Bintang Kejora

Bintang Kejora
Bukit


__ADS_3

Pertemuanku dengan Tante Marisa beberapa jam tadi masih membuatku duduk mematung di cafetaria. Aku masih syok. Aku bahkan mengacuhkan beberapa tatapan aneh pengunjung lain yang melihatku menatap kosong meja di depanku.


Air mata ini entah kenapa tak kunjung berhenti juga. Untuk kesekian kalinya aku mengusap sisa-sisa air mataku yang masih membasahi pipi. Aku juga sempat merasakan perih di ke dua lenganku. Mungkin karena cubitanku sendiri yang aku lakukan sejak tadi. Entah berapa kali juga aku melakukan itu, berharap ini hanya sebuah mimpi buruk dan saat aku mencubit tanganku aku bisa terbangun. Namun lagi-lagi ini nyata.


Hari sudah menjelang sore. Dengan rintikan hujan yang tiba-tiba datang aku keluar dari cafetaria itu dan melangkahkan kakiku menyusuri ruas jalan. Beberapa orang aku lihat sedang berlarian mencari tempat untuk meneduh karena guyuran hujan yang semakin deras.


"Mama, mama! Lihat deh orang itu. Kok dia malah ujan-ujanan sih? Kasihan banget."


Samar-samar aku mendengar seorang anak laki-laki berteriak kencang saat aku tidak sengaja melewati sebuah halte yang sudah dipenuhi beberapa orang-orang.


Langkahku terpaksa berhenti. Aku melirik ke arah samping dimana anak laki-laki itu berdiri heran bersama mamanya.


"Neng! Neduh disini dulu, nanti neng bisa sakit kalo ujan-ujanan gitu!" Teriak ibu paruh baya yang aku ketahui adalah mama dari sang anak laki-laki tadi.


Aku hanya membalasnya dengan seulas senyum. Melanjutkan langkah kakiku kembali untuk segera mencari taksi. Meskipun pulang bukanlah pilihan yang tepat, namun aku tahu Bintang pasti sedang menungguku. Bintang akan menghawatirkanku.


Satu jam lebih berada di dalam taksi dengan berbagai pikiran yang masih bercabang. Sebuah suara milik bapak-bapak sopir taksi itu terdengar. Aku segera turun dan memberikan uang sesuai argonya.


Langkah gontaiku membawaku menuju pintu gerbang. Dan saat sampai di pintu utama aku melihat seorang laki-laki sedang berdiri mematung dengan wajah khawatirnya.


"Kejora," panggilnya dengan nada lembut tapi juga penuh kecemasan.


"Kenapa basah kuyup kayak gini? Lo sengaja mau ujan-ujanan? Kenapa nggak kasih gue kabar? Lo tahu gue sangat khawatir," Lagi. Dia melontarkan sederet pertanyaannya. Entah kenapa saat Bintang khawatir seperti ini aku menjadi sangat senang. Dan dia juga menjadi cerewet secara tiba-tiba.


"Gue baik-baik aja, Bintang."


"Tapi lo tetep salah. Harusnya lo nggak ujan-ujanan kayak gini. Gimana kalo lo sakit?" Tanya Bintang yang membuatku tersenyum tanpa sadar.


"Kalau gue sakit, lo pasti nggak akan cuek lagi. Gue jadi bisa dapetin perhatian lo setiap hari."


Bintang mengusap pipiku pelan. Membersihkannya dari sisa-sia air hujan yang tadi sempat membasahiku.


"Perhatian gue udah sepenuhnya ke elo, Ra. Jadi jangan mikir harus sakit dulu biar gue perhatiin."


Lagi-lagi aku hanya bisa senyum. Terlalu senang melihat Bintang yang sekarang bisa sedekat ini dan seperhatian ini. Tapi saat mengingat permintaan Tante Marisa tadi siang senyumku langsung memudar.


"Sekarang lo mandi dan ganti baju." Titah Bintang.


Aku mengangguk dan menurut. Bintang memapahku untuk menaiki tangga menuju kamar. Setelah Bintang pergi aku langsung mandi dan menganti bajuku.


Selesai mandai aku duduk di kasurku. Mataku rasanya masih sangat perih. Mungkin karena aku baru saja menangis seharian dan terkena air hujan barusan. Beberapa menit kemudian pintu kamarku seperti di ketuk oleh seseorang. Hingga Bintang tak lama muncul di balik pintu sambil membawakan nampan yang entah isinya apa.


"Lo beneran nggak pa-pa? Wajah lo pucat. Mata lo juga merah," tanya Bintang setelah menaruh nampan itu di nakas.


Aku menggeleng pelan. Sekuat mungkin aku menahan air mataku agar tak jatuh di depan Bintang sekarang. Semakin Bintang perhatian begini rasanya hatiku seperti diremas perlahan.


"Terus ini kenapa bisa merah kayak gini? Nggak sakit?" Pertanyaan Bintang kembali terdengar. Kedua tangannya sudah memegang tanganku. Ternyata bekas cubitan kuku tadi siang belum hilang juga. Pantas saja saat mandi tadi sangat perih. Aku sampai tidak menyadarinya.


