
Angga dan Kejora menoleh kebelakang ketika pintu terbuka dan betapa kagetnya mereka berdua ketika Pak Krisna datang bersama orang yang begitu sangat dikenal oleh mereka, terutama Kejora.
"I...bu.." Kata Kejora terbata karena tak mempercayai penglihatannya. Dimas hanya melihat bingung kearah orang didepan pintu dan lebih bingung lagi ketika melihat Angga dan Kejora nampak syok dengan mulut menganga.
"Hai Bintang." Kejora tak berkedip sama sekali melihat wanita yang berjalan kearahnya, dia bingung karena wanita yang sedari tadi dia khawatirkan mengapa juga bisa ada ditempat ini.
"I..bu..." Ujarnya ketika wanita itu kini berdiri didekatnya, "kenapa kau bisa ada disini?" Tanyanya dan berhambur memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Bu Widi hanya menepuk punggung Kejora dan membelai lembut kepalanya.
"Karena aku mengenal Krisna dan dia bilang padaku kau ada disini." Kejora menatap kearah Pak Krisna yang tersenyum tipis.
"Anda, wanita itu bukan?" Tanya Dimas bejalan menghampiri Bu Widi dan mencoba menelisik figur orang tersebut. "Yang menolong kami dipenyergapan?" Angga hanya bisa diam, karena saat ini dugaannya dengan Dimas sama.
Bu Widi tersenyum simpul, Kejora melihat kearah Angga, Dimas kemudian kearah ibunya.
"Apa maksud mereka benar?" Bu Widi mengangkat bahu, "aku bingung mau bercerita dari mana." Ujarnya mendudukkan dirinya disofa dan menyandarkan tubuhnya "Haaahh... jika mau mendengar ceritaku, silahkan duduk." Mereka hanya berdiri bingung sementara Kejora mencoba mencerna semua yang ia terima secara tiba-tiba ini.
"Kalian mungkin mengenal Klan Kuda Sembrani. Kenal?" Angga dan Dimas mengangguk sementara Kejora menggeleng.
"Kuda Sembrani adalah sebuah klan atau ikatan keluarga yang terjalin sejak jaman kerajaan Majapahit Kuno. Pemimpin klan kami adalah keturunan dari raja tersebut, jadi secara tak langsung ada darah para raja yang mengalir ditubuh anggota klan kami. Kami sangat rahasia dan tersembunyi, kami menyebar ke berbagai negara di Asia Tenggara karena memang anggota kami dari berbagai negara tapi tetap terikat oleh jalinan kekeluargaan atas nama klan itu.
Kami tidak bisa melepaskan diri karena sudah diatur dari atas hanya kematian dan pengkhianatan yang bisa memutus ikatan kami." Jelas Bu Widi melihat satu persatu dari mereka.
"Dan itu yang terjadi padaku saat ini." Mereka memasang wajah bingung bersamaan, apalagi Kejora yang masih diambang rasa tidak percaya melihat ibunya dan informasi asli tentangnya.
"Ayahku memberontak dan mencoba mengambil kursi kekuasaan dari kakaknya yang baginya tak becus memimpin klan dan anaknya yang perempuan itu harus kabur karena ayahku ingin membunuh keponakannya sendiri hanya karena kekuasaan. Pemimpin sangat penting bagi klan kami, karena ketika klan kami tak memiliki pemimpin, klan akan hancur karena anggota akan dibantai oleh klan lain dan itu sudah menjadi kesepakatan dunia. Klan Kuda Sembrani sangat besar, karena begitu banyak klan yang tak memiliki pewaris yang hancur dan berhasil kami kuasai, itulah kenapa kami banyak musuh dan lokasi pusat kami sulit dideteksi."
