
Angga menatap Kejora yang menjadi diam karena peristiwa tadi. “Kau kenal Barra?” tanya Angga dan Kejora hanya menggeleng “tapi aku kenal ayahnya.” Jelas Kejora pelan dan Angga kaget “Pak Baskara?” tanyanya dan dibalas anggukan oleh Kejora.
“Ingat ketika aku bilang, aku hanya pelayan milik Madam Den yang disediakan khusus untuk seseorang? Orang itu adalah Pak Bas.” Angga terperanjat mendengar itu, hatinya seolah diterjang ribuan sembilu yang menusuk dan menyayatnya.
Angga mencengkeram erat kemudi mobilnya, “jadi ******** tua itu yang menjadi klienmu.” ujarnya penuh emosi karena menghadapi kenyataan jika orang yang selama ini menyentuh tubuh Kejora adalah pria tua yang dia kenal.
Pak Baskara adalah rekan satu perjuangan Pak Wira ketika mereka masih menjadi mitra kerja di perusahaan kontruksi milik bersama. Namun Pak Baskara sering bermain kotor bahkan kerap menggelapkan dana perusahaan yang membuat Pak Wira mau tak mau harus memutus hubungan kerjasama tersebut, walau itu adalah sahabatnya.
Sampai saat ini tak bisa dielak jika Pak Baskara sangat membenci ayah Angga, kadang Angga berpikir apakah masalah itu yang menjadikannya ayahnya menyembunyikan identitas dia sebagai anak kandungnya, karena khawatir kemungkinan akan terjadi hal tak terduga sebagai upaya balas dendam.
“Apakah dia ada hubungannya dengan Madam Den?” Kejora kembali mengangguk “aku tahu soal PT Wijaya Farma itu, karena saat itu aku bersama mereka.” Angga memijat keningnya, dia mulai memasang satu persatu potongan puzzle di kepalanya.
Begitu banyak orang yang terkait dengan Madam Den, membuatnya berpikir jika ada bisnis besar dan terlarang yang sedang mereka jalankan. Untuk apa Madam Den memiliki kerjasama dengan perusahaan farmasi? Apakah kasusnya masih sama dengan kasus narkoba diperusahaan farmasi miliknya di negara asalnya? Lalu kenapa sampai seorang Pak Baskara dan Pak Bambang seorang mantan gubernur membantunya? Apakah itu penyebab mengapa bisnis Madam Den masih berjalan mulus.
Angga membuang nafas kemudian bersandar dan memejamkan matanya “Aku benci membayangkan pria tua itu menyentuhmu!” ujarnya masih dengan posisi yang sama “ku antar kau pulang, aku ingin bertemu seseorang.” Kejora hanya diam dan mengangguk, sepanjang perjalanan sampai di rumah Kejora mereka tak banyak mengobrol, Angga sedang memikirkan beberapa kemungkinan tentang apa yang sedang mereka rencanakan, dia menyusun begitu banyak hipotesa dikepalanya. Kejora merasa diamnya Angga begitu mengusik hatinya, sedih karena harus bercerita hal yang pasti menyakiti hati Angga.
"Istirahatlah, aku pergi." Ucap Angga ketika mereka benar-benar didepan gang rumah Kejora, gadis itu menghela nafas, ingin rasanya mengutarakan banyak hal tapi dia takut, dia takut jika hal itu diketahui Angga, akan membuat dia semakin sulit melupakan perasaan miliknya itu.
“Satya, bisa bantu aku mencari bisnis baru yang dijalankan oleh Baskara Kusuma? Selain perusahaan kontruksi dan pabrik gula.” Ujar Angga lewat telpon ketika dia selesai mengantar Kejora ke rumahnya. “Kalau bisa sekarang.” lanjutnya ketika mendengar Satya menjelaskan kondisinya. “Kita ketemu di rumah ya.” Angga menutup telponnya dan menggulirkan layar ditangannya mencari kontak lainnya lalu memencet panggil.
