
"Selamat ulang tahun Ra. Gimana? Lo terkejut kan? Suka nggak? Ide gue ini," cerocos Adira yang menghampiriku terlebih dulu. Merentangkan ke dua tangannya seakan sedang memperlihatkan suasana kafe yang sudah mereka desain.
Aku mengedarkan pandaganku kagum. Kafe itu memang sudah di hiasi balon-balon. Meja yang di depanku saat ini juga sudah tersaji beberapa makanan dan minuman. Dan sebuah kue tart yang diatasnya bertuliskan 'happy b'day Kejora'.
"Suka banget kak. Gue masih nggak percaya kalian ngelakuin ini," jawabku jujur sambil menyeka air mataku dan terkekeh kecil.
"Selamat hari menetas Kejora. Sori kita-kita jadi telat ngerayainnya. Sebenarnya kita mau kasih supraisenya tepat saat hari ultah lo. Eh si Bintang malah ngelarang. Katanya Bintang mau ngajak lo ngrayain berdua aja. Jadi gini kan, kita yang terakhiran," ungkap Beval yang cukup membuat aku tercengang.
Pikiranku langsung menerawang kembali kejadian malam ulang tahunku kemarin. Aku yang sudah membuat Bintang kecewa karena tidak menemuinya di bukit dan menyakiti hatinya. Entah apa yang disiapkan Bintang malam itu untuk merayakan hari ulang tahunku yang gagal.
"Happy birthday Kejoranya Bintang. Cieeeee, yang abis ngrayain ultah berduaan doang," Abel menyerobot. Cewek tomboi itu memelukku singkat dan menyenggol lenganku menggoda.
"Sekali lagi thanks ya semuanya. Gue jadi bingung mau bales kalian gimana," jawabku mendadak canggung.
Sebenarnya aku memang tak enak hati kepada mereka. Pasti mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dengan Bintang kemarin malam. Aku bahkan tidak berani jika menceritakan ini pada mereka.
"Gampang kok balesnya. Lo buat Bintang bahagia aja kita-kita udah pada seneng," sahut Beval menanggapi perkataanku barusan.
"Nah, gue setuju tuh," Adira menyahut cepat.
Kepalaku semakin menunduk. Menatap lantai yang sedang aku pijak sambil membayangkan bagaimana jika mereka semua tahu jika aku sudah membuat Bintang kecewa. Aku tidak tega jika harus jujur dan mematahkan ekspetasi mereka.
"Eh, btw si Bintang mana? Kok belum nongol tuh orang?" Pertanyaan Abel membuatku menaikkan pandangan.
"Bintang?" Ulangku dengan cepat. "Dia ikut ke sini?"
"Iyalah. Yakali kita ngrayain ultah pacarnya dia nggak ikutan," jawab Beval dengan kekehannya.
"Muka lo kenapa jadi panik gitu deh Ra?" Tanya Abel yang semakin membuat aku gelisah sendiri di tempat.
Entah apakah ini moment yang tepat untuk mengatakan yang sejujurnya kepada mereka atau tidak. Yang jelas aku masih bergulat dengan pemikiranku sendiri.
"Lo nggak pa-pa kan Ra?" Keisha berbisik sambil menyentuh bahuku. Mungkin dia juga mencurigai perubahan ekspresi wajahku sekarang.
Semua pasang mata tiba-tiba tertuju kepadaku. Mereka seperti menyimpan pertanyaan sendiri di kepalanya masing-masing. Sampai saat bunyi pintu kafe terbuka pertanda ada pengunjung masuk mengalihkan perhatian mereka. Dan saat itu juga aku ikut berbalik dan melihat siapa yang datang dengan jantung terpacu hebat.
"Hai semua. Sori, kita datengnya telat. Acaranya belum bubar kan?"
Aku melotot tajam menatap siapa yang baru saja datang bersama Bintang. Tatapanku perlahan jatuh pada lengan kokoh Bintang yang sedang digelayuti manja oleh Dara. Orang yang baru saja menyapa tadi.
__ADS_1
"Eh, ngapain lo tante-tante girang dateng ke sini? Kita-kita nggak ada ngundang lo ngerti nggak!" Ucap Natalie dengan galak dan nyolot.
