleng “mana aku berani punya nomor perempuannya Satya, walau aku bercanda menggoda Mila, Satya bisa melihatku seolah aku pria mesum yang siap merebut Mila kapan saja.” Angga tertawa ngakak mendengarnya “ya habis emang terlihat begitu.” Ujarnya masih tertawa.
“Aku bercanda sob, gila aja.. Lagian aku mana bisa punya calon mertua pemilik pondok pesantren, bisa-bisa aku diruqiah tiap hari.” Angga kembali terbahak mendengar perkataan Dimas, “udah deh cuma Satya yang cocok.” Lanjut Dimas angkat tangan seolah menyerah.
“Yaudah kita tunggu aja, kalo tak juga datang kita pergi duluan biar dia menyusul.” Dimas mengangguk menyetujui.
1 Jam kemudian.
“Anak kampreet! Kemana sih dia?” Kesal Dimas karena telponnya tak juga diangkat oleh Satya, lalu beberapa saat Satya menelponnya dan Dimas dengan cekatan meraih ponsel yang tadi dilempar kasar ke meja didekat mereka.
“Heh kampreet udik!” Hardiknya dengan suara lantang membuat Angga yang menyandarkan kepalanya di meja kaget karena Dimas menggebraknya.
“Hah?! Kamu sudah disana? Wah bener-bener, awas ya sampai sana aku tendang pantatmu!” Dimas menutup telponnya, “dia udah dirumah ayahmu, Pak Krisna menjemputnya dikampusnya, dia tak bisa membalas pesan dan mengangkat telpon karena ponselnya ketinggalan dimobil Pak Krisna dan baru sadar tadi. *** kan! Sia-sia aku khawatir.”
***
Satya sedang fokus dengan beberapa orang yang bekerja dibawah komando Pak Wira, ajudan Pak Wira yang bernama Krisna sudah menemukan beberapa bukti penyebaran popiv yang menargetkan anak sekolah. Hal itu yang membuat Pak Wira mempercepat pergerakannnya supaya rencana mereka tidak semakin melebar.
Komplotan Madam Den menyamar menjadi petugas vaksin dan pemberian vitamin dari sekolah ke sekolah, Kapsul vitamin A yang diberikan sudah ditukar dengan sampel popiv sesuai rencana mereka.
“Kenapa bisa tim medis tidak bisa menemukan kandungan opium didalam darah mereka?!” Heran Pak Wira terlihat pusing dan marah.
“Menurut informasi yang saya dapatkan, bahan baku milik Madam Den adalah zat yang mampu menyembunyikan kandungan itu, sehingga kandungan morfin berkamuflase dengan mineral dalam darah, entah apa itu yang jelas wanita ini sangat hebat di bidang farmasi.” Jelas Pak Krisna.
“Kau tahu dari dia?” Pak Krisna mengangguk, "mereka juga sedang meneliti soal ini, karena kasus yang sama terjadi di Filipina beberapa tahun yang lalu."
“Om, aku mendapatkan beberapa informasi ketika mobil dinas kesehatan itu masuk ke beberapa sekolah. Ini..” Jelas Satya memberi ruang kepada Pak Wira untuk melihat layar komputernya, Pak Wira mengamati tanggal dan jam kejadian tersebut, dimana itu 3 minggu yang lalu, “bisa kau temukan darimana mereka berasal?” Satya mengetik dan mengubah ke tab layar selanjutnya “dari sebuah gudang pabrik yang sudah lama tak terpakai.” ujar Satya membaca informasi koordinat dari monitornya.
“Aku yakin ini Baskara..” Pak Wira mengguman tentang siapa dalang dibalik ini semua. “Krisna, suruh beberapa orang-orangmu untuk mengintai gudang itu dan menggali informasi dengan hati-hati.”
Pak Krisna mematuhi perintah dan mengambil telponnya “caritahu apakah ada keterkaitan dengan Wijaya Farma.” Perintahnya lagi dan dibalas anggukan oleh Pak Krisna.
"Woah..." Angga dan Dimas masuk keruangan dan bengong ketika ruangan dipenuhi beberapa layar dan komputer dan beberapa orang yang tak dikenal mereka.
Ruang itu sudah diatur seperti ruang investigasi detektif seperti di film-film aksi. “Ayahmu ini kontraktor, gubernur atau defektif swasta?” Guman Dimas masih terpukau mengamati sekitarnya.
“Aku saja yang anaknya tidak mengenal siapa sebenarnya beliau.” sahut Angga.
“Kalian lama sekali!” Marah Pak Wira, Dimas hanya menunjuk kearah Satya, “harusnya Om kasih kabar jika sudah menculik anak itu duluan, jadi kami tak perlu menunggu. Jogja - Semarang, jauh Om.” ujar Dimas beralasan.