“Ayah dimana?” Tanyanya ketika tersambung “aku kesana boleh? Ada yang mau disampaikan.” Mengetahui ayahnya saat ini berada di kantor gubernur, ada kemungkinan Angga tak diperbolehkan untuk kesana. “baik jam 2 aku kerumah” Angga melihat arlojinya yang masih menunjukkan pukul 11 siang. Dia berpikir sejenak, rencananya untuk sarapan bersama Kejora jadi gagal total, lalu dia teringat sesuatu dan mengirim pesan singkat ke Kejora.
Jangan lupa makan, tadi kita gagal sarapan ^^
Angga melakukan mobilnya pulang kerumahnya menunggu ayahnya pulang dari kantor gubernur.
***
“PT Wijaya Farma berhasil berada dibawah kita,” ujar Madam Den menyeruput perlahan minuman merah gelap digelasnya, “untuk Kepala Polisi itu, bagaimana?” Tanya seorang berbadan gempal yang adalah Pak Baskara. Madam Den tersenyum licik, “lihat saja dia akan bertekuk lutut kepada kita, kartu miliknya ada ditanganku, dia tak akan bisa mengelak.” Ujarnya dan membuat Pak Bas tertawa puas.
“Kau jebak seperti apa si Wisnu Cahyadi itu, kau tahulah dia sangat anti bermain kotor, apalagi perusahaan farmasinya itu selalu bebas dari isu negatif?” tanya Pak Bas penasaran, karena Wisnu Cahyadi bukan orang yang mudah untuk diajak kerjasama dibisnis gelap ini.
“Apasih kelemahan seorang pria yang lama menduda? Kalau bukan seorang perempuan muda nan cantik.” Ujar Madam Den “Kujebak dia dengan video ranjangnya bersama salah satu anak asuhanku.” Lanjutnya sembari menikmati segelas minuman anggur ditangannya.
“Tunggu, bukan nona manisku kan?” Madam Den meneguk minumannya dan mengode pelayannya untuk menuangkan lagi anggurnya “dia hanya untukmu” jelasnya membuat Pak Bas tersenyum lebar.
“Jangan berikan dia kepada siapapun, dia hanya milikku.” Madam Den hanya tersenyum, “dia memang untukmu tapi bukan sepenuhnya milikmu, kau harus sadari itu.” Jelas Madam Den menbuat Pak Bas mendengus kesal “kau jual berapa dia untukku?” Mendengar itu Madam Den melempar gelas minumannya kearah samping Pak Bas membuat pria tua itu kaget karena suara gelas yang pecah terlempar.
__ADS_1
Madam Den menatap tajam membuat Pak Bas menciut nyalinya “jangan melewati kesepakatan, jangan melewati garisku karena kau tetap dibawah kendaliku, dan jangan sesekali berpikir anak asuhku adalah barang dagangan, aku memang membuat dia melayanimu tapi dia bukan seperti ******* yang bisa bebas kau beli diluar sana.” Pak Bas hanya diam dan menelan ludah melihat perubahan diwajah wanita tersebut.
Madam Den kembali menerima segelas anggur merah yang diserahkan oleh pelayannya. “Bahan Baku popiv akan mulai kupasok besok melewati pelabuhan menggunakan perut tuna sirip kuning. Pastikan gudang dipabrikmu itu tidak dicurigai setelah aku berhasil mengambil isi dari perut ikan itu.” Pak Bas mengangguk “aku sudah menyediakan ruang khusus untuk pembuatan popiv. Tentunya tersembunyi dan tetap terlihat seperti pengolahan gula.” Madan Den mengangguk setuju.
"Bagus, jangan lupa selalu update info dari sekertaris negara dan keadaan anaknya ketika kau berhasil menghubunginya, karena jika aku yang menghubunginya dia akan bawel dan terus bertanya tentang antidote itu." Suruh Madam Den dipatuhi oleh Pak Bas. "Kau percayakan saja padaku Bu Sandra."