Pasalnya semenjak penyamaranku saat di acara kuliah Bintang dulu, Natalie memang masih menyimpan dendam tersendiri dengan Dara.
"Kalian belum tahu ya? Sekarang gue ini gebetan barunya Bintang. Karna Bintang dan Kejora udah nggak ada hubungan apapun," jawab Dara merasa sudah menang.
"Ck. Lagi ngayal ya, mbak? Perlu gue guyur pakek air biar kembali sadar," sarkas Natalie.
"Lo nggak usah ngrecokin acara deh ya. Mending lo cabut sebelum cewek gue bener-bener nyiram lo," tukas Adira melerai sekaligus mengusir Dara agar segera pergi.
Sejak perdebatan mereka di mulai mataku justru tak terlepas dari tatapan Bintang yang dingin. Semua anggota tubuhku seperti mati rasa dalam sekejap. Hanya mataku yang masih bisa melihat dengan sempurna. Membalas tatapan Bintang yang sama sekali tak terbaca. Entah itu tatapan kecewa atau justru tatapan yang mengartikan hal lain.
Kalau boleh jujur aku juga kecewa. Haruskah Bintang datang bersama Dara? Apa Bintang memang sudah membuka hati untuk Dara? Secepat itukah?
Beberapa menit beradu tatap dalam diam. Sampai akhirnya Bintang yang memutuskan kontak matanya terlebih dulu. Dia beralih melirik tajam ke arah Dara.
"Lepasin tangan lo, Dar!"
Dara menggeleng pertanda dia tidak mau. Perempuan itu justru semakin menyenderkan kepalanya dengan manja di lengan Bintang. Seperti sengaja memanas-manasi.
"Gue boleh wakilin nyiram nggak sih? Gatel juga lama-lama tangan gue," celetuk Abel yang gemas melihat kelakuan Dara.
Dara yang semula lengket dengan Bintang sekarang berjalan menghampiriku dengan senyum andalannya. Seperti tidak terpengaruh sama sekali dengan kesinisan teman-teman Bintang yang memojokkannya.
"Sumpah ya. Kalian jadi temen pada bego-bego semua ternyata. Yang kayak beginian malah kalian bela," ujar Dara sambil mendorong bahuku dengan jari telunjuknya.
Keisha yang sejak tadi memang berdiri di sampingku langsung menangkapku dengan sigap.
"Nyantai dong, tante! Itu jari mau kita patahin rame-rame?" Sarkas Keisha tak terima.
"Eh! Lo udah gue usir masih aja punya muka buat disini ya? Heran gue," serobot Adira yang semakin jengkel.
"Terserah kalian mau ngomongin gue kayak gimana. Yang jelas gue cuma mau kalian tahu satu hal tentang Kejora," ucap Dara membuat semua orang akhirnya terdiam termasuk aku sendiri. Aku mengernyit bingung.
"Kalian nggak tahu apa yang udah terjadi sebenarnya kan? Kejora cuma sok polos doang di depan kalian. Sok baik. Selama ini dia nggak beneran tulus sama Bintang. Dia cuma mainin perasaan Bintang doang," ucap Dara.
Aku tak habis pikir Dara akan mengatakan hal itu yang sukses membuat suasana menjadi hening dalam sekejap. Aku juga tidak tahu apa yang direncanakan Dara dibalik semua ulahnya ini.
Yang jelas semua orang mendadak terdiam. Membiarkan Dara berbicara dengan puas tanpa ada satu orang pun kini yang berniat untuk menghentikannya.
__ADS_1
"Ibarat kayak buah jatuh nggak jauh dari pohonnya gitu lah intinya. Mamanya Kejora itu dulunya juga kayak dia gini. Suka kasih harapan palsu sama cowok-cowok. Suka tebar pesona. Abis itu cowoknya di tinggalin deh. Parahnya yang di kasih harapan palsu itu papanya Bintang sendiri lagi. Kasihan banget kan? Eh, sekarang gantian anaknya juga diginiin. Emang gak ada hati lo Ra,"
Semua orang yang mendengar itu sangatlah terkejut. Apalagi Bintang. Aku yakin hatinya sekarang semakin hancur mendengar itu semua. Dara memang sudah keterlaluan. Aku yakin dia sengaja melakukan ini karena ingin semua orang membenciku termasuk Bintang.