“Angga, cari tahu lewat pelacuur itu tentang aktifitas mencurigakan dari Madam Den, mereka sudah cukup jauh melancarkan aksinya, aku tidak tahu pastinya, yang jelas jika ini dibiarkan akan terjadi kerusakan generasi muda.” Jelas Pak Wira dengan tegas,
“Jangan sebut dia pelacuur Ayah, dia temanku.” Pak Wira terhenyak mendengar penuturan Wira, dia menatap heran, lalu mengabaikan apa yang baru saja dia pikirkan dan memilih mengikuti perkataan Angga.
__ADS_1
“Dimas, aku ingin kau kunjungi beberapa club yang menjadi kemungkinan awal menjadi target penyebaran selanjutnya, target mereka adalah usia muda, jika sekolah dan kampus sudah dimasuki, maka club malam tempat anak orang kaya yang bermasalah bisa jadi ikan gemuk bagi mereka.” Dimas tersenyum lebar ketika mendengar misinya adalah hal yang sangat dia sukai, pergi ke club dan dibayar oleh Pak Wira.
“Oke Om, siap laksanakan!” Dimas tak bisa menahan ekspresinya, dia menggoyangkan kedua tangannya kearah Angga menunjukkan wajah antusiasnya, Angga menepis tangan Dimas dengan kasar. "Diem!" Gretaknya.
“Kita akan membahas rencana kita lebih lanjut. Sementara Satya akan menjadi tim peretas dan penelisik lewat jaringan online.” Satya mengangguk, sejauh ini Pak Wira memang sudah mengetahui bakat Satya dari penjelasan Angga, karena itu secara tak cuma-cuma Pak Wira setuju ketika Angga ingin membantu membiayai program Satya ke Jepang.
“Tapi Yah, jangan buat dia terlalu lelah, nanti dia bisa pingsan, dia juga sedang fokus ke programnya yang tinggal menghitung jari.”
“Aku tahu itu, karena itu dia bersama anggota lainnya yang juga ahli dibidang itu, kau tak apa kan?” sahut Pak Wira menoleh kearah Satya.
“Abaikan itu Om, mereka terlalu berlebihan, aku gak selemah itu ya!” Angga hanya tertawa sementara Dimas cuma mencibir ucapannya. "tik silimih iti.. ciihhh.." Ucap Dimas memajukan mulutnya
***
“Kau lihat? Rencana kita berjalan mulus, tinggal kita tunggu saat yang tepat untuk memberikan penolong bagi mereka.” Mereka bertos ria merayakan rencana mereka yang berhasil.
“Anda sangat brilian Bu Sandra.” Madam Den mengangkat gelasnya kearah orang yang memujinya, “ini takkan berjalan baik, jika Anda tidak berpartisipasi Kapolda Agung.” Puji Madam Den, tak disadari oleh Madam Den ada seseorang yang begitu tak senang dan hanya mengikuti alur rencana mereka.
“Apa Anda benar-benar yakin rencana ini berjalan dengan baik?” Madam Den menatap bingung kearahnya, “mengapa Anda terlihat selalu ragu Pak Wisnu, jika Anda selalu ragu itu akan mempengaruhi caramu menjalankan misi?”
“Bagaimana jika ada yang menganggu ditengah rencana? Sebab sudah pasti akan ada kutu-kutu yang membuat rencana itu tak berjalan mulus.” Tegas Pak Wisnu mencoba menggali lebih dalam rencana milik Madam Den, dia masih berusaha sebaik mungkin mengikuti rencana Madam Den, karena bagaimanapun Pak Wisnu memang sangat sulit untuk melawan keteguhan dirinya yang begitu menjungjung tinggi martabat baiknya. Tapi, jika hal ini membahayakan generasi muda negaranya, maka dia rela meruntuhkan martabat baiknya untuk itu.
"Tenang saja, sudah pasti aku punya rencana cadangan.” Jelas Madam Den, senyum kecut keliar dari wajah Pak Wisnu, “Apa? menjadikan perusahaanku sebagai tumbal?”
“Apa maksud Anda!” Marah Pak Baskara mengamati jika Pak Wisnu mulai membawa praduga yang tak pantas untuk dibahas.
“Memangnya aku tak tahu? Sebelum ini Anda pernah terkena kasus di negara asal Anda, dan aku kaget ketika mengetahui Anda masih bisa duduk aman dan nyaman disini karena ada tumbal yang menggantikanmu dan terjerat hukuman itu.” Dengus Pak Wisnu, Madam Den masih santai menikmati minumannya, dia menaruh dengan santai gelas anggurnya dan duduk bersilang kaki menatap Pak Wisnu,
“Aku ragu burung mana yang memberikan kabar itu Pak? Anda tahu? Banyak tentara yang mati hanya karena menerima pesan yang salah dari burung pengirim kabar, apalgi pesan itu tak jelas asalnya. Dan sangat berbahaya jika Anda hanya mendengar tanpa mempelajari, bijaklah menerima informasi.”
