Bintang Kejora

Bintang Kejora
Toko Boneka Dan Pemakaman


__ADS_3

"Harusnya lo nggak boleh semarah itu sama Natalie. Dia nggak salah. Dia cuma mau bantuin gue," jelasku saat Adira mengakhiri ceritanya.


Sore setelah pulang sekolah tadi Adira mengajakku bertemu di mall Kasablangka. Dia baru saja cerita tentang masalahnya dengan Natalie. Mereka berdua sedang marahan dan penyebabnya karena Natalie yang datang ke acara kampusnya kemarin tanpa memberi tahu Adira terlebih dulu.


Padahal malam itu Natalie hanya ingin membantuku. Sekarang aku justru menjadi merasa bersalah padanya.


"Iya, gue tau gue salah. Makanya gue ngajakin lo ke sini. Lo mau kan bantuin gue?" Tanya Adira memohon.


"Bantuin apa?"


"Temenin gue buat nyari kado. Gue mau kasih ke Natalie sebagai permintaan maaf gue ke dia,"


"Itu sih gampang. Beliin aja dia coklat, bunga, atau boneka gitu. Pasti dia suka." Ucapku memberi saran.


Adira tampak menimang ucapanku. "Bagusnya apa ya Ra?"


"Tiga-tiganya lebih bagus." Sahutku enteng.


Adira langsung memberikanku pelototan. "Serius gue!"


Aku pun terkekeh pelan melihat ekspresinya. "Gue malah dua rius ini."


"Yaudah. Demi pacar deh. Jangankan cuma coklat, bunga sama boneka, bunga edelweis kalo mau juga gue bawain," ujar Adira menyombongkan diri.


"Gak yakin gue sama yang terakhir tadi." Cibirku.


"Belom tau aja lo kalo gue udah nekat," ujar Adira, meyakinkan. "Lo cepet abisin gih makanan lo. Baru kita cari bonekanya dulu ntar,"


Aku menuruti ucapan Adira. Sesegera mungkin aku menghabiskan makanan ku yang masih tersisa. Sore ini Adira juga mentraktirku makan dan katanya aku bebas memilih makanan apapun yang ada di mall ini. Alhasil aku memilih untuk makan di foodcourt dan memesan stik.


"Bintang tau kan kalo lo lagi sama gue? Gue nggak mau ntar kena tonjok lagi sama dia," tanya Adira setelah mengelap sudut bibirnya dengan tissue.


"Tau kok. Lo tenang aja."


Adira manggut-manggut lega. "Syukur deh. Cukup tau aja pengalaman buruk gue dulu waktu di SMA. Dimana wajah ganteng gue selalu bonyok karena ulah dia."


Kali ini aku menatap Adira dengan malas. Masuk di dunia perkuliahan ternyata tidak membuat tingkat ke-PDan nya berkurang sama sekali.


"Lo sama Bintang udah resmi?" Lagi-lagi pertanyaan Adira terdengar.


Aku hanya memamerkan senyumanku dengan lebar. "Kepo!"


Adira langsung melengos. Terlihat kesal dengan jawabanku barusan. Dia lalu memilih untuk menuju stand stik yang aku pesan tadi kemudian membayarnya.


Padahal sebenarnya aku juga ingin meceritakan sesuatu kepada Adira. Mumpung sekalian bisa bertemu dia disini. Namun mengingat Adira yang sedang memiliki masalah pribadi aku jadi mengurungkan niatku.


"Yuk Ra." Ajak Adira yang sudah kembali.


Aku mengangguk dan segera mengikuti langkah Adira dari belakang.


Setelah menuruni dua eskalator, sampailah aku dan Adira di sebuah toko boneka yang tampak lucu-lucu. Mulai dari boneka ukuran mini sampai boneka paling besar sekalipun semuanya lengkap.


Adira menyuruhku untuk berjalan memasuki toko itu terlebih dulu. Mungkin karena memang dia malu sebagai cowok harus masuk ke toko beginian.


"Lah, ayo masuk. Kok malah diem disitu sih?!" Ajakku saat menoleh ke belakang Adira justru hanya berdiri di depan pintu toko.

