Bintang Kejora

Bintang Kejora
Wanita itu dan Kejora


__ADS_3

"Wira tidak ada hubungan dengan Kuda Sembrani, sepertinya dia benar soal itu. Lalu mengapa klan itu membantu penyergapan itu." Madam Den menyerahkan beberapa foto.


"Ini pemimpin klan mereka, Anita. Bukannya dia mantan istrinya?" Pak Bas mengangguk, "iya aku tahu soal itu, tapi setelah Anita ditangkap untuk meneruskan klan mereka sudah tidak ada hubungan. Bahkan kematian anak merekapun dicurigai Wira sebagai ulah dari paman Anita yang memberontak dan kini berasama musuh." Jelas Pak Bas


"Hmm.. menarik, apa kau mengenal salah satu anggota klan musuh? Aku paham soal polemik klan mereka, tapi aku tak bisa bersinggungan langsung dengan mereka." Jelas Madam Den singkat.


Pak Bas menatap sesaat kemudian menarik kesimpulan, "jangan bilang kau ingin bekerjasama dengan Harimau Cindaku!" Madam Den mengangkat kedua tangannya, "mengapa tidak? Kudengar mereka juga dikenal sebagai klan besar di Asia Tenggara?"


Pak Bas menggeleng, "jangan bermain-main dengan mereka. Ada baiknya kita tak ikut campur perseteruan mereka."


"Mengapa kau terlihat takut sekali?" Heran Madam Den.


"Bukan takut! selesaikan dulu misi ini dan jika pada akhirnya kita membutuhkan untuk kerja sama dengan klan itu, baru kita susun rencana lain. Kita ambil posisi enaknya saja."


Melihat Madam Den bingung Pak Bas mencoba menerangkan inti maksudnya, "jika kita minta bantuan Harimau Cindaku diawal, keuntungan bisnis kita akan dikeruk semua oleh mereka sedari awal, kita dapat apa? Jadi kita lihat terlebih dahulu apa benar Kuda Sembrani ada kaitannya dengan Wira, jika iya maka akan mudah membawa Harimau Cindaku dipihak kita tanpa merugikan kita."


Madam Den tertawa puas, "inilah mengapa walau kau menyebalkan aku masih mau mempertahankanmu." Pujian itu membuat Pak Bas tertawa dan menepuk dada dengan sombong, "walau kau berotak kelamin, kau cerdas juga." Pak Bas tak menghiraukan sindiran itu karena dia lebih senang mendapatkan pujian yang jarang ia dapatkan dari Madam Den.


***


Aku mendengar jika kau melakukan penyergapan? Kau haru berhati-hati lah, aku disini tidak bisa terus melindungimu, klan masih menganggapmu sebagai penghianat walau kau tak melakukan itu. Dan tentu klan musuh akan mengambil kesempatan ini untuk meruntuhkan klan kita.


-Ketua A-


Membaca surat dari ketua klannya, dia hanya bisa menghela nafas dan meyobek kertas itu lalu membuangnya ketempat sampah, dia akui jika perbuatannya kemarin malam adalah tindakan sembrono walau pantas diperjuangkan.


"Ini semua tak akan terjadi jika situa gila jabatan itu tak memberontak." Dengusnya memukul meja dengan kepalan tangannya.


"Apa?" Dia menjawab datar ketika ada telpon masuk, "aku tak bisa kesana! Ada Kejora disana."


"Aku tahu darurat, haiihh..!!" Dia memijat keningnya dan terdiam agak lama, sampai suara disebrang telpon terus memanggil namanya.


"Baiklah...." Dia menghela nafas, "aku kesana."


***


"Dim, kamu familiar tidak sih dengan figur orang itu?" Dimas melihat kearah Angga menunjuk dimana ada seorang pria tegap sedang berdiri menjaga sebuah pintu. Dimas mengerucutkan bibirnya seolah mengingat-ingat lalu kemudian menggeleng.


"Entah ya, aku baru pertama melihatnya." Angga menggosok dagunya, "dia seperti mereka yang menolong kita kemarin."

__ADS_1


Dimas kembali mengamati orang itu lebih seksama "badan tegapnya sih iya, tapi entahlah. Aku cuma mengingat salah satu dari mereka yang punya tato seperti ini." Dimas meraih ponselnya dan membuat sketsa sederhana untuk menggambarkan tato yang dia maksud.


