Bintang Kejora

Bintang Kejora
Tangis Sang Bintang


__ADS_3

“Angga?” Seseorang menghampiri mereka dan Angga menyapanya ketika mengetahui siapa orang itu. “sedang meliput juga?”


"Ah..... iya.." Jawab Angga yang sempat kaget karena ada yang memanggilnya. Kejora hanya diam berdiri disebelah Angga.


"Kau...?" Tanya orang itu kepada Kejora dengan tatapan menyelidik, membuat Kejora merasa kikuk karena tatapan tajam itu.


"Apa kita pernah bertemu?" Pertanyaan itu sontak membuat Kejora panik dan Angga menyadari itu. Apakah dia pernah melihat Kejora di club itu? Satu hal yang Kejora harap, jika benar pernah bertemu, orang itu tidak menyadari pekerjaan apa yang Kejora lakukan di club tersebut.


Melihat Kejora yang nampak gugup, orang itu tertawa ringan "maaf, aku malah terlihat seolah mengintimidasimu. Kau hanya nampak familiar." Imbuhnya membuat Kejora bernafas lega tapi tak disadari oleh mereka.


“Dia pacarmu Angga?” Tanyanya lagi membuat Angga kaget, “Hah..bu..bukan, dia cuma.. teman ya temanku.” jawab Angga terbata seraya melirik sekilas kearah Kejora yang nampak biasa-biasa hanya tersenyum tipis. "Oh, gebetan?" tanya orang itu lagi dengan senyum mencurigakan "abis kamu terbata gitu sih, jarang banget seorang Angga seperti itu." Ledeknya membuat Kejora tertawa kecil sementara Angga hanya mengibas wajahnya yang berkeringat.


“Mbak sendiri?” Tanya Angga mengalihkan topik juga karena melihat lawan bicaranya yang juga seorang jurnalis itu terlihat sendirian “tadi aku sama Handoko, tapi entah kabur kemana manusia itu.” Jawabnya sembari mengedarkan pandangannya mencari orang yang bernama Handoko tersebut.


“Oh iya lupa, aku Anggun.” Ujar wanita itu mengulurkan tanganya kearah Kejora dan disambut baik oleh Kejora. “Aku Kejora” Anggun tersenyum “nama yang cantik seperti orangnya” ujarnya dan menbuat Kejora tertawa sambil melambaikan tangannya seolah tak setuju “Ahh.. tidak, Mbak Anggun bisa aja.” ujarnya tersipu.


"kau beruntung sekali loh Ang jika berhasil mendapatkannya." Ledeknya lagi membuat Angga cuma melotot kearah Anggun.


“Mbak Anggun ini seniorku ketika SMA, dan sekarang bekerja di perusahaan surat kabar terkenal, liat saja tag namanya.” Ujar Angga dan membuat Kejora melihat ID yang terpasang disaku blazer hitam yang dipakainya.


“Woah” Kejora menatap takjub ketika membaca logo perusahaan di tanda pengenal Anggun.


“Dan juga beliau ini senior disana.” lanjut Angga membuay Anggun hanya mengibas-ngibas kedua tangannya dan Kejora tak bisa menyembunyikan ekspresi terpukaunya.


“Jangan buat aku besar kepala deh ah, kau berusaha membalas ledekanku tadi?” Anggun memukul Angga dengan gulungan kertas ditangannya.


Angga dan Kejora hanya tertawa, Anggun menggeleng-gelengkan kepalanya meraih ponsel disakunya untuk menghubungi seseorang “yasudah sampai jumpa ya, aku mau meliput dahulu. Cuma si Handoko ini perlu dicari dulu dimana.” Kesalnya dan berlalu pergi, tapi beberapa langkah kemudian berhenti sesaat dan sedikit berbalik “oh ya, aku lihat kalian cocok loh.” Lanjutnya sambil mengantongi kembali ponselnya kesakunya, dan memberikan senyum menggoda kearah mereka berdua.