"Ini...Nggak pa-pa kok. Nggak sakit."


"Ada yang nyakitin lo?" Bintang mengintrogasi.


Aku menggeleng.


"Ada yang lo sembunyiin?" Bintang semakin menatapku dalam.


Aku menggeleng lagi.


"Lo bukan seperti Kejora yang gue kenal."


Aku mengerutkan alisku. Apa Bintang tahu aku sedang menyembunyikan sesuatu darinya?


"Lo pasti lagi bohong kan? Lo nggak pernah bisa bohongin gue, Ra. Karna seberapa pintar lo nutupin itu, mata lo ini nggak pernah bisa berkata bohong. Lo abis nangis?"


Tes.

__ADS_1


Satu air mata lolos sudah. Pertahanan yang aku bangun sudah goyah karena kalimat Bintang barusan. Apalagi tangannya mengusap wajahku pelan.


"Maafin gue. Tapi gue nggak bisa cerita. Bukan karena gue nggak percaya sama lo, Bintang. Gue cuma belum siap."


"Gue nggak nuntut lo buat cerita sekarang. Gue cuma mau ada di deket lo saat lo lagi sedih atau seneng. Gue cuma mau lo tahu, ada gue disini."


Aku menelusupkan ke dua tanganku diantara tangan Bintang dan memeluknya. Menyenderkan kepalaku di dada bidangnya. Hanya memeluk Bintang seperti ini rasanya hatiku perlahan menjadi tenang.


"Nangis aja. Nggak usah di tahan." Ucap Bintang sambil membelai rambutku yang masih basah.


Aku semakin menarik tubuh Bintang dengan erat. Mungkin malam ini adalah pelukan terakhirku dengannya.


"Apa Dara udah nyakitin lo?"


Aku menggeleng sebagai jawaban. Dan Bintang masih setia mengelus rambutku dengan sayang.


"Adira tadi cerita, katanya lo pernah digangguin Dara saat di toko boneka. Kenapa nggak bilang?"


"Gue lupa." Jawabku berbohong. Padahal waktu itu aku sengaja tidak menceritakannya kepada Bintang. Karena aku memang tidak ingin membahas Dara di depan Bintang.


"Gue bisa peringatin dia kalo dia berani macem-macem sama lo lagi." Ucap Bintang berganti mengusap pipiku.


"Nggak perlu, Bintang. Jangan terlalu benci sama dia."


Bintang yang mendengar ucapanku barusan lalu melerai pelukannya. Dia menatapku dengan heran. "Kenapa?"


"Kalo lo terlalu membenci dia takutnya lo nanti jatuh cinta sama dia."


"Lo ngmong apa sih, Ra?" Bintang tampak sedikit kesal.


"Seandainya Dara yang akhirnya menjadi jodoh lo, gue emang bisa apa?" Ucapku tanpa sadar dan keceplosan.


"Lo ngomongin apa sih, Ra? Gue nggak suka lo ngomong kayak gitu!" Bintang bangkit dari duduknya. Raut wajahnya penuh kekesalan.


"Gue bilang cuma seandainya."


Bintang melangkah lebar meninggalkan kamarku. Mungkin dia kesal karena perkataanku tadi sudah keterlaluan.


"Maafin gue, Bintang."


***


Waktu yang diberikan oleh Tante Marisa selama dua hari itu rasanya benar-benar menyiksaku. Di sekolah aku tidak bisa fokus sama sekali dengan pelajaran. Terhitung hari ini dan besok. Entah apa yang akan aku lakukan. Aku merasa bingung apakah aku harus membuat Bintang membenciku atau justru sebaliknya.


"Bintang," panggilku saat aku memasuki kamar Bintang yang pintunya tidak di kunci.


Bintang yang sedang memainkan gitarnya di atas kasur hanya menolehku sebentar.


"Gue boleh masuk?"


Setelah mendapat anggukan singkat aku melangkahkan kakiku untuk masuk. Aku duduk di tepi kasur Bintang. Dia kelihatan masih kesal.


"Lo masih marah?" Tanyaku memberanikan.


"Gue udah lupain. Nggak usah dibahas lagi." Jawabnya datar.


Aku menatap Bintang yang sama sekali tidak memandang ke arahku. Dia justru sibuk memetik senar gitarnya.


"Gue boleh nggak minta dianterin ke bukit?"


Petikan gitar yang dimainkan Bintang berhenti. Kali ini aku berhasil membuat Bintang mengalihkan fokusnya.


"Kenapa tiba-tiba lo mau kesana?"


"Lo nggak mau nganterin ya?" Tanyaku cemberut.

__ADS_1


"Yaudah. Lo siap-siap. Gue ganti baju dulu."


Aku tersenyum sumringah. "Lo nggak marah lagi kan?"


"Iya. Gue nggak marah." Bintang masih menjawab cuek.


