
Ujian kenaikan kelas SMA Bhakti Mulya
Suasana hening menyelimuti kelas XI IPA2. Hanya terdengar suara kertas yang di bolak-balikkan oleh beberapa siswa-siswi yang mengisi ruangan itu tak terkecuali denganku. Hembusan nafas panjang dari anak-anak yang mengeluh menginterupsi di sana-sini karena waktu mengerjakan soal tinggal beberapa menit tersisa.
Bu Siska sebagai pengawas kelas terus memandangi muridnya yang menunjukan ekspresi putus asa. Beliau tidak pernah lengah sedikitpun untuk terus memantau, membuat semua anak-anak mengerang frustasi karena tidak bisa saling bertanya dan melakukan tradisi lempar-melempar jawaban.
Akhirnya mau tidak mau semua penghuni kelas mengerjakan soal dengan kemampuan masing-masing. Karena jika saja ketahuan ada yang menoleh, Bu Siska tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan muridnya dari kelas dan tidak boleh mengikuti ujian susulan.
"Anjir! Udah ujian terakhir matematika, ditambah pengawasnya kek singa betina lagi."
Terdengar Keisha mengumpat di sampingku. Aku melotot ke arahnya dengan tajam. Seakan memperingati dia karena ucapannya barusan bisa saja terdengar oleh Bu Siska yang memang berada tidak jauh dari meja kami.
"Keisha! Sejak kapan matematika ada materi singa betina?" sindir Bu Siska dari depan meja guru.
Seketika itu juga ruangan yang tadi hening menjadi gaduh karena gelak tawa anak-anak yang mendengar ucapan Bu Siska barusan. Aku yang berada satu meja dengan Keisha ikut terkekeh pelan meski meja kami tepat berada di depan meja guru.
"Sudah-sudah!" Bu Siska kembali berteriak. Kali ini di sertai gebrakan meja yang membuat anak-anak langsung mengunci bibir mereka rapat-rapat. "Sekarang teliti kembali pekerjaan kalian!"
Tak lama bel tanda berakhirnya waktu mengerjakan ujian berbunyi nyaring. Bu Siska mulai berkeliling untuk mengambil lembar jawaban anak-anak dan beranjak keluar kelas begitu semua kertas itu berada di tangannya.
"Lo tadi mau cari mati sama Bu Siska?" kataku saat anak-anak mulai meninggalkan kelas.
"Sori. Mulut gue kelepasan."
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala menanggapi jawaban Keisha tadi. Dia masih cekikikan menertawakan tingkah konyolnya sendiri.
"Tapi nggak terasa ya kita udah mau naik kelas," Keisha bernafas lega. Tangannya sibuk merapikan peralatan alat tulisnya yang berserakan di meja.
"Itu kalo lo naik."
Keisha memukul kepalaku dengan penggaris yang kebetulan sedang ia pegang. "Gitu banget lo jadi temen."
Aku berteriak kecil sambil mengusap-usap kepalaku. Tapi menit kemudian aku mencerna kalimat Keisha belum lama tadi. Memang benar. Rasanya waktu cepat berlalu. Nggak terasa hari ini hari terakhir ujian kenaikan kelas, dan beberapa hari lagi pengumuman kelulusan kelas XII akan tiba.
Tidak lama lagi Bintang akan lulus dari sekolah ini. Dan saat itu juga aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya bisa menyiapkan mental jika hal-hal yang di luar dugaanku akan datang secara tiba-tiba. Entah akan berujung kekecewaan, atau bahkan kebahagiaan yang mustahil untuk aku dapatkan jika saja aku melibatkan nama Bintang.
"Cie, yang mulai sedih karena pujaan hatinya mau lulus." Keisha menggodaku dan menyikut lenganku beberapa kali.
"Apaan sih. Siapa juga yang sedih." Aku pura-pura sibuk memasukkan alat tulisku ke dalam tas.
"Masa sih nggak sedih?" Keisha menggoda lagi.
"Enggak."
Keisha lalu terkekeh pelan. Karena rasa kesal terus di pojokkan aku beranjak meninggalkan bangku kelas dan melangkah keluar meninggalkam Keisha yang masih sibuk dengan barang-barangnya.
Sekolah sudah mulai sepi karena beberapa anak-anak banyak yang memilih pulang untuk mengistirahatkan otak mereka setelah hampir seminggu menghadapi ujian. Hanya tinggal beberapa siswa-siswi yang terlihat di koridor.
"Kejora! Tungguin gue!"
Teriakan Keisha tidak menghentikan langkahku untuk menuruni tangga menuju lantai satu. Aku berniat pulang cepat dan segera tidur setelah sampai rumah nanti.
"Gue kok di tinggalin sih, jahat lo." protes Keisha setelah menyamakan langkahnya di sampingku.
"Lo sih lama."
"Gue bukan lama, lo aja yang buru-buru karena mau menghindar dari ucapan gue tentang Bintang barusan." cecarnya tak mau kalah.
"Kei, jangan mulai deh."
"Oke deh, gue akan diem. Daripada gue di tingglin sendirian." jawabnya sembari mengangkat kedua telapak tangannya di udara.
