Bintang Kejora

Bintang Kejora
Pendekatan


__ADS_3

Angga yang sudah mendapatkan info dari Satya kini sedang bertemu dengan ayahnya untuk mengetahui kira-kira langkah apa selanjutnya. Karena tak mungkin dia mengambil langkah sendiri, dia tetap harus melaporkan apapun informasi yang sudah dia dapatkan.


“Kamu benar-benar harus hati-hati Angga.” Pinta Pak Wira setelah Angga menjelaskan beberapa informasi yang ia dapat.


“Dia adalah lawan yang sangat berat juga berbahaya! Dia begitu dicari dibeberapa negara Asia Tenggara karena kasus-kasusnya dan anehnya dia begitu mudah untuk kabur.”


Angga menatap kaget Ayahnya. “Asia Tenggara?” Pak Wira mengangguk seraya mengusap dagunya "anggap saja dia adalah siluman musang yang pandai menyembunyikan identitasnya. Timku juga sedang menggali informasi mengenai kemungkinan ada oknum kepemerintahan yang bekerjasama dengannya.” Ujar Ayah Angga  “dan tugasmu hanya mencari info jangan melewati batas, karena itu sangat berbahaya.” Angga mengangguk menerima saran Ayahnya.


“Cari tahu saja siapa koneksi wanita itu, dan siapa saja supervisornya. Karena dari sana kita akan tahu siapa oknum pemerintah yang berada dibawah kendalinya.” Angga kembali mengangguk menerima perintah Ayahnya.


“Dan..” Angga menatap ayahnya yang sempat berhenti sejenak berbicara, “jangan terlalu dekat dengan ******* itu.” Angga terdiam, entah mengapa ada perasaan sakit mendengar itu. “Manfaatkan saja dia untuk informasi, kau sudah membayarnya sangat mahal.” Ayah Angga melemparkan sebuah dokumen dihadapannya dan dia mulai membuka satu-persatu kertas itu, dia tercengang setelah membacanya.


“Tapi aku belum lulus.” Ujarnya pelan setelah mengetahui itu adalah dokumen untuk pendaftaran pasca sarjana ke luar negri.


“Ya, tapi sebentar lagi kau akan lulus, dan aku ingin kau ke Aachen, Jerman.” Lidah Angga kelu, bukan karena ia tidak suka menimba ilmu di kota dimana seorang **. Habibie yang adalah idolanya juga lulusan disana, tapi karena dia tak pernah sanggup memutuskan apa yang dia inginkan, selalu disetir oleh ayahnya. Dalam hati dia ingin menjadi jurnalis namun ayahnya menginginkan dia melanjutkan bisnis perusahaan konstruksi yang sudah melebarkan sayapnya ke penjuru tanah Jawa. Tapi, bagaimanapun dia tetap harus mematuhi semua perintah Ayahnya.


*** 


“Halo Kejora, aku sudah didepan gang merpati 2”. Ucap Angga lewat telpon “aku tak tahu rumahmu yang mana, aku menunggu di toko buku ya” jelas Angga mencoba membaca plang nama toko buku tersebut “eh rental buku ternyata.” ralatnya setelah membaca dengan jelas plang tersebut.


Dia mengantongi ponselnya disaku jaket dan berdiri menunggu Kejora, mengamati lingkungan sekelilingnya yang terlihat tenang dan teratur. Dia melihat seorang ibu yang membonceng anaknya dengan sepeda, melihat baju yang dipakai sepertinya mau ke TK, dia tersenyum kecil mengingat momen masalalu yang hanya sesaat tapi sangat membekas. Angga tumbuh tanpa mengetahui siapa ibunya dan hal itu yang membuat Angga membenci ayahnya.


Tapi dia bisa mengingat jelas ada sosok wanita yang hangat dan selalu memeluknya ketika masih kecil. Entah apa yang menjadi alasan ayahnya memisahkan mereka, yang Angga tahu ada sesuatu yang terjadi antara ayahnya dengan seseorang yang merupakan musuh dalam bisnis yang kemudian menjadikan ayahnya memisahkan keduanya dan menyembunyikan identitas Angga sebagai anaknya.


Hanya alasan untuk melindungi dirinya yang terucap dari mulut Pak Wira jika Angga bertanya perkara identitas yang disembunyikan itu, atau ayahnya akan marah dan memukulinya apalagi ketika dia selalu menanyai keberadaan ibunya, maka hari-harinya akan Angga habiskan dalam kurungan dan pukulan, sungguh Angga kecil yang malang. Hingga tumbuh dewasa, Angga sudah tak pernah membahas kedua masalah itu, dia biarkan waktu yang menjawabnya.


