Bintang Kejora

Bintang Kejora
Ancaman Baru


__ADS_3

Happy reading.


***


Hari sudah menjelang sore. Saat ini aku sudah berada di atas motor Bintang karena dia mengajakku untuk kembali pulang ke rumahnya.


"Bint, kita makan dulu yuk. Gue laper," ajakku ketika sudah setengah perjalanan.


Bintang kemudian menghentikan motornya di sebuah restauran Jepang yang lumayan mewah. Bisa aku simpulkan makanan di dalam pasti sangatlah mahal.


"Kenapa disini?" Protesku ketika Bintang sudah membuka helm full face nya.


"Lo bilang laper. Ini restauran yang paling deket."


"Gue nggak suka makanan disini, Bintang. Kita cari tempat lain ya. Mie ayam, atau bakso gitu. Gue pengen yang kuah-kuah," rengekku yang belum beranjak turun dari motor.


Aku memang tidak terlalu suka dengan masakan yang berbau ala-ala Jepang atau Korea yang sedang ngetrand itu. Pernah aku mencoba makanan itu namun setelah makan perutku justru mual tidak karuan.


Bintang pun tidak banyak protes. Dia lalu memakai helmnya kembali dan menyalakan motornya.


"Lo nggak marah kan?" Tanyaku takut. Mengetahui sikap Bintang yang tidak suka banyak bicara seperti ini membuatku hampir tidak bisa membedakan ketika dia marah atau tidak.


"Gue nggak marah."


Akhirnya Bintang menjalankan motornya kembali meninggalkan restauran itu.


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit Bintang sudah menepikan motornya kembali di salah satu penjual mie ayam. Seperti pangkalan penjual pedagang kaki lima karena di tempat itu bukan hanya mie ayam saja yang aku lihat. Ada empat gerobak dengan stand masing-masing yang menyuguhkan menu makanan berbeda-beda.


"Lo mau makan disini?" Tanya Bintang setelah aku turun dari motor besarnya.


Aku mengangguk sumringah. "Ini jauh lebih baik dari yang tadi. Lo nggak keberatan kan?"


Bintang menggeleng sambil tersenyum singkat. "Gue ngikut lo aja."


"Yaudah kita pesen yuk."


Bintang mengikuti langkahku yang berjalan menuju penjual mie ayam. Setelah memesan aku dan Bintang memilih untuk duduk di pojok stand tersebut karena beberapa meja sudah ditempati oleh pengunjung lain.


Sepuluh menit menunggu, akhirnya seorang laki-laki berumur 45 tahunan datang membawa dua porsi mie ayam dan dua es jeruk.


Mataku langsung berbinar melihat mie ayam pangsit yang sungguh menggoda itu. Tanpa banyak bicara lagi aku langsung melahapnya.


"Lo nggak risih makan kayak gitu?"


Berbeda denganku yang sangat antusias, Bintang yang berada di depanku justru memandangiku dan mengabaikan makanannya.


"Kayak gitu gimana sih, Bintang?" Tanyaku setelah susah payah menelan makananku.


"Rambut lo nutupin wajah, lo nggak risih makan dengan rambut terurai kayak gitu?"


"Oooh, kirain apaan. Gue lupa bawa ikat rambut. Jadi ya gue pegangin aja deh nggak pa-pa."


"Tunggu bentar."


"Eh, lo mau kemana Bintang?"


Bintang yang sudah bangkit dari duduknya tidak menggubris pertanyaanku. Aku sendiri juga tidak tahu dia ingin pergi kemana.


Sekitar lima menit aku sudah menunggu dan Bintang baru saja datang. Dia yang tiba-tiba berdiri di belakangku membuatku menoleh heran.


"Lo mau ngapain sih?"


Tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dulu Bintang langsung mengambil rambutku, menjadikan satu dan langsung mencepolnya.

__ADS_1


"Bintang, lo dapet ikat rambut darimana?" Tanyaku sedikit heran. Tidak habis pikir dia mau melakukan itu padaku.


"Gue beli sama tukang aksesoris di sana." Tunjuk Bintang dimana ada seorang laki-laki yang menjual berbagai aksesoris di bagian samping stand.


