
Angga menunggu ayahnya yang sedang rapat pertemuan dan membahas tentang masalah popiv yang mulai mengacaukan masyarakat. Isu-isu negatif berdatangan ke kantor gubernur bahkan banyak orang tua murid yang memohon agar ada kejelasan tentang apa yang menimpa anak mereka.
Pak Wira berjalan terburu masuk ruangan kerjanya, dia mendapati anaknya yang berdiri dan menyambut kedatangannya. "Ada info apa?" Tanyanya langsung ke topik, Angga memahami jika keadaan ayahnya sedang genting dan hal itu mengganggu pikirannya.
Angga menceritakan secara detail tentang apa yang semalam Kejora katakan.
“Jadi wanita itu menyuruh gadis itu untuk mencari informasi tentangku?” Angga mengangguk setelah menjelaskan apa yang dikatakan Kejora soal keinginan Madam Den,
Pak Wira mengetuk-ngetuk jemarinya, “menarik... Aku ada ide.” Ucap Pak Wira, dan Angga menyimak apapun yang akan keluar dari mulut ayahnya.
“Katakan kepada perempuan itu, jika aku sudah mengetahui penyebab sakitnya anak-anak sekolah itu, dan aku sedang melacak pelaku yang menukar vaksin dan vitamin asli dengan obat itu.” Angga memuji dirinya sendiri dalam hati, karena apa yang dia pikirkan barusan sesuai dengan yang dikatakan ayahnya.
“Apalagi informasi yang kau ketahui?” “sementara hanya itu.”
"aku dan timku juga sedang mencari beberapa bukti yang sekiranya bisa mencari celah dari siapa dalang dibalik ini semua, tersangka utama masih Sandra, Baskara, Bambang dan antek-anteknya itu. Banyak pejabat tinggi yang mungkin berhubungan dengan mereka, jadi tetap waspada dan jangan lengah, jangan mudah percaya sebelum kau temui fakta.” Angga mengangguk.
“Sudahkah kau tanda tangani formulir kemarin?” Angga memahami pertanyaan ayahnya soal pendaftaran untuk melanjutkan sekolahnya keluar negri.
“Kenapa harus German?” tanya Angga kemudian, “kan aku perlu belajar bahasa baru.” Angga melirik ayahnya yang hanya menatapnya dalam diam, "kau tak suka?" Angga menggeleng cepat, "bukan begitu, hanya saja... sepertinya di Indonesia masih banyak program S2 yang bagus untuk jurusanku." Ayah Angga tersenyum tipis dia bersandar dikursinya menatap anaknya.
“Aku amati, baru kali ini kau banyak menawar apa yang aku pinta, ada apa? Apa karena perempuan itu? kau terlihat semakin dekat dengannya, kau bisa terpengaruh negatif.” Angga mengangkat wajahnya mendengar ucapan ayahnya, geram dan sedikit tak suka dengan apa yang dikatakan ayahnya itu, dia menggeleng tak menyetujui perkataan ayahnya.
“Dia memang pelacuur yah, tapi disamping itu dia wanita cerdas yang baik.” Kelas Angga hanya membuat ayahnya tersenyum sinis “apa dia tau siapa kau?” Angga mengangguk ragu.
“Pantas saja, dia melihat celah keuntungan dari itu.”
“Tapi sebelumnya dia tak tahu, justru Pak Baskara yang memberitahunya, bahkan mengetahui itu dia malah menjauhiku.”
Pak Wira masih memasang wajah tak sukanya “warna putihpun akan menjadi kusam jika diletakkan ditempat yang kotor.” Sindirnya tanpa menatap Angga yang berusaha menjelaskan sisi baik Kejora.
“Siapapun dia dan bagaimanapun dia dimatamu, akan sulit membuatku melihatnya sebagaimana kau melihatnya.” Ujar Pak Wira dengan tegas “aku tak mau mendengar hal-hal aneh tentang kalian.” Angga hanya bisa menelan ludah mendengar peringatan yang sudah ia langgar jauh sebelum ini.
__ADS_1
Angga menghela nafas dan menghidupkan mobilnya untuk pulang kerumahnya, tapi sebelum itu dia meraih telponya dan mengirim pesan singkat
Hai Ke,
Kau bisa mengatakan yang kemarin malam aku jelaskan, jika ditanya olehnya.
Setelah mengirim pesan tersebut, dia kembali menaruh ponselnya di dasbor mobil dan melaju pergi dari pekarangan kantor Ayahnya yang ada di pusat Kota Semarang itu. Mampir kerumahnya sebentar untuk makan siang, dia memutuskan untuk pulang ke Jogja setelah maghrib.
Disepanjang perjalanan Angga hanya merenung menatap jalanan gelap yang hanya diterangi lampu mobilnya, hanya suara dari media pemutar musik yang menemaninya. Musik yang membuatnya selalu mengingat sosok ibunya, jika mengingat kejadian itu, Angga sangat membenci ayahnya.
Dimana dia harus menyaksikan dari jendela kamarnya, ibunya diseret dan didorong keluar pagar seraya dimaki oleh ayahnya. Salah apa ibunya, sampai seorang pria yang begitu mencintainya tega melakukan itu? Terkadang ketika melihat kacaunya rumah tangga keluarga Dimas, terbesit pikiran apakah mungkin ibunya melakukan kesalahan yang sama seperti ibu Dimas? Selingkuh?
Angga menampik kemungkinan itu karena tak mungkin hal itu terjadi. Pernah dia bertanya kepada ayahnya, tapi yang ia dapat hanya sabetan dari ikat pinggang ayahnya, tamparan di wajahnya atau bahkan hukuman dikurung digudang penyimpanan.
