
Promnight SMA Bhakti Mulya
Beberapa minggu telah berlalu. Ujian kenaikan kelas dan pengumuman kelulusanpun telah usai. Hingga dimana acara yang ditunggu oleh anak-anak kelas XII tiba.
Acara promnight yang selalu menjadi kebiasaan untuk merayakan kelulusan akhir tahun ajaran sekolah. Moment dimana mereka menghabiskan waktu untuk bernostalgia dan mengabadikan banyak foto sebelum mereka berpisah dan melanjutkan ke jenjang kuliah.
Promnight kali ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun lalu di selenggarakan di sekolah, maka kali ini semuanya sepakat untuk menyewa gedung di luar agar suasananya lebih berbeda. Usul itu telah disetujui oleh kepala sekolah dan guru-guru lain pada saat rapat OSIS beberapa minggu lalu.
Informasi itu aku dapat dari Ari si ketua OSIS beberapa hari yang lalu. Saat kita bertemu untuk membahas tentang pergantian fotografer dan dokumentasi.
Dan di sinilah aku sekarang. Di gedung yang megah berisikan kakak-kakak senior yang memang kebanyakan tidak aku kenal meski kami hampir satu sekolah selama setahun. Sejak tadi aku hanya mengekor di belakang Langit yang sibuk dengan kameranya. Rasanya sangat membosankan jika sampai akhir acara hanya berlalu seperti ini.
"Kalau capek duduk aja," kalimat dingin itu berasal dari Langit yang berada di depanku.
Aku menoleh ke depan dan memandangi punggungnya. Aku sudah tidak heran kenapa Langit bisa sedingin itu sekarang. Semenjak dia memergokiku pelukan dengan Bintang saat mati lampu tempo hari.
Sekarang Langit berbicara tanpa ingin menatapku. Sejak di mobil tadi dia juga banyak diam. Mungkin dia belum sepenuhnya menerima alasanku malam itu. Atau mungkin ada hal lain yang membuatnya menjadi kesal selain itu. Aku sendiri tidak tahu.
"Kamu kenapa?" Aku memberanikan diri untuk bertanya. Yang mungkin justru membuat Langit semakin tidak nyaman dengan pertanyaan itu.
Langit tetap membelakangiku. Tangannya sibuk mengotak-atik kameranya. Aku pikir itu hanya trik yang dia buat untuk menghindar dari tatapanku saat ini.
"Nggak pa-pa."
"Seriusan?"
Langit hanya mengangguk. Kemudian memfokuskan lagi lensa kameranya pada anak-anak kelas XII yang sedang di atas panggung. Mereka sedang mengadakan pensi, sekedar untuk hiburan setelah kepala sekolah memberikan sambutan belum lama tadi.
Ada yang menyumbang lagu, ada yang memainkan alat musik, dan ada juga yang membuat cover dance ala-ala K-pop untuk memeriahkan acara.
Beberapa menit aku menunggu Langit berbicara lagi tapi aku tidak mendengar apapun dari bibirnya. Sikapnya benar-benar dingin.
Akhirnya aku nemilih duduk di bangku barisan nomor dua dari depan yang tak jauh dari posisi Langit berdiri. Menyaksikan pensi seperti yang di lakukan oleh anak-anak lain. Menghilangkan segala pikiran negatifku barusan. Aku harap semuanya akan baik-baik saja hingga acara selesai.
"Kejora!"
Suara lantang barusan membuatku menoleh dengan cepat. Dari arah pintu samping Adira muncul sambil tersenyum lebar. Aku melambaikan tanganku padanya. Kemudian Adira berjalan menghampiriku.
"Lo datang juga ke sini? Gue tau, pasti lo mau lihat penampilan Bintang, kan? Abis ini dia bakalan nyanyi tuh," cerocos Adira tanpa henti.
Aku melotot ke arahnya dengan tatapan tajam. Tapi laki-laki itu hanya mengedikkan ke dua bahunya karena bingung melihat ekspresiku yang mirip dengan orang ketakutan. Jelas saja. Suara Adira yang sedikit berteriak tadi pasti akan di dengar oleh Langit yang berada tak jauh dariku. Ketika Adira mengedarkan pandangannya, dia baru menyadari ada Langit juga di tempat ini.
"Ra, gue kesana bentar." ucap Langit tiba-tiba.
Aku hanya menoleh dan memandanginya yang berlalu begitu saja. Pasti Langit sudah mendengar semuanya seperti dugaanku tadi. Dan aku yakin dia akan salah paham lagi.
"Selow aja kali, Ra. Biarin dia nglakuin tugasnya di sini," timbal Adira lagi yang mengetahui perubahan wajahku yang lesu.
"Dia pasti salah paham sama gue."