Tanpa sadar aku mengulum senyum setelah Bintang kembali duduk di depanku. Meskipun dingin tapi Bintang selalu mempunyai perhatian kecil yang begitu manis.


"Makasih ya, Bintang." Ucapku masih dengan senyuman lebar.


Bintang hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyumannya. Setelah itu kita melanjutkan aktivitas makan yang tadi sempat tertunda itu.


Beberapa menit setelah menyelesaikan makanan kita masing-masing akhirnya Bintang mengajakku untuk segera pulang karena cuaca yang tiba-tiba saja berubah mendung.


Baru saja Bintang akan berdiri suara tepuk tangan seseorang terdengar. Disusul oleh sosok cewek berpostur tinggi dengan rambut pirang yang tergerai sampai menutupi punggung.


Aku dan Bintang sama-sama kaget. Mataku menyipit. Sepertinya cewek itu tidak asing lagi.


"Wow, ternyata bener dugaan gue kalo motor yang bertengger di depan itu milik lo. Jodoh banget ya kita bisa ketemu disini, Bintang Pradana," ujar cewek itu sambil tersenyum menyeringai.


"Mau apa lagi lo? Belum puas lo jebak gue malam itu?" Tanya Bintang yang tampak tidak suka melihat kedatangan cewek itu.


"Belum. Karena gue gagal bikin bocah SMA ini jauh-jauh dari elo."


Cewek itu melirikku dengan sinis. Dan aku baru mengigat satu hal sekarang. Cewek di depanku saat ini pasti adalah Dara.


"Gue nggak ada urusan sama lo, Dar. Mendingan lo pergi!"


"Tapi gue punya urusan sama nih cewek," Dara menunjukku dengan sinis. "Karena dia masih deket-deket sama calon pacar gue."


Apa? Calon pacar?


"Lo nggak usah ngaco kalo ngomong. Gue nggak pernah suka sama lo. Dan lo nggak bisa maksain perasaan seseorang." Ucap Bintang sambil menatap tajam Dara.


Dara tersenyum remeh. "Oh ya? Sayangnya seorang Dara Alexi selalu bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan buat ngrebut lo dari cewek macam dia gue bisa lakuin dengan sekali jentikan jari,"


"Kita pergi dari sini, Ra."


Setelah menaruh uang seratus ribuan di atas meja Bintang langsung meraih tanganku untuk mengajakku pergi dari sana. Namun lagi-lagi Dara menghalangi jalan dengan merentangkan ke dua tangannya.


"Eh! Lo cewek bisu ya? Bisanya cuma ngumpet di balik tameng doang," cibir Dara yang masih menilikku tajam karena aku berdiri di balik punggung Bintang.


"Minggir Dar!" Usir Bintang yang semakin jengkel.


"Oke. Coba kita liat, apa setelah ini cewek yang lo lindungin itu masih bisa diem,"


Dengan gerakan cepat Dara menangkup wajah Bintang. Menarik wajahnya agar lebih dekat dengannya hingga cewek itu seperti sengaja ingin mencium Bintang di depanku.


Belum sampai cewek gila itu menempelkan bibirnya dengan bibir Bintang, secepat mungkin aku menarik Bintang untuk menjauh dan sedetik kemudian aku melayangkan tamparaku untuk cewek bernama Dara itu.


"Oh my god! Gue terkejut! Lo nampar gue barusan, hah?" Dara kelihatan begitu marah sambil mengelus pipinya yang sudah kemerahan.


"Lo bakal bayar semua ini, *****!"


Baru saja mengangkat tangan ke udara, Bintang dengan cepat menahan tamparan Dara itu dan langsung mengibaskannya.


"Jangan coba-coba lo sentuh Kejora!" Ucap Bintang penuh penekanan.


Dara masih terpaku di tempatnya karena menahan kesal.


"Lo tunggu aja apa yang bakalan gue lakuin buat balas semua ini, Bint. Dan gue pastiin lo nggak bisa jagain Kejora lo itu!"


"Gue nggak takut sama ancaman lo."


