
“Kami bisa bertemu denganmu?” Dimas segera menelpon Barra, “Emm.. Kalau begitu, kukirim alamatku dan kamu bisa kemari.”
Dimas menutup telponnya kemudian membuka aplikasi chat untuk mengirim lokasi rumahnya.
“Mas, ini masih 2 hari, aku yakin Kejora baik-baik saja.” Satya mencoba menenangkan Angga yang nampak risau dan gelisah, Dimas kembali duduk bersama mereka “Barra akan kemari, dia tak bisa bertemu diluar karena takut ada anak buah ayahnya.” Mereka mengangguk mendengar penjelasan Dimas.
Selang beberapa lama Angga, Dimas dan Satya sudah berkumpul bersama Barra dan satu orang temannya.
“Aku yakin ayahku membawanya ke gudang tua belakang kebun tebu.”
“Kenapa kau begitu yakin?” Tanya Angga “Ayahku sering melakukan penyelundupan barang disana...”
“Jangan laporkan ke ayahmu!” Barra menyadari ucapannya dan segera melemparkan ultimatum kearah Angga.
“Bukan saatnya memikirkan itu.” Ujar Angga sinis, “kau tahu Bar? Menyayangi ayahmu bukan berarti kau harus menyembunyikan perbuatan jahatnya, itu sama saja kau mendukungnya.” Jelas Dimas, “pikirkan baik-baik, jika dia semakin menjadi selama ini, karena hukum tak melihat perbuatannya, dan dia merasa selalu aman.”
Barra terdiam mendengar ucapan Dimas yang ada benarnya itu, “ketemu!” Seru Satya yang sedari tadi sibuk dengan komputernya “ponsel Pak Bas, terakhir terdeteksi dilokasi yang sama seperti yang Mas Barra bilang.” Jelasnya menunjukkan titik-titik dalam peta pencarian GPS.
“Ayahku memang bukan pria baik, tapi dia tetap ayahku. Walau begitu, aku harap kalian bisa menyelamatkan wanita itu dari prilaku jahatnya.”
“Kau tahu? Ayahmu sedang tergabung dalam jaringan berbahaya antar Asia Tenggara.” Barra tersentak kaget “jadi, kemungkinan apa yang kau bilang soal penyelundupan barang illegal itu, ada hubungannya dengan bisnis kotornya.” lanjut Angga dan disangkal oleh Barra “jangan berkata aneh Ang!”
“Aku tak memaksamu untuk percaya, tapi aku hanya ingin kau terima kenyataan jika terjadi sesuatu diluar harapanmu itu. Karena, ini berurusan dengan negara.”
Barra mengepalkan tangannya menahan emosinya “aku tahu ibumu sedang sakit parah, jadilah penerus keluarga yang baik cuma itu yang bisa kau lakukan.”
Barra memukul meja didepannya “kau mengguruiku! Kau mengejekku!” Angga hanya diam tak melaceni amarah Barra “kau pikir kau siapa? Anak pungut banyak gaya!” Dimas mendorong tubuh Barra dibantu temannya agar duduk dan tenang.
“Jangan sok kamu Ang!” Satya hanya menggaruk kepalanya melihat susana yang tegang ini. Tak tahan karena Barra terus mengoceh dan melemparkan kalimat penuh kebencian, Angga berdiri dan menatap Barra tajam “disamping kau yang begitu menyebalkan kau dulu temanku Bar, aku hanya ingin kau tahu, orang tuamu itu yang menyengsarakan kalian berdua, kini sedang mencoba menghancurkan negara!” Jelas Angga dengan nada tinggi, “aku tak mengejekmu atau mengguruimu, karena aku juga tak tahu dengan kehidupanku! Anak pungut? Anak selingkuhah? Anak haram? Bukankah hal itu sudah sering kau dengar sejak SD?”
Barra terdiam, “sekarang kita hanya mencoba menghentikan itu sebelum semuanya terjadi dan tak terkendali” Angga terduduk memijat dahinya “aku sudah menjelaskan kepada kalian detail tentang ayahku, aku pulang sebelum aku berubah pikiran untuk menghajarnya” ujar Barra menunjuk kearah Angga yang masih menyangga dahinya, banyak pikiran yang menghantui Angga saat ini, semua tentang Kejora.
