
Setelah mengintai, mereka bertiga bertemu dengan Pak Krisna dan beberapa anggota yang memiliki postur badan seperti tentara, mereka merancang rencana dan kamera pengintai yang berhasil mereka pasang bisa memberikan info untuk memperlancar penyergapan.
Trio dibantu oleh Pak Krisna dan ke-5 anggotanya berkumpul dipinggir gudang penyergapan, mereka mengatur strategi didalam mobil box yang kemarin mereka pakai.
“Aku dan Satya memantau lewat monitor, kalian akan aku bagi menjadi 3 tim. Dimas dan kalian berdua menyusup lewat belakang sebagai tim kumbang, Angga dan kamu dari sebelah timur sebagai tim cicak dan kalian berdua dari sebelah selatan sebagai tim kucing.” Jelas Pak Krisna, “ada sekitar 20 penjaga totalnya, 4 dipintu depan, 3 dipintu belakang dan sisanya didalam ruangan.”
Mereka mengamati penjaga yang begitu ramai, “aneh, apa yang mereka jaga? Tak mungkin itu hanya sekedar Kejora.” Heran Dimas mengernyitkan dahinya menatap setiap layar dan menghitung jumlah penjaga.
“Ingat yang dikatakan Barra, jika ayahnya pernah menggunakan ruangan itu untuk menyelundupkan sesuatu, kemungkinan ada hubungannya dengan popiv juga.”
“Jika benar, maka kita bisa mendapatkan barang bukti juga menolong gadis itu. Tim!” Mereka berkumpul membentuk lingkaran, “kembalilah dengan selamat, ayo bergerak!”
Mereka segera bersiap memakai pakaian khusus dan alat khusus, mereka menggunakan senjata tapi dengan peluru bius.
Mereka mulai mengendap sesuai dengan titik komando, beberapa menit kemudian mereka sudah siaga dititik yang disebutkan.
“Tim kumbang, dilokasi”
“Tim cicak, dilokasi”
“Tim kucing, dilokasi.”
Laporan masuk dan Pak Krisnya mengomando mereka sesuai tugas, “lumpuhkan penjaga, team kumbang buat penjaga belakang berpencar.”
Dimas segera menarik perhatian salah satu penjaga dengan suara lolongan anjing. “melolong aja kau fals” guman Angga mendengar suara lolongan dari kejauhan.
Suara itu disadari oleh penjaga depan, mereka bergidik, “uhh, ini kan malam jumat!” Gerutu salah satu dari mereka dan mengusap-usap tengkuk mereka, “tapi suaranya mencurigakan, kalian berdua cek kesumber suara.”
“Hah! Kami?”
“Jangan membantah, atau kalian bisa jadi makanan buaya peliharaan boss!”
Dengan langkah berat mereka melangkah menyusuri dan Dimas kembali melolong, “Srigala?” Tanya salah satu dari penjaga itu seraya mencengkram erat baju belakang rekannya. "Mana ada Srigala di kebu tebu? apalagi Indonesia ini." Geleng rekannya melepas cengkraman tersebut.
"Maju.." Dia kembali menggeleng ketakutan, "siapa tau jadi-jadian??" Gidiknya menoleh sekitar.
“Kau membunuh manusia berani, bertemu hantunya takut!”
“Ini beda kasus bodoh!” Salah satu rekan Dimas mengincar kearah penjaga yang ketakutan itu.
__ADS_1
SEB! peluru bius itu mengenai punggung belakangnya, “aaa..aku..puss....”
BRUG penjaga itu terjatuh dan membuat temannya bingung, “lah dia pingsan. Setakut itu kah?” Dan bidikan kembali diarahkan ke penjaga selanjutnya, mengakibatkan mereka terjatuh bertumpuk.
Dimas dan anggota lainnya mengendap dan menarik kedua penjaga itu kedalam rimbunan. Mereka mengikat dan menutup kedua mulut mereka dengan plaster.
