Bintang Kejora

Bintang Kejora
Amarah


__ADS_3

"Masuk!" Angga menatap tajam kearah Pria tua berbadan besar tersebut.


“Malam ini dia milikku.” Ujar pria yang adalah Pak Baskara, Angga memberikan sorot mata penuh kebencian membuat Pak Bas tersenyum licik, dia meraih tangan sebelah Kejora dan memintanya masuk. Angga tak melepas genggamannya, masih dengan menatap tajam kearah Pak Baskara “Keke? Kau tak mau masuk?” Ujar Pak Bas pelan namun tegas.


Kejora memaksa Angga untuk melepas genggamannya, Angga menghela napas beratnya. Pak Bas tersenyum penuh kemenangan ketika Kejora melahkah menuju pintu sebelah dan masuk kedalam mobil.


Pak Bas berdiri menghadap Angga yang diam menatapnya tajam “Aku tak menyangka anak dari Wiratmaja bermain dengan wanita sepertinya?" Ujar Pak Bas memasang wajah seolah tak menyangka.


"Dimataku dia buka wanita seperti itu." Sahut Angga tanpa mengalihkan tatapan tajamnya yang penuh kebencian itu. Pak Bas tertawa menyeringai.


"Kau tau, aku akan menikmati malam yang indah ini bersamanya, dan kau tahu, tubuh seksinya? wuuu sangat membuatku ketagihan..!” Angga mengepalkan tangannya mendengar ucapan pria tua didepannya, ada api berkobar hebat didadanya, hasrat ingin membunuh orang didepannya terpancar jelas dimatanya.


Angga menggeretakkan giginya dan menghela nafas mencoba menahan dirinya, bukan saatnya untuk menghakimi orang ini, akan ada saatnya pria tua brengsek ini hancur ditangannya.


“Nikmatilah kehidupan kotormu, tetap lihat kedepan, disana ada aku yang akan menghancurkanmu.” Ujarnya tegas dan melangkah melewati pria itu.


Angga sepintas melirik kearah Kejora yang duduk dikursi penumpang yang juga menatapnya saat itu, ada sorot kesedihan dimata Angga dan Kejora memahami itu, dia hanya bisa tertunduk ketika Angga sudah tak terlihat dari pandangannya.


“Kau terlihat dekat dengan dia?” Tanya Pak Bas ketika masuk, “Anda tak perlu berhenti untuk mengambilku Tuan, diluar jam kerja aku punya kehidupan sendiri dan itu bukan urusan Anda.” Pak Bas mendengus kesal “dia pacarmu?"


"Siapa dia itu tak ada hubungannya dengan Anda Tuan." Pak Bas tertawa, "kau ingin aku menghancurkannya? Atau kau tak tahu siapa dia?”


Kejora tahu jika Pak Bas pernah menjadi teman ayah Angga namun tak pernah tahu siapa gerangan ayah Angga. “Aku tak yakin ayahnya akan suka ketika tahu anaknya dekat dengan wanita sepertimu.” Cibir Pak Bas memperbaiki kancing kemeja panjangnya, Kejora hanya membuang pandangannya keluar jendela.


“Jauhi dia.”


“Itu bukan urusan Anda Tuan.” Pak Bas meraih dagu Kejora dan memaksanya melihat ke arahnya, Kejora meringis karena jari kuat Pak Bas mencengkramnya kuat.


“Jauhi dia!” Perintahnya dan melepas cengkramannya, Kejora hanya membisu tak menanggapinya walau sepatah katapun.


***


Angga memukul-mukul batang pohon didepannya, meluapkan amarah yang sedari tadi ia tahan. “Aku akan menghancurkanmu!” Ujarnya melepas pukulan terakhir, ada bekas darah menempel dipermukaan pohon itu, buku-buku jari Angga terluka dan telihat darah mengalir pelan. Dia mengatur nafas mencoba menenangkan gemuruh amarah didalam dadanya.


