
...****************...
Setelah kejadian tadi Bintang langsung membawaku untuk pulang. Namun sampai di taman kota Bintang justru menghentikan motornya. Tepat di depan sebuah bangku yang menghadap ke jalan raya yang tidak terlalu ramai itu.
Aku segera turun dari motor lalu memilih untuk duduk di bangku taman. Dan tak lama Bintang juga menyusulku. Dia duduk di sebelahku tanpa berkata apa-apa.
Baik aku dan Bintang hanya saling diam dengan pemikiran masing-masing. Aku sendiri bingung harus berkata apa padanya. Hatiku sebenarnya masih sangat marah, sangat kecewa. Namun bibirku enggan untuk mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya.
"Kenapa lo bisa dateng ke acara itu?" Bintang akhirnya membuka suara.
Aku masih diam memainkan ujung tasku yang berada di atas pangkuan. Membiarkan Bintang berbicara lebih banyak lagi.
"Tindakan lo tadi bahaya Ra. Lo nggak tau Dara itu siapa," kata Bintang lagi.
Kali ini aku mendongak dan menatapnya dari samping. "Justru karena gue nggak tau Dara itu siapa makanya gue senekat ini. Lo sendiri kenapa bohongin gue?"
"Gue nggak maksud bohongin lo Ra." Sergah Bintang cepat.
"Nggak bermaksud gimana? Jelas-jelas tadi sore gue tanya apa lo punya urusan lain hingga nolak ajakan gue di taman, tapi lo jawab enggak kan? Kenapa lo dateng ke acara ini diem-diem tanpa ngasih tau gue? Apa karena ada Dara?" Tanyaku yang sudah jengkel.
Bintang merubah duduknya menyerong ke arahku. Dia menatapku.
"Iya. Itu semua karena Dara. Gue terpaksa bohong sama lo karena gue nggak mau bikin lo sedih. Gue nggak ngajak lo ke acara itu karena gue nggak mau Dara nyakitin lo lagi kayak tempo hari. Itu alesan gue bohong sama lo Ra."
Seperti kobaran api yang telah disiram air dingin, mungkin seperti itu juga perasaanku sekarang. Aku tertegun. Merasa bersalah.
"Lo bilang mau kasih gue kepercayaan. Tapi nyatanya apa Ra? Lo belum sepenuhnya percaya sama gue." Ucap Bintang seperti sudah kecewa.
"Coba tadi gue terlambat buat dateng nyelamatin lo. Dara pasti bakalan nyakitin lo Ra. Itu yang gue nggak mau. Gue nggak mau lo kenapa-napa lagi." Ucap Bintang dengan nada lembut. Sukses membuat hatiku menjadi luluh karena kalimatnya.
"Gue minta maaf." Sesalku. Entah kenapa mataku sudah berkaca-kaca sekarang. "Gue cuma takut kalo Dara beneran mau ngerebut lo dari gue."
Bintang menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Mengunci tatapanku dalam pandangannya. "Jangan lakuin hal nekat seperti tadi. Karena kalo lo terluka, gue bakalan benci sama diri gue sendiri karena gue ngerasa udah gagal buat jagain lo."
Hatiku perlahan menghangat. Pipiku juga memanas hingga menjalar sampai ke telinga.
"Gue mau nebus kesalahan, boleh?" Tanya Bintang yang membuatku mengerjap beberapa kali.
"Maksud lo?"
"Karena gue udah bohong sama lo dan nolak ajakan lo tadi sore, sebagai gantinya gue mau ngajakin lo ke suatu tempat." Ucap Bintang dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Mau kemana?"
Bukannya menjawab Bintang justru menarikku untuk segera naik ke atas motornya. Dan aku hanya diam mengikuti kemana Bintang akan membawaku pergi.
***
Perjalan yang aku lalui dengan Bintang kira-kira mencapai sekitar satu jam lebih. Setelah memarkirkan motornya Bintang mengajakku untuk mendaki sebuah bukit kecil yang berada di pinggir jalan raya.
Bukit itu tidak terlalu tinggi. Ada jalan setapak yang mudah untuk dilalui agar bisa mencapai di puncaknya. Selama mendakipun aku tidak banyak bertanya kepada Bintang. Aku hanya terus mengikutinya dari belakang. Sambil menggenggam erat jemarinya.
Bintang memintaku agar tidak melepaskan genggaman tangannya. Mungkin dia takut aku akan kesulitan untuk naik. Atau mungkin dia takut aku akan jatuh terjerembab.
"Udah sampek Ra." Ucapnya setelah beberapa menit mendaki.
