Bintang Kejora

Bintang Kejora
Harapan dan Cahaya


__ADS_3

Seorang wanita muda berdiri disisi jembatan, dia berjalan perlahan menuju ujung tepi jembatan. Matanya menatap jauh dengan pandangan kosong. Entah masalah apa yang membuat dia berakhir berdiri di jembatan itu.


“Sedang putus asa?” Dia tidak menyadari jika ada seseorang berdiri tak jauh di belakangnya, dia menoleh sepintas dan melihat wanita paruh baya menatapnya sendu.


“Apapun masalahmu nak, yang kau lakukan bukan sebuah jalan akhir.” Ujar wanita itu dan hanya diabaikan olehnya, dia semakin dekat ke tepi. “Aku pernah berpikir hal yang sama sepertimu, tapi aku kembali teringat, selama aku hidup aku belum banyak melakukan hal kebaikan untuk diriku sendiri. Apakah dengan mati aku bisa bahagia? Atau malah aku berakhir lebih menderita karena hukuman yang Tuhan berikan karena aku telah putus asa.” Jelasnya dan membuat gadis muda itu diam tak bergeming.


Melihat itu, wanita paruh baya itu sedikit melangkah lebih dekat “apakah kamu mau berbagi masalahmu denganku?” Tanyanya lagi dan membuat gadis muda itu menoleh kearahnya, matanya mulai basah dengan air mata.


“Apa arti hidup jika setiap hari aku jijik dengan diriku sendiri! Kotoran-kotoran ditubuhku ini tak bisa hilang meski aku membasuhnya berkali-kali. Kau tak tahu apa yang aku rasakan!” Ujarnya sedikit menatap ke bawah dimana wanita itu berada.


“Aku memang tak tahu apa yang terjadi padamu, tapi bolehkah aku mengetahui sedikit tentang itu?” Gadis itu mengusap air matanya yang mengalir deras.


“Aku pelac*r! Kau tau! Dan aku benci itu! Lebih baik aku mati!” Ucapnya berteriak kearah wanita itu membuat wanita itu sedikit tertegun, menerima kenyataan jika gadis muda didepannya memiliki kisah hidup yang pahit.


“Hai nona manis...”


“Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Aku jijik sekali.” Teriak gadis itu kembali dengan suara parau.


Wanita itu terdiam sejenak “Tak ada manusia didunia ini yang bisa menilai dirinya sendiri.” Ujarnya kemudian mencoba meraih sisi jembatan dan duduk diatasnya, sang gadis hanya mengamati dari sudut matanya.


“Aku kehilangan anakku dan keluargaku dalam tempo yang sangat dekat, aku tak bisa berada disisinya ketika hal itu merengut mereka dari tanganku. Aku merasa gagal menjadi seorang Ibu.” Wanita itu berkata dengan kesedihan diwajahnya, kemudian menatap kesamping dimana gadis tersebut masih berdiri.


Wanita tersebut mengulurkan tangannya kearah sang gadis berharap dia bisa memiliki peluang untuk mengurungkan niat gadis muda itu untuk bunuh diri. Mereka saling tatap, gadis itu melihat tangan yang mengulur kepadanya. Sedikit keraguan menjulur kepikirannya, dia memang putus asa. Tapi, ada keadaan dimana dia juga takut dengan dosa.


Dia sudah menjadi perempuan dengan pekerjaan penuh dosa, dan jika dia membulatkan tekad untuk mengakhiri hidup, apakah Tuhan akan menerima dia? Sedangkan bunuh diri adalah hal yang paling dibenci oleh Tuhan.


Tapi, apakah dia masih bisa percaya keberadaan Tuhan setelah semua keburukan terjadi padanya? Sebelumnya tidak, tapi kini dia percaya karena saat ini ada seseorang yang mengulurkan tangannya kepadanya.


Perlahan dia seolah melihat aoi hangat menyelimuti tubuhnya, bisa jadi wanita ini orang yang dikirim Tuhan untuk menghentikannya. Beberapa waktukemudian, gadis itu meraih tangan wanita tersebut dan mereka duduk berdua disisi jembatan.


