
Aku tak pernah merasa sebodoh ini sebelumnya. Memberi maaf seseorang ternyata hanya sama saja membiarkan dia melukai kita, lagi.
Dulu Bintang sering meminta maaf padaku. Dan aku selalu memaafkan dirinya hanya karena alasan aku menyukainya.
Namun untuk kali ini, apa aku masih bisa memaafkan dia?
Aku sudah memantapkan hati. Keisha bilang, jika aku keluar dan menemui Bintang itu artinya aku harus siap mendengar apapun yang nanti akan dia ucapkan, sekalipun itu membuat hatiku sakit kembali.
Sekarang aku berjalan menuruni tangga dengan membawa handuk dan juga payung yang tadi telah aku siapkan. Sebelum membuka pintu, sekali lagi aku menarik nafas panjang untuk menetralkan hatiku.
Begitu pintu telah terbuka, aku bisa melihat Bintang yang sudah basah kuyup di depan sana. Mungkin sudah ada satu jam lebih dia berdiri di tengah derasnya hujan seperti itu.
"Lo mau apa lagi sih? Dengan lo kayak gini juga nggak bakalan ngurangin rasa kecewa gue sama lo, Bintang." Ucapku dengan perasaan kesal.
Bintang meraup wajahnya yang sudah basah dengan satu tangan. Aku bisa melihat bibirnya yang sekarang berubah biru dan bergetar. Bintang pasti sangat kedinginan.
Padahal dia bisa saja menungguku di teras tanpa harus kehujanan begini. Kenapa dalam sudut hatiku malah ada perasaan terkesan disana? Melihat pengorbanan Bintang yang seperti ini membuat sedikit hatiku menjadi luluh. Apa itu juga yang mendorongku untuk melangkah keluar dan menemuinya saat ini?
Bintang maju selangkah. Dia langsung menggapai satu tanganku yang bebas tanpa memegang apapun. Saat itu juga aku bisa merasakan tangannya yang dingin itu.
"Lo harus percaya sama gue Ra. Gue nggak nyium Dara malam itu."
Dara? Jadi perempuan itu bernama Dara.
"Gue liat dengan mata kepala gue sendiri, Bint. Lo ciuman sama dia. Lo kenapa jahat banget sih jadi orang? Lo pikir perasaan gue bisa lo buat mainan?"
Aku menggibaskan tangan Bintang. Rasa sesak masih mendominasi hatiku saat ini.
Bintang lalu mengacak belakang rambutnya begitu frustasi.
"Tapi sumpah gue nggak cium dia Ra. Dia jebak gue. Dia bikin kita seolah-olah lagi ciuman. Padahal sebenarnya enggak."
Entah mana yang akan aku percaya sekarang. Tapi dari sorot mata Bintang memang tidak ada kebohongan disana. Apa memang benar dia tidak mencium perempuan itu?
"Dara itu temen kuliah gue. Malam itu gue nggak sengaja ketemu dia saat gue mau ngambil minuman. Dia bilang kepalanya sangat pusing saat itu, dia nyuruh gue buat anterin dia ke mobilnya. Gue kasihan makanya gue tolongin dia. Nggak taunya dia malah ngejebak gue. Dan lo dateng. Percaya sama gue Ra. Gue nggak ada niat buat nyakitin lo."
Bintang berusaha menjelaskan semuanya. Aku yang berada di depannya hanya bisa terpaku sekarang. Memikirkan semua ini membuat kepalaku mendadak pusing. Sebenarnya aku juga tidak yakin jika Bintang akan berbuat sejahat itu kepadaku. Tapi kenapa perempuan bernama Dara itu seolah-olah sengaja membuat semuanya seperti adegan ciuman? Dan dari mana dia bisa mendapatkan nomorku?
"Kalo lo masih belum percaya, coba lo rasain ini,"
__ADS_1
Bintang meraih tanganku kembali lalu menempelkannya tepat di dadanya.
"Pemilik hati ini cuma elo doang Ra. Gue udah jatuhin hati gue cuma buat lo. Nggak ada orang lain yang bisa gantiin lo disini." Ujar Bintang sambil menatapku intens.
"Tapi kenapa perempuan bernama Dara itu ngelakuin itu? Maksud dia apa?" Tanyaku lirih.
Bintang menggeleng pelan. "Gue juga nggak tau. Tapi dia bilang suka malam itu ke gue. Dan gue nolak dia."
Mendengar itu hatiku menjadi panas kembali. Sontak aku menarik tanganku dari genggaman Bintang tadi.