"Mendingan lo duduk manis disini sama gue. Bentar lagi Bintang mau nyanyi, buat lo." jawab Adira seraya duduk di sebelah ku.
"Buat gue?" Aku menunjuk diriku sendiri.
"Cie, kemakan omongan gue kan lo? Lo sebenernya ngarep kan?" goda Adira disertai senyum meledek.
"Apaan sih lo, kak?! Nyebelin!" sahutku ketus begitu tahu Adira hanya mengerjaiku.
"Gue sih yakin lagu ini buat lo karena dia tau lo ada di sini."
"Lo ngarang aja kerjaannya. Emang Bintang mau nyanyi lagu apa?" tanyaku yang sebenarnya sudah penasaran.
"Lingsir wengi kali." Sahut Adira terkekeh geli.
__ADS_1
"Ish. Lo pikir gue setan!"
Aku langsung memalingkan wajahku menghadap panggung lagi karena kesal. Pensi yang di bawakan kelas XII IPS1 berakhir dengan tepuk tangan meriah dari anak-anak yang tadi menyaksikan penampilan mereka. Gerombolan laki-laki yang beranggotakan empat siswa itu menuruni panggung setelah membungkukkan badan mereka secara bersamaan.
Setelah mereka turun tak lama kemudian aku melihat Bintang menaiki panggung dengan wajah datar seperti biasanya. Suara riuh anak-anak kembali terdengar. Beberapa siswi sempat meneriakkan nama Bintang dengan histeris. Sedangkan Adira yang tadi duduk di sampingku menyikut lenganku sambil terus menggoda.
Dari sekian banyak anak-anak kelas XII kenapa harus Adira yang duduk di sampingku sekarang? Sungguh menyebalkan.
Aku memberanikan diri untuk melihat ke atas panggung. Menatap Bintang yang sekarang duduk di belakang piano panjang berwarna hitam. Mata kita bertemu. Bintang menatapku di depan sana dengan tatapan yang sulit di artikan.
Tiba-tiba Adira memajukan wajahnya ke salah seorang siswi yang duduk di depan kursiku. Entah apa yang Adira bisikkan sampai cewek yang berbadan tinggi itu berdiri dan pindah posisi duduk di kursi kosong deretan paling ujung. Aku menoleh Adira bingung, sedangkan dia hanya nyengir tanpa dosa. Aku yakin, dia sengaja mengusir cewek tadi agar aku Bisa lebih jelas melihat Bintang di atas panggung itu.
"Gue harap lagu ini bisa sampai kepada seseorang."
Suara tepuk tangan kembali terdengar begitu gaduh dan disusul dengan teriakan histeris. Entahlah apa yang sedang ada dalam pikiranku sampai di saat Bintang mengucapkan kalimat barusan, jantungku mulai kembali tak beraturan.
Aku sempat mempercayai Adira yang mengatakan Bintang menyanyikan lagu itu untukku. Tapi rasanya tidak mungkin. Bukankah Bintang orang yang susah di tebak? Orang yang suka mempermainkan perasaanku seenaknya?
Suara piano yang dimainkan Bintang mulai terdengar begitu indah. Membuat semua anak-anak terdiam seketika, menikmati setiap alunan nada dan suara Bintang yang menyatu. Beberapa anak-anak melambaikan tangan mereka di udara, sesekali mengikuti lirik lagu yang di nyanyikan oleh Bintang. Dia membawakan lagu Ed Sheeran yang berjudul Perfect. Menurutku itu salah satu dari deretan kumpulan lagu romantis yang pernah aku dengarkan selama ini. Dan malam ini Bintang menyanyikannya begitu manis.
I know we'll be alright this time
Darling, just hold my hand
Be my girl, I'll be your man
I see my future in your eyes
Bintang mengakhiri lagu itu dengan sempurna. Suara histerispun kembali terdengar dari anak-anak perempuan yang ikut menyaksikan penampilan Bintang barusan.
"Masih nggak percaya kalo lagu itu buat lo?" bisik Adira di sela tepuk tangannya.
"Dia nggak bilang lagu itu buat gue."
Acara pensi selesai setelah di tutup dengan penampilan Bintang tadi. Dan acara selanjutnya adalah pesta dansa. Seperti promnight pada umumnya, acara dansa selalu di iringi dengan lagu romantis juga. Saat semua anak-anak beranjak dari duduknya, mataku sibuk menyapu seisi gedung, mencari Langit yang tiba-tiba menghilang. Padahal belum lama tadi dia masih berada di sekitar panggung. Tapi hasilnya tetep nihil, setelah beberapa menit aku clingukan mencari dia dari sekian banyaknya penghuni di gedung ini.
"Mau dansa?"
Suara musik yang memenuhi gedung tidak membuatku salah untuk menebak jika pemilik suara itu adalah Bintang.