Angga melihat itu dan ingatannya seolah tersulut, "Ah! Aku juga merasa pernah melihat tato ini, tapi lupa! Coba kirim ke nomorku, aku mau bertanya pada seseorang." Dimas manggut dan mengirim sketsa tersebut, selang berapa lama Angga mengirim gambar itu keseseorang,


"kau mau bertanya sama siapa?"


"Rekan jurnalisku." Jawabnya seraya menunggu balasan.


DING! Angga segera membuka dan dia kaget dengan balasan rekannya. "Apa?" Tanya Dimas penasaran karena melihat ekspresi Angga.


"Klan Kuda Sembrani? Haaahh..." Dimas hanya melongo tak percaya ketika membaca pesan yang ditunjukkan Angga. "Shhtt..." Dimas segera memelankan suaranya "bagaimana mungkin, apa motif mereka menolong kita? Apa ayahmu ada hubungannya dengan klan legendaris itu?" Tanya Dimas berbisik, Angga hanya menggeleng, "bukan tidak, tapi aku tak tahu." Sahutnya pelan.


"Salah satu dari mereka wanita lo. Walau memakai baju khusus tapi figur wanitanya tak bisa disembunyikan." Angga mengangguk membenarkan. "Klan ini begitu besar dan memiliki jaringan yang luas, persatuan lewat ikatan darah yang membuat mereka benar-benar kuat. Bahkan setahuku mereka sangat berpengaruh, walau memiliki anggota yang berbeda nasionalisnya tapi itu tak mengubah sistem keanggotaanya. Jadi klan mereka memang dari berbagai negara, dan menariknya pusat kepemimpinannya di Indonesia, sulit sekali mencari data tentang mereka. Mereka benar-benar rapi menutupnya karena perseteruan hebat dengan klan musuhnya itu. Mereka itu mengerikan tau." Jelas Dimas menggosok tubuhnya seolah takut.


Angga terbuyar lamunannya ketika Dimas menyenggolnya, "kau tak mendengarkan ceritaku." "Dengar, aku hanya menikirkan sesuatu." Jawabnya.


Kejora keluar dari kamar dan menghampiri mereka, melihat Kejora duduk didepannya, Dimas beranjak, "mau kemana?" Tanya Angga melihat Dimas tiba-tiba berdiri, "berak, mau ikut?" Dimas tertawa melihat ekspresi Angga.


Kejora terdiam dan disadari oleh Angga "kenapa?"


"Aku mau berterima kasih kepadanya, tapi sepertinya dia menghindariku." Mendengar itu Angga mencoba menenangkannya, "maklumi, dia memiliki kebencian tinggi terhadap perempuan, bahkan Mila saja perlu berbulan-bulan baru bisa mengobrol dengan dia."


"Kau sudah makan?" Kejora mengangguk, "aku juga tak bisa menghubungi ibu. Biasanya hari ini aku bertemu dengannya, aku mau mengabari karena tak bisa kesana agar dia tak khawatir. Tapi nomornya sulit dihubungi, kini aku yang menjadi khawatir."


"Kau ingin aku meninta Satya mengecek kesana?"


"Memangnya Satya dimana?"


"Dia sedang dikantornya, mengurus program untuk ke Jepang."


"Kalau Satya tak keberatan."


Angga tersenyum, "kau bisa percaya padanya." Ujar Angga seraya mengambil ponselnya dan menelpon Satya lalu menyampaikan maksud dari ia menelponnya.


"Dia kesana sekarang."


"Apa dia tak sibuk?" Kaget Kejora karena mendengar Satya yang langsung menuju lokasi. "Entah, dia hanya menjawab dia akan kesana sekarang."


"Apa dia akan baik-baik saja?"

__ADS_1


"Kau mengkhawatirkannya? Aku jadi cemburu." Manyun Angga seketika membuat Kejora menatapnya bingung, "bukan begitu!"


Angga tertawa melihat Kejora yang berusaha menjelaskan maksud sebenarnya, "becanda.. kenapa kau menjadi gagap."


Kejora hanya mendesis, "ish! Aku takut Pak Bas mengetahuinya dan menyerangnya." "Tenang, dia tak pernah menampakkan wajahnya jika sedang menjalankan misi bersamaku, dia selalu dibalik monitor tak pernah terjun ke lokasi."