Mataku langsung menyapu semua pemandangan yang ada di depanku saat ini.
Indah.
Mungkin satu kata itu sukses mewakili semua yang aku lihat.
"Suka nggak?" Tanya Bintang.
Mataku seperti dimanjakan dengan berbagai lampu-lampu gedung kota yang bersinar gemerlap. Ditambah langit yang cerah dengan ribuan bintang yang bertebaran. Angin yang berhembus dengan lembut. Rumput yang hijau dan rapi.
Dan yang lebih penting adalah seseorang yang berada di sampingku saat ini. Dialah yang melengkapi kesempurnaan ini.
Setelah puas melihat pemandangan kota dari atas sini, aku menoleh ke samping, melihat Bintang yang sudah duduk meluruskan kakinya di atas rerumputan hijau. Aku pun mengikutinya. Duduk di sebelah Bintang dengan tatapan yang masih lurus ke depan.
"Lo tau dari mana tempat sebagus ini?" Tanyaku ingin tahu.
Bagaimanapun Bintang sepertinya bukanlah tipe cowok yang romantis. Dan saat dia mengajakku ke tempat ini tentu saja aku merasa heran.
"Sebelum gue ke temu lo, dulu gue sering ke sini. Meski hanya sekedar ngeliat bintang." Ujar Bintang. Pandangannya tetap lurus ke depan.
"Semenjak gue dijodohin sama Bulan gue jadi orang yang dingin. Gue jarang senyum. Gue juga sempat benci dengan keluarga gue sendiri karena mereka egois. Dan pelarian gue cuma di tempat ini. Amarah gue bisa berangsur surut gitu aja cuma dengan liat pemandangan kayak gini." Ungkap Bintang panjang lebar.
"Gue tau, dulu hidup lo pasti sangat berat banget. Tapi gue salut, lo masih bisa melampiaskan amarah lo dengan hal positif kayak gini." Ucapku dengan seulas senyum. Meski Bintang tidak melihatnya.
"Lo juga orang pertama yang gue ajak ke sini."
__ADS_1
Kalimat itu mampu membuat pipiku memanas lagi. Diam-diam aku tersenyum. Perasaan ku sungguh tidak bisa dijelaskan. Hanya ada satu kata yang mungkin bisa aku katakan.
Bahagia.
"Lo mau janji satu hal ke gue nggak Ra?" Tanya Bintang tiba-tiba. Nadanya sangat serius.
Kali ini aku menoleh dan menatapnya lekat. "Apa?"
"Lo mau kan selalu jadi alasan gue buat tersenyum? Gue nggak mau kehilangan lo. Karena gue nggak ingin kembali ke hidup gue yang dulu, tanpa adanya sebuah senyuman. Sekarang gue udah dapet senyuman itu. Dan lo adalah alasan senyum itu bisa tercipta."
Kalau saja waktu bisa berhenti, rasanya aku ingin menyuruhnya untuk berhenti sekarang juga.
Lo nggak sedingin yang gue bayangin Bint. Justru lo adalah cowok dengan sejuta perlakuan manis.
"Demi gedung-gedung yang sedang berdiri kokoh disana, demi angin yang sedang mengawasi kita, dan demi langit dengan sejuta bintang diatas sana, gue janji. Kejora nggak akan pernah ninggalin Bintangnya. Dan gue harap begitupun sebaliknya." Ucapku dengan tulus.
Bintang yang masih menatapku menjadi terkekeh geli. Entah apa yang salah dengan ucapanku hingga dia justru malah tertawa seperti itu.
"Ish. Kok lo malah ketawa sih? Kan jadi ambyar suasana romantisnya." Ucapku cemberut.
"Lo lucu. Kayak lagi baca puisi." Jawab Bintang masih menahan tawa.
"Gue lagi serius ucapin janji gue. Lo malah ngerusak."
Bintang yang mengetahui ekspresiku langsung menghentikan tawanya.
"Iya-iya maaf."
Bintang lalu menatap ke atas. Melihat langit yang sedang ditaburi oleh ribuan bintang yang bersinar indah.
"Lo bisa nggak cari bintang yang paling indah di atas sana?" Tanya Bintang mengalihkan pembicaraan.
"Gue udah nemuin duluan sebelum lo tanya." Jawabku cepat.
Bintang menolehku dengan alis terangkat. Seperti tidak percaya dengan jawabanku barusan.
"Dimana?"
Aku tersenyum lagi. Sebelum akhirnya menjawabnya.
"Disini. Di depan gue sekarang."
__ADS_1
***
Selamat malam minggu❤