
Sementara di tempat lain, Pak Baskara tengah bersantai diruangannya, sampai pada salah seorang anak buahnya mengetuk pintu dan mengalihkan perhatiannya.
"Mereka datang, sepertinya terjadi sesuatu Pak." Lapornya membuat Pak Bas memiringkan kepala, kemudian mempersilahkan mereka masuk.
“Apa! Ada yang menyusup!”
“Benar Pak, tapi kami berhasil mengamankan sampel”
“lalu bagaimana dengan wanita itu? Tak kau selamatkan?”
Mereka tertunduk dan pasrah ketika Pak Bas menghajar mereka dengan kaki besar bosnya itu.
“Aku menyembunyikan dia disana agar kalian jaga juga, tapi kalian biarkan dia disana! *****!” Marah Pak Bas terus menginjak tubuh kedua anak buahnya itu.
“Aku yakin sekali ini perbuatan Angga anak Wiratmaja sialan itu!” Pak Bas berhenti dan mendengus kesal, dia melonggarkan kerahnya dan bernapas kelelahan setelah menghajar anak buahnya itu.
“Bos!” Dia berbalik ketika anak buahnya mempersilahkan seorang yang berpenampilan kacau dengan luka diwajahnya, “klan Kuda Sembrani, sepertinya ikut andil dengan ini.” Pak Bas membulatkan matanya mendengar nama klan itu.
“Awalnya kami berhasil mengalahkan dan Tio hampir menembak para penyusup yang berencana menyelamatkan perempuan itu, tapi tiba-tiba 4 orang yang dipimpin seorang wanita masuk dan menembak Tio, aku melihat tato dilengan salah satu anggota itu, aku yakin itu Klan Kuda Sembrani.” Jelasnya terengah-engah.
“Untuk apa klan Kuda Sembrani ikut campur masalah ini? Dan memang jika dia bertato kuda bersayap lantas dia anggota Klan?” Bingung Pak Bas, anak buahnya menggeleng pelan. "Tak sembarang orang bisa memiliki tato itu Bos, jika ada orang sembarangan memiliki tato seperti itu, tentu nyawa taruhannya."
Pak Bas mengerutkan dahinya, “apa mungkin, Wira ada hubungannya dengan Kuda Sembrani?” Pak Bas segera bergegas menemui Madam Den.
***
“Kau terluka? Ada yang sakit?” Angga menghujani Kejora dengan berbagai pertanyaan, Kejora hanya menggeleng pelan.
“Kita harus menyembunyikan Kejora disuatu tempat, karena Baskara masih akan terus mengincarnya.” Angga setuju dengan pernyataannya Pak Krisna.
“Tapi dimana? Tak mungkin bersamaku.”
“Aku tahu dimana, akan aku antar dia kesana.” Ujar Pak Krisna dan mereka bergegas masuk untuk menuju lokasi yang dimaksud Pak Krisna.
Dalam perjalanan, mereka melewati perbukitan dan suasan ramai kota perlahan senyap, hanya suara roda mobil yang bergesekan dengan aspal jalan yang terdengar.
Pak Krisna membawa anggotanya yang terluka masuk ke sebuah rumah besar, trio dan Kejora terperangah melihat tempat itu, sebuah rumah tua yang menyeramkan.
__ADS_1
Angga menggandeng tangan Kejora memberikan senyuman meyakinkan untuknya. “Kau aman bersamaku.” Bisiknya lembut.
Dimas mendengar itu hanya mendecak, dia melihat Satya dan timbul ide. Dia meraih tangan Satya yang celingak-celinguk melihat kesekitar, kaget karena tangannya ada yang menggandeng dia menoleh cepat kesebelahnya, “kau aman bersamaku.” Satya mengernyitkan dahi menatap berulang kearah tangannya dan kearah Dimas yang tersenyum sambil manggut-manggut.
Dia menampel tangan Dimas dan menatapnya tak percaya, “apasih!” Dimas terkekeh dan memberikan kode kearah Angga dan Kejora dengan ujung mulutnya.
Angga hanya melempar tatapan tajam karena Dimas berusaha meledeknya, “abaikan anak itu” Ujar Angga mengeratkan genggamannya ke tangan Kejora.
Pintu terbuka dan mereka terkejut dengan yang mereka lihat, apa yang diluar terlihat sangat berbeda dengan apa yang didalam.
“Dimana ini? Ini tempat persembunyian milik Bapak?” Tanya Dimas membantu merebahkan anggota Pak Krisna yang terluka, Pak Krisna menggeleng, “bukan, ini milik kenalanku.” Jawabnya singkat dan kemudian beberapa orang datang dengan alat-alat dan obat.
“Tempat ini biasa kami jadikan pelarian jika terdesak, Ayahmu tidak mengetahui rencanan ini, karena itu satu-satunya tempat yang pas untuk kabur adalah kemari” Angga merasa kecewa karena ternyata ayahnya mengingkari janji untuk menolongnya.
“Mas Angga, Pak Wira tak membantumu karena dia mengutamakan kesalamatanmu.” “Cih! Persetan keselamatanku! Dia mungkin berpikir jika hal itu tak menguntungkannya, dia tak akan melakukannya!” Sangkal Anggp penuh amarah.
“Kau yang bukan apa-apaku saja mau mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan Kejora!” Pak Krisna menghela napas dan menatap Kejora yang diam dan sedang menjalani pengobatan lukanya bersama wanita berpakaian medis.