"Kau akan lihat Tuan Baskara, orang sepertimu pantas mendapatkan ganjaran yang setimpal!" Angga menatap kedepan dengan sorot mata penuh amarah. "Dan akan kupastikan tak hanya penjara tempatmu berakhir."


***


Kejora ditarik masuk secara paksa oleh Pak Bas, dia mencoba melepaskan cengkraman kuat ditangannya, “Hei, lepaskan dia! Ada apa ini?” Tanya Madam Den ketika melihat Kejora diseret paksa oleh Pak Bas.


“Sudah aku bilang dia milikku, mengapa kau biarkan dia bersama orang lain?” Marah Pak Bas membuat Madam Den melihat kearah Kejora dengan maksud menjelaskan apa yang dimaksud Pak Baskara.


“Aku hanya pergi dengan Angga, itupun diluar jam kerja.” Jelas Kejora masih mencoba melepas cengkraman erat dari Pak Bas.


Madam Den berjalan mendekat, perlahan cengkeraman ditangan Kejora terlepas, Madam Den memberikan tatapan dingin, dia melihat bekas merah ditangan Kejora,


“Angga pernah menyewa dia dengan harga mahal, sudah kujelaskan diawal kan? Jika diluar jam kerja dia punya kehidupan pribadi?”


“Hey! kau tak tahu siapa Angga?” Tanya Pak Baskara ke Madam Den, “dia anak dari Gubernur Jawa Tengah, Wiratmaja Pratama!”


Kejora terkejut mendengarnya “kau juga tak tahu kan?” Pak Bas tertawa sinis ketika memahami raut wajah Kejora.


“Kita juga perlu berhati-hati, tak mungkin juga anak Gubernur mendekati ******* seperti dia! Ya dia memang hanya anak angkat, tetap saja kelakuan dia ini akan memberikan citra buruk untuknya, apa itu tidak aneh? Ini lucu sekali..” Cibir Pak Baskara, “lalu mengapa jika dia anak Gubernur? Bahkan sekertaris negara saja bisa dibawah kakiku, jangan gunakan alasan tak masuk akal untuk nafsu syahwatmu itu Bas.” Menatap dingin pria tua yang kini hanya mendengus kesal.

__ADS_1


“Keke, ikut aku.” Perintah Madam Den seraya menggandeng tangan Kejora meninggalkan Pak Bas yang memberikan tatapan sinis. "Tetap saja aku tak terima dia bersama pria lain selain aku!" Seru Pak Bas, Madam Den memalingkan tubuhnya. "Jangan lewati garis batasmu Bas." Ujarnya dingin kemudian kembali melanjutkan langkahnya bersama Kejora meninggalkan Pak Bas yang menatap kepergian mereka dengan kesal.


Kejora hanya diam terduduk, sementara Madam Den sedang menyiapkan beberapa alat kompres. “Aku ingin tahu apa hubungan kalian berdua?” tanya Madam Den memberikan kompres ditangan Kejora, “tidak ada yang spesial Mam, kami hanya sering pergi jalan jika ada pentas atau pameran seni budaya, kau tahu aku menyukai hal itu.”


Madam Den menatap Kejora kemudian mengambil kembali kompres ditangan gadis itu untuk dicelupkan kembali ke baskom es, “sering?” “emmm.. tidak juga” “kau menyukai dia?” Kejora terdiam agak lama membuat Madam Den mengalihkan pandangannya dari tangan Kejora dan menatapnya “aku tak tahu Mam.”


Madam Den tersenyum simpul “ini pertama kalinya aku melihatmu begini.” Kejora menggigit ujung bibirnya.


“Siapapun dia aku tak peduli, tapi yang jelas...” Madam Den menatap tajam Kejora “Jangan main-main denganku jika tak ingin terjadi sesuatu yang tak kau inginkan.” Ujarnya pelan tapi terdapat aura menakutkan bagi Kejora. Madam Den memang terlihat baik dan ramah bagi mereka yang hanya melihatnya dari luar, tapi dibalik sosok itu dia adalah wanita paling keji yang pernah dikenal oleh Kejora.