Dimas menghela napas kemudian mempersilahkan Barra dan temannya pergi. “Kita harus mengintai terlebih dahulu, melihat keadaan dan apakah tempat itu dijaga.” Jelas Satya, “gudang itu dikelilingi kebun tebu dan jauh dari pemukiman warga setempat, kita tak bisa menggunakan kendaraan roda empat karena hanya ada 1 jalan menuju kesana dan itu beresiko.”
Jelasnya kemudian “kita bisa parkir di lokasi ini, lapangan masjid 3 KM dari sana, kita berjalan menyusuri kebun tebu itu jalan kaki.” “Duuuuh, gatel-gatel dong?” potong Dimas dan mendapat tatapan jengkel dari Satya karena penjelasannya dipotong.
Dimas hanya nyengir, “aku akan memantau dari mobil, dan ketika kalian sampai disana. Aku ingin alat ini kalian tempelkan di sudut lokasi.” Jelas Satya menyerahkankan benda setengah lingkaran berwarna hitam berbentuk cembung berukuran sebesar bola pimpong.
“Kau dapat dari mana?”
“Pak Krisna, sebelum beliau pergi bersama ayah Mas Angga, beliau memberikanku koper berisi beberapa alat untuk mengintai, nanti beliau dan beberapa orangnya akan membantu saat penyergapan.” mereka mengangguk menerima informasi dari Satya.
__ADS_1
“Kau daftar jadi intel di BIN aja Sat, daripada pembuat game. Eh lupa, intel kan butuh anggota yang perkasa.” Sambung Dimas menunjukkan otot lengannya, Satya memasang wajah masa bodoh dan kembali menjelaskan rencana pengintaiannya.
“Kita pergi sekarang.” Sahut Angga mengajak mereka segera bersiap, Dimas hanya menghela napas dan menuruti itu.
***
“Wah kita udah kaya Mission Impossible aja ya.” Guman Dimas ketika memakai baju terusan seperti yang dipakai montir di dealer, “Nih pakai, kita komunikasi lewat ini.” Lanjut Satya menyerahkan headset yang tersambung walki-talkie.
“Ingat, cuma menempelkan kamera cembung ini, dan pergi. Apapun yang terjadi jangan gegabah, terutama kamu mas.” Ujar Satya memperingatkan Angga yang ada kemungkinan akan menyerang tanpa rencana.
Dimas hanya menunjuk-nunjuk wajah Angga seraya geleng-geleng kepala.
Mereka berdua mulai memasuki kebun tebu dan berjalan mengendap sesuai petunjuk Satya dari jauh.
“Kau yakin tidak ada hewan buas disini?” Ujar Dimas sesekali menoleh kebelakang, “udah gak usah manja.” sahut Angga membelah rimbunan pohon tebu agar bisa dengan mudah mereka lewati.
“Kau harus membayarku mahal untuk ini Ang.” Angga berhenti mendadak membuat Dimas yang berjalan tanpa melihat kedepan menabraknya, “kenapa?” ujarnya pelan “aku melihat cahaya, sepertinya sudah dekat, ayo cepat.”
Angga melanjutkan langkahnya dan sampailah mereka dipinggir halamanan luas yang ada rumah besar terbuat dari kayu beratap seng.
“Woah, besar sekali. Bagaimana kita kesana? Sepertinya ada orang disana.” ujar Dimas, Angga melihat kesekitar, atas dan berbagai sudut dari rumah itu.
“Pasang satu disana.” Ujar Angga menunjuk tiang listrik itu dan mereka berjalan perlahan melewati pinggir kebun tersebut agar tak terlihat oleh penjaga.
Dimas naik ke pundak Angga dan memasang 1 kameranya, menyamarkan sebaik mungkin agar tidak diketahui.
“Ang, kita bisa menyusup lewat sana, kau lihat kita bisa tertutup bayangan gedung.” Angga mengangguk dan membantu Dimas turun dari pundaknya, “kau *****! Kalau mau naik lepas dahulu sepatumu!” Kesal Angga mengusap bahunya.
“Kenapa baru bilang”
“ya aku mana mungkin teriak!” Dengus Angga.
Mereka berjalan jongkok mengendap secara perlahan, ada tangga kecil disamping gedung yang mengarah ke lantai atas sebuah ruangan kecil diatas gudang.
“Sepertinya seseorang biasa berjaga disana.” Angga melihat ruangan itu dan menyetujui pendapat Dimas, “kita naik dan bisa memasang satu disana.” ujar Angga, “Mas, kamera satu sudah aktif aku bisa melihat kalian.” Ujar Satya lewat headset,“kami mau memasang satu diatas ruangan itu.”