Kenapa Dara harus melakukan ini? Apa dia tidak bisa sedikit berbaik hati saja untuk diam agar tidak memperkeruh suasana. Aku tahu sekarang dia benar-benar licik. Tanpa aba-aba air mataku sudah membasahi pipi.
"Jaga ya mulut lo! Nggak usah ngarang cerita yang nggak jelas. Kita di sini nggak ada yang percaya sama omongan lo," ucap Keisha mulai emosi.
"Emang gacor banget tuh mulut. Pengen gue robek lama-lama," celetuk Natalie tidak santai.
"Eh Dar, lo mending pergi deh. Jangan nodain hati bersih gue ini sama ucapan kotor lo itu," timbal Adira berang.
"Gue ngomong apa adanya kok. Dan see, kalian liat sendiri kan Kejora diem aja sekarang. Kalo dia nggak seperti yang gue bilang tadi harusnya dia ngebela dirinya dong," jawab Dara semakin membuatku merasa terpojokkan.
Mendadak semuanya dibuat diam kembali dengan pikiran mereka masing-masing. Sedangkan Dara masih melempar tatapan sinisnya kepadaku sambil tersenyum remeh.
"Yaudah lah ya. Itu urusan kalian mau percaya gue atau enggak. Tapi harusnya kalian cukup pintar buat nyimpulin semua yang gue ucapin barusan itu emang fakta," ucap Dara mengompori kembali.
"Lo nggak usah ngehancurin acara kita deh. Rese banget sih lo jadi manusia," ucap Abel mencoba mencairkan suasana yang tadi sangat mencekam.
"Manusia ular kalo boleh gue tambahin." Celetuk Beval.
"Okey. Sori-sori kalo gue udah buat acara ultah Kejora jadi kayak gini. Kalian pasti masih terkejut sama ucapan gue barusan,"
Dara kembali berceloteh. Aku sudah mengepalkan tanganku kuat-kuat untuk menahan emosiku sendiri. Mengabaikan Bintang yang menatapku seperti meminta penjelasan lebih.
"Gimana kalo sekarang pestanya kita bikin seru. Kayak misal lemparin Kejora pakek kue gitu,"
Mataku langsung melebar tatkala Dara memang benar-benar membuktikan ucapannya itu. Aku memejamkan mataku saat kue tart yang Dara ambil dari meja tadi sudah berlumuran di rambut, wajah, dan juga baju seragamku hanya dengan hitungan detik. Sekarang aku bisa mendengar tawa puas Dara.
Kejadian itu membuat semua yang berada di kafe makin terkejut. Namun diantara mereka tidak ada satupun yang bergeming dari tempat. Termasuk juga dengan Bintang. Entahlah. Kenapa di saat seperti ini aku masih berharap perlindungan darinya? Padahal sekarang kita hanya seperti layaknya orang asing.
Tidak ingin membuat diriku lebih dipermalukan lagi aku memutuskan untuk berlari menuju toilet. Menangis di dalam sana dengan puas. Benar-benar Kejora yang sangat malang. Aku meruntuki nasibku sendiri dalam hati.
Setelah beberapa menit menangis di dalam toilet aku langsung memberanikan diri untuk keluar. Aku ingin membersihkan diri dulu sebelum pulang dengan keadaan menyedihkan seperti ini. Namun sebuah suara seseorang sedang berbicara di telfon membuatku sedikit penasaran. Itu seperti suara Dara.
Dengan mengendap aku berjalan melalui lorong toilet kafe itu. Aku berdiri di balik tembok yang tak jauh dari tempat Dara sekarang. Benar. Perempuan itu sedang berbicara dengan seseorang di telefon. Gelagatnya juga sangat mencurigakan. Wajahnya cukup serius.
Karena penasaran aku menajamkan telingaku agar bisa mendengar perbincangannya. Dan sungguh setelah mendengar percakapan itu justru aku tidak bisa merasa tenang lagi. Ternyata Dara mempunyai niat jahat.
__ADS_1
***