Angga hanya memberi tatapan seolah bermakna ‘udah deh diem pergi sana' membuat Anggun tertawa, sedangkan Kejora hanya diam mengamati mereka berdua, setelah Anggun tak terlihat Kejora melirik ke arah Angga yang masih memiliki senyum kecil diwajahnya.    


“Emang kamu beneran gak punya pacar?” tanyanya membuat Angga menoleh kearahnya, kemudian menggeleng “heem, kebohongan apa lagi ini?” Ledek Kejora memicingkan matanya, Angga mengerutkan dahinya karena tak paham.


“Emm aneh aja, lelaki sepertimu sepertinya banyak disukai oleh perempuan.” Jelasnya lalu melihat dari atas kepala sampai ke ujung kaki Angga,


“Yaaa gimana yaaa, mereka yang suka tapi kalau aku tidak, aku harus bagaimana?” sombong Angga dan Kejora hanya memutar bola matanya.


"Sepertinya aku salah bicara." Angga hanya tertawa mendengar penuturan Kejora itu.


Mereka berdua kembali mengitari lokasi, beberapa parade sudah dimulai. Dibagi menjadi 4 sesi, sesi sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan kategori umum.


Kejora sangat senang ketika bagian anak-anak sekolah dasar. Dan Angga terkadang mencuri pandang mengamati senyum manis milik Kejora. Dia bingung mengapa dia bisa merasakan hal ini kepada perempuan yang baru ia temui 3 hari ini. Apakah cinta pada pandangan pertama itu benar ada? kesibukan yang Angga miliki membuatnya sangat jarang berinteraksi dengan lawan jenis secara serius.


Angga berjalan agak mendekat kearah kerumunan karena dia membutuhkan foto yang lebih bagus, sedangkan Kejora menunggunya dikursi yang agak jauh. Tapi tetap bisa melihat dimana Angga berdiri.


Jika Angga bingung mengapa dia bisa memiliki perasaan aneh kepada perempuan yang baru dikenalnya, berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Kejora, dia bingung mengapa di dunia ini masih ada laki-laki seperti Angga.


Walau baru mengenalnya, Kejora merasakan aura yang hangat dan lembut didiri Angga. Kejora menggeleng sekejap, dia tidak boleh memiliki perasaan aneh ini, Angga memang terlihat baik tapi bukan berarti dia harus memiliki perasaan itu terhadap Angga. Dia merasa, wanita sepertinya tak pantas untuk pria seperti Angga.


Kejora tertunduk menatap ujung kakinya yang menggantung, dia termangu meratapi takdir yang ia miliki. “Lelah?” Kejora terkejut ketika Angga sudah berada didepannya, menyodorkan sebuah air mineral dingin kepadanya.


Kejora menggeleng dan menerima pemberian Angga. “Maaf aku malah membawamu kesini.” Ujar Angga sedikit merasa bersalah tapi ditepis oleh Kejora.


“Aku suka kok, kalau ada acara seperti ini lagi, kabari aku ya. Aku pasti pergi mengunjungi.” Ujar Kejora melemparkan senyumnya ke Angga.

__ADS_1


“Jangan senyum seperti itu terus, kasihani jantungku ini.” Batin Angga merasakan degupan tak menentu didadanya hanya karena melihat senyum Kejora.


“Oke, aku akan mengajakmu lagi.” Kejora kaget ketika Angga akan mengajaknya lagi, dia hanya berpikir jika ada acara seperti ini dia akan mengunjunginya sendirian, dia tak berpikir untuk pergi dengan Angga.


"Kenapa? Kau tak mau pergi denganku?"


"Bukan begitu sih... hanya saja..." Kejora menggigit kedua bibirnya "aku takut mengganggu waktumu." Angga menggeleng "kan aku yang mengajak." Jelasnya memberikan senyuman santai agar Kejora tak memikirkan akan mengganggu waktunya.