***
“Jadi? Ada apa?” Tanya Ayah Angga ketika masuk ke ruangan dan melihat Angga sedang duduk menunggunya. “Apa yang mau kau bicarakan?” Tanya Ayah Angga seraya melepas jas hitamnya dan menggantungnya dikursinya, dia duduk di sofa tepat didepan Angga duduk, “pemilik club itu benar-benar berbahaya..” “ Apa kau mundur?” potong Ayah Angga, dan dibalas gelengan cepat “bukan begitu, aku ingin melaporkan sesuatu yang mungkin belum ayah ketahui.” Ayah Angga memiringkan kepalanya menatap bingung kearah Angga.
“Madam Den ada hubungan dengan Pak Baskara dan Pak Wisnu Cahyadi, juga kepemilikan dari starynight adalah Pak Bambang Haryono mantan gubernur sebelum Ayah.” Ayah Angga membulatkan matanya,
“Wisnu? Bermain dengan mereka? Kalau si Bambang aku tidak heran, memang dari awal orang itu suka sekali bermain kotor.” Pak Wira mengusap dagunya, “aku perlu meneliti sesuatu, apa kamu masih mau melanjutkan misi ini?” Angga mengangguk yakin, Pak Wira mengangguk pelan “Madam Den memiliki perusahaan berbasis farmasi di Filipina, ada kemungkinan keterkaitan antara Wisnu dan dia berhubungan dengan obat, bahkan bisa jadi seperti kasus sebelumnya, narkoba.” Jelas Pak Wira dan disambut anggukan oleh Angga karena dia juga menduga akan hal itu.
“Bahkan lebih buruk dari itu, dia memiliki jaringan yang hebat untuk bisnis kotornya, karena itu walau dia selalu berbuat ulah, dia sangat licin untuk ditangkap." Pak Wira menghela nafas kemudian menatap Angga dengan seksama membuat lelaki muda didepannya itu menjadi sedikit gugup, biasanya ayahnya akan menatap seperti itu jika Angga berbuat salah.
“Aku mau tanya, jawab jujur." Suara pelan namun tegas itu memberikan sedikit kepanikan didalam diri Angga, darahnya terpacu kencang seolah ayahnya akan melontarkan pertanyaan berbahaya. Dia hanya bisa menelan ludah.
"Apa kamu masih berhubungan dengan ******* itu?” Angga tertegun mendengar pertanyaan ayahnya, sejenak kemudian mengangguk “dia informanku dari dalam club” jelasnya pelan, Pak Wira menatap Angga “tetap hati-hati walau kau percaya dia, bagaimanapun dia anggota mereka.” Angga menggeleng “dia setuju membantuku karena dia ingin bebas dari jeratan wanita itu.”
Pak Wira bersandar dan menopang kepalanya dengan tangan kirinya seraya melonggarkan dasinya “kau tetap waspada, jangan mudah percaya orang.” Angga mengangguk mendengar nasihat dari ayahnya. Ada perubahan ekspresi dari wajah ayah Angga seolah teringat momen yang menghancurkan kepercayaannya, entah apa itu, Angga tak mengerti. Dia hanya menatap lelaki yang mulai menua itu hanya menyandarkan kepalanya seraya menutup mata. "Baiklah jika begitu aku kembali ke Jogja." Pak Wira mengangguk dan mempersilahkan Angga pergi. "Semakin kau percaya seseroang, semakin sakit ketika kau kecewa terhadapnya." Ujar Pak Wira pelan, "dan jangan sampai kau merasakan itu juga nak."
"Masuk."
“Pak, kami sudah menemukan yang Bapak minta.” Ujar ajudan Pak Wira seraya menyerahkan amplop besar berwarna coklat kayu. Pak Wira membuka secara perlahan dan membuka satu persatu lembaran itu. Memasang wajah seolah tidak menyukai isi dari map itu.