"Kayak nggak ikhlas gitu. Lo juga nggak senyum tuh." Ucapku sambil menusuk pipi kiri Bintang dengan jari telunjuk.


Bintang akhirnya mau tersenyum dan mengacak rambutku dengan pelan.


Selesai bersiap-siap aku dan Bintang langsung berangkat menuju bukit. Meski hanya penuh dengan keheningan aku tetap menikmati kebersamaan ini. Berada di belakang jok motor Bintang. Bisa memeluknya dari belakang seperti ini. Aku takut jika ini benar-benar menjadi yang terakhir untukku.


Setelah perjalanan panjang akhirnya motor Bintang sampai juga di tujuan. Aku segera turun dari motor dan beberapa menit kemudian Bintang mengikutiku.


Seperti malam yang pernah aku lalui saat bersama Bintang dulu di tempat ini, kita hanya duduk di rerumputan hijau sambil memandang gemerlap ibu kota. Rasanya tak apa jika harus melewati malam bahkan hingga pagi disini. Asal ada Bintang yang menemaniku.


"Bintang," panggilku lirih.


Bintang hanya bergumam sambil menoleh ke arahku. Aku pun membalas tatapannya.


"Gue boleh nggak jadiin tempat ini tempat favorite gue juga. Entah kenapa gue jadi suka sama bukit ini," ucapku sambil tersenyum.


Bintang yang mendengar itu mengangguk kecil. Dia ikut tersenyum juga sebelum akhirnya kita berdua menikmati keindahan tempat itu kembali.


"Ra,"


Beberapa menit kemudian suara Bintang menginterupsi. Aku yang duduk di sampingnya langsung menoleh.


"Sampai sekarang lo belum jawab pertanyaan gue. Kenapa lo gantungin gue?" Tanya Bintang tiba-tiba.


Aku sangat paham arah pembicaraan Bintang kemana. Saat Bintang menyatakan perasaannya di villa Adira kemarin, aku memang belum menjawabnya sampai sekarang.


Niatnya aku akan mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya besok. Tepat di saat hari ulang tahunku. Tapi tepat saat itu juga hari terakhirku untuk bersama Bintang.


"Gue nggak mau hubungan kita nggak ada kejelasan. Gue juga mau tahu perasaan lo ke gue kayak gimana," ucap Bintang lagi.


Tatapan Bintang begitu penuh dengan pengharapan. Aku takut akan melukai perasaannya jika harus jujur tentang ini semua. Aku tidak ingin membuat Bintang kehilangan senyumannya.


"Bintang," panggilku lembut.


Bintang tidak menjawab. Dia menunggu aku melanjutkan kalimatku. Namun mulutku tak bisa berkata lebih. Aku ingin malam ini akan menjadi malam yang indah. Malam yang takkan terlupakan. Dan mungkin tak akan bisa terulang.


Aku merasakan ada sebuah keberanian yang kekuatannya sangat besar sedang menguasaiku. Membuatku tanpa sadar mendekatkan wajahku ke pada Bintang. Mengikis jarak diantara kita berdua. Hingga hembusan nafas Bintang sekarang bisa aku rasakan menerpa wajahku.


Keberanianku semakin menggila. Bahkan ke dua tanganku sudah terangkat untuk membingkai wajah Bintang yang hangat. Aku menarik wajah itu untuk semakin mendekat. Hingga bibirku sudah menempel dengan bibirnya yang kenyal.


Mataku terpejam rapat. Meski ciuman itu tanpa ******* tapi aku menikmatinya. Bintang pun juga tidak menolakku. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin malam ini berlalu dengan panjang.


"Ma-, maaf."


Sadar dengan apa yang aku perbuat tadi, aku segera menarik tubuhku menjauh. Aku menunduk salah tingkah. Apa yang baru saja aku lakukan tadi sunguh di luar akal sehatku. Bagaimana jika Bintang tersinggung?


Beberapa detik kemudian Bintang menarik daguku untuk menatapnya. Aku terpaksa mendongak mengikuti tarikan tangannya.


"Lo udah bikin gue kecanduan malam ini. Jadi lo harus tanggung jawab,"


Reflek mataku langsung memejam cepat saat Bintang menyatukan bibirnya dengan bibirku lagi. Aku bisa merasakan jemarinya menelusup disela-sela rambutku.


Perlahan Bintang ******* bibirku pelan. Gerakannya sangat lembut. Membuatku semakin tidak ingin melepaskannya. Tanganku sudah melingkar di lehernya tanpa sadar. Mungkin Tuhan akan mengutukku setelah ini.


"Janji untuk selalu bersama gue, Ra. Karna kalo gue kehilangan lo lagi, gue bisa gila." Ucap Bintang lembut setelah melepaskan ciumannya.


Bintang menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Dia mengusap punggungku dengan sayang. Tanpa dia tahu. Aku menangis di balik punggungnya sekarang.


"Andai aja lo tahu, Bintang. Mungkin ciuman itu adalah hadiah terakhir sebelum gue ninggalin lo." Batinku.

__ADS_1


***


__ADS_2