Akhirnya kami hanya saling diam sambil melangkahkan kaki dengan santai.
Setelah tiba di gerbang sekolah Keisha berpamitan pulang karena sopirnya sudah menjemputnya lebih dulu. Sedangkan aku memutuskan untuk membalikkan badanku dan melangkah menuju perpustakaan. Aku baru ingat kalau novel beberapa hari yang lalu belum aku kembalikan. Padahal buku itu sudah berada di dalam tasku jauh-jauh hari.
Saat aku kembali melewati koridor kelas-kelas, tiba-tiba saja ada yang menabrakku dari arah berlawanan dengan gusar.
__ADS_1
"Eh, Kejora. Sori Ra, gue nggak sengaja." ucap laki-laki yang menabrakku barusan.
Laki-laki itu adalah Ari, si ketua OSIS SMA Bhakti Mulya kelas XI IPA1. Aku hanya menyunggingkan senyumku sekilas.
"Lagi buru-buru banget ya?" tanyaku yang melihat gelagatnya yang gelisah.
"Iya, Ra. Gue lagi pusing banget nih."
Aku menaikkan sebelah alisku. "Pusing kenapa?"
"Jadi, fotografer yang OSIS sewa untuk dokumentasi pas acara promnight anak kelas XII besok tiba-tiba kecelakaan. Dan gue bingung nyari penggantinya karena uang DP udah gue kasih sama orang itu. Masa iya orang dapet musibah gue minta ngembaliin uangnya kan nggak mungkin? Gimana kita mau cari penggantinya coba kalo kayak gini," panjang Ari frustasi. Laki-laki itu mengacak rambut belakangnya berkali-kali.
"Gue ada ide, Ri. Gimana kalo penggantinya pacar gue aja. Kebetulan banget dia hobi motret. Menurut gue hasil foto dia juga nggak kalah bagus kok sama fotografer lainnya."
Mata Ari langsung berbinar mendengar ucapanku barusan. "Serius lo? Dia bakalan mau bantuin kita? Terus DPnya gimana?"
"Masalah DP nggak usah di pikirin dulu. Nanti gue coba ngomong sama dia."
"Thanks banget, Ra. Gue tunggu sampai besok ya, lo kabarin gue."
"Sip deh." jawabku sambil mengacungkan jempol.
Mungkin dengan ini aku juga bisa mencairkan suasana ku dengan Langit yang akhir-akhir ini kurang baik. Lantaran ajakan pertunangannya yang aku tolak kemarin.
Semenjak kejadian itu sikap dia mulai berubah. Tidak lagi mengantar jemputku seperti biasanya, tidak lagi mengabariku juga jika dia akan pergi kemana-mana. Sebenarnya aku tidak menyukai situasi seperti ini. Aku ingin hubunganku dan Langit seperti dulu. Sejak pertama kali bertemu. Selalu bersama, tertawa bersama tapi dengan status bukan siapa-siapa. Hanya teman. Hanya sebagai kakak.
***
Malam ini aku sudah berdiri di depan pintu kamar berwarna coklat. Beberapa kali aku mengepalkan tanganku di udara yang siap aku ketukkan di pintu itu. Namun aku selalu mengurungkan niatku yang masih ragu-ragu. Keberanianku tidak cukup banyak untuk menyapa laki-laki itu terlebih dulu.
Tak lama knop pintu terbuka dan menampakkan seorang laki-laki dengan wajah datarnya. Dia kelihatan kaget melihatku berdiri di depan kamarnya dengan tangan masih mengepal di udara karena aku tahan setelah pintu itu dengan sendirinya di buka oleh sang pemilik kamar.
"Kamu ngapain di sini?" Langit bertanya heran.
Cepat-cepat aku menurunkan kepalan tanganku. "Ehm. Aku boleh ngomong sesuatu nggak?" Aku jadi gelagapan sendiri.
Aku tersenyum singkat kepadanya sambil menggaruk tengkukku yang tak gatal. Menetralisir rasa gugupku.
"Aku mau minta bantuan kamu buat jadi fotografer di acara promnight sekolah. Buat dokumentasiin momentnya anak-anak kelas XII," panjangku setelah beberapa menit menatapnya.
"Kan banyak fotografer yang jauh profesional Ra, kenapa harus aku?"
"Justru itu. Aku yakin sama kemampuan kamu. Kamu nggak nyadar yah kalo selama ini hasil foto kamu nggak kalah bagus sama fotografer profesional di luar sana?"
Langit seperti masih mempertimbangkan ucapanku. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang ini. Tapi hati kecilku bilang, dia pasti mempertimbangkan hal ini karena sudah pasti ada Bintang juga di acara itu. Hubungan mereka masih bisa dibilang sedang tidak baik-baik saja.
Aku hanya tidak ingin acara promnight nanti berantakan. Meskipun aku tidak bisa ikut menyaksikan bagaimana serunya acara itu. Karena memang promnight biasanya hanya berisi anak-anak kelas XII, beberapa anggota OSIS dan anak-anak pengisi acara lainnya.