“Siapa namamu?” tanya wanita itu, sang gadis hanya menunjuk sebuah bintang yang bercahaya paling terang. Membuat wanita itu melihat kelangit “Bintang?” gadis itu mengangguk.


“Lelah dengan kehidupan, tapi belum siap untuk mati. Tapi ingat, Tuhan adalah perencana terbaik. Jadi, bertahanlah.” Jelasnya menatap gadis bernama Bintang tersebut. Gadis itu hanya tertunduk, “apakah manusia sepertiku masih harus bertahan?” tanyanya dan membuat wanita itu mengangguk “tapi aku semakin jijik dengan diriku sendiri.” Ujarnya kembali terisak, wanita itu merangkul perlahan pundak gadis yang terlihat begitu rapuh, dia menyandarkan kepalanya kebahunya.


"Aku seolah melihat diriku yang dahulu, sepertinya Tuhan membuatku jalan di jembatan sepi ini karena untuk dipertemukan denganmu." Jelasnya menatap mata gadis yang bercucuran air mata. Dia mengusap perlahan air mata dipipi gadis itu.


“Suatu saat nanti kamu akan menemukan kebahagiaan juga. Walau itu melewati hal yang pahit. Karena bahagia adalah hak dari Tuhan. Walau terkadang rencana itu harus membuat batin ini semakin terluka, yang bisa kita lakukan adalah, jangan menyerah.” Ucapnya sembari mengelus kepala Bintang.


“Saat ini, bertahanlah walau itu sulit.” Bintang terdiam menikmati usapan halus dikepalanya dari orang asing yang baru dikenalnya, orang asing yang mungkin seusia ibunya jika ibunya masih hidup. Dia berpikir apakah seperti ini rasanya memiliki seorang Ibu? "Jika anakku masih ada, sepertinya dia seusia denganmu. Berapa umurmu nak?" Bintang berdeham sebelum menjawab. "18 tahun." Jawabnya dengan suara parau.

__ADS_1


“Aku hanya akan berdoa kau bisa segera bebas dari pekerjaan kotor yang kau benci itu. Akan ada yang menyelamatkanmu dan membawamu dari keterpurukan itu.” Wanita itu menggenggam tangan Bintang dan mengusapnya.


“Saat ini yang harus kau lakukan adalah bertahan, tapi kau harus ingat, jika saatnya tiba, lupakanlah masalalumu. Yang harus kau lakukan adalah menata hidupmu yang baru dan menemukan bahagiamu, lihat betapa cantiknya dirimu nak." Bintang menarik kepalanya dari sandarannya dan menatap wajah wanita itu, ia mengerutkan keningnya. Dan hanya dibalas senyuman oleh wanita itu.


“Bertahanlah, karena kamu pantas bahagia sampai akhir hidupmu. Bersinarlah Bintang!” lanjutnya mengepalkan tangan menyemangati gadis didepannya. Wanita itu tersenyum ketika melihat gadis didepannya tersenyum, “tersenyumlah, senyummu sangat cantik.” ujarnya membelai lembut pipi Bintang.


“Survive, keep fight and pray adalah motto yang kudapat dari seseorang yang kukenal baik. Bertahanlah, tetap berjuang dan jangan lupa berdoa.” Bintang hanya termangu menatap sosok wanita didepannya yang tadinya hanya sekedar orang asing lewat tapi berhasil menghiburnya.


Tangan wanita itu kembali mengusap kepala Bintang dengan lembut “kamu pasti bisa melewati itu semua. “Maaf, tapi Anda siapa Nyonya, aku belum mengetahui namamu?” tanya Bintang kemudian


“Emm...kau bisa memanggilku Ibu mulai saat ini, jika kau mau.” Ujarnya tersenyum sambil membuka kotak pipih berisi lembaran kertas kecil, “Jika ada masalah, kamu bisa datang kesini.” Lanjutnya menyerahkan kertas kecil berupa kartu nama “Widianti, Toko barang unik” Baca Kejora dan disambut anggukan wanita tersebut.