"Tapi bukannya Barra mengenalnya?"


"Emm... asal kau tahu, walau Barra terlihat seperti orang jahat, dia tak akan pernah sanggup menyakiti seseorang. Syukur gen ibunya yang mengalir ditubuhnya lebih dominan, sehingga dia tak jahat seperti ayahnya." Jelas Angga, Kejora menghela lega.


"Kau ingat sudah berapa kali dia mengancammu dan mendekatimu? Apa pernah dia melakukan kekerasan fisik?" Kejora menggeleng setelah mencoba mengingat-ingat. "Itulah dia, hanya besar mulut saja, dulu aku berteman dengannya, lalu kemudian ibuku pergi dan gosip tak enak datang, semua orang tahunya aku anak pembantu, nyatanya ibuku pergi meninggalkanku bersama pembantu yang kerja dengan Pak Wira yang kini menjadi ayah angkatku. Barra malu berteman denganku, tiap ada yang mengejek dan membullyku, dia tak peduli bahkan pergi. Syukur Dimas mau bahkan bersedia menghajar anak nakal itu walau akhirnya dia yang dihukum." Jelas Angga tertawa mengingat kekonyolan Dimas yang selalu bersikap heroik ketika dia dalam masalah tapi selalu berujung sial.


Angga terhenyak ketika dia berusaha untuk tetap menutupi fakta jika dia anak kandung yang disembunyikan ayahnya sendiri. Dia menghela nafas, "Aku lupa wajah ibuku bahkan aku tak tahu wajah ayah kandungku." Ungkapnya sedikit tertunduk, Angga kaget ketika tangan lembut menggenggam pelan punggung tangannya, Angga hanya bisa melihat kearah tangan itu.


Hanya sebuah sentuhan ditangan tapi membuat kegundahan dihatinya sirna dan digantikan perasaan nyaman. Dia melihat kearah pemilik tangan itu yang memberikan dia senyuman.


DEG Angga seolah mendengar bunyi detak jantungnya sendiri, Angga ingin selamanya bisa melihat senyuman itu yang bisa mengisi bagian hatinya.


Angga terbuyar ketika tangan itu menggoyangkan tangannya, "kau melamun?" "Ah.. eng... aku.." Ucapan Angga terpotong ketika ponselnya berbunyi.


"Tutup? Oke terima kasih, cepat sekali apa kau ngebut?" Selidik Angga karena pemilik suara diseberang sangat suka sekali mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Terkadang Mila marah dan bisa uring-uringan karena hal itu.


"Jangan ngebut! Kau masih perlu mengejar cita-citamu dan menikahi anak Pak Kiyai itu." Walau seperti bercanda, tapi Angga serius dengan ucapannya. Dan Angga tertawa mungkin karena Satya mengoceh kepadanya, dia menggeleng pelan dan menutup sambungan.


"Tokonya tutup Ke." Kejora menggigit bibirnya, "kau tenang, berdoa saja semoga dia baik-baik saja." Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing, Dimas kembali dan berjalan kearah jendela.


Ruangan begitu tertutup bahkan hanya ventilasi khusus yang berada diatap yang menjadi lubang pergantian udara, itulah kenapa rumah itu terlihat sangat suram dan menyeramkan jika dilihat dari luar, berbeda sekali ketika sudah masuk.


Ruangan begitu rapi dan tertata, dapur yang memiliki stok makanan komplit, ada ruang kesehatan, dan beberapa fasilitas seperti rumah pada umumnya.


Ada layar besar yang menunjukkan beberapa titik kamera, bagian gerbang, belakang rumah dan pintu masuk. Benar-benar terlihat seperti markas rahasia jika dilihat beberapa orang bertubuh tegap dan kekar yang selalu siaga berjaga.


"Sebenarnya tempat apa ini." Guman Dimas mengamati setiap penjuru ruangan yang hanya diterangi lampu remang-remang.


"Bos datang." Dimas teralihkan perhatiannya ketika mendengar penjaga membuka pintu untuk seseorang," mungkin Pak Krisna" pikir Dimas.


Angga dan Kejora menoleh kebelakang ketika pintu terbuka dan betapa kagetnya mereka berdua ketika Pak Krisna datang bersama orang yang begitu sangat dikenal oleh mereka, terutama Kejora....


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2