“Sesungguhnya karena dia perempuan yang berharga untuk temanku.” Ujar Pak Krisna dalam hati.
“Aku tak kuasa setiap hari jika mendengar dia menderita karena pekerjaan itu! Aku ingin sekali mengobrak abrik bisnis pria tua itu dan membuat dia bebas dari jeratan pekerjaan kotor itu! Tapi...tapi...” Seorang wanita menangis dan terisak dihadapan Pak Krisna, menghela napas dia menepuk punggung temannya itu.
“Kau harus tetap sembunyi dan jangan menampakkan wajahmu! Jika mereka tahu kau masih hidup, nyawamu akan terancam ditangan klan musuh.” Wanita itu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, “dia memang bukan anakku, tapi dia sangat mirip dengan anakku yang sudah tiada.” Isaknya, “dan aku tak kuasa melihat penderitaannya.”
Pak Krisna terus mengusap punggung wanitanya itu. “Mbak, apa yang kau lakukan sudah benar, berada disisinya dan mendengarkan ceritanya sementara mencari kelemahan musuh dan menghancurkannya. Itu lebih baik daripada melakukan tindakan gegabah.”
“Haaah..Kau benar Kris, aku harus tetap mengikuti rencana Anita.” Pak Krisna mengangguk.
“Dan Si bodoh Wira itu, kenapa dia tak mau ikut andil?”
“Ada alasan khusus dan itu soal Angga, Pak Wira lebih mengutamakan keselamatan anaknya yang membangkang itu.”
“Baguslah, anaknya lebih jantan daripada dia.” Dengusnya membuat Pak Krisna tersenyum kecut, “kau tak pernah paham posisinya.”
“Ya..ya..ya... Kau akan terus membela pria itu, lanjutkan saja.. Jika ada apa-apa jangan minta bantuanku!”
“Hei! Bukan begitu..” Ujar Pak Krisna menepuk dahinya.
__ADS_1
akhir kilas balik
“Masih ada yang sakit?” Kejora menggeleng, “Terima kasih Angga, dan kalian semua.” Angga tersenyum, “kau tidak diapa-apaiin kan sama si tua brengsek itu?” Kejora menggeleng pelan, “dia hanya memukuliku karena aku menolak permintaannya untuk menjadi simpanannya.”
Angga nenggeretakkan giginya, “pria bau tanah gak tahu diri!”
“Ngomong-ngomong Angga, ini tempat siapa?”
“Entahlah, tapi yang jelas ini tempat yang aman untuk sembunyi, pria itu pasti akan terus mencarimu, kau aman disini.”
Kejora memainkan kukunya, dia bingung karena harus bagaimana, “kau tak perlu khawatir, apapun yang terjadi, aku akan berusaha melindungimu.” Kejora mengangkat wajahnya dan menatap Angga yang tersenyum mencoba menenangkannya, dan benar saja hanya melihat senyum walau tertutup lebam diwajahnya, Kejora masih bisa melihat kehangatan disana.
“Apa wajahmu sakit?” Angga tersentak ketika jari mungil Kejora menyentuh lebam diwajahnya, namun dia mencoba biasa walau belaian itu membuat jantungnya berdebar.
“Yang ditaman itu?” Angga menggeleng, “ini kudapat ditempat lain.”
“Kau membahayakan dirimu.”
“Untukmu, aku berani melakukan apapun.” Kejora menarik kembali tangannya dan membuang wajahnya menatap ruangan lain kecuali kearah Angga, melihat itu Angga tersenyum.
“Kita juga harus tetap waspada, jika Madam Den sudah membenci seseorang, akan sangat mudah baginya menghilangkan nyawa orang itu.” Angga menggenggam tangan Kejora yang nampak risau, membuat Kejora memandangnya, “kita hadapi bersama, kita sudah melangkah sejauh ini.” Kejora menghela napas dan membalas senyum Angga.
“Mas Angga,..” Pak Krisna melangkah terburu mendekati Angga, “Pak Wira mencari kalian.” Angga memasang wajah kesal dan meraih telpon dari genggaman Pak Krisna.
“Ya?” Angga menjawab telpon itu dengan nada datar.
“Dimana aku, apa saat ini penting untuk Ayah?” Melihat perubahan diwajah Angga sepertinya Pak Wira sedang memarahinya.
“Yah! Aku mengikuti semua perintah Ayah untuk misi-misimu itu, tapi ketika aku memintamu untuk membantu menolong seseorang, kemana Ayah? Melindungiku? Kau pikir aku akan diam saja ketika temanku dalam bahaya? Dia banyak membantu bahkan dia menolongku dan mempertaruhkan nyawanya agar bisa bebas dari jeratan wanita kejan itu! Sekarang aku ingin tahu apa alasan ayah? Apa!” Angga murka dan mengoceh tanpa memperdulikan sekelilingnya.
Dia mengatur napas seraya memejamkan mata. “Aku tak bisa jika hanya diam dan dihantui kemungkinan buruk yang terjadi padanya.”
“Aku bersama Pak Krisna, kami aman.” Angga segera menutup teleponnya dan menyerahkan kembali ke Pak Krisna.
Melihat itu Pak Wira hanya menghela nafas kemudian menutup laporan ditelpon yang masih tersambung dengan Pak Wira diseberang.
-bersambung-
__ADS_1