"Aku sudah merawatmu, membiarkanmu hidup. Jadi jangan melakukan hal-hal yang diluar batas." Kejora hanya menelan ludah.


“Dan soal Baskara, aku mulai tidak menyukai gelagatnya, dulu aku memakaimu untuk menjebaknya, dan kini dia sudah berada dibawah kuasaku, tapi dia mulai mencoba mengaturku.” Madam Den nampak kesal terlihat dari nada bicaranya yang sedikit berubah.


“Apa kau akan menggantiku sebagai escorternya?” Madam Den berpikir sejenak “kita lihat nanti, aku tak ingin kau berakhir buruk seperti Sofia.” Kejora tersentak dan mengingat jika temannya Sofia yang juga seorang sepertinya sudah 5 bulan menghilang.


“Ada ap-” “lupakan itu, jangan mencaritahu lebih banyak tentangnya.” Madam Den beranjak "Istirahatlah." Lanjutnya kemudian pergi meninggalkan Kejora.


“Soal tadi aku minta maaf, aku salah telah mengutamakan egoku daripada peraturanmu.” Jelas Pak Bas ketika melihat Madam Den memasuki ruangan tempat biasanya mereka bertemu untuk menbahas bisnis, Madam Den hanya melirik sepintas kearah pria yang kini berlutut didepan mejanya.


“Sudah kubilang, jangan melakukan kekerasan fisik kepadanya, kau boleh menyetubuhinya dengan fantasi sex liarmu tapi jangan sampai kau melanggar peraturanku! Jangan ganggu dia diluar jam kerjanya.” Pak Bas mendengus pelan “akan aku ganti escortermu.”


Pak Bas terkejut dan menatap Madam Den yang duduk di kursinya bersilang kaki seraya menatapnya dingin “lebih cantik dan menarik, Keke mulai tak nyaman denganmu dan aku tak ingin itu mengganggu kejiwaanya. Aku memperlakukan anak asuhku bukan seperti boneka sex penghasil uang, aku juga memperlakukan mereka seperti manusia yang butuh kehidupan lain, dan kau sudah melewati batas itu.”


“Apa? Dia sudah melayaniku selama 5 tahun, aku tak ingin yang lain.” Madam Den berdiri dan menghampiri Pak Bas yang masih duduk berlutut “Kau mulai mengaturku?”


“Aku tak suka hal ini! Aku hanya ingin Keke.” Madam Den tersenyum sinis, “apa peduliku soal itu? Aku hanya peduli anak asuhku. Jika kau pergi aku masih bisa mencari yang lain, tapi Keke dia punya pesona lain femme fatale miliknya kuat sekali.” Pak Bas mengepalkan kedua tangannya namun kemudian memejamkan mata menghela napas panjang.


“Sudah aku bilang akan aku ganti, Keke sudah tak nyaman denganmu, jangan ganggu dia aku beri yang lebih mulus, perawan!” Madam Den menaikkan nada bicaranya, mendengar kata perawan, ekspresi wajah Pak Bas berubah.


“Kenapa kau tak bilang dari tadi?” Dia tersenyum lebar membuat Madam Den hanya tersenyum sinis. “Menjijikkan” batinnya melihat pria tua didepannya.


***


Angga berjalan gontai dengan langkah kaki berat memasuki rumahnya, ada Dimas dan Satya yang sedang duduk berdua di meja makan. “Sudah makan Mas?” tanya Satya ketika melihat sosok Angga lewat, Satya melihat kearah Dimas ketika Angga tidak menggubrisnya


“Ada apa dengannya?” Dimas hanya mengangkat bahu tapi ekor matanya melihat kemana arah Angga yang sudah masuk kamar.