"Asal kau tak keberatan, aku mau mengajakmu kemanapun kau mau." Kejora melirik aneh kearah Angga. "Kenapa?" "Kenapa terus, gak ada kosakata yang lain?" Kejora berdecak membuat Angga nyengir kecil seraya meneguk minumannya.


"Apa kau semudah ini mempercayai seseorang?" Angga menaikkan kedua bahunya "kenapa?" "kenapa lagi?" Angga tertawa menyadari kata kenapa seolah menjadi kebiasaan untuk mengawali pertanyaannya.


"Kau semudah itu percaya padaku." Angga mengamati botol ditangannya "entahlah, yang aku tahu kau orang baik, bukan begitu?" Ujar Angga menoleh kesamping, Kejora tertegun mendengar ucapan Angga barusan.


"Jangan mudah percaya kepada seseorang Ang, kau tak tahu apa yang mampu kulakukan kepadamu." Angga menatap bingung, "aku bisa saja menipumu dan mencelakaimu." Lanjutnya menatap Angga yang kini tengah menatapnya.


"Tapi aku yakin kau tak akan sejahat itu untuk melakukannya." Tutur Angga, melihat tatapan hangat dari Angga, Kejora berpaling dan berdecak seolah meremehkan perkataan Angga.


"Aku masih heran didunia ini ada orang sepertimu." Angga hanya manggut-manggut "yaah.. teman-temanku juga sering berkata seperti itu."


"Eh iya.. ngomong-ngomong, aku jadi ingat kau mengenal Dimas sebelumnya? kau sempat meledekku karena berbeda dengan temanku yang percaya diri itu." Kejora mengingat nama yang disebut oleh Angga dan sesaat kemudian dia teringat oleh pemuda genit yang menggodanya dimeja bar.


"Oh.. Dimas itu, yaah.. dia menggodaku ketika bertemu di meja bar." Terang Kejora menceritakan kejadian pertemuannya dengan Dimas, Angga juga teringat begitu antusiasnya Dimas ingin memenangkan Kejora.


"Dia sangat berharap bisa memenangkanmu."


"Baguslah, aku bersyukur dirimu yang malah memenangkanku."


"ken..." Bingung Angga, belum selesai bertanya, Kejora sudah menyelanya "karena saat itu aku sedang malas melayani klien." Angga mengangguk pelan.


"Sejak kecil, aku tak pernah menikmati hiburan lain, rekreasi, pergi ke taman hiburan atau tempat pariwisata. Terakhir kali kuingat saat aku masih bersama keluarga utuhku."


"Sama." Jawab Angga singkat mengingat masa kecilnya tak jauh beda dengan Kejora, selama ini dia hanya terkurung dirumah hanya ditemani pengasuh dan jarang bermain dengan ayahnya yang sibuk dengan pekerjaannya. Kejora menatap Angga yang termangu mengingat masa lalunya.


"Hidup dikeluarga kaya tidak menjadi jaminan kau bahagia." Jelas Angga kemudian, "tapi setidaknya kau bersyukur, sudah hidup berkecukupan dan tidak sengsara memiliki hidup sepertiku, kau harus semangat ya!"


Angga terkesima ketika menolehkan kepalanya, ia mendapati Kejora memberikan senyuman kearahnya dengan kepalan tangan agar dia semangat. Waktu seolah berhenti dan orang-orang disekitarnya seolah diam. Hanya senyum Kejora yang tertoreh dengan gerak lambat itu yang menangkap seluruh perhatiannya. "Cantik." Batin Angga.


 


Kejora kembali menatap kedepan tidak menyadari Angga yang cukup lama tertegun kearahnya. "Aku mau mendekat kesana." "Eh?" Angga kembali tersadar, "aku mau melihat pentas mereka lebih dekat." "Ohh... oke, ayo."


Mereka berdua berdiri bersamaan dan berjalan membelah beberapa penonton agar bisa mendapat penglihatan lebih jelas.