"Terlalu banyak, Bint. Terlalu banyak perempuan yang mau dapetin hati lo. Dulu Natalie, terus Bulan, dan sekarang Dara. Gue nggak tau apa gue masih kuat buat bertahan. Gue capek,"
Kali ini tangisku kembali pecah. Meski perasaanku kepada Bintang sudah berbalas ternyata masih ada saja masalah lain yang datang.
Bintang menangkup wajahku dengan ke dua tangannya. "Lo nggak perlu mikir itu Ra. Nggak peduli seberapa banyak orang diluar sana yang mau ngehancurin kita. Lo cukup genggam tangan gue. Kita hadepin sama-sama."
Aku mengangguk lemah. Aku bisa membaca sorot mata Bintang yang sedikit lega. Dia tersenyum, lalu memelukku dengan erat. Hingga aku bisa merasakan tubuh Bintang yang bergetar kedinginan.
"Lo mau kan, jauhin Dara demi gue?" Tanyaku setelah melepas pelukan Bintang.
"Tanpa lo minta gue akan jauhin semua cewek buat jaga perasaan lo. Asal lo selalu percaya sama gue."
***
Keisha menghela nafasnya pasrah. "Yaudah ntar gue deh yang izinin lo sama guru. Tapi bener lo udah baikan sama dia?"
Aku mengangguk singkat.
"Dia udah jelasin semuanya semalam. Dan emang Daranya aja yang ngebuat adegannya seolah-olah lagi ciuman sama Bintang. Biar gue cemburu mungkin."
"Siapa lagi Dara?" Keisha bertanya heran.
"Perempuan yang gue ceritain kemarin itu ternyata namanya Dara. Temen sekampus Bintang. Dan Dara suka sama Bintang."
Keisha hanya manggut-manggut sekarang. "Terus dari mana dia tau kalo lo itu deket sama Bintang?"
"Itu yang masih jadi pertanyaan. Dan darimana juga dia bisa tau nomor gue."
"Ada yang nggak beres nih kayaknya. Lo perlu ati-ati sama yang namanya mie burung Dara itu," ujar Keisha yang sekarang ikut duduk di tepi kasur.
__ADS_1
Mendengar julukan yang Keisha berikan pada perempuan itu seketika membuatku terkekeh sendiri.
"Gue serius loh, malah diketawain lagi. Lo harus ati-ati," ucap Keisha melotot tajam.
"Iya. Gue bakalan inget sama omongan lo. Yaudah lo sana berangkat,"
"Dih, malah ngusir. Bilang aja lo mau berduakan sama Bintang, ya kan? Ngaku lo!" Keisha menunjuk wajahku dengan jarinya.
"Apaain sih. Enggak gitu, Kei."
"Alah, masih ngeles aja lo. Yaudah gue berangkat deh."
Akhirnya aku mengantarkan Keisha sampai di teras. Setelah mobil Keisha meninggalkan pekarangan rumah, barulah aku menuju kamar dimana Bintang sedang beristirahat sekarang.
Semalam dia memang aku suruh menginap disini. Tidak tega juga membiarkan dia harus pulang dengan keadaan basah kuyup seperti itu. Pasti Om Dana dan Tante Marisa bisa cemas.
Setelah membuka pintu kamar ternyata Bintang sudah bangun dan posisinya sudah duduk menyender pada kepala ranjang.
"Lo udah baikan?" Tanyaku yang langsung duduk di samping Bintang.
"Udah. Lo nggak sekolah?" Tanya Bintang yang keheranan karena aku masih mengenakan baju piyama.
Aku menggeleng. "Mana mungkin gue ninggalin lo dalam keadaan sakit begini?"
Bintang mengulum senyumnya. Dan itu adalah pemandangan yang langka sekali.
"Gue udah baikan." Ujar Bintang lagi berusaha meyakinkan.
"Coba sini gue cek demam lo,"
Aku menggeser posisi dudukku untuk mendekat. Menempelkan punggung tanganku di dahi Bintang untuk mengecek apakah panasnya sudah turun.
"Iya nih. Panas lo udah turun,"
Tiba-tiba saja tanganku langsung di tarik oleh Bintang secara perlahan. Bintang menatapku dalam diam. Entah apa yang ingin dia katakan kali ini. Aku hanya menunggunya sambil menikmati debaran jantungku sendiri.
"Lo belum kasih gue jawaban soal waktu itu Ra,"
Deg.
__ADS_1
Apa ini adalah waktu yang tepat untuk memberi jawaban? Bukankah ini yang memang aku tunggu sejak dulu, namun entah datang dari mana perasaan ragu itu yang seperti membungkam mulutku.
***