“Kurasa ada sesuatu terjadi antara mereka.” “Kejora?” Tanya Satya memastikan, “mungkin” Dimas menjawab simpel dengan menikmati suapan terakhirnya, “kamu yang cuci ya.”


“laahhh, curang! Kan aku sudah yang beli, masak aku yang nyuci juga?” Protes Satya dengan tindakan Dimas tersebut.


Dimas tersenyum menggoda “aku ada urusan sebentar, lagipula kau juga belum selesai makan, lihat porsi makanmu, piring kotormu yang paling banyak.” Senyum menggoda itu berubah menjadi wajah menyebalkan bagi Satya, Dimas seolah menggeleng tak percaya melihat jumlah makanan yang dimakan Satya.


"Terkadang aku bingung, kemana larinya semua makananmu itu." Dimas bersedekap seraya menatap Satya dari atas sampai bawah dimana Satya masih duduk menikmati makanannya. "Kau tetap kurus, kau cacingan!"


"Mending kau pergi aja deh Mas!" Dimas tertawa, “Bye~” Dimas berlalu, meraih kunci motor dan pergi, "Aku bawa stefi ya!" Seru Dimas, “Isi bensinnya jangan lupa! Awas aja sampai membuatku mogok dijalan besok!” Teriak Satya karena Dimas membawa motor Satya.


Beberapa saat setelah Dimas pergi, Angga keluar kamar dan melihat Satya yang sedang sibuk dengan laptopnya, wajah serius begitu tergambar diwajahnya, “lagi apa Sat?” Satya tak menyadari jika Angga sudah duduk disebelahnya.


“Hei..” Angga menepuk bahu Satya membuatnya terperajat dan mengelus dadanya. “Astaga Mas! Ngagetin orang hidup aja!” Angga tertawa karena tak tahu jika Satya memakai headset ditelinganya.


“Lagi apa?” tanyanya lagi melihat layar laptop Satya yang penuh dengan gambar karakter dan kode pemrograman yang tidak dipahami mahasiswa teknik sipil sepertinya.

__ADS_1


“Aku sedang menyelesaikan game buatanku yang akan aku kirim ke perusahaan game itu.” “Lah? Bukannya sudah diterima?”


“Oh, itu hanya prototype alpha, ini versi betanya.” Angga mengangguk sedikit memahami.


“Kapan kau pergi?” Angga kembali mengamati game buatan Satya.


“3 bulan lagi, aku masih perlu pelatihan sebelum benar-benar terjun bersama projek mereka.”


"Aku belum mencoba gamemu, seperti apa konsepnya?" Satya membuka program alphanya dan mulai menjalankan game tersebut. "Game ini akan berjalan di sistem perangkat game seperti PS, Nintendo atau alat game lainnya, yang membedakan akan ada perangkat pendukung lain yang harus digunakan, seperti kacamata VR (Virtual Reality), dan perangkat menyerupai sarung tangan yang nantinya membaca sistem gerak tangan dan gelang kaki untuk membaca gerak kaki." Angga membuka mulutnya terpana dengan demo program alpha dari game buatan Satya.


"Pemain akan masuk kedalam dunia game tersebut, didalamnya terdapat sebuah ekosistem atau sebuah dunia virtual dari game itu dimana pengguna akan menjadi karakter game dan berpetualang disana bersama rekan gamers lainnya. Tak hanya 1 tipe game disana, aku baru membuat 4 arena. War, Arcade, Teka-teki dan Sport." Angga manggut-manggut, dan menepuk bahu Satya seraya berdecak kagum.


“Kau tahu? Aku bangga mendengarnya, Satya tersenyum lebar kemudian melihat buku-buku jari Angga yang terbalut perban, dia membulatkan matanya seketika “tangan Mas Angga kenapa?” Angga menarik tangannya dari bahu Satya dan mengusapnya “eng..gak kenapa-kenapa” gelengnya kemudian tersenyum,


“Mas... aku tau kau berbohong.”