"Gimana? Kamu mau kan?" tanyaku lagi, memastikan Langit yang sedari tadi hanya diam.
"Yaudah aku mau, asal kamu temenin aku ya."
"Kok harus di temenin sama aku?"
"Astaga Kejora. Aku ini pacar kamu. Dan acara ini acara sekolahmu. Kamu tega aku sendirian disana?"
Mendengar itu aku hanya bisa melayangkan cengiranku. "Iya-iya aku temenin. Makasih ya udah mau bantuin."
"Oh iya, tadi aku mau pinjem laptop kamu, soalnya laptopku tiba-tiba nggak bisa nyambung buat internetan."
"Oh, ada kok. Pakek aja."
Aku mendahului langkah Langit di depan menuju kamarku yang memang letaknya hanya beberapa langkah dari kamarnya. Setelah masuk, Langit langsung menyambar laptopku yang berada di atas meja belajar. Aku berdiri di belakangnya dan mengamati dia yang sedang mengotak-atik benda itu.
"Mau ngapain sih?" tanyaku sambil menatap serius layar.
"Menurut kamu diantara ke dua foto ini mana yang paling bagus?" dia bertanya balik.
__ADS_1
Aku mengamati dua foto berjejer yang Langit buka di email miliknya. Foto dua pemandangan yang berbeda tempat. Yang satu di sebuah pantai sedangkan yang satunya seperti di danau.
"Menurut aku lebih bagusan yang di pantai deh. Soalnya lebih kelihatan natural. Pemandangannya juga indah."
"Oke, makasih ya."
Aku hanya tersenyum sekilas. Tidak ingin tahu lebih lanjut juga untuk apa foto itu.
"Lang, aku mau ke dapur dulu ambil minum. Kamu mau aku ambilin sesuatu?"
Langit masih fokus pada layar laptop. Jarinya dari tadi sibuk mengetik sesuatu. "Boleh. Ambilin cola ya."
"Yaudah kamu tunggu disini."
Langit mengangguk pelan. Aku segera beranjak menuruni tangga dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman.
Ternyata melarikan diri dari orang yang satu rumah dengan kita itu adalah kekonyolan. Buktinya malam ini saja. Sekeras apapun aku menghindari dia nyatanya orang itu tanpa sengaja justru muncul di depanku.
Baru saja sampai di ambang pintu pembatas antara dapur dan ruang tamu, aku melihat Bintang sibuk membuka bungkus bumbu mie instan di meja makan. Ingin menghindar juga percuma karena dia sudah melihat kedatanganku.
"Lo mau apa?" Sapanya yang menoleh ke arahku sebentar sebelum akhirnya mematikan kompor.
"Gue mau ambil minum." Aku menjawab sekenannya.
Bintang tidak menyahutku lagi. Dia sibuk dengan mie yang sedang ia tiriskan. Dan aku juga segera mengambil minum di kulkas agar bisa segera pergi dari sini.
Namun lagi-lagi sebuah kebetulan yang tak terduga terjadi. Aku spontan menjerit ketika lampu tiba-tiba mati dengan cepatnya. Tanganku gemetar hingga botol minum yang tadinya aku ambil dari kulkas ikut jatuh karenanya.
Aku panik. Tidak tahu harus berbuat apa selain menangis terduduk di pojok dapur. Selain rumah sakit dan hujan aku juga benci dengan kegelapan. Rasanya seperti susah untuk bernafas.
"Kejora! Lo dimana?" Itu suara teriakan Bintang. Entah dia mencariku disebelah mana karena aku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa.
"Bintang, gue takut." Suaraku bergetar karena rasa takut.
"Ra, lo dimana? Kasih tahu gue." Bintang seperti masih berusaha mencari.
"Gu-, gue di pojok."
Derap langkah kaki kini mulai terdengar mendekat ke arahku. Hanya butuh waktu sebentar untuk Bintang bisa menemukanku meski tanpa alat penerangan apapun. Bintang sepertinya ikut berjongkok di depanku. Karena saat ini aku bisa merasakan sebuah ketenangan. Dan juga kehangatan.
Bintang memelukku.
"Gue disini. Lo nggak perlu takut lagi." Ucapnya lirih dan lembut.
Rasa takutku perlahan memudar hanya dengan mendengar kata-kata itu.
Apa gue harus rela berbagi pelukan ini dengan cewek lain, Bint?
Sekelebat terlintas dipikiranku kembali bagaimana Bintang dan Bulan berpelukan di sekolah waktu itu. Hingga sebuah cahaya yang menyilaukan dari alat penerangan membuyarkanku. Bersama sebuah pekikan yang terdengar.
"Kejora!"
Aku melepaskan pelukan Bintang dengan gusar dan menoleh ke arah pembatas pintu dapur dengan kaget.
"Langit?"
***
Babang Langit kok jalan-jalan ke dapur segala sih. Kan udah disuruh tunggu di kamar. Merusak suasana nih😂😂😂
Team Bintang mana????
Team Langit??????
Terimakasih sudah menyempatkan waktu kalian buat baca cerita amatir ini yaa🤗🤗
Luve buat pembacaku
__ADS_1