Tidak ada yang tahu jika Angga adalah anak dari Wiratmaja, Gubernur sekaligus pemilik perusahaan konstruksi di Jawa Tengah. Pak Wira awalnya hanya seorang kontraktor handal yang baik dalam menyelesaikan proyek, namun tahun 2009 presiden menunjuk Pak Wira untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur, dan dia berhasil duduk dikursi Gubernur.


Dari sanalah Angga mengetahui beberapa informasi jika Ayahnya memiliki kasus dengan rivalnya yang sesama kontraktor dan hal itu membuat ayah Angga menghapus dirinya dan ibunya dari anggota keluarga, mengubah namanya dari Awan menjadi Angga.


Dan saat ini dunia hanya mengetahui jika Angga hanyalah anak dari asisten rumah tangga keluarga Pak Wira yang diangkat dan diasuh oleh Pak Wira. Awalnya hal itu menaruh curiga dari masyarakat, sebab Angga mirip dengan anak Pak Wira yang meninggal.


Namun kepiawaan Pak Wira membuat skenario mampu menepis kecurigaan itu, kecelakaan mobil yang diskenariokan merenggut nyawa istri dan anaknya. Lalu dimana keberadaan Ibu Angga? Masih menjadi misteri, walau Angga selalu mencoba diam-diam mencari keberadaanya.


“Menunggu lama?” tanya seseorang dan membuat Angga terbuyar dari lamunannya, dia tersenyum dan menggeleng. “kau mau mengajakku kemana?” tanyanya lagi dan Angga memasukkan kedua tangannya kekantong celananya “entahlah, hanya ingin melanjutkan obrolan kita agar kita saling mengenal dan kau bisa mempercayaiku jika aku bukan penipu.” Jelasnya, Kejora tersenyum simpul mendengar penjelasan itu, dia mengamati lelaki dihadapannya. Tinggi, kurus, berkulit sawo matang dengan model rambut pendek berponi yang disisir kebelakang.


Menarik, itu adalah kata pertama yang sempat muncul dikepalanya ketika melihat Angga maju dari kursi peserta kearah panggung. Dia tak menyangka akan mendapatkan seorang pria muda yang bahkan seusianya.

__ADS_1


“Hei? Kok diam?” Angga melambaikan tangannya kearah muka Kejora dan membuatnya kaget. “Hah? Apa?” melihat itu Angga tertawa “melamunin apa?” tanyanya masih tertawa “aku tanya apa kamu udah makan? Malah melamun, tanpa kau jawab aku jadi tahu kamu belum makan, ya kan?” ledek Angga karena Kejora yang melamun tadi, Kejora hanya mendengus “apa deh, aku sudah makan. Sekarang mau kemana kita?”


Angga menunjuk kearah dimana mobilnya terparkir dan mereka berdua berjalan kesana. “Apa Madam Den tahu soal ini?” tanya Angga ketika mereka berdua sudah berada didalam mobil, Kejora hanya mengangguk “emmm.., apa kamu biasa pergi dengan pria yang pernah menyewamu saat malam hari diluar jam kerja?” Tanya Angga hati-hati takut menyinggung, Kejora kembali mengangguk


“Tak sering, seperti Madam bilang jika diluar jam kerja semua tergantung aku, walau mereka membayar mahalpun jika aku menolak, Madam akan menolak” jelasnya dan Angga mengangguk pelan “apa aku perlu membayar?” Mendengar itu Kejora menoleh kearah Angga yang menanti jawaban darinya “apa kau butuh teman tidur?” Angga mendelikkan matanya mendengar itu lalu mengalihkan pandangannya kekemudi mobil, Kejora tersenyum simpul melihat itu.    


“Aa..aku bukan bermaksud itu.” Jawabnya terbata dan Kejora hanya tertawa kecil     “maksudku, siapa tahu kamu ada janji dengan mereka yang biasa membayarmu, dan aku menganggu waktumu itu.”


Kejora menggeleng mendengar pernyataan Angga, “tidak, aku juga sedang bosan dirumah. Tidak ada yang pernah mengajakku keluar kecuali urusan itu” jelas Kejora dan Angga mengangguk memahami arti dari kata itu dan menghela nafas entah apa yang membuatnya tiba-tiba merasa gugup.


Angga menghidupkan mesin mobil dan melajukan pelan kendaraanya menyusuri jalan, mereka berhenti di sebuah lokasi yang cukup sepi. Kejora menatap Angga dengan bingung, walau tak ada kata terucap Angga memahami pertanyaan Kejora “Hanya sebentar” ujarnya singkat, Kejora masih memasang wajah bingung.