Aku menoleh ke belakang dan ternyata memang benar itu adalah Bintang.
Malam ini, untuk pertama kalinya aku diajak dansa oleh seorang laki-laki. Aku menggigit bibir bawahku, masih memandang tangan Bintang yang terulur ke arahku.
"Kali ini aja." timbalnya lagi.
Apa itu tadi sebuah permohonan?
Rasa raguku perlahan hilang. Aku menyambut uluran tangan Bintang dan dia menarikku untuk bergabung dengan siswa-siswi lain yang juga berdansa di gedung itu. Bintang menatapku, menit kemudian dia mendekap pinganggku agar lebih dekat dengan tubuhnya. Sedangkan aku melingkarkan pergelangan tanganku di leher Bintang dengan spontan. Kami hanya saling diam, mengikuti alunan musik biola yang terdengar indah.
Bintang memang tampan. Apalagi jika dilihat dengan jarak sedekat ini. Aku tidak tahu bagaimana jantungku bisa berdetak lebih cepat dari biasanya saat berada di dekatnya. Seperti sekarang ini. Aku hanya menunduk, melihat apapun yang berada di bawah asal jangan membalas tatapan Bintang. Aku tidak bisa melakukan itu.
"Lo cantik malam ini."
Bintang mengangkat daguku secara perlahan, hingga aku mendongak dan menatapnya. Terbuai dengan mata Bintang yang indah meski selalu menyorot tajam.
Beberapa detik kemudian mataku mengerjap, memalingkan tatapan. Aku sadar ini sebuah kesalahan. Tidak seharusnya aku berdansa di sini dengannya. Apalagi Langit juga berada di sini. Ya, bahkan aku melupakannya. Aku tidak tahu laki-laki itu sedang di mana sekarang.
Awalnya aku mengira ini hanyalah mimpi. Sejak saat Bintang mengajakku untuk berdansa. Tapi akhirnya kesadaranku mulai kembali ke dunia nyata. Aku menjauhkan tubuhku dari Bintang dengan cepat.
"Sori, Bint. Gue harus pergi."
Tanpa basa-basi lagi aku segera meninggalkan Bintang yang masih bergeming di tempatnya. Harusnya aku memang menolak ajakannya dari awal agar hatiku tidak terombang-ambing seperti ini. Mungkin terdengar sedikit lebay. Tapi memang begitu adanya. Dari dulu aku ingin melupakan Bintang. Tapi setiap kali aku hampir berhasil, dia muncul dengan tiba-tiba. Dengan segala perilaku yang membingungkanku.
Sekarang aku duduk di luar gedung. Meremas dadaku yang masih bergemuruh karena memikirkan hal tadi. Mungkin aku harus menata kembali perasaanku dulu sebelum memutuskan untuk memasuki gedung kembali.
__ADS_1
Aku berdiri dari tempatku, lalu ada sesuatu yang menarik perhatianku saat ini. Seorang laki-laki dengan hoodie hitam sedang berdiri mematung tak jauh dari bangku yang aku duduki. Dari postur tubuh sepertinya tidak begitu asing. Dia memang berdiri membelakangiku. Tapi aku yakin 100% jika laki-laki itu adalah Langit.
Karena rasa penasaranku yang besar aku melangkahkan kakiku menghampirinya. Aku semakin yakin jika dia memang Langit saat melihat tangan kanannya memegang sebuah kamera. Yang sedang aku pikirkan sekarang, ngapain Langit sendirian di luar gedung?
"Langit."
Aku memanggilnya dari belakang. Namun panggilnku tadi tidak membuat laki-laki itu membalikkan badannya. Dia hanya menundukkan kepalanya yang semula menengadah menatap luar angkasa.
"Lo tega bohongin gue, Ra."
Deg!
Aku merasa ada yang tidak beres. Dadaku berdebar lebih hebat sekarang. Debaran karena rasa takut yang menjalar. Kenapa Langit tiba-tiba menyergapku dengan kalimat seperti tadi?
"Ma-, maksud kamu apa?"
Dia membalikkan tubuhnya. Aku melihat matanya sudah memerah. Raut wajahnya berubah seketika. Rasa kebencian sudah terpancar di tatapan matanya. Aku tidak tahu apakah tadi Langit sempat menangis. Yang pasti aku masih memergoki matanya berkaca-kaca. Aku takut terjadi sesuatu yang melukai hatinya dan itu karena ulahku.
"Gue udah tau semuanya! Lo cinta sama Bintang, kan? Dan lo terima gue bukan atas dasar lo suka sama gue, lo cuma jadiin gue pelarian lo? Iya, kan?!"
Rasanya seperti disambar petir.
Tubuhku gemetar, tanganku menjadi dingin, semua anggota badanku rasanya tidak berfungsi lagi setelah mendengar itu. Hanya mataku yang masih bisa melihat bagaimana Langit menatapku tajam sekarang.