"Terserah. Yang jelas cepet atau lambat lo bakalan jadi milik gue!"

__ADS_1


Dara yang sudah kesal dan marah langsung melangkah pergi meninggalkan stand makan itu.


"Lo nggak pa-pa Ra?" Tanya Bintang memastikan. Dia membingkai wajahku dan mengamatiku. Mengabaikan tatapan orang-orang yang masih memperhatikan kami.


"Nggak pa-pa."


"Lo nggak usah dengerin omongan Dara ya,"


"Seperti yang lo bilang," Aku menarik ke dua tangan Bintang dari wajahku dan menggenggamnya. " Nggak peduli seberapa banyak orang diluar sana yang mau ngehancurin kita. Gue cukup genggam tangan lo kayak gini dan kita hadepin semuanya sama-sama," lanjutku sambil tersenyum.


Mungkin aku akan meminta bantuan lagi kepada Adira untuk meyelidiki siapa perempuan bernama Dara itu. Bagaimanapun Adira adalah teman dekat Bintang. Pasti dia mengetahui sesuatu.


Bagaimana orang baru seperti Dara ingin aku menjauhi Bintang adalah sesuatu hal yang membuatku penasaran.


***


"Apa? Si mie burung Dara itu nyium Bintang di depan lo? Beneran nggak waras tuh cewek!" Heboh Keisha di seberang sana.


Malam ini aku sedang menelfon Keisha di kamar. Menceritakan kejadian tadi siang yang sudah aku alami.


"Belum sampek nyium Kei. Keburu Bintang udah gue tarik duluan," sanggahku.


"Ya intinya sama aja kan Ra. Gila tuh cewek. Gue beneran nggak abis pikir kenapa cewek yang terobsesi sama Bintang pada nggak punya otak semua."


"Nggak usah dibahas lagi deh, Kei. Mendingan lo kirimin tugas dari Pak Wanto ke gue. Dari pada bahas yang nggak jelas," pintaku pada Keisha.


Padahal tujuanku menelfon Keisha tadi memang untuk menanyakan tugas fisika. Tapi malah akhirnya membahas hal yang tidak penting seperti ini.


"Tugasnya di buku paket. Lo kerjain dari halaman 25-27. Dan harus kelar lusa depan." Ucap Keisha memberitahu.


"Lo nggak salah ngasih informasi kan Kei? Itu banyak banget!"


"Lo bisa denger kan nada bicara gue serius gini. Kayak nggak tau Pak Wanto aja lo. Mendingan lo minta bantuan Bintang deh, dia kan pinter tuh. Besok lo bawa tugas lo ke sekolah, gue salin jawabannya." Jawab Keisha dengan entengnya.


"Itu sih enak di elo doang!" Protesku tidak terima.


"Lo juga enak lah. Kan lo bisa berduaan tuh sama Bintang. Hahaha," terdengar suara tawa renyah Keisha di telfon.


"Enak aja lo! Yaudah gue mau kerjain dulu tugasnya, bye!"


Setelah sambungan terputus aku meletakkan ponselku di atas meja belajar.


"Masa gue harus minta ajarin Bintang sih, gengsi banget kan?" Ucapku tanpa sadar.


"Minta diajarin apa emang?"


Tiba-tiba suara dingin itu mengagetkanku. Ketika aku menoleh ke belakang, Bintang sudah berdiri menyender di ambang pintu kamarku.


"Lo kebiasaan banget sih masuk kamar gue nggak ketuk pintu dulu?" Protesku kesal.


"Lo juga kebiasaan lupa nutup pintu kamar,"


"Emang tadi nggak gue tutup? Perasaan udah deh," sanggahku.


"Jadi mau diajarin apa enggak?" Bintang menggoda sambil menaikkan satu alisnya.


"Ma-mau,"


Bintang yang melihatku seperti itu langsung mengacak rambutku dengan gemas.


Akhirnya malam ini Bintang menghabiskan waktunya di kamarku untuk membantu mengerjakan tugas.


***

__ADS_1


Jangan lupa follow akun ku yaa🥰


__ADS_2