__ADS_1


"Lo aja deh yang masuk. Malu gue harus masuk ke toko unyu-unyu kayak gini." Tolaknya sambil bergidik.


Ke dua mbak-mbak yang tugasnya menjadi patung selamat datang toko itu tampak menahan tawanya. Mungkin menertawakan ucapan Adira barusan.


Entah bisikan setan dari mana tiba-tiba ide jail terlintas di otakku. Aku melangkah menghampiri Adira lagi, berusaha membujuknya. Sekalian aku ingin balas dendam karena dia juga pernah mengerjaiku waktu di villa.


"Ayo lah. Ini kan buat Natalie. Berkorban dikit kek buat pacar sendiri," ucapku berusaha membujuknya.


"Ya nggak korban image juga kali Ra. Lo kan mau bantuin gue. Gue percaya deh sama pilihan lo."


Aku tersenyum jahil. "Gue beliin boneka monyet aja kali ya."


Adira melotot. "Lo mau bantuin gue baikan sama Natalie apa mau bikin gue putus sama dia sih?!"


Aku baru tahu, balas dendam bisa semenyenangkan ini.


"Makanya ayo masuk! Lama banget deh!"


Setelah aku menarik paksa tangan Adira barulah dia mau memasuki toko itu. Aku pun tersenyum dengan puas. Apalagi banyak pasang mata yang memperhatikannya. Ditambah lagi pengunjung di toko itu berisi perempuan semua.


"Lo mau ngerjain gue ya?!" Tanya Adira yang memekik dengan kesal.


"Balas dendam lebih tepatnya." Cengirku puas.


Karena toko boneka ini lumayan luas aku memilih untuk melihat-lihat di bagian rak paling ujung kanan terlebih dulu. Pandanganku tertuju pada sebuah boneka teady bear berwarna putih yang lehernya berpita coklat.


Baru saja akan mengambil boneka itu, sebuah tangan terjulur dari belakang dengan cepat. Mengambil boneka yang ingin aku ambil tadi.


"Elo?" Ucapku sangat heran setelah membalikkan badan dan melihat siapa pelakunya itu.


"Senang bisa ketemu lagi, *****," ucapnya sambil memamerkan senyuman yang menurutku jijik.


Dara.


"Lo udah kayak setan ya. Muncul dimana-mana," ucapku frontal.


Tak lama Adira datang. Dia berdiri di sampingku dan menatap Dara sama heran.


"Woow! Jadi ini kelakuan lo di belakang Bintang? Seneng-seneng sama cowok lain? Pecun banget emang ya lo," ujar Dara menatapku dengan tatapan menilai.


Entah kenapa perempuan bernama Dara itu sangat senang mencari gara-gara denganku. Rasanya tanganku sudah gatal ingin menyumpal mulut dia.


"Nggak usah cari penyakit deh lo! Ngapain lo gangguin Kejora?" Tanya Adira yang tidak terima.


Dara memamerkan senyum sinisnya. "Gue heran. Kenapa semua orang selalu ngebelain cewek sialan ini?! Bikin gue tambah muak!"


Adira memilih diam. Dia mungkin juga berpikiran sama denganku. Tidak ingin membuat keributan di tempat umum. Namun Dara lagi-lagi mengoceh semakin kurang ajar.


"Kira-kira gimana ya reaksi Bintang kalo liat lo berduaan sama cowok lain kayak gini," kalimat itu sudah jelas ditunjukan untukku.


Dara mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang. Mengarahkan kameranya kepadaku dan juga Adira. Namun tangan Adira lebih cepat untuk menangkis ponsel itu.


"Heh! Segitu nggak lakunya lo jadi cewek sampek mau ngrusak hubungan orang?"


Duuar!

__ADS_1


Kalimat Adira seperti panah yang meluncur tepat pada sasaran. Aku tersenyum puas melihat Dara yang sekarang kelabakan di tempatnya. Menahan kekesalan. Apalagi tawa kecil pengunjung toko sekarang terdengar. Mereka menertawai Dara.