“Sudah ku duga ini ada hubungannya dengan obat terlarang. Popiv dari OpiumZ.” Guman Pak Wira membaca setiap halaman dari lembaran tersebut. “Sudah ada penggunannya? Apa sampel mulai disebarkan?” Guman Pak Wira lagi ketika membaca laporan tentang pengguna popiv yang menunjukkan fase kecanduan.
Dalam laporan dijelaskan jika mereka para pemakai, menggunakan obat tersebut karena mengira itu adalah suplemen otak dan otot yang membantu kinerja otak serta otot, dan memang benar.
Untuk awal penggunaan si pengguna akan mendapatkan lonjakan energi yang hebat sehingga memaksimalkan kinerja otak membuat daya fokus menjadi maksimal dan daya ingat menjadi bagus. Begitu juga untuk otot, energi yang maksimal tersebut dapat digunakan seperti doping yang mampu menjadikan pengguna tak kehabisan energi.
Tapi penggunaan selanjutnya, jika tak mengkonsumsi popiv, tubuh menjadi lemas dan otak sulit untuk berpikir dengan baik. Kemudian memperpanjang penggunaan mengakibatkan fungsi tubuh dan otak memburuk dan hampir menyerupai zombie.
“Ini, kamu simpan dulu, sekarang cari tahu hubungan antara Wisnu dan Sandra.” Jelas Pak Wira dan dipatuhi oleh ajudannya. “Dan juga, kirim surel ke dia. Apakah dia tahu tentang hal ini?” Ajudan Pak Wira terlihat bingung, “Anita, tanyakan pada temannya itu apakah Anita tahu soal popiv ini.” Lanjut Pak Wira melihat ekspresi dari ajudannya yang merupakan orang terbaik kepercayaannya sebagai penggali informasi selain Angga.
Ajudan Pak Wira terlihat kaget karena sudah sekian lama mendengar nama Anita keluar dari mulut atasanya. Setelah ajudannya pergi, Pak Wira terlihat termenung seraya menopang dagu. “Anita...” gumannya pelan dan tersenyum kecil.
__ADS_1
kilas balik
“Aku harus pergi, aku tak ingin mereka menemukan anak kita.” Jelas seorang wanita terlihat panik mengemasi barang-barangnya.
“Anita, lalu bagaimana dengan aku dan Awan?” Jelas pria dihadapannya tapi wanita itu tetap mengemasi beberapa barangnya.
“Aku sudah ditunggu. Maafkan aku Wira, aku harus pergi, ini semua demi keselamatan aku, kamu dan Awan.” Jelasnya menatap pria tersebut dengan mata berkaca-kaca, Pria itu hanya terdiam.
“Ketika mereka datang, usirlah aku seolah aku dan kamu sudah tak ada apa-apa.” Jelas wanita tersebut membuat sang pria menghela nafas panjang seolah berat mengikuti kemauan wanitanya itu.
“Kumohon...” lanjutnya menggenggam tangan sang pria dan mengecupnya pelan, kemudian sang pria mengangguk.
Berat, dia tak menyangka jika selama ini istri kesayangannya adalah seorang putri dari ketua terakhir klan besar Kuda Sembrani, siapa yang tak kenal Kuda Sembrani? Klan yang memiliki pengaruh besar, kisah mereka yang dahulunya adalah keturunan dari Raja Majapahit kuno yang pernah menguasai bumi nusantara. Anita kabur bersama pengasuhnya ketika terjadi pemberontakan besar dari dalam klan tersebut, pamannya yang adalah adik dari ayahnya menginginkan kursi kekuasaan tersebut membuat makar dan mengacau.
Kini masalah itu sudah selesai dan ayah Anita sedang membutuhkan seorang pewaris, karena itu dicarilah Anita yang merupakan anak tunggal dari ketua terakhir klan. “Apa kau sungguh harus melanjutkan kekuasaan itu?” Anita termangu kemudian mengangguk “jika tidak, aku, kamu, anak kita bahkan semua anggota klan akan mati karena tak ada pemimpinnya.” Wira kaget mendengar itu, “mengapa?” “untuk apa sebuah kapal berlayar jika tak ada nahkoda? Dan untuk apa guna kapal jika dia tak berlayar? Lebih baik tenggelam. Itu adalah semboyan kami.”