***


Angga merebahkan badannya menatap langit-langit kamarnya, dia tersenyum jika mengingat wajah Kejora dan senyum manis yang khas itu. Dia meraba dadanya dimana ada detak yang menandakan kehidupannya. “apa aku jatuh cinta?” ujarnya pelan.


Dilain tempat Kejora hanya menatap kosong kedepan. Dia hanya duduk ditemani segelas coktail disebelahnya.


“Haahhh..” seseorang membuyarkan lamunannya, dia melihat pria yang bekerja ditempat itu sebagai bartender, kini berdiri didepannya.


“Ada apa Ric?” tanya Kejora melihat ekspresi tak enak diwajah Eric. “Aku sebal sekali dengan *escorter yang selalu berkata tak baik dibelakangmu.”

__ADS_1


Kejora hanya tersenyum simpul mendengar itu. Di tempat ini, Kejora bisa dibilang anak spesial dari Madam Den, Kejora hanya diberikan kepada klien berkantong tebal dengan misi tertentu.


Kejora bukan wanita penghibur sembarangan ditempat itu, karena itu Madam Den memperlakukannya dengan spesial sehingga hal itu membuat wanita lain merasa iri bahkan tak luput Kejora dari gunjingan buruk dari mereka.


“Biarkan saja, toh mereka tak kan berani menyakitiku.” ujar Kejora meminum perlahan coktailnya, Eric hanya menyunggingkan bibirnya, kembali menyibukkan diri dengan pekerjaanya sebagai bartender.


Kejora menatap gelas ditangannya, pikirannya melayang kemana-mana, dia menghela nafas panjang mencoba menenangkan pikirannya. “Aku tak boleh berpikir kesana.” ujarnya pelan seraya meletakkan kembali gelasnya ketempat semula.


“Hari ini kau free?” tanya Eric ketika selesai melayani pesanan dari pengunjung club. Kejora menggeleng, “aku ada janji temu dengan Mami dan klien.” Eric mengangguk mendengarnya.


“Oh, aku pergi ya.” Kejora beranjak sembari mengangkat telpon dan Eric hanya mengacungkan tanda oke dengan tangannya.


Kejora memasuki sebuah ruangan VVIP, dan disana dia menjumpai Madam Den bersama lelaki paruh baya, dia sedikit mengumpat karena selalu pria tua itu sebagai kliennya hampir 5 tahun ini. Madam Den menyambut dengan senyum dan mempersilahkan Kejora untuk duduk disebelah pria tua tersebut, melayaninya dengan mendampingi dan menuangkan minum.


“Kita bertemu lagi nona manis.” Ujar pria tersebut sembari mengelus paha Kejora, meremasnya pelan membuat Kejora sedikit menahan nafas. “Oh ya, Aku sudah mengurus urusan kita dengan pemilik Wijaya Farma, aku harap segera menemui kesepakatan yang bagus.” Ujar pria tersebut seraya merangkul tubuh mungil Kejora.


Kejora menyimak obrolan mereka, baru kali ini dia mendengar obrolan bisnis antara Madam Den dan klien secara langsung. Biasanya ketika dia tiba, Madam Den akan pergi dan meninggalkannya dengan klien.    


“Proyek kita dengan Wijaya Farma pasti berjalan dengan baik. Saya akan mengatasi kemungkinan adanya campur tangan dari pihak yang tak diinginkan.” Ujarnya lagi membuat Madam Den tersenyum "Kerja bagus Bas, sekarang nikmati saja hadiahmu." Ujarnya mengemasi tasnya dan menatap kearah Kejora dan mengucap pamit dengan singkat. "Bye Ke, layani dengan baik."


Orang bernama Pak Bas tersebut mengangguk, tangannya mulai meraba pelan punggung Kejora. “Aku merindukanmu nona manis.” ujarnya seraya berbisik dan menghirup aroma rambut Kejora, membuat Kejora merinding seketika.


Dia harus bersandiwara, berpura-pura melayani dengan baik. Walau setelah itu dia harus menangis semalaman sambil berendam di bak mandi, karena merasa dirinya sangat kotor.