Bu Widi menghela nafas panjang, "dan aku dituduh menjadi pengkhianat karena ayahku yang memberontak itu, kini diduga bekerja sama dengan klan musuh, setelah pemberontakan dia kalah dan berhasil kabur, tapi aku yang saat sangat dipercayai oleh kakekku tetap bisa menetap di rumah besar, meninggalnya kakekku meninggalkan luka besar karena aku benar-benar dikucilkan oleh anggota klan, itu semua karena aku anak pengkhianat.
__ADS_1
Sepupuku yang kabur itu tidak tahu dimana kabarnya, anggota begitu keras dengan keberadaanku. Aku difitnah meracuni pamanku sendiri, sepertinya ada orang yang tak menyukaiku masih berada didalam klan. Pamanku sakit dan terjadi pencarian besar untuk sepupuku yang kabur itu untuk menggantikan posisi kepemimpinan agar tahta tidak kacau, mereka berhasil menemukan sepupuku yang ternyata memiliki keluarga dikehidupan luarnya. Dia harus memutus hubungan itu agar keluarganya tidak terhubung oleh klan." Jelasnya perlahan.
"Ketika dia kembali dan berhasil ditemukan, fitnah itu menuntutku dijatuhi hukuman sehingga anak dan suamiku dibunuh mereka. Itu adalah hal terberat dalam hidupku." Suara Bu Widi sedikit serak karena menahan ingatan pahit itu.
"Aku dibantu sepupuku untuk kabur dan menyembunyikan diri di kota ini. Sudah hampir berapa kali aku ingin mengakhiri hidupku. Lalu, aku bertemu Bintang yang memberi semangat baru bagiku untuk melanjutkan hidup, kau ingat?" Kejora mengangguk dan ada bulir air mata menetes dipipinya.
"Kakak sepupuku yang saat ini duduk di kursi kekuasaanpun tak bisa banyak menolongku karena aku sudah menjadi buronan klanku sendiri bahkan klan musuh." Lanjutnya menarik nafas panjang. Kejora menghampiri dan memeluk erat sosok yang menjadi ibunya itu.
"Aku menjalankan sebuah misi pencarian pelaku sesungguhnya yang meracuni pamanku apakah itu masih ada hubungannya dengan perbuatan ayahku, mengapa kekuasaan membuatnya sampai hati ingin membunuh kakak kandungnya sendiri."
Bu Widi terdiam sejenak, mereka hanya bisa saling tatap karena Bu Widi terdiam tiba-tiba. "Hanya orang ini yang bisa membersihkan namaku dari klan, jadi aku bersembunyi seraya menjalankan misi yang ternyata ada hubungannya dengan pengedaran popiv di Filipina, dan itu secara ajaib ada hubungannya dengan Madam Den, seolah aku dituntun bertemu Kejora.."
Bu Widi menghela nafas dan menatap Angga "..dan kamu." Batinnya dalam hati. Angga tak paham arti tatapan itu, "saat ini aku dalam bahaya, mereka tahu keberadaanku dan aku bisa kapan saja tertangkap atau fatalnya terbunuh."
Kejora menangis dalam pelukan Bu Widi, "kami bisa bantu apa?" Tanya Angga berdiri, Bu Dewi menggeleng, "ini urusanku yang memang sedari awal sudah sulit diatasi."
"Tapi kau tak bersalah Bu Widi!" Marah Angga, "aku tak ada bukti yang menguatkanku, karena pelaku peracunan itu sendiri banyak bukti yang mengarah padaku. Aku tau ada konspirasi didalam klan dan pengkhianat sebenarnya ada disana. Sepupuku sedang mengatasinya dan hampir 6 tahun aku sembunyi dan menggali informasi karena pamanku yang keracunan itu didarahnya ada kandungan popiv, saat ini beliau hanya terbujur bagai mayat hidup."
"Ini sangat rumit, aku bahkan kaget ketika mendengar Krisna meminta bantuanku mencari informasi mengenai Sandra Zei Tian itu, karena aku juga sedang menggali informasi komplotannya yang aku yakin ada dia yang selama ini kucari."
