Bintang Kejora

Bintang Kejora
Salah Paham


__ADS_3

Mereka duduk kembali bersebrangan sementara Satya masih berkacak pinggang memijit pelipisnya. “Maaf karena memukulmu.” Ujar Angga ketika melihat Dimas mengusap berulang ujung bibirnya dengan jarinya. Mendengar ucapan Angga, Dimas hanya melirik dan tersenyum “aku pantas mendapatkannya.”


“Apa yang kau katakan tadi benar?” Tanya Angga, Dimas mengerutkan dahinya “yang mana?”


“jika aku salah menilai dirimu yang brengsek itu.” Dimas membulatkan bibirnya seraya menganggukkan kepalanya, kemudian mengangkat kedua bahunya “ jujur saja akupun muak dengan hidupku.”


Melihat kemungkinan mereka tak lagi saling serang, Satya akhirnya duduk di antara mereka.


“Aku sulit untuk kembali menghargai seorang wanita, ketika wanita yang paling aku percaya melakukan hal menjijikkan itu.” Jelas Dimas memandang kosong seolah teringat masa lalunya, masa lalu yang ingin ia hapus dari ingatannya tapi sukar bahkan menyiksanya tiap malam.


Bagaimana tidak, ketika dia memiliki seorang Ibu sebagai wanita yang paling dia sayangi dan kagumi, tapi ternyata dibalik itu ada perbuatan buruk yang sangat sulit dia maafkan.


Semua kembali ketika Dimas masih SMA, dia mendapati Ibunya dijemput oleh seorang pria yang tak dikenalnya. Dimas yang penasaran mengikuti kemana ibunya dan pria tak dikenal itu pergi, ayahnya saat itu sedang ada urusan di luar kota.


Betapa terkejutnya dia ketika mendapati ibunya pergi kesebuah club malam bergandengan tangan sangat mesra. Dia tak bisa masuk kedalam karena dia masih dibawah umur, selain itu club itu hanya menerima pengunjung yang adalah member khusus disana.


Dimas kesal, semenjak itu dia mencoba mencari cara bagaimana agar dia bisa membongkar kedok perselingkuhan ibunya.


Lalu sebulan kemudian, hal paling ditakutkkan Dimas terjadi, yaitu mengetahui kebenaran tentang ibunya dan pria tak dikenalnya itu.


Dia sangat kecewa, hancur hatinya karena ternyata selama ini ibunya sudah lama berselingkuh dengan pria itu. Bahkan pria itu adalah mantan kekasihnya ketika muda dulu sebelum menikah dengan ayahnya.


Ibunya memanfaatkan ayah Dimas, mengeruk hartanya dan bersenang-senang dengan pria itu yang saat ini berakhir di penjara karena kasus penipuan begitu juga Ibu Dimas. Itulah yang membuat Dimas membenci sosok wanita, wanita hanya gila terhadap harta dan untuk apa serius mencintai wanita jika pada akhirnya menderita? Seperti ayah Dimas yang saat ini hanya bisa terbaring di ranjang karena serangan jantung dan struk, terkejut ketika mendengar semua cerita tentang istri tercintanya.


Dimas menghela nafas panjang ketika bayangan masa lalu itu hadir, dia memijat keningnya. Angga dan Satya hanya menatap dalam diam. “Saat aku bilang aku tak seberengsek itu, yah dulu memang aku seperti yang kau bilang, melihat wanita kemudian menikmati wanita itu diranjang jika aku berhasil mendapatkannya. Tapi..." Dimas nampak ragu ketika akan melanjutkan ceritanya. Membuat kedua temannya hanya menatap heran.


"Kalian jangan marah ya jika aku cerita." Mendengar hal itu mereka hanya bingung dan saling tatap. "Ada seorang gadis yang yah bisa dikatakan sedikit merubah cara berpikirku, tapi justru hal itu membuatku membenci diriku sendiri." Dimas menghela nafas. "Ceritanya panjang loh, Apa aku perlu cerita disini? gak ada sesi lain atau buku dengan judul lain gitu? Yang khusus menceritakan tentang aku?" Angga dan Satya seketika mengerutkan kening karena bingung, Dimas menggaruk belakang kepalanya seraya menyengir kecil.