Angga menghela nafas dan melengos menghindari tatapan mata Satya. “Aku sangat menyukai gadis itu Sat, aku juga bingung bagaimana untuk profesional ketika harus berurusan dengan hati.”


“Memangnya ada apa?”


“Dia masih terikat kontrak dengan wanita bernama Madam Den itu dan harus bekerja melayani klien mereka dengan tubuhnya. Aku tersiksa setiap membayangkan hal itu, apalagi setelah tahu jika Pak Baskaralah yang menjadi kliennya.” Satya kaget mendengarnya, "Pak Baskara ayahnya Barra?" Angga mengangguk, kemudian suasana menjadi hening.


“Mas, maaf aku tak bisa membantu banyak karena aku juga harus fokus dengan ini.” Angga menggeleng “Hey.. otakmu jangan sampai terlalu lelah, ini misiku dan ayahku, beliau juga ada tim investigasi khusus yang juga mengurus ini.” Angga mendengus kesal, “Aku harus menghancurkan mereka, terutama pria tua itu.” Ujarnya begitu berambisi seraya mengusap perban ditangannya.


“Tapi jangan gegabah ya Mas, sebab bisa membahayakan kau juga Mbak Kejora.” Angga bersandar dan menatap langit-langit.


“Tanganmu sudah diobati? Parah? Perlu kupanggilkan Mas Danu?” Angga mendengus seraya tertawa kecil ketika Satya menawarkan untuk memanggil teman dokternya.


“Aku tak selemah itu ya!” Ujarnya membuat Satya cuma tertawa nyengir. “Ngomong-ngomong temanmu si Mas Danu itu punya kembaran ya? Aku pernah melihat seseorang mirip dengannya tapi gaya rambutnya berbeda.” Ujar Angga menggerakkan tangannya di bagian kepalanya.


“Gondrong?” Angga mengangguk “iya dia juga temanku, malah aku kenal Mas Danu dari saudaranya itu. Namanya Mas Bhanu dia developer game juga sepertiku, nanti juga ke Jepang aku bersamanya karena kita satu tim.”


“aahh..” Angga menganga seraya mengangguk “mengapa orang kembar harus memilik nama yang juga mirip ya.” “ah.. aku juga heran” sahut Satya.


"Mas, aku berterima kasih karena kau membiayai program ke Jepangku itu, aku janji jika projek game itu sukses, aku akan membayar hutang itu." Angga menggeleng, "jangan menganggapnya hutang, kau juga banyak membantuku loh."


"Tapi..." Angga mengangkat tangan kanannya menunjukkan telapak tangannya kearah Satya, membuat lelaki yang lebih muda terdiam.


"Balas saja aku dengan hal lainnya."


"Apa?" Bingung Satya.


Angga memanyunkan bibirnya, seraya berpikir, dia terdiam agak lama seolah sedang berpikir jauh kedepan.


"Jika nanti aku butuh sesuatu dan aku percayakan itu padamu, aku ingin kau mau menerimanya."


Satya mengerutkan dahinya, "kau gak berencana menyerahkan perusahaanmu yang diwariskan Om Wira kepadaku kan?" Angga tertawa, "kau pikir aku gila? bukan seperti itu, yaaah sebagai jaga-jaga." Ujar Angga, Satya hanya diam kembali menatap kearah layar laptopnya.


"Insyaallah ya Mas, jika aku umur panjang, apapun itu jika aku sanggup, aku akan menyetujuinya." Angga tertawa kecil, "sindrommu itu apa tak hanya membuat daya ingat jangka panjangmu lemah? apa juga memperpendek kemungkinan kau hidup?" Satya mengangkat bahu. "Nyawa manusia siapa yang tahu."


"Ngomong-ngomong serius sekali obrolan kita." Ujar Angga membuat Satya tertawa, "iya ya! aku jadi merinding." Tawa Satya mengusap kedua lengannya.


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2