Bu Widi menatap Kejora yang menangis dan memeluknya erat, "maaf.. aku tak bisa banyak menolongmu, setiap mendengar ceritamu ingin rasanya aku habisi nyawa pria tua itu, tapi aku tak kuat seperti dahulu, aku harus berhati-hati dengan tindakanku."
Mengusap pucuk kepala Kejora dia meneteskan air matanya yang membasahi rambut Kejora. "Aku tak tahu bisa melindungimu lagi sampai kapan."
Kejora menggeleng menatap wanita itu dengan mata sembab, "jangan tinggalkan aku, aku tak mau kehilangan orang yang aku sayang, kau satu-satunya yang aku miliki." Ujarnya parau.
"Apapun yang terjadi, sebisa mungkin aku akan tetap disisimu, jika keadaan memburuk dan membuatku harus pergi. Aku hanya bisa berharap kau melanjutkan hidup dengan baik bersama orang yang kau pilih."
__ADS_1
Kejora menggeleng "aku butuh kau Bu."
"Kau akan berbahaya jika bersamaku." Kejora kembali menenggelamkan wajahnya kepelukan wanita itu. Pak Krisna menghela nafas berat karena pemandangan ini sangat menyakitinya, Dimaspun tak sanggup menatap langsung, sedari tadi dia hanya membuang wajahnya kearah lain.
Angga menatap nanar kearah wanita yang disayangnya, ingin sekali dia bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan keduanya. Dia mencengkram kepalan tangannya.
"Bu, ada baiknya anda disini bersama Kejora, jangan menunjukkan diri ataupun melakukan sesuatu sendirian." Bu Widi tersenyum tipis "nak, aku tak bisa bersembunyi sementara misiku masih perlu aku kerjakan."
"Biar aku saja!" Ucap Angga tegas membuat mereka yang berada diruangan itu kaget
"Jangan macam-macam Mas! Ini klan bukan hal biasa, Madam Den dan cecunguk Pak Baskara saja kita kuwalahan!" Sahut Pak Krisna, Angga membuang nafas kasar, duduk dan mencengkeram rambutnya.
"Ini sedari awal sudah kesalahanku karena bertindak gegabah tanpa anjuran dari Ketuan A, pemimpin klan kami."
"Kau masih menyebut mereka klanmu, padahal mereka memburumu!"
Bu Widi menghela nafas, "karena darahku dan mereka berasal dari raja yang sama."
"CIH!!" Dengus Angga, Dimas hanya mengamatinya yang terlihat begitu marah jika berurusan dengan ketidakadilan.
"Aku punya rencana bersama Ketua klan, dan ini adalah hal yang harus aku kerjakan. Aku tak mau mati dalam daftar hitam." Ujarnya, Bu Widi memang terlihat sudah memasuki usia paruh baya tapi fisik yang dilihat oleh mereka bukanlah fisik seorang ibu-ibu biasa, malah terlihat muda dan berstamina baik.
"Boleh aku tahu apa rencana itu? Karena jika itu berhubungan dengan Madam Den, maka kita bisa kerjasama." Bu Widi tersenyum simpul, "kita sudah bekerjasama bahkan jauh sebelum kau mengenalku nak, tanya ayahmu."
Angga mengangguk pelan, "aku hanya tak ingin kau dalam bahaya." Ujarnya seraya melirik kearah Kejora dan Bu Widi tersenyum kecil melihat kemana ekor mata Angga tertuju.
"Percayalah, kemampuanku tak seperti yang kau lihat, aku terlatih untuk bertahan hidup dan membela diri sejak kecil didalam klan. Dan juga ada baiknya kau melindungi wanita disampingku ini." Ujarnya dan menyentuh pipi Kejora lalu mengusapnya lembut, "aku akan melakukan sesuatu asal kau selamat nak."
__ADS_1
Batin Bu Widi seraya menatap lekat wajah Kejora dengan tersenyum. "Jangan khawatir dan bersedih, ok!" Kejora menghela nafas berat dan mengangguk.
-bersambung-