"Maaf, keluar jalur, jadi gini guys." Dimas menarik nafas mengawali ceritanya. "Kalian tahu Indri kan?" Angga dan Satya mengangguk ketika Dimas menyebut nama gadis perawat yang kini merawat ayah Dimas di rumah.


"Dia sedikit merubahku, aku tak tahu apa yang membuatku begini, tapi yang jelas ada sisi dalam dirinya yang membuatku sadar jika perempuan itu ada sisi baiknya." Dimas menghela napas pelan, "tapi aku banyak menyakitinya karena lelaki brengsek sepertiku tak pantas mendapatkan cintanya."


"Dia menyukaimu?" Tanya Satya, "kau sendiri Mas?" Dimas memiringkan kepalanya "Iya, dia menyukaiku bahkan jauh sebelum aku mengenalnya. kalo aku, aku tak tahu, aku belum yakin aku takut menyakitinya walau ternyata aku malah sudah menyakitinya dengan bertingkah brengsek seperti ini." Dimas berdecak karena kecewa dengan dirinya sendiri.


"Aku tetap berpura-pura bersikap brengsek agar dia illfeel padaku, walau dia sudah membuatku berhenti meniduri gadis dengan sembarangan, itu justru membuatku sulit menerima dia untukku, aku bahkan kerap menyakitinya. Aku memang brengsek, tapi aku tak seburuk itu guys, aku mencoba memperbaiki diri asal kalian tahu." Jelas Dimas singkat masih menunduk.


“Kenapa kau sembunyikan dari kami Mas? Tentang Indri, tentang dirimu. Kan kami jadi tak tahu sebenarnya.” Dimas mengangkat bahunya “ Soal Indri, aku masih belum yakin, kalo soal aku kan kamu sendiri yang bilang, kalau tobat jangan setengah-setengah, aku belum sepenuhnya bisa berhenti dari dunia yang sudah terlanjur kumasuki, aku sedang proses angkat kaki dari sana secara perlahan.” Sahut Dimas menatap Satya yang menatap tak setuju.


“Ya setidaknya aku tak menilaimu sebagai lelaki gila sex” cibir Satya, “wohoo! Kau belum tahu rasanya, sekali kau mencoba akan sulit untuk berhenti.” Jelas Dimas memainkan kedua alisnya,  “dihhh” sahut Satya mencibir dengan wajah jijiknya.


"Ketika aku meniduri wanita, terkadang bukannya membuatku merasa puas tapi ada hal lain yang membuatku membenci diriku sendiri. Dan beberapa waktu lalu, aku sadar ketika melihat ayahku, beliau sudah memaafkan ibuku walau beliau begitu sangat tersakiti. Juga gadis itu, entahlah.. Tapi walau begitu, aku tetap biarkan citraku yang buruk sebagai lelaki hidung belang yang rajin ke club malam tetap ada, toh dengan begitu tak ada wanita jahat yang memanfaatkanku dan tak ada wanita baik yang tersakiti olehku, termasuk Indri, dia pantas bersama pria lain yang lebih baik dariku." Angga terdiam mendengar ucapan Dimas, mengapa saat ini dia seolah melihat Kejora.


"Ketika aku tahu rencana mereka yang ingin memanfaatkanku, seketika itu kuhancurkan mereka terlebih dahulu.” Jelas Dimas menatap satu per satu temannya.


“Tak semua wanita seperti itu Mas.” Ujar Satya, Dimas cuma mengangkat bahu “entahlah, kau berpikir begitu mungkin karena kau bertemu Mila, apa boleh Mila untukku?” Dimas tertawa ketika melihat Satya menatapnya tajam “becanda dek! Santai!”


Satya menggelengkan kepalanya, “lupakan masalaluku, kita lanjut obrolan soal misimu itu Ang.” Angga yang sedari tadi hanya menatap Dimas, tak sadar jika Dimas berkata kepadanya “ayolah jangan tatap aku begitu! Aku tahu aku tampan! Tapi bukan berarti aku suka kau tatap begitu! Aku memang benci wanita tapi bukan berarti aku jadi suka pria.” Keluh Dimas menatap jijik kearah Angga yang kemudian setelah mendengar ucapan Dimas, dia melemparkan tatapan tajam ke Dimas dan Satya tertawa melihat keduanya, lalu beberapa saat sebuah bantal terlempar dan mendarat di wajah Dimas.