“Tugas 1 selesai” lapor Dimas “Ok! Tim cicak kalian bisa bergerak kearah pintu masuk belakang dan lumpuhkan 2 orang itu.”
Angga dan rekan timnya mengendap dari samping mereka dan dengan kecepatan kilat rekan Angga berhasil melumpuhkan kedua penjaga itu dengan pukulannya.
Angga terpukau, “benar-benar pasukan terlatih milih Ayah.” gumannya melihat itu “target lumpuh”
“tim kumbang, sembunyikan seperti yang lainnya.” Dimas mengomando kedua anggotanya dan menarik 2 orang itu ketempat persembunyian mereka lalu mengikat kedua orang itu seperti yang lainnya.
“Selesai.” lapor Dimas kembali. Pak Krisna mengamati kamera yang menyoroti bagian utara gedung yang menunjukkan sisi pintu masuk.
Tim kucing juga berhasil melumpuhkan penjaga didepan, “Tim kucing, berjaga sebagai backup, tim kumbang dan tim cicak akan mulai masuk keruangan.” Jelas Pak Krisna.
“Pak, ada 10 orang didalam lawan 5 dari mereka apa yakin bisa menang?” Ujar Satya ragu hanya dibalas senyum sedih oleh Pak Krisna.
“Aku tak bisa membantu banyak, ini aku sendiri yang bergerak tanpa disetujui oleh Pak Wira.” Satya kaget mendengar itu. “Jadi?..” Pak Krisna hanya menganggukan kepalanya.
“Woy! Siapa kamu!” Kaget seorang penjaga ketika melihat anggota Angga masuk, terjadilah penyerangan dan tim Angga berhasil melumpuhkan empat orang itu, perkelahian itu memancing kerumunan panjaga lainnya untuk keluar.
“Penyusup! Amankan!” Seru salah satu dari mereka yang sepertinya berperan sebagai ketua kelompok. Mereka berkelahi dan diluar dugaan mereka benar-benar penjaga yang terlatih bahkan pasukan Pak Krisna pun kualahan padahal mereka hanya melawan ke empat dari mereka, karena beberapa orang lainnya sibuk mengemasi sesuatu.
“Aman!” Kedua dari mereka segera naik mobil dan berhasil kabur namun dicegah oleh tim kucing diluar pintu gerbang.
“Kedua anggota tim kucing berhasil tertembak dan terluka larah.”
“Sial! Mereka mafia bukan gang biasa.” Ujar Pak Krisna melihat kedua anggotanya terkulai di tanah. “Apa yang mereka bawa kabur?!” lanjutnya.
“Angga kau cari Kejora, biarkan kami yang menghadapi mereka!” Angga mundur dibantu anggota lainnya untuk keruangan dimana Kejora berada namun dikerja oleh salah satu dari mereka.
Pasukan Pak Krisna dan Dimas kelelahan melawan orang-orang itu. “Siapa kalian, apa kalian polisi!” Tanya mereka dan tak ditanggapi oleh mereka, mereka kembali menyerang dan walau menang jumlah, mereka tetap kalah kekuatan.
Ketiga anggota Pak Krisna terluka karena tusukan dan pukulan besi, sedangkan Dimas tertatih karena kakinya mengalami cidera besar akibat tendangan mereka.
“Gila..akh..” Erang Dimas, “3 lawan 5 dan kalian kalah?” ejek salah satu dari mereka yang terlihat sama sekali tak kelelahan “sepertinya mereka bertiga yang terkuat diantara penjaga. Kalian waspada.” Jelas salah satu anggota yang menjadi pemimpin pasukan, “kau susul Mas Angga.” Ujarnya menyuruh Dimas dan dipatuhi olehnya.
__ADS_1
“5 saja kalian kalah mau mengurangi anggota?”
“Jangan banyak bacot!” Mereka kembali berkelahi dan lagi-lagi anggota Pak Krisna terkalahkan dan tersungkur dilantai karena tendangan kuat yang mengenai tepat diwajahnya.