"Lo mending pergi deh. Dari pada lo jadi viral gara-gara ketahuan pengen ngrusak hubugan orang. Lo apa nggak malu?" Sindiran keras kembali meluncur dari mulut Adira.


Para pengunjung toko memang semakin berkerumun. Ada yang hanya sekedar menonton, ada juga yang sengaja merekam. Mereka ikut memojokkan Dara.


Dara seperti kalah telak. Terbukti cewek itu hanya bisa mematung sambil meremas ponselnya sendiri. Dan beberapa detik kemudian Dara memilih untuk pergi dari toko itu.


"Kalimat lo pedes banget. Sampek kicep gitu si Dara," pujiku pada Adira setelah memandang kepergian Dara barusan.


"Abis makan mie setan tadi. Jadi pedesnya masih nempel di lidah," canda Adira sambil terkekeh.


Aku hanya ikut tertawa sebentar mendengar lelucon Adira.


"Btw makasih. Lo udah bantuin gue," ujarku.


"Selow Ra."


Setelah orang-orang membubarkan diri kita berdua melanjutkan tujuan awal untuk membeli boneka tadi.


***


"Sampai sini aja deh," ucapku ketika mobil Adira sudah menepi di sebuah jalan raya dekat pemakaman.


"Yakin lo sendirian nggak pa-pa? Gue bisa kok temenin lo kalo lo ngizinin gue buat ikut," tawar Adira yang masih keukeuh.


"Yakin," jawabku sambil melepas seatbell. "Lagian lo harus ke rumah Natalie kan?"


Adira akhirnya menghela napasnya pasrah. "Yaudah. Lo ati-ati."


Setelah turun dari mobil Toyota milik Adira aku menyusuri jalan menuju pemakaman mama dan papa.


Hari ini mama berulang tahun. Jadi setelah membeli boneka untuk Natalie tadi aku meminta Adira untuk menemaniku membeli buket bunga mawar putih, bunga kesukaan mama dulu. Tak lupa aku juga membawakan sebuah kue tart rasa coklat.


Setelah sampai di makam mama aku langsung terkesiap. Sebuah bunga mawar putih yang masih segar sudah bertengger di atas makam mama, dengan sebuah kartu ucapan kecil di dalamnya.


Aku berlutut dan mengambil kartu itu, membaca isinya.


Selamat ulang tahun, Clarissa permata.


Tolong, maafkan aku.


Hanya kalimat tersebut yang mengisi kartu ucapan itu. Aku membolak-balik kertas itu namun sama sekali tidak ada nama pengirim disana.


"Siapa yang ngirim bunga mawar putih ini? Pasti orang yang pernah dekat sama mama. Karena mana mungkin orang itu bisa tau mama suka mawar putih? Tapi siapa? Kenapa dia meminta maaf?"


Mataku menyapu hamparan luas pemakaman itu. Siapa tahu saja pengirim bunga mawar itu masih di sekitar sini. Namun setelah aku clingukan mataku tidak menemukan siapapun.


Mungkin jika saja tidak ada kata permintaan maaf di sana aku tidak akan bertanya-tanya siapa pengirim bunga mawar itu. Aku akan mencari tahunya nanti. Sekarang, aku harus mengucapkan selamat ulang tahun dulu kepada mama. Dan juga memanjatkan doa tentu saja.


"Selamat ulang tahun, ma. Bahagia di sana sama papa ya. Mama nggak usah khawatir, sekarang aku sudah punya orang yang akan menjaga aku. Aku mencintai dia, ma." Ujarku memamerkan senyum bahagia.


"Maaf aku jarang ke sini lagi buat jenguk mama dan papa. Tapi aku janji, aku akan sering-sering ke sini lagi sekarang. Seperti dulu."


"Aku pamit ya ma, pa." Pungkasku dan mengecup nisan mereka secara bergantian.

__ADS_1


Sepanjang jalan pulang aku masih menerka-nerka, kira-kira siapa yang mengirim bunga itu untuk mama?


***


__ADS_2