“Sebaiknya kalian berpencar biar segera selesai.” Mereka setuju dan berpencar kearah berlawanan, Dimaslah yang mendapat bagian memasang kamera di lantai atas tadi.
Angga menyusuri seraya mengendap perlahan, dia melihat penjaga yang sedang berdiri seraya menguap, dia melihat sekitar mencoba mencari sudut yang tepat untuk memasang kamera.
“Oke, kamera 2 on." Angga mendengar laporan dari Satya dan senang karena Dimas berhasil memasang kamera ke dua.
__ADS_1
“Aku butuh sudut utara agar bisa melihat siapa yang keluar masuk dari sana.” Jelas Satya yang merupakan posisi Angga saat ini, Angga melihat talang air, beruntung kamera itu memiliki daya magnet sehingga bisa menempel dipermukaan besi apapun, dia manjat dinding dan mencoba berpegangan dengan tiang agar bisa menempel kamera tersebut di talang air, dan saat itu dia bisa melihat seorang gadis duduk terikat disebuat kursi kayu.
“Kejora.” Batinnya terluka melihat itu, tak menyangka dengan apa yang dia lihat.
“Kamera 3 menyala, aku bisa melihat didalam ruangan, dan aku juga melihat Kejora.” Jelas Satya, “aku juga melihatnya.” Jelas Angga
“Ang, jangan gegabah!” suara Dimas terdengar berbisik tapi ada penekanan dikalimatnya, “kamera 4 sudut utara sudah on, kalian bisa kembali”
Karena tak ada jawaban dari Angga, Dimas mengitari gedung untuk mencari Angga, dan melihat Angga sudah mengendap untuk melihat lebih jelas keadaan Kejora, Dimas naik ketumpukan itu dan memukul pantat Angga.
“Ayo kembali, banyak sekali penjaganya didalam!” Dimas menarik-narik celana Angga.
“Kita bisa jadi rujak kalau memaksa masuk!” “Aku tak segila itu, aku hanya ingin memasang kamera ini diujung jendela, agar bisa melihat dari sudut lain.”
“Oh..” Dimas membulatkan mulutnya. “Kamera 5 on, penglihatan yang bagus Mas, ayo kalian kembali dan kita atur rencana selanjutnya.”
Mereka turun dan segera kembali, tapi sayang Dimas menginjak tumpuan yang rapuh, menyebabkan dia jatuh dan mengeluarkan suara yang keras.
“Siapa disana!” Angga kaget dan segera menarik tubuh Dimas dan menyeretnya masuk ke rimbunan kebun tebu.
“Pantatku sakit banget, udah jatuh diseret pula.” Keluh Dimas berjalan sedikit mengangkang dibelakang Angga, mereka mulai menjauh dari gudang itu dan kembali ke mobil dimana Satya berada.
Mereka melepas pakaian dan masuk ke pintu belakang, mobil box yang biasa dipakai untuk mengantar barang kini mereka ubah menjadi ruangan kecil untuk mengintai.
“Bagaimana telihat jelas?” Satya mengangguk dan menunjukkan monitor yang terbagi menjadi 5 layar. Angga menatap layar dimana dia bisa melihat Kejora “tubuhnya terikat dan terluka, apa yang dilakukan pria tua gila itu?” Marah Angga mengepalkan tangannya dan memukul meja.
“Kita pulang dan berkumpul dengan Pak Krisna, kita bahas rencana penyergapan.” Mereka bertiga mengangguk, Dimas keluar dari pintu belakang menuju ruang kemudi dan menyetir mobil itu untuk pulang.
Sesekali dia mengusap pantatnya dan meringis kecil “makin tepos, hilang sudah pantat seksi pujaan para wanitaku.” keluhnya seraya menyetir.
***
“Aku harus ikut Kris, aku bisa menolongnya.” “Kau gila! Jika kau keluar dari persembunyianmu, mereka akan mengetahuimu, dan tentunya nyawamu akan terancam!”
“Tapi dia..”
“Sudahlah, kau turuti aku, aku akan menyelamatkan dia, dan percayalah!” Wanita itu hanya mengangguk menerima ucapan Pak Krisna.
“Saat ini tugasmu adalah menjadi merpati untuk Pak Wira dan Bu Anita.” Wanita itu tak bisa berkata-kata lagi selain mengikuti apa yang direncanakan Pak Krisna.
-bersambung-
__ADS_1