__ADS_1


"Kau tahu Dim?" Ucap Angga sesaat setelah mereka selesai saling melempar bantal. "Jika seseorang sudah menerima dirimu apa adanya, yang kau lakukan bukanlah menjauhi atau mengabaikannya, tapi mencoba memahami sisi orang itu mengapa mau menerimamu yang menurutmu buruk itu."


Dimas mengangkat bahunya "Hei, harusnya kau bersyukur sudah ada yang mau dan nerima kamu apa adanya yang ******** ini." Imbuh Angga sementara Dimas hanya memutar bola matanya memasang wajah sebal.


Walau dalam hati Dimas tahu jika mungkin Angga merasa Kejora berpikir hal yang sama seperti dirinya. Merasa tak pantas, karena itu Angga berkata demikian dengan sorot mata yang berbeda.


 


***


 


“Aku menyukaimu Kejora...”


“haiiih... Ini membuatku tak fokus!” Keluh Kejora dan mendapat perhatian temannya yang sedang merapikan gelas di meja bar. 


“Belakangan ini kuamati kau sering melamun, apa ada masalah Ke?” Kejora hanya menggeleng “biasa, hanya pusing pekerjaan. Mendengar penjelasan Kejora, Eric cuma menatap Kejora yang kembali menatap kosong ke gelas minumannya.


Sudah seminggu tak bertemu setelah kejadian di halte itu, Kejora bukan marah, dia hanya menghindar ketika Angga mengajaknya untuk bertemu. “Aku memintanya profesional, tapi aku sendiri yang ingkar.” Guman Kejora pelan dan tertawa sinis, mentertawai dirinya yang dia rasa payah.


Setiap malam dia dihantui bayangan Angga dan pernyataan sukanya, setiap hari dia harus menahan luka ketika klien menyentuhnya, dan setiap hari dia harus membohongi dirinya jika dia juga memiliki rasa terhadap Angga. “Kau sungguh baik-baik aja Ke?” Eric berdiri tepat didepan Kejora, dibalik meja bartender dia menatap Kejora yang nampak gundah


“Entahlah Ric.” jawabnya pelan dan membuat Eric menatap khawatir “ada yang menganggumu?” Kejora menggeleng dan tersenyum kearahnya.    


“Kau tak biasanya ada disini jika tak ada janji dengan Big Bas” ujar Eric membulatkan tangannya membentuk bola seolah menggambarkan bentuk Pak Bas, klien langganan Kejora, “jika ada yang mengganggumu, bilang padaku.” Kejora tersenyum lebar, Eric adalah teman terbaiknya disana. Yang selalu membantunya ketika dia mendapat masalah dengan escorter lain yang benci kepadanya.


“Aku tetap kakakmu didunia ini.” Kejora mengangguk meyakinkan Eric jika dia tak lupa soal itu. “Kalau begitu, aku pulang saja ya.” Kejora meraih tasnya dan beranjak dari kursi, Eric hanya membalas dengan anggukan.


“Minggir tuan-tuan, saya mau keluar.” Ujar Kejora pelan tapi hanya dibalas tawa oleh mereka. “Ini masih pagi, buru-buru pulang mau ngapain?” Ledek salah satu dari mereka yang berdiri paling dekat dengan Kejora, tangannya meraih wajah Kejora tapi ditepis oleh Kejora seketika.


Orang itu kaget kemudian tertawa ke teman-temannya “wanita murah berlagak mahal guys” Kejora hanya menatap tajam kearah mereka. “Emang aku tidak tahu? Kau mainannya ayahku kan.” Cibir lelaki itu dan Kejora mengerutkan dahinya, “jadi ayahku tak akan marah jika aku mencicip mainanya juga.” Ujarnya menjilat dan menggigit bibir bawahnya seraya menatap menggoda, tapi tatapan itu seketika berubah “Euwh! Kau dasar wanita rendah! Ugh! berkata seperti itu kepadamu membuatku mual.” Hardik orang itu dengan ekspresi muntahnya. Kejora berusaha tak meladeni dan memilih untuk pergi.