“Tenang, aku tidak akan melakukan hal buruk kepadamu.” Jelasnya mencoba meyakinkan Kejora “aku hanya ingin bertanya sesuatu kepadamu dengan suasana yang tenang, sebab aku tahu Madam Den bukan orang sembarangan. Aku takut ketika kita ditempat umum, ada yang mendengar dan itu bisa membahayakanmu.” Kejora mengangguk paham dan membulatkan bibirnya membentuk huruf O.


“Kamu kenal Madam Den dari kapan?” Kejora memiringkan kepalanya mencoba mengingat “saat aku usia 13 tahun, tahun 2010 sepertinya.”


Angga kaget “dia menjualmu diusia itu? Maksudku kamu melakukan itu dari usia segitu?”


“Aaa..tidak, aku dirawat dan diperlakukan seperti anaknya lalu dia mulai menawariku pekerjaan itu ketika aku usia 18 tahun.” Ada perasaan sakit mendengar itu, tangannya mencengkram erat kemudi mobil. Angga menghirup udara panjang dan menghembuskannya pelan.


“Entah kenapa terasa begitu berat setiap mendengarkan ceritamu itu...” ujarnya lirih dan menarik perhatian Kejora, dia menatap lelaki disampingnya “lalu kenapa kau bertanya soal itu?” tanyanya, Angga menoleh dan tertawa masam “entah, kepo mungkin”


Kejora tercengang mendengar penjelasan Angga, dan Angga menyadari perubahan wajah Kejora.


“Kenapa?” tanyanya “kamu tahu dari mana? Sebenarnya kamu siapa?” Angga menggaruk keningnya “ada temanku yang bisa mengorek soal itu.” Jelasnya singkat “lalu kenapa kau butuh aku?” tanya Kejora lagi.


“Karena kau orang dalam dan aku butuh informasi tentang kaki tangan Madam Den yang berhubungan dengan kepemerintahan.” Jelas Angga singkat “tunggu... sebenarnya siapa sih kamu ini?” Angga terdiam sejenak.  


“Aku mahasiswa, akan kutunjukkan KTMku jika kau tak percaya” Angga membuka laci mobil dan meraih dompetnya menyerahkan kartu tipis bertuliskan Kartu Tanda Mahasiswa sebuah universitas negeri di Yogyakarta.


“Lalu kenapa mahasiswa sepertimu berurusan dengan seorang seperti Madam Den? Itu bukan hal yang harus dikerjakan oleh mahasiswa. Ini hal yang sangat berbahaya, kamu sudah tau soal Madam Den, dia bisa membunuhmu seperti membunuh kutu.”


Angga paham betul dengan yang dimaksud Kejora, dan dia tak salah mengenai Madam Den yang begitu jahat dan berbahaya, karena itu dia semakin yakin ingin membantu ayahnya untuk menangkap dia dan komplotannya.


Selain itu, ada alasan lain bagi Angga, dia ingin membebaskan belenggu dihidup Kejora. Mendengar kisah Kejora, Angga tahu Kejora terpaksa menjalani itu semua. “Aku ingin menutup tempat ilegal itu.” Jawabnya seolah itu hal yang mudah membuat Kejora tertawa meledek, “kau punya power apa? Bahkan Gubernurpun masih diragukan bisa menutup tempat itu! Sudah ada buktinya tapi nyatanya tempat itu masih berdiri.”


Angga terdiam sejenak, “aku juga ingin membebaskanmu” "hah?" Kejora menatap kaget kearah Angga “maksudmu?” Angga mengangguk “ada perasaan dimana aku ingin kamu menjalani hidup seperti yang lainnya, seperti aku. Aku tahu kamu membenci pekerjaanmu itu.” Kejora tertawa sinis mendengar itu “tak usah mengada-ada Tuan!”  

__ADS_1


“Aku serius Kejora, mungkin saat ini aku tak bisa menjelaskan power apa yang mendukungku untuk semua ini tapi yakinlah, aku ingin membebaskanmu”


“Apa aku meminta itu?” Kejora mulai pusing dengan maksud sebenarnya Angga. “Wahai Tuan Angga, kumohon jangan mengasihani hidupku.” Ujarnya menekankan kalimat terakhirnya.


Kejora menyandarkan tubuhnya ke kursi penumpang dan mengusap pelipisnya kemudian menghela nafas.


“Aku benar-benar bingung dengan semua ini. Jujur aku masih mencoba mempercayai semua itu walau tak masuk akal.” ujar Kejora setelah mereka beberapa menit saling terdiam.


“Ini hal yang sangat berbahaya, aku tekankan itu. Jika kau memang bisa melindungiku dari kemungkinan kematian kita yang konyol, baiklah.” Mendengar itu Angga memiringkan badannya menghadap Kejora, dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Kejora hanya menatap lalu kemudian memahami maksud Angga, dia menjabat tangan Angga.


“Aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin melindungimu." Kejora menarik kembali tangannya dan hanya mendesah pelan karena mau menuruti keinginan Angga untuk membantu misinya, setidaknya dia juga berusaha agar bisa lepas dari jeratan Madam Den itu.


"Eemmm.. Kamu suka museum budaya?” tanya Angga dan Kejora mengangguk pelan. "Aku mau mengajakmu kesana." Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke museum budaya.


“Lagi ada acara ya? Ramai sekali.” Ujar Kejora melihat lokasi museum yang sangat ramai. Angga meraih tas gendongnya yang besar dikursi belakang, Kejora hanya berpikir apa yang dibawa lelaki itu. Membuka isi tasnya dan dia mengambil sebuah kamera DSLR dan menyelempangkannya ke tubuhnya.


“Aku ingin kau menemaniku melihat festival seni dan budaya disini sembari mengobrol, jika kau tidak keberatan.” Jelas Angga menyerahkan sebuah tanda pengenal ke Kejora, perempuan itu membaca tulisan ditanda pengenal tersebut, dia menaikkan kedua alisnya ketika membaca ‘jurnalis’ di keterangan benda tersebut, menatap Angga dengan tak percaya.


“Kenapa?” tanya Angga ketika Kejora menatapnya dan kartu pengenal tersebut secara bergantian. “Kau jurnalis?” Angga menyadari sesuatu yang belum ia ceritakan kepada Kejora “aahh..aku belum cerita ya? Hanya sambilan sembari mengisi waktu luang. Aku hanya jurnalis lepas dari media lokal yang membahas tentang opini masyarakat tentang seni dan budaya kota ini.”


Kejora hanya membulatkan mulutnya, “apa kau akan mempublikasikan tentang club itu jika misimu berhasil?” Angga menggeleng, “tidak, itu tak ada hubungannya dengan pekerjaanku sebagai jurnalis.” jelasnya tersenyum, Kejora melihat beberapa orang mengenakan kostum pakaian adat dari berbagai daerah, sedangkan beberapa kelompok lain sedang berlatih koreografi gerakan tari yang mungkin akan dipentaskan.


Kejora mengamati dengan ekspresi takjub, terkadang dia tersenyum ketika melihat anak sekolah dasar yang juga sebagai peserta sedang berlatih diselingi debatan kecil ketika salah satu anggota salah melakukan gerakan.


Angga mengamati perempuan yang berjalan disampingnya, melihat senyum yang tertoreh diwajah perempuan tersebut ada perasaan hangat menjalar didadanya. “Cantik..” gumannya pelan dan dia membuang pandangannya sekejap ketika Kejora menoleh kearahnya “apa kau bicara sesuatu?” “ahh tidak, aku cuma berpikir apa kau mau kufoto?” Kejora mengangguk senang “aku mau foto di tengah-tengah mereka yang memakai kostum kuda lumping itu.” tunjuk Kejora dan disetujui Angga, dia mengatur lensa kameranya dan mulai membidik kearah Kejora yang sedang menawarkan diri untuk berfoto bersama dengan kelompok anak itu.


Kejora tersenyum lebar diapit kelompok anak tersebut dan Angga memotretnya. Angga mengangguk dan Kejora berterimakasih kepada mereka disertai kepalan tangan keatas, menyemangati mereka agar bersemangat dan semoga lancar untuk pentas mereka.


“Kau senang?” tanya Angga yang terus melihat Kejora tersenyum. “Emm” jawab Kejora singkat masih dengan senyum diwajahnya, lagi dan lagi Angga dibuat tak menentu melihat senyum manis diwajah Kejora.


“Ya Tuhan, indah secali ciptaanMu.” Batin Angga mengamati paras ayu dengan senyum manis di wajah Kejora.


“Angga?” Seseorang menghampiri mereka dan Angga menyapanya ketika mengetahui siapa orang itu. “sedang meliput juga?”


"Ah..... iya.." Jawab Angga yang sempat kaget karena ada yang memanggilnya. Kejora hanya diam berdiri disebelah Angga.


"Kau...?" Tanya orang itu kepada Kejora dengan tatapan menyelidik, membuat Kejora merasa kikuk karena tatapan tajam itu.

__ADS_1


"Apa kita pernah bertemu?" Pertanyaan itu sontak membuat Kejora panik dan Angga menyadari itu. Apakah dia pernah melihat Kejora di club itu? Satu hal yang Kejora harap, jika benar pernah bertemu, orang itu tidak menyadari pekerjaan apa yang Kejora lakukan di club tersebut.


-bersambung-


__ADS_2