
Derasnya hujan seakan tak ingin mereda. Seperti langit ikut merasakan betapa sedihnya hatiku malam ini saat melepaskan Bintang sepenuhnya. Ditambah suasana malam yang dingin dan mencekam. Seolah ikut serta juga untuk menjadi saksi perpisahan ini.
Setelah mencium puncak kepalaku cukup lama Bintang perlahan melangkah mundur. Melepaskan dekapannya barusan dengan berat hati. Kepalanya menunduk dengan tatapan yang kosong. Demi apapun juga aku sudah tidak tahan untuk membebaskan air mataku agar mengalir.
"Gue pulang ya Ra." Pamit Bintang lirih.
"Jangan pergi, Bint. Lo tahu gue takut hujan. Lo temenin gue. Gue mau lo disini." Batinku berteriak menahan.
"Hati-hati di jalan." Namun bibirku dengan kurang ajarnya masih terbuka untuk menjawab kebohongan.
"Jaga diri lo," pesan Bintang yang masih berusaha untuk tersenyum.
"Gue mau lo yang jagain gue. Tapi kita nggak bisa sama-sama." Batinku kembali bersuara.
"Tentu." Sialnya, lagi-lagi yang keluar di bibirku cuma kebohongan.
Anggukan kecil Bintang mengakhiri semuanya. Beserta senyum kecil yang sekilas masih saja dipaksakannya. Bintang pasti sangat terluka. Tapi aku tidak bisa menahannya agar tetap di sampingku.Lagi-lagi permintaan tante Marisa seakan muncul di permukaan kepalaku kembali.
Aku masih mengamati Bintang yang menaiki motor besarnya di bawah guyuran hujan. Motor yang menjadi kenangan saat-saat aku masih bisa mengamati wajah Bintang dari dekat. Semoga Bintang bisa sampai di rumah dalam keadaan baik-baik saja.
Tangisku pecah saat deruan motor Bintang sudah terdengar menjauh. Dia benar-benar pergi meninggalkanku sendirian. Aku berlari seperti orang kesetanan. Seperti baru saja sadar dari sebuah hipnotis dan sudah kehilangan barang berhargaku. Aku menerobos hujan untuk mengejar kepergian Bintang hingga persimpangan jalan komplek. Namun motor Bintang sudah lenyap.
Lututku mendadak lemas. Aku bersimpuh di jalanan yang tampak sepi itu. Derasnya hujan sudah membuatku basah kuyup. Hatiku seperti diremas di dalam sana.
"BINTANG! JANGAN TINGGALIN GUE! GUE SAYANG SAMA LO, BINTANG!"
Aku berteriak memanggil. Seperti layaknya orang gila yang sudah kehilangan akal sehatnya. Iya itu aku. Aku menyesali apa yang sudah aku putuskan. Aku benar-benar takut kehilangan dia.
Suara kencangku tak membuahkan hasil apapun. Hanya masih rintikan air hujan yang terdengar. Bintang memang sudah pergi. Benar-benar pergi dan tak akan kembali lagi.
***
"Lo mau bawa gue kemana sih Kei?" Protesku dengan nada malas.
Tanpa meminta izin terlebih dulu Keisha sudah menarikku dengan kurang ajarnya saat bel pulang sudah berbunyi sekitar sepuluh menit yang lalu.
__ADS_1
"Gue mau ngajak lo jalan. Biar lo nggak kayak mayat hidup gini," tukas Keisha yang masih menarik tanganku menuju parkiran mobilnya.
"Gue lagi nggak mood hari ini. Gue mau langsung pulang," tolakku masih berusaha terlepas dari cengraman tangan Keisha.
Ternyata kekuatannya memang tidak bisa di anggap remeh juga. Lagi-lagi Keisha yang memenangkan tarik-menarik itu dan berhasil memaksaku duduk di kursi penumpang. Aku hanya menghela napas pasrah untuk segera menurut.
"Sebenarnya kita mau kemana sih?" Tanyaku kesal.
"Udah tenang aja. Gue nggak mau nyulik lo kok. Gak ada untungnya juga. Mending nyulik oppa Sehun gue dibanding lo," jawab Keisha malah ngelantur.