"Kau berani mengabaikanku! hey!" Teriaknya ketika Kejora hendak berlalu, menarik tangannya dan mendorong tubuhnya ke dinding.


“Kau! Kau tahu! Sangat besar sekali hasratku Ingin membunuhmu.” Ujarnya menunjuk wajah Kejora dengan jarinya. “Barra.” seseorang menepuk pundaknya dan membuat orang itu menoleh belakang.


“Aku tak ada urusan denganmu Dim.” Ujar pria bernama Barra itu. “Jika kau mengganggunya, kau ada urusan denganku.” Balas orang yang menepuknya tadi yang tak lain adalah Dimas dan membuat Barra menoleh dengan senyum tak percaya “dia mainanmu juga?” Tanyanya seolah tak percaya, dan Dimas hanya menatap diam kemudian melangkah untuk berdiri diantara Barra dan Kejora.


“Dia manusia bukan mainan.” Barra mendesis mendengarnya “manusia mana yang menjadi perusak rumah tangga dan juga seorang *******? Apa pantas yang seperti itu disebut manusia? Hah!” Umpat Barra, Dimas menoleh sekilas kebelakang melihat Kejora yang tertunduk.


“Jika bukan karena ayahmu, sudah aku pukul wajahmu Dim.” Barra beranjak dari tempat itu bersama teman-temannya, Dimas menatap kepergian mereka sebelum melangkah dan berbalik kearah Kejora.


“Aku menolongmu, bukan karena kamu. Aku menolongmu karena pasti temanku akan marah jika aku hanya diam.” Ujar Dimas menatap kearah Kejora, Kejora masih mengenal sosok didepannya, tapi dia sedikit bingung kenapa tiba-tiba orang ini berlagak dingin kepadanya berbeda dari pertama ia mengenalnya.


“Kau pasti tahu aku temannya Angga, dan aku tahu dia menyukaimu.” Kejora mengangkat kepalanya, dia tahu Dimas adalah teman Angga, karena ketika lelang itu Kejora melihat mereka berdua duduk bersebelahan sambil mengobrol. Tapi yang membuat Kejora terkejut adalah, Dimas tahu Angga menyukainya.


“Dan aku tak menyukai itu.” Lanjut Dimas ketika Kejora menatapnya. “Jangan kira, pertemuan awal kita akan menjadi hal baik mengenaiku. Aku menggodamu karena kau layak digoda, tapi mengetahui Angga menyukai wanita sepertimu. Aku membenci hal itu.” Jelas Dimas dengan intonasi yang siapa mendengarnya pasti akan terluka, termasuk Kejora.

__ADS_1


Kejora hanya menghela nafas berat, “kau pikir aku menyukainya juga?” Kejora menggeleng “jangan pikir aku akan memanfaatkan dia, ketika dia mengakui telah menyukaiku.” Jelas Kejora membuat Dimas tersenyum licik “aku hanya menerima penawarannya untuk membantunya, dan aku tak bisa menjelaskan disini.” Jelas Kejora karena mereka saat ini masih berada di club itu, Kejora melangkah dan menabrak tubuh Dimas, menatap wanita itu pergi Dimas hanya tertawa mengejek.


“Tak menyukainya juga? dih munafik.” Ujarnya dan menuju ke dalam club. “tapi, ada hubungan apa dia dengan ayah Barra?” guman Dimas ketika melangkah didalam club. “Jika benar ada sesuatu dengan dia dan Pak Baskara, aku semakin membencinya, bagaimana bisa Angga menyukai wanita seperti itu.”


*** 


“perusak rumah tangga orang, wanita simpanan, *******”


Kejora duduk memeluk lututnya, disudut kamarnya dia menangis mengingat ucapan pria di club tadi. Benar adanya jika dia adalah ******* yang mungkin merusak keharmonisan rumah tangga seseorang. Tapi, ini bukan keinginan dia.