***


Kejora kaget dan terbangun dari tidurnya, dia tersadar jika dia masih tertidur di bak mandi, jika dalam keadaan buruk dan ketika keinginan mengakhiri hidupnya itu mendera dirinya. Maka dia akan teringat kejadian 5 tahun yang lalu, dimana awal mula dia mulai menjadi wanita penghibur khusus untuk pria tua yang menjadi klien besar Madam Den.


Kejora menangis dan bersandar dilututnya yang ditekuk, memeluk lututnya dan menangis semakin menjadi. Dia teringat sosok wanita itu, sudah lama sekali tidak bertemu, “aku lelah Ibu, sampai kapan aku harus melewati kehidupan seperti ini.” Ujarnya dalam isak tangis.


Dia kembali teringat pesan wanita itu untuk percaya jika suatu saat nanti akan ada orang yang menyelematkannnya dari keterpurukan dan tiba-tiba bayangan Angga muncul dikepala Kejora, dia terdiam walau masih terisak.


“Apakah dia yang kau maksud, orang yang Tuhan kirim kepadaku?” Ujarnya merebahkan diri dan menatap sudut kamar mandi, dia menghela nafas panjang “baiklah, akan aku bantu dia, seandainya aku akan mati karena itu. Setidaknya aku mati bukan karena bunuh diri.” Ujarnya kembali menutup mata.


***


“Sampai kapan kau buat anakku tersiksa! Cepat buat penawar obat itu! Aku tak kuasa melihatnya seperti mayat hidup!” Ujar seorang pria tua berambut putih yang mengenakan setelan jas hitam, dia menggebrak-gebrak meja dihadapannya. Mengacungkan jarinya kearah Madam Den. “Kau sengaja melakukan ini kan! Agar rencana jahatmu itu terus mendapatkan dukungan dariku!” Madam Den hanya tersenyum licik.


“Jangan melewati batas wahai Bapak Sekertaris Negara, Anda cukup turuti saja perintahku dan akan aku berikan penawar itu.” Ujarnya seraya meneguk perlahan minuman anggur ditangannya. “Lagi pula, kemana Anda ketika anak Anda memilih memakai obat terlarang itu untuk mengatasi masalahnya?” Ucapnya sinis.


“Kau menjebaknya dasar perempuan gila!” Madam Den menatap tajam pria itu, meletakkan gelas anggurnya dan berjalan mendekat kearah lelaki tua itu. Tangannya meraih dasi yang melingkar dilehernya dan merapikan bagian simpul dasi tersebut. Mempererat ikatan dasinya dengan tersenyum dia menatap tajam pria didepannya, “lakukanlah tugasmu, jangan melibatkan hal lainnya yang tak perlu. Atau....” Madam Den berhenti sejenak sambil mencengkram sisi jas pria tersebut “aku buat penderitaanmu tak berakhir, anakmu yang sudah kecanduan itu, hanya aku yang bisa menyelamatkannya.” Jelasnya menepuk-nepuk sisi jas tersebut dengan jari-jarinya.


“Jangan sampai presiden mengetahui ini semua. Pastikan kau membuat mereka menyetujui import ikan itu sementara aku menyelundupkan obat itu lewat sana.” Jelasnya dengan nada tajam membuat pria tersebut bergidik.


“Kupastikan kau mendapatkan apa yang kau mau jika kau mengikuti alur perjanjian seperti yang kita sepakati di awal.” Pria yang menjabat Sekertaris Negara tersebut terduduk dan menghela nafas yang tertahan akibat cengkraman dasinya, melonggarkan kembali ikatan dasinya dia hanya bisa menatap wanita yang benar-benar bertindak superior kepadanya.