Kejora membenci hal ini, rasanya ingin sekali mengakhiri hidupnya. Lebih baik dia mati daripada seumur hidup harus merelakan tubuhnya dijamah orang. Bahkan dia sangat jijik dengan dirinya sendiri.


***


Kejora hanya bisa menatap nanar kearah langit - langit ruangan ketika pria tua tersebut mulai mencumbu tubuhnya. Setiap sentuhan dibadannya dan kecupan ditubuhnya, dia hanya bisa pasrah.


Namun ada perasaan berbeda saat ini yang dirasakan Kejora, tiba-tiba bayangan Angga muncul dan membuat Kejora menggigit bibirnya mencoba menahan tangis. Perasaan aneh itu kembali hinggap, perasaan yang seharusnya tidak dia rasakan kepada lelaki muda yang tiba-tiba hadir itu.


Dia melenguh ketika Pak Bas mulai memacu tubuhnya memberikan hentakan dengan ritme teratur. Nafas tersengal keluar dari Pak Bas dan memburu diwajahnya, desahan dan lenguhan Kejora tertahan oleh ciuman penuh nafsu dari pria tua tersebut. Pak Bas meneggangkan tubuhnya dan mendongakkan kepalanya sambil memejamkan mata. Seolah baru saja menenbus langit tertinggi karena mencapai klimaksnya.


Sembari mengatur nafas pria tua tersebut membelai lembut wajah Kejora yang bersimbah keringat. Kejora hanya memejamkan mata, ada air mata mengalir diujung matanya tapi tak disadari oleh Pak Bas karena nampak serupa seperi air keringat.


Dia tak boleh sampai ketahuan oleh klien ketika menangis atau tidak menikmati tugas ini. Karena itu akan menjadi sebuah hukuman jika klien sampai mengadu pada Madam Den.


“Aku bisa membayarmu mahal, dan memberikan tambahan jika kau mau bermain diluar jam kerja bersamaku, nona manis” Ujar Pak Bas yang sudah merebahkan badan disebelahnya.


Kejora menggeleng, “tidak Tuan, aku hanya bisa bekerja di jam kerja. Itu semua agar aku memiliki keadaan psikologis yang baik setiao menjalankan tugas.” Jelas Kejora dan mendapat anggukan dari Pak Bas, “padahal aku mau menawarimu menjadi simpananku, kau akan mendapatkan apapun yang kau mau.” Pak Bas mengusap ujung kepala Kejora.


Kejora kembali menggeleng “Maaf Tuan, aku sudah menjelaskan pada Tuan kemarin, jika aku tak bisa lepas dari Madam.” Pak Bas hanya berdecak dan menutup dirinya dengan selimut.


Kejora pergi meninggalkan Pak Bas yang sudah terlelap, dia pulang dan langsung merendam dirinya dalam bak mandi yang penuh dengan air. Dia menangis,meratapi semua yang harus terjadi dalam hidupnya.


Dia menenggelamkan kepalanya kedalam air, bayangan-bayangan buruk menghancurkannya, bayangan yang menggerogoti pikirannya sedari dia berusia 18 tahun.


Dia bangkit dan menghirup udara dengan nafas tersengal karena cukup lama dia membenamkan kepalanya. Malam itu Kejora kembali menghabiskan malamnya di dalam kamar mandi dengan menangis. Sudah berapa banyak malam kamar mandi rumahnya menjadi saksi mati duka Kejora.


Jika malam bisa berbicara, maka dia bisa menjadi saksi yang paling mengerti. Karena hanya pada malam hari, adalah saat dimana Kejora menangisi kehidupannya. “aku ingin mati saja.” ujarnya dalam isakan tangis.


-bersambung-

__ADS_1


catatan :


*escorter adalah perempuan yang berperan sebagai pendamping untuk tamu disebuah club. Melayani klien, menuangkan minuman, atau menghibur dengan nyanyian.


__ADS_2