Dia sangat membenci pekerjaannya itu, bahkan sudah berapa kali dia berusaha membunuh dirinya agar semua ini bisa berhenti. Tapi dia masih percaya Tuhan membenci hal itu, dan dia ingin setidaknya bertemu kedua orang tuanya walau saat ini surgapun tak mungkin menerima wanita hina sepertinya.


Dia terisak menggenggam foto ayah dan ibunya, tatapannya buram karena air matanya kerap menetes diwajahnya. “Apakah ada tempat disana untuk wanita sepertiku?” tanyanya mengusap wajah kedua orangtuanya dengan kedua ibu jarinya. Dia melirik ketika ada pemberitahuan diponselnya.


 


Aku ingin bertemu denganmu,


jika boleh besok pagi jam 9 aku kesana.


Kejora mengusap air matanya sebelum membalas pesan tersebut. Dia tak bisa menghindar terus dari Angga. Bagaimanapun dia sudah setuju untuk membantu Angga, dan juga semakin banyak informasi yang ia sampaikan, semakin mudah bagi Angga menemukan petunjuk yang dibutuhkannya.


***


 


“Aku belum mendapatkan informasi terbaru, kenapa kau ingin sekali bertemu denganku?” Ujar Kejora dan membuat Angga yang tadinya sedang membaca menu seketika melihat kearahnya.


“Aku...” Angga terdiam karena ragu apakah Kejora akan terima alasannya atau tidak, “aku hanya ingin mengobrol denganmu.” lanjutnya, Kejora hanya memutar bola matanya.


“Aku juga punya kesibukan lain.” Angga menapakkan ekspresi kecewanya, membuat Kejora menghela nafas dan mengambil buku menu untuk mulai memesan makanan.


“Oh! Ternyata selain mainan Dimas, wanita ini juga mainanmu?” Angga menoleh kearah seseorang yang berdiri disamping mejanya, dia terbelalak melihat sosok itu, orang itu hanya tersenyum sinis.


“Wanita rendahan ini punya ajian apa sih?” Tanyanya seraya menunjuk kearah Kejora. “Apa maksudmu Bar?” Tanya Angga sedikit tersinggung dan Kejora menjadi tak nyaman karena keberadaan Barra.


“Apa kau tak tau jika dia seorang *******?” tanya Barra menunjukkan ekspresi jijik kearah Kejora, Angga berdiri menyamai rata pandangannya.


“Diam, atau kubungkam mulutmu dengan ini.” ujar Angga menunjukan kepalan tangannya, Barra hanya mencibir, melihat kearah Kejora dia dengan sengaja menyenggol gelas berisi air minum Kejora, menyebabkan gelas itu tumpah dan membasahi celana panjang Kejora, seketika Kejora berdiri dan meraih lap tangan untuk mengusapnya.


Angga mendorong tubuh Barra, kali ini mereka mendapat perhatian semua pengunjung resto. “Percuma kau bersihkan badanmu, bahkan air sucipun tak akan bisa membersihkan kotoran dibadanmu!” Caci Barra dan membuat Angga murka, dia memukul Barra tepat diwajahnya.


Terjadilah keributan dan mendatangkan manager resto, dan petugas keamanan disana. “Ada apa? Mohon jangan membuat keributan disini.” ujar Manager dan Barra hanya menatap tajam kearah Angga, “kita pergi darisini, aku kehilangan selera makan hanya karena melihat wanita ini!” Ucap Barra ke teman-temannya dan disetujui oleh mereka.


Sebelum pergi Barra mendekat kearah Angga “kau dan Dimas apakah berbagi mainan yang sama? Cihh.. Menjijikkan.” Angga siap menyerang Barra tapi tangannya ditahan Kejora, Barra hanya melirik kearah Kejora dengan tatapan sinis.


“Tunggu saat yang tepat aku akan datang membunuhmu.” Ujarnya dan kemudian pergi berlalu dari mereka. Angga mengikuti kepergian Barra dan teman-temannya dengan ekor matanya.

__ADS_1


"Kurang ajar sekali mereka." Kesal Angga kemudian melihat Kejora yang terdiam berdiri disampingnya. "Kita pulang saja ya." Ujar Angga mengajak Kejora pergi dan dijawab anggukan pelan oleh gadis itu.


-bersambung-


__ADS_2