Wira mengusap wajahnya “lalu bagaimana dengan Awan? Mereka sudah tahu aku, apa yang harus aku lakukan?” Anita mengintip celah jendela sebelum berjalan mendekat.
“Ganti namanya dan hapus dari daftar keluarga. Ayo kita mulai mereka sudah tiba.” Anita segera turun kebawah diikuti Wira dan setelah pintu utama dibuka terjadilah pertengkaran yang memang sudah mereka rencanakan.
“Pergi kau dari rumahku! Aku tak sudi memiliki istri sepertimu! Kau pembohong, aku tak menyangka kau membodohiku selama ini.” Bentak Wira kearah Anita yang duduk tersimpuh kemudian dihampiri oleh beberapa orang yang berdiri di luar pagar “jangan kau kembali!” Anita dibantu oleh kawanan orang tersebut kemudian salah satunya berdiri menatap Wira.
“Jangan.." Anita meraih ujung jas pengawal tersebut, "jangan sakiti dia, kumohon.” Ujar Anita memohon.
“Tapi Nyonya, suami Anda memperlakukan Anda dengan buruk.” Anita menggeleng “dia bukan lagi samiku.” Perasaan tersayat yang teramat sakit hanya bisa disembunyikan dengan wajah marah Wira, meratapi kenyataan jika mereka harus berpisah dengan cara ini hanya karena klan keluarga istrinya, Anita.
Wira mengusap air matanya yang menetes ketika melihat mobil yang dinaiki oleh Anita melaju pergi, air mata yang sangat jarang sekali terlihat itu, menetes dari mata seorang Wiratmaja Pratama. Air mata itu menetes karena melepas kepergian wanita tercintanya, istrinya.
akhir kilas balik
Pak Wira menghela nafas panjang mengingat masalalu yang menjadi rahasia besar hidupnya. Pak Wira tahu soal kekuasaan dari klan Kuda Sembrani, memang klan itu tak bisa diakses secara umum oleh masyarakat.
Dia berhasil mencari tahu karena ingin mengetahui kabar terbaru dari istrinya yang saat ini memegang kuasa penuh dari klan tersebut dan sudah menikah dengan salah satu anggota klan untuk menyiapkan sang pewaris.
Hancur hati Pak Wira mengetahui hal itu, dia bertahan dengan kesendiriannya setelah istrinya pergi mengemban tugas sebagai ketua klan yang baru. Tapi, ternyata istri yang dicintai sudah dimiliki oleh orang lain. Itulah yang membuatnya membenci sekaligus mencintai mantan istrinya.
Pak wira tersenyum kecut kemudian memasukkan kembali kotak kecil berisi foto dia dan mantan istrinya bersama Awan anaknya yang kini adalah Angga yang terdaftar sebagai anak asuh yang dia angkat dari pembantunya.
Dunia hanya tau jika anak dan istri Pak Wira meninggal karena kecelakaan besar, walau Angga mengetahui kebenaran sesungguhnya jika Ibunya belum mati, dia pergi karena diusir oleh ayahnya. Saat itu dia melihat karena pertengkaran yang merupakan sandiwara kedua orangtuanya itu membangunkannya.
__ADS_1
Angga kecil yang saat itu berusia 8 tahun hanya bisa menangis menatap pertengkaran ayah dan ibunya, dia tidak memahami mengapa kedua orangtuanya harus saling berpisah. Ibunya pergi meninggalkan dia dan ayahnya. Tumbuh tanpa sosok ibu, menjadikan dia pria yang pendiam dan dingin. Kenyataan keluarga Angga yang sama sekali tidak diketahui oleh Angga.
-bersambung-