“Kata-kata terakhir?” Ejek penjaga menodongkan pistol kearah anggota Pak Krisna yang tergeletak tak berdaya mengerang kesakitan.
“Kejora!” Angga segera berlari masuk ruangan dimana Kejora berada, Kejora hanya bisa berteriak tertahan karena mulutnya disumbat dan diplester, Angga meraih tubuh Kejora dan dilihatnya begitu banyak luka pukulan dibadannya.
Angga segera melepas ikatan Kejora dan membuka plester dimulutnya. Angga terkesiap ketika Kejora tiba-tiba memeluknya dan menangis, dia diam tak bergeming dan membiarkan momen itu berjalan, “aku disini, sesuai janjiku, aku akan menolongmu.” Ujar Angga mengusap pelan kepala Kejora.
Tapi mereka seketika kaget ketika ada penjaga lain yang datang, penjaga itu segera menghampiri mereka tapi terjatuh karena Dimas datang menerjang tubuhnya dengan tendangan.
Dimas berdiri diatas tubuh penjaga itu dan menembaknya dengan peluru bius. “Tenang itu hanya peluru bius.” Jelas Angga ketika Kejora kaget melihat Dimas menodongkan pistol kearah penjaga yang tersungkur tadi.
“Ayo pergi dari sini, anggota lain dibawah butuh bantuan!” Jelas Dimas dan mereka segera bergegas keluar dari ruangan itu dan seketika berhenti ketika melihat anggotanya dibawah todongan pistol seorang penjaga dan kedua rekannya dibelakangnya.
“Ini bahaya.” Ujar Angga, tak ada pintu keluar lain selain ini, ini tangga satu-satunya.” Dimas memukul kepalanya, “ah, aku gak mau mati disini.” Gerutunya seraya mencoba berpikir, “bagaimana ini Pak Krisna?”
“Aku sedang meminta dia untuk mengulur waktu, bantuan akan datang. Kalian berdua tunggu dan jangan keluar.” Ujar Pak Krisna.
Dan benar saja, beberapa menit sebelum pelatuk itu ditarik, sebuah tembakan melesat tepat mengenai dada pria yang menodongkan pistol tadi, pria itu terjatuh bersimbah darah lalu pintu terdobrak dan nampak seorang wanita beserta ketiga orang bertubuh kekar masuk seraya menggendong senjata api.
Mereka kaget karena mengenali sekilas tato dilengan pria kekar disebelah wanita itu.
“Sembrani? Ta..tak mungkin..” Wanita itu kembali menodongkan pistol kearah dua orang tersisa, “angkat tangan atau kuledakkan kepalamu.” Ancamnya dan mereka berdua berlutut mengangkat kedua tangannya keatas kemudian wanita itu mengikatnya.
Angga, Dimas dan Kejora yang sedari tadi bersembunyi kemudian turun, “Hei, siapa kalian.” Wanita yang menolong bersama ketiga pria tegap itu tak menjawab dan tetap berlalu pergi.
Angga mengamati mereka “aku seperti pernah melihat tato itu.” Gumannya melihat tato yang tergambar di lengan kanan salah satu dari mereka.
Pak Krisna datang dan berpapasan dengan mereka. “Jangan...ceritakan..” Pak Krisna mengangguk ketika mendengar bisikan wanita itu.
“Ayo segera selamatkan anggota kita yang terluka dan ringkus lainnya.” Perintah Pak Krisna kemudian menangkap 8 orang penjaga dan segera melarikan penjaganya untuk segera mendapat perawatan medis.
Salah satu penjaga yang terikat berhasil melemparkan gas asap yang selama ini dia kantongi, menjadikan ruangan dipenuh asap dan dia mencoba kabur ketika mendapat kesempatan melarikan diri.
Dia berlari kearah rimbunan ladang tebu dan gagal dikejar oleh Pak Krisna dan anggotanya
“Sial!” Geram Pak Krisna menendang timbunan rumput dengan asal.
__ADS_1
-bersambung-