Aku tak menanggapi lagi. Terpaksa aku harus duduk dan mengikuti kemana Keisha pergi sore ini meski sebenarnya aku sedang tidak ingin melakukan aktivitas apa-apa.
Keisha melajukan mobilnya meninggalkan parkiran sekolah. Aku melirik wajahnya yang kelihatan sekali sedang bersemangat. Tentu saja aku semakin dibuat penasaran.
"Bisa nggak sih bilangnya sekarang aja. Awas sampek lo bikin mood gue makin jelek." Ancamku agar Keisha mau memberitahu tujuannya.
"Ntar juga lo tahu sendiri."
"Sejak kapan sih lo main rahasia-rahasia begini sama gue?" Tanyaku semakin kesal karena Keisha masih saja sok misterius.
Dan benar saja, beberapa menit kemudian Keisha memarkirkan mobilnya di sebuah kafe. Bukannya terjawab, pertanyaanku justru semakin bertambah saja.
"Ngapain coba lo bawa gue ke sini?" Protesku tak tanggung-tanggung.
"Turun dulu deh, ntar aja sesi protesnya,"
Keisha melepas seatbeltnya. Dia lalu mengambil kain berwarna hitam dari tasnya dan menyerahkannya padaku.
"Tutupin mata lo pakek ini."
Aku mengerutkan dahi. Apa-apaan lagi ini?
"Mau ngapain sih lo sebenernya Kei? Kenapa juga mata gue harus di tutup segala. Emang di dalem ada apaan?" Tanyaku makin bingung.
Keisha berdecak. "Pakai aja, Kejora. Kali ini jangan ada pertanyaan yang keluar dari mulut lo. Cukup ikutin intruksi dari gue,"
__ADS_1
"Gue nggak mau! Gue mau pulang sekarang!" Berontakku.
Aku membuka pintu mobil beberapa kali tapi pintu itu tidak terbuka juga. Pasti Keisha masih menguncinya.
"Bukain nggak?" Kataku galak.
"Iya gue bakal bukain. Tapi tutup dulu matanya. Trus ikut gue ke dalem," bujuk Keisha. Tangannya masih terulur memberikan kain hitam itu.
"Lo nggak bakalan aneh-aneh kan?" Tanyaku menyelidik.
Keisha memutar bola matanya. "Aneh-aneh apaan sih. Enggak lah. Lo nggak percayaan banget sama gue?"
"Yaudah cepetan!" Dengan terpaksa aku merampas kain hitam itu dari tangan Keisha.
"Nah! Gitu dari tadi napa."
Keisha terlebih dulu keluar dari mobil. Aku pun langsung ikut turun dan berdiri di sebelahnya. Mengamati kafe sekitar yang aku dan Keisha datangi ini.
"Harus banget mata gue di tutup?" Tanyaku lagi membuat Keisha mengangguk cepat.
"Yup! Sini-sini. Gue pasangin biar cepet. Biar lo nggak penasaran lagi,"
Keisha membantuku untuk mengikatkan kain hitam itu. Detik berikutnya aku sudah tidak bisa melihat apapun lagi. Semuanya gelap. Aku merasakan Keisha sedang menuntunku untuk berjalan.
Lama aku berjalan dengan sangat berhati-hati Keisha lalu memberiku intruksi untuk berhenti. Beberapa menit kemudian aku merasakan tali di kain hitam itu terlepas. Tanpa aba-aba aku langsung membuka mata karna rasa penasaran.
"Supraise!"
Suara teriakan serta terompet beradu menjadi satu untuk memecahkan suasana yang tadinya sepi. Mataku langsung melebar tak percaya. Pertama kali yang aku temukan adalah sosok Adira, Natalie, Beval, dan Abel yang sudah membentuk barisan untuk menyambut kedatanganku.
Aku memandang mereka secara bergantian. Air mataku menetes tanpa aba-aba. Aku masih belum percaya jika mereka melakukan ini semua padaku. Padahal mereka sekarang sudah duduk di bangku perkulihanan. Namun mereka sama sekali tidak melupakan ku bahkan hari ulang tahunku. Rasanya aku sangat bersyukur karena mempunyai orang-orang baik di sekelilingku.
"Thanks ya semuanya," ucapku dengan haru. Air mataku kembali menetes karena saking bahagianya.
...****************...
__ADS_1