Darimana Langit mengetahui semua itu? Dan kenapa harus hari ini?
Sekarang semuanya sudah terbongkar. Tidak ada kebohongan yang bisa aku tutupi lagi. Aku sudah membuat Langit teramat kecewa. Rasa ketakutanku yang selama ini aku cemaskan sudah menjadi kenyataan malam ini.
"Ka-, kamu tau dari mana?" tanyaku memberanikan diri. Mataku ikut berkaca-kaca. Tapi air mata itu masih bisa aku tahan.
Langit kemudian mengambil sesuatu dari saku hoodie-nya. "Surat ini lo yang nulis kan? Gue nemuin ini di laci kamar lo. Dari sini gue baru sadar, betapa bodohnya gue selama ini. Betapa bodohnya gue karena nganggap lo juga mencintai gue, Ra!"
Suara Langit semakin meninggi. Pancaran matanya penuh rasa kecewa. Tidak ada lagi sorot mata yang meneduhkan seperti dulu. Aku hanya menunduk. Air mata yang aku tahan sudah lolos membasahi pipiku sekarang.
"Kenpa lo nggak jujur dari awal, Ra? Kenapa lo tega lakuin ini sama gue? KENAPA RA!" bentaknya sambil mengguncangkan bahuku.
Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana. Aku hanya terus diam. Biarkan saja Langit marah dan memakiku sepuasnya. Aku memang pantas mendapatkan itu. Rasa bersalah kini semakin menyelimutiku.
"Lo tau apa yang lebih sakit dari penolakan? Kebohongan, Ra! Dan lo tega bohongin gue sejauh ini. Lo sukses bikin gue jadi orang bodoh selama ini! Lo sukses mempermainkan hati gue dengan cinta palsu lo! Kurang apa sih ra gue di mata lo? JAWAB, RA!"
"Maafin gue. Gue cuma nggak mau lo kecewa nantinya. Gue takut saat nolak lo, lo nggak mau kenal gue lagi. Gue takut saat gue nolak lo, gue kehilangan lo yang udah gue anggap sperti kakak gue sendiri. Lo, lo terlalu baik buat gue," jawabku memberanikan diri.
"JADI LO CUMA NGANGGEP GUE KAKAK! JADI GUE HARUS JAHAT DULU KE LO, GUE HARUS BOHONGIN LO, GUE HARUS SELINGKUHIN LO DULU SUPAYA LO CINTA SAMA GUE, GITU MAKSUD LO!" bentak Langit marah.
Aku hanya menunduk sambil memejamkan mata dan mendengarkan Langit berbicara. Aku tidak bisa membayangkan gimana hancurnya hatinya sekarang. Apakah sama hancurnya seperti perasaanku saat ini. Apa dia tidak sadar kalau aku juga ikut merasakan sakit? Siapa yang mau berpura-pura? Aku hanya berusaha membuka hati, mencoba belajar mencintai orang yang tidak aku cintai. Tapi semuanya aku pendam, aku tidak ingin mengutarakan semuanya sekarang.
"Kenapa harus adik gue sendiri sih, Ra? Kenapa lo nggak bisa cinta sama gue? GUE KURANG APA, RA?" Langit meremas rambutnya frustasi.
"Gue udah tulus sayang sama lo. Bahkan saking bodohnya gue, gue mau melamar lo sebagai tunangan gue. Gue pikir lo cewek yang tepat. Semuanya salah! Sekarang gue udah tau jawaban dari pertanyaan yang selama ini gue pendem. Makasih, Ra. Lo sukses bikin hati gue hancur!"
"Satu hal lagi! Makasih buat pemandangan dansa yang begitu indah barusan. Lo sempurna banget matahin hati gue malem ini!"
Dengan raut wajah yang masih kecewa, laki-laki itu meninggalkanku yang masih terdiam. Matanya sempat menitikan air mata, aku melihatnya meskipun hanya sekilas. Aku ingin mencegahnya pergi, tapi keberanianku tidak sebanyak itu.
Dan sekarang apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Tidak ada lagi sandiwara cinta yang bisa aku tututpi. Langit benar-benar kecewa. Aku tidak pernah melihat dia semarah ini selama mengenalnya. Hatiku tidak bisa mencintainya meski sebaik apapun dia memperlakukanku selama ini.
Aku tidak akan melihat senyum di wajahnya lagi, perlakuan manisnya setiap hari, romantisnya dia. Semuanya berakhir. Harusnya, dari awal aku memang bisa belajar lebih tega.
***
Siapa yang nunggu moment ini terjadi😭
Kasihan babang Langit :'(
Mana nih yang jadi bucinnya babang Langit??
__ADS_1