Dia hanya bisa pasrah dengan keadaanya, dimana anak satu-satunya terjerat obat terlarang karya wanita yang dianggap gila itu. Sebuah narkoba generasi baru dari narkoba jenis opium yang bereaksi seperti doping. Opium sendiri adalah jenis narkoba yang berbentuk bubuk. Narkoba jenis ini dihasilkan dari tanaman bernama papaver somniferum.


Kandungan morfin dalam bubuk ini biasa digunakan untuk menghilangkan rasa sakit. Dan Madam Den sendiri yang sudah bergelut bertahun-tahun didunia farmasi bahkan memiliki perusahaan farmasi besar di negara asalnya berhasil merancang narkoba tersebut menyerupai vitamin yang mampu merangsang kinerja tubuh menjadi maksimal, reaksi pertama akan terjadi lonjakan energi yang besar, dan menjadikan manusia yang mengkonsumsinya merasa sangat bersemangat dan bertenaga.


Tapi, jika pengguna sudah memasuki fase kecanduan maka pengguna tersebut perlahan berubah seperti manusia zombie. Obat terlarang generasi baru yang dinamai opiumZ atau lebih dikenal popiv ini menjadi rencana busuk dari Madam Den untuk mengeruk uang dari beberapa negara di Asia Tenggara, dan Indonesia adalah target pertamanya yang memiliki jumlah penduduk yang banyak.

__ADS_1


Dia memanfaatkan sebuah perusahaan farmasi milik Indonesia yang berhasil dia jerat untuk takluk dibawah kekuasaannya, semua itu karena dia ingin melancarkan aksinya. Ketika semua orang mengalami kecanduan obat yang dikeluarkan oleh perusahaan itu, maka polisi dan pemerintah akan fokus menangkap pemilik perusahaan farmasi bernama Wijaya Farma tersebut, dan setelah kekacauan terjadi akibat maraknya pecandu yang mulai berubah menjadi manusia zombie, perusahaan Madam Den mengeluarkan penawar obat tersebut yang bereaksi meregenerasi sel otak yang rusak karena reaksi popiv.


Akal busuk dia gunakan untuk menjebak beberapa orang agar bisa memuluskan rencananya, termasuk menjebak pemilik PT. Wijaya Farma dan sekertaris Negara yang anaknya kini mencadi pecandu popiv. Tenaga medis tidak memahami kondisi anak dari sekertaris negara karena popiv sudah dirancang sedemikian rupa menyerupai vitamin.


Kandungan morfin didalamnya dilebur menjadi satu oleh zat rahasia ramuan Madam Den yang jika dideteksi hanya akan muncul laporan negatif penggunaan narkoba, karena saat itu zat adiktif tersebut masih berkamuflase bersama mineral dalam darah, perlu zat khusus untuk mendeteksi dan itu hanya Madam Den sendiri yang tahu.


Inilah yang membuat Sekertaris Negara merasa menyerah dan tunduk kepada Madam Den, mengikuti semua perintahnya. Karena dia tidak tahu lagi harus bagaimana, menghianati negaranya demi menyelamatkan anak semata wayangnya.


***


“Sandra Zei Tian...” ujar Angga sembari menatap layar datar didepannya, tangannya mengetuk-ngetuk meja menggunakan ujung penanya, matanya mengamati kearah layar datar dideoannya dimana informasi mengenai Madam Den yang berhasil didapatkan oleh Satya kemarin.


"Dia tidak begitu mengeksploitasi kehidupan Kejora sebagai wanita penghibur, tapi Kejora terlihat begitu tertekan dengan pekerjaannya, pasti ada hal lain yang terjadi, gelagatnya juga tidak begitu menunjukkan sebagai seorang mucikari, itu semua kedok untuk menutup bisnis illegal lainnya. Lalu kenapa dia bisa berani seperti itu?" Angga menautkan kedua alisnya dan menyangga dagu dengan kedua tangannya yang terangkai.


"Secara terang-terangan memiliki bisnis club malam. Atau, bisnis itu berdiri bukan atas nama dia? Seperti perusahaan farmasi miliknya?”