Beruntung ada pembantu keluarga yang merawatnya sedari kecil selalu berada disampingnya mengobatinya luka pukulan ayahnya dan memberi senter dan makanan ketika dia dikurung.
“Mungkin dia tak menyukai jika sesuatu berjalan tak sesuai maunya. Apakah itu penyebab ibu keluar dari rumah.” Guman Angga mengingat kejadian barusan dimana ayahnya begitu tak suka ketika Angga mencoba menawar keinginan ayahnya untuk kuliah di luar negri.
“Dan dia mencoba mengatur anaknya seperti robot yang tak berhati dan tak pantas mendapatkan apa yang disukainya?” Angga tertawa sinis “memangnya kenapa jika pelacuur? Toh, dia tetap wanita.”
Mobilnya berhenti ketika lampu lalu lintas berwarna merah, dia memandang kosong ke jalan hitam didepannya yang hanya disinari lampu mobilnya “jam segini masih aja aktif lampu merahnya” keluhnya seraya kembali mengambil ponsel didasbornya, dia mengoperasikan sebentar sebelum berbicara ketika panggilannya tersambung.
“Kau dimana?” “eemmm... Boleh aku menemuimu?” Angga terdiam menunggu jawaban dari seberang, dia berencana ingin menemui Kejora.
“Maaf menganggumu malam-malam, aku hanya...” Dia terdiam karena penjelasanya dipotong “tidak, bukan begitu, cuma ingin mengobrol.” Angga tertawa kecil “tapi sepertinya kau lelah? Atau kebangun tidur?” Angga merasa tak enak karena mendengar suara Kejora seperti orang bangun tidur.
“Emm...” Angga berguman karena Kejora meminta maaf karena tak bisa menemuinya, malam begitu larut dan Kejora baru tertidur 1 jam yang lalu.
“Oke deh..” Ujar Angga bersemangat ketika Kejora memastikan besok pagi akan sarapan dengannya “selamat tidur, dan mimpikan aku dengan indah.” Ledek Angga mendapat penolakan dengan nada meledek juga, “tak akan buruk, coba saja.” Lanjutnya masih terkekeh “yaa daa..” kemudian menutup telponnya dan melajukan kembali mobilnya ketika lampu sudah hijau sedari tadi, karena sepi jadi wajar aja tidak ada yang mengklaksonnya.
__ADS_1
“Setidaknya mendengar suaranya sedikit memberi penenang.” Angga menghela nafas dan memacu lebih cepat mobilnya agar segera sampai dirumah, karena dia perlu bangun pagi untuk sarapan dengan Kejora.
***
“Sepertinya Gubernur itu tahu jika ada oknum yang menukar vitamin asli, tapi dia belum mengetahui jika itu adalah sampel pertama popiv, tim medis masih menganggap itu obat palsu yang dipasok oleh oknum yang ingin mencari keuntungan.” Mereka mengangguk mendengar penjelasan Madam Den.
“Jadi lancarkan rencanamu untuk mulai menarget mahasiswa, mulai adakan event dan cari sponsorship perusahaan minuman energi botolan, atau minuman teh kemasan yang penting botolan.” Jelas Madam Den kearah Baskara, diruangan itu hanya ada Madam Den, Pak Baskara dan Mantan Gubernur, Pak Bambang.
“Kemarin anak buahku mendapat beberapa mahasiswa yang menjadi member VIP starynight club, dan bisa kita manfaatkan jaringan pertemanannya, yang pastinya mereka adalah lingkup anak orang kaya.”
“Bagus, mulali dari besok.” Pak Bambang mengangguk.
“Mengapa botolan?” tanya Pak Baskara tak paham “sebelum minuman itu ditawarkan secara gratis ke mereka, modifikasi dahulu dengan bubuk popiv, 10mg / 250ml.”
“Hah? sebanyak itu?”
“Ikuti saja perintahku.” Pak Bambang hanya mengangguk menuruti.
"Lalu setelah itu kita akan mulai mengerjakan popive selanjutnya dengan dosis lebih tinggi, karena dengan dosis itu, efek popiv sebelumnya akan tertimpa dan membuat pemakai semakin candu." Madam Den tersenyum licik, "Aku akan manfaatkan nama perusahaan wisnu mengeluarkan penetral yang justru malah memperburuk keadaan pencandu setelahnya."
Pak Baskara tertawa, "aku yakin dia tahu soal itu, dia merasa kau menjadikannya tumbal Bu Sandra." Madam Den menaikkan bahunya. "Memang begitu nyatanya." Pak Bas sedikit kaget, "hah?"
"Ketika penetral itu gagal, maka pemeritah akan menyorot perusahaannya, dan aku akan turun dibawah perushaanku untuk menawarkan vaksin."
"Kasus ini pernah ada sebelumnya, bagaimana kau meyakinkan pemerintah menerima penawaranmu itu?" Bingung Pak Baskara.
"Ketika mereka memiliki polemik yang dimana tak tahu jalan keluar, sangat tak mungkin mereka menolak antidoteku. Tentu aku akan menunjukkan keberhasilan antidote itu pada mereka. Mustahil mereka menolak." Jelas Madam Den tersenyum sinis.
"Dan juga Bas, kita harus waspada dengan Wisnu, amati dia aku memiliki firasat dia seperti ular berkepala dua." Pak Bas mengangguk mematuhi permintaan Madam Den.
"Ancam dia dengan putri kesayangannya itu jika dia berani macam-macam denganku." Lanjutnya dengan tatapan sengit.
__ADS_1
-bersambung-