“Aku tak ingin ketika rencana itu tak berjalan mulus, kau gunakan aku sebagai tumbalmu, karena perusahaankulah yang akan mengeluarkan obat itu.” Pak Wisnu masih berupaya mencari kelemahan rencana Madam Den, sehingga dia jadi tahu kemungkinan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya.
“Iya! Apa kau lupa kemarin kita sudah membahas jika Antidote akan mengembalikan keadaan seperti semula, kita hanya mengeruk uang mereka lalu bersantai.” Jelas Pak Baskara menimpali dan disetujui Madam Den dengan jentikan jari.
“Percayakan saja dengan Bu Sandra Pak, ini pasti akan berjalan dengan sempurna jika kita bekerja sama.” Imbug Pak Agung Kapolda Jawa Tengah.
“Cih!” Dengus Pak Wisnu menjatuhkan tubuhnya yang sedari tadi berdiri.
“Oh ya Bu Sandra, apa tidak sebaiknya kita perlu memberikan antidote untuk anak Pak Kurniawan?” Madam Den menggeleng tak setuju dengan usul Pak Agung.
“Anaknya tak akan mati secepat itu, Antidote kita berikan ketika rencana ke tiga berhasil.”
“Jadi antidote akan diberikan bersamaan dengan yang lainnya? Apa tidak kelamaan?” kaget Pak Agung, “dia pasti akan berkhianat jika kuberikan sekarang, jiwa nasionalismenya sangat tinggi.” Sela Madam Den tetap tidak menyetujui usul Pak Agung.
Mereka setuju dengan pendapat Madam Den. “Kita juga perlu waspada dengan teman Keke itu.” Madam Den berhenti meminum anggurnya mendengar nama Kejora keluar dari mulut Baskara.
“Bagaimanapun dia adalah anak Wiratmaja, dia selalu menggagalkan rencanaku jika berhubungan dengan bisnis illegal.” Jelas Pak Baskara, “dan juga dia.” Tunjuk Pak Baskara ke Pak Wisnu “dia adalah teman dekatnya, anaknya dahulu adalah sepasang kekasih.”
"Apa hubunganya dengan itu?" Ucap Pak Wisnu mengerutkan dahi.
Madam Den menjentikkan jarinya seolah barusaja mendapat ide bagus.
“Menarik!” Ujar Madam Den tersenyum senang.
“Apa rencanamu?” Telisik Pak Baskara melihat Madam Den tersenyum licik, “Angga dan Keke” lanjutnya, "Keke memiliki bakat bagus dalam mengelabui targetku dengan kecantikannya, akan kumanfaatkan itu untuk menggali informasi Wira lewat Angga."
“Mengapa tidak anak dia saja, jangan Keke!” Seru Pak Baskara tak terima ketika gadis favoritnya bersama orang lain, dan melihat Pak Bas menyela rencananya, membuat Madam Den kesal.
__ADS_1
“Apa masalahmu Baskara! Aku lihat anak muda itu memiliki perasaan kepada Keke, aku lihat dia selalu mencari Keke ketika dia tak ada.” Pak Bas menggeram “Aihh.. Bu Sandra, gunakan saja anak asuhmu yang lain, gadis pengganti yang kemarin tak apa. Kau kembalikan saja Keke kepadaku, aku lebih suka dia daripada gadis yang kemarin.”
"Kau sudah menikmati perawannya dan kau bilang tak suka?" Dengus Madam Den tersenyum sinis.
"Cihh.. sudahi pembahasan itu Bas! Kenapa otakmu isinya hal itu saja.” Heran Pak Agung karena obrolan mengarah ke topik lain.
“Diam kau! Ini bukan urusanmu!” Hardik Pak Baskara membuat Pak Agung terdiam seketika.
“Sepertinya, kau suka sekali menguji kesabaranku ya?” Madam Den mengangkat tangan kanannya dan orang dibelakangnya datang menghampiri, beberapa saat orang itu kembali membawa kotak kecil berbalut bahan kain suede berwarna ungu terong, dia membuka dan mengambil pisau kecil.
Pak Bas diam terpaku melihat itu, dia menelan ludah ketika Madam Den menatapnya tajam. Dia sudah lama bekerja sama dengan Madam Den dalam bisnis apapun, bahkan terhitung Madam Den banyak membantu Pak Bas menyelesaikan hutangnya yang menumpuk akibat kalah proyek.
Jika dia tidak menerima tawaran Madam Den saat itu mungkin saat ini dia mendekam dipenjara dalam keadaan bangkrut. Walau saat itu dia bersikeras bekerja sama dengan Madam Den karena dia tak suka berada dibawah komando seseroang apalagi seorang wanita, nyatanya hanya karena kekuatan gadis perawan cantik, dia berhasil dibawah komando Madam Den.
Beberapa saat kedua orang bertubuh tegap berdiri dibelakang Pak Bas dan mendekap tubuhnya. Orang pertama menarik tangan kanannya kebelakang dan menekan kepala Pak Bas ke meja membuat apa yang berada diatas meja jatuh berantakan.
Pak Bas mengerang mencoba melawan tenaga yang begitu kuat menahan kepalanya, kakinya tak bisa bergerak karena orang yang lainnya memegang betisnya.
“Anda sekalian coba lihat, jika Anda menguji kesabaranku, ini yang akan kalian dapatkan. Jika aku sudah berkata tidak! Jangan sekalipun kau mencoba mengubahnya menjadi iya!” Madam Den mendekat, Pak Bas menahan tangan kirinya yang dipaksa oleh suruhan Madam Den, dia menahan sekuat tenaga agar tangannya tidak berada di atas meja, apa daya suruhan Madam Den lebih kuat dari dugaanya, walaupun tubuhnya besar tapi tak membuatnya bisa melawan kedua pria tegap itu.
Pak Bas mengerang menahan sakit ketika pisau ditangan Madam Den kini menancap di punggung tangan kirinya, Pak Agung dan Pak Wisnu hanya menatap ngeri kearah pemandangan didepan mereka, darah segar mengalir dan menetes diujung meja.
Kedua pria tegap itu mundur melepaskan Pak Bas yang masih mengerang memengang tanganya yang tertancap pisau, dia mendesis menahan sakit dan menatap kearah Madam Den. “sekali lagi kau melewati batasmu, pisau ini kutargetkan ke kepalamu.” Ujarnya dingin seraya mengelap pisau ditangannya dengan kain. “Wanita gila! Sialan!” batin Pak Bas.
***
Kejora duduk lantai atas club menatap bintang-bintang yang terang diatasnya, dia tersadar ketika ponsel ditangannya berbunyi, dia melihat pesan teks yang didapatnya.
Kau tahu? Walau langit malam ini terang,
tetap kamu bintangku yang paling terang dimataku.
^^
Kejora hanya tersenyum kecil, dia sedikit kaget ketika tiba-tiba ponsel ditangannya berdering, “Halo..” Dia mengangkatnya segera.
“Aku diatas atap Mam, ada apa?”
“Baiklah, aku akan kesana.” Kejora menghela napas, memang dia saat ini sedang tak ada pekerjaan sebagai escorter sebab Pak Bas sudah mendapatkan orang baru dan Kejora menyukai itu, tapi bukan berarti tak ada kemungkinan dia tak memiliki tugas atau pekerjaan lain dari Madam Den.
Kejora masuk ruangan ketika sudah dipersilahkan masuk. “Kau datang, duduk.” Kejora duduk dihadapan Madam Den, “kau dekat dengan Angga sebatas apa?”
Kejora tertegun sesaat kemudian mencoba menyembunyikan rasa kagetnya, “emmm.. hanya teman, setelah lelang dia anak yang asyik untuk mengobrol.”
Madam Den mengangguk, “dekati dia.” Kejora terbelalak kaget.
“Aku ingin kau mendekatinya dan cari tahu tentang ayahnya.”
“Tapi-”
“Kenapa?” Kejora tak melanjutkan ucapannya “Kau ingin kembali bersama Baskara?” Seketika Kejora menggeleng.
Madam Den tersenyum sinis, “akupun pasti memilih pria muda tampan daripada pria tua seperti Baskara, sudah jelas kau pasti menimatinya ketika gairah dari stamina pria muda itu saat dia berada diatasmu, permainan ranjangnya tentu lebih nikmat bukan daripada si tua bangka itu?"
Kejora menunduk antara malu juga bingung. “Lakukan berbagai cara, aku ingin kau mencari tahu apakah rencana Gubernur itu terhadap masalah kasus yang menimpa anak sekolah daerah kekuasaannya.”
Kejora tak bisa menolak tapi berat untuk menerima, tak mungkin dia menolak karena dia tak ingin kembali ke Pak Baskara, tapi jika dia menerima sama saja dia sedang menjadi pedang bermata dua, jika tak berhati-hati. Dia akan melukai orang yang dia sayang bahkan juga melukai dirinya.
__ADS_1
“Aku tak masalah kau menyukainya atau melakukan sex dengannya tanpa izin dariku, lakukanlah sesukamu. Asal..,” Madam Den menekan kalimatnya, “beri aku informasi.” Kejora mengangguk pelan.
-bersambung-