Angga segera meraih telponnya. “Kamu dimana?” tanyanya ketika sambungan telpon sudah meraih orang yang dimaksudkan.


“Bisa kamu cari tahu pemilik starynight club?” tanyanya lagi, “ya gak harus sekarang. Kau bisa mencarinya setelah pulang dari kencanmu dengan Mila.” ujar Angga tertawa kecil dengan nada meledek di kalimat kencan, dia terkekeh ketika orang disebrang terdengar merengek kepadanya, siapa lagi kalau bukan Satya yang begitu menggemaskan untuk digoda.


“Oke terima kasih, dan pacaran yang sehat ya anak muda.” Angga menjauhkan telinganya ketika orang disebrang kini berteriak mengeluh. Sambil tertawa dia menutup sambungan telponnya.


“Anak itu lucu banget untuk diledek.” Ujarnya terkekeh. Angga kembali membaca berkas-berkas tentang Madam Den dan komplotannya. Namun beberapa saat kemudian dia kembali menatap layar ponsel yang tergeletak didepannya, dia terdiam menakup dagunya dengan telapak tangan kanannya.


Sudah 3 hari dia tidak bertemu dengan Kejora, dan ada perasaan aneh yang menjalar didadanya setiap ia teringat Kejora, “apa aku merindukannya?” gumannya pelan masih menatap layar ponsel tersebut. Dia tidak tahu alasan apa yang akan dia gunakan untuk bertemu Kejora, dia pernah mengunjungi club malam itu hanya karenan ingin melihat apakah ada gadis itu disana. Mungkin secara tak sengaja, melihat sekilas pun tak apa. Tapi nyatanya tidak, Kejora tidak ada disana.


Dia mendapat informasi jika Kejora adalah escorter khusus Madam Den dan seandainya dia harus melayani seorang klien, hanya 1 pria yang menjadi langganannya. Tak ada sembarang orang bisa menyewa jasa Kejora, mendengar itu Angga merasakan perasaan terbakar didadanya, dia hanya bisa menghela nafas kasar dan keluar dari club itu dengan wajah kesal dan penuh amarah.


Membayangkan Kejora bersama pria lain disatu ranjang membuat dia marah tanpa alasan. Angga menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menghirup udara dalam-dalam berharap bisa mengontrol perasaan kacau didadanya.


Tiba-tiba dia memukul meja dan berdiri dari duduknya, "aish..!!" tangannya mencengkram rambutnya, “sial...sial..sial..!” ucapnya kemudian. “ingin rasanya aku bakar tempat itu.” Angga menjatuhkan badannya keranjang dan mengamati lampu yang bersinar redup diatasnya.


Lama ia tenggelam dalam pikirannya sampai pada bunyi dering ponsel yang menyadarkanya, dia kembali duduk dan berjalan menuju meja dimana ponselnya berdering. Dia melihat nama penelpon dan sekejap membelalakkan matanya. “Kejora?” Kagetnya segera meraih ponsel itu, ada perasaan senang ketika orang yang sedari tadi merasuki pikirannya tiba-tiba menelpon.


Setelah mendapat telpon dari Kejora, dia segera pergi untuk bertemu dengan Kejora, bukan hanya karena informasi yang mungkin akan ia dapat dari Kejora, juga karena kini dia memiliki perasaan yang begitu hangat semenjak gadis itu bersarang dihatinya.


“Hai Kejora...” Sapanya ketika turun dari mobil dan menghampiri seorang gadis yang duduk menunggunya di halte. Kejora menoleh kearah sumber suara dan tersenyum, Angga terpaku menatap senyum itu ada denyutan tak menentu ketika melihat Kejora tersenyum kearahnya. Waktu seolah berputar melambat ketika Kejora menoleh kearahnya dan melemparkan senyum manis itu untuknya.


"Hai juga Angga.." Ucap Kejora membalas sapaan Angga yang kini duduk disebelahnya.

__